Bus terakhir berhenti di mulut jalan kampung saat matahari belum benar-benar naik. Sekar turun dengan ransel kecil di punggung, dan kakinya langsung mengenali tanah itu—pasir yang bercampur kerikil, bau garam yang dibawa angin dari arah laut. Tiga tahun lebih ia pergi, tapi Pantai Cemara tidak banyak berubah. Hanya dirinya yang berbeda.
Ia masih mengenakan seragam pilot maskapai. Kemeja putih dengan dua setengah garis di bahu, dasi gelap, celana hitam. Ia tidak sempat berganti. Berita dari Bu Lurah datang dua hari lalu, lewat telepon yang suaranya patah-patah: "Bapakmu, Nak. Bapakmu sudah tidak ada." Sekar menutup telepon di lorong maskapai, lalu berdiri diam sangat lama, sampai seorang petugas kebersihan bertanya apakah ia baik-baik saja.
Sekarang ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah panggung. Orang-orang yang ia lewati menoleh. Bukan karena duka—mereka semua sudah tahu. Tapi karena seragam itu. Pak Karta yang biasa menambal jaring berhenti menarik benang. Anak-anak yang main di selokan berhenti dan menatap. Bisik-bisik mengikuti langkahnya seperti ombak kecil.
"Itu Sekar," ada yang berkata. "Anaknya Pak nelayan. Yang sekarang jadi pilot itu."
Ia tidak menoleh. Tenggorokannya terlalu kering untuk menyapa.
Rumah panggung itu sudah penuh ketika ia sampai. Terpal biru dibentang di halaman. Tikar digelar. Bau kopi dan bau bunga melati bercampur jadi satu. Di tengah ruangan, di atas dipan yang biasa Bapak pakai untuk merebahkan badan setelah melaut, jenazah itu terbaring tertutup kain. Ibu duduk di sampingnya, kecil dan kering, matanya bengkak.
Ketika Ibu mengangkat wajah dan melihat Sekar berdiri di pintu dengan seragamnya, sesuatu di dada perempuan tua itu seperti runtuh. Ibu bangkit, terhuyung, dan Sekar menangkapnya tepat sebelum ia jatuh.
"Sudah pulang," kata Ibu, suaranya tercekat di rambut Sekar. "Kamu sudah pulang."
"Sudah, Bu." Sekar memejamkan mata. Ia tidak menangis. Belum. Ia hanya memeluk Ibu yang gemetar dan merasakan tulang punggung perempuan itu menonjol di telapak tangannya.
Mereka membuka kain penutup wajah sebentar. Sekar memaksa dirinya melihat. Bapak terlihat lebih kecil dari yang ia ingat. Kulit yang dulu legam terbakar matahari laut kini pucat. Tapi garis-garis di wajahnya, kerut di sekitar mata yang muncul dari bertahun-tahun menyipit menatap horizon—itu masih Bapaknya. Tangan yang dulu menariknya dari air saat badai, tangan yang dulu menolak brosur ADN sambil berkata "Hidup kita di laut, bukan di langit," kini terlipat tenang di dada.
"Bapak dengar, Nak," kata seorang tetangga, Pak Karta, yang mendekat dengan kopiah di tangan. "Sore tadi. Radio di warung muter berita kamu yang mendaratkan pesawat darurat itu. Yang satu mesinnya mati, terus sistemnya rusak. Bapakmu di sini, duduk di teras, dengerin dari awal sampai habis. Saya yang nemenin."
Sekar menahan napas. "Bapak dengar?"
"Dengar betul. Pas penyiar bilang nama kamu—Sekar Wulandari, kopilot termuda—Bapakmu cuma diem. Tapi tangannya gemeter, Nak. Terus dia bilang ke saya, pelan-pelan: 'Anak saya yang nurunin pesawat itu.'" Pak Karta tersenyum sedih. "Cuma itu yang dia bilang. Habis itu dia masuk, baring. Beberapa jam kemudian dia pergi. Tenang. Nggak kesakitan."
Air yang sejak tadi ditahan Sekar akhirnya pecah. Ia menunduk di samping dipan, di samping tubuh Bapak yang sudah dingin, dan menangis tanpa suara. Bukan tangis yang meledak—tangis yang dalam, yang keluar dari tempat yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat-rapat. Untuk semua restu yang tertahan. Untuk semua surat yang tak dibalas. Untuk satu kalimat terakhir—anak saya yang nurunin pesawat itu—yang akhirnya datang, terlambat tapi datang.
Sore itu mereka memandikan dan mengafani Bapak. Sekar ikut mengangkat keranda dengan empat lelaki kampung. Ia masih mengenakan seragamnya, hanya melepas dasi dan menggulung lengan. Garis di bahunya tampak ganjil di antara sarung dan baju koko para pelayat. Tapi tak seorang pun mempersoalkannya. Justru sebaliknya.
Saat keranda diangkat melewati halaman, seorang anak kecil—mungkin enam tahun, bertelanjang kaki, persis seperti Sekar dulu—menarik ujung baju ibunya dan berbisik, "Mak, itu pilot beneran?"
Sekar mendengarnya. Di tengah kesedihan yang menghimpit dadanya, ia menoleh sebentar ke anak itu. Mata bocah itu lebar, penuh sesuatu yang sangat ia kenali. Bukan duka. Tapi kagum. Mimpi. Hal yang sama yang dulu membuatnya naik ke atap rumah dan berjanji pada langit.
Mereka membawa Bapak ke pemakaman di balik bukit pasir, tempat dari mana laut masih bisa terlihat—laut yang menghidupi Bapak seumur hidupnya, laut yang juga hampir mengambil nyawa anaknya. Sekar berjalan paling depan, di belakang keranda, dengan langkah yang ia jaga tetap tegap meski dadanya hancur.
Ia pulang dengan sayap. Tapi orang yang paling ingin ia tunjukkan sayap itu sudah tidak ada untuk melihatnya berdiri.