Mereka menguburkan Bapak menjelang magrib, ketika langit di atas Pantai Cemara berubah jadi jingga yang lembut. Tanah merah dilempar sekop demi sekop. Doa-doa dibacakan. Satu per satu pelayat menyalami Ibu dan Sekar, lalu pamit pulang sebelum gelap, kembali ke perahu dan jaring dan kehidupan yang tak pernah berhenti meski ada yang pergi.
Akhirnya hanya tinggal mereka berdua. Ibu dan Sekar, di samping gundukan tanah basah yang masih menyimpan bau galian.
"Pulanglah duluan, Bu," kata Sekar pelan. "Sekar mau di sini sebentar."
Ibu menatapnya, lalu mengangguk. Ia menepuk pipi Sekar dengan tangan kerasnya yang bergetar. "Jangan lama-lama, Nak. Sebentar lagi gelap."
Setelah langkah Ibu menghilang di balik bukit pasir, Sekar berlutut di tepi makam. Lututnya menekan tanah, dan dingin malam mulai turun. Lengan kirinya—yang patah belasan tahun lalu, yang tak pernah benar-benar pulih—mulai berdenyut ngilu seperti yang selalu terjadi saat udara dingin. Ia membiarkannya. Hari ini ia ingin merasakan semuanya.
"Pak," ia memulai. Suaranya nyaris hilang ditelan suara ombak di kejauhan. "Sekar pulang."
Angin laut membawa butir pasir halus yang menempel di pipinya yang basah.
"Sekar inget waktu kecil, Bapak bangunin Sekar jam tiga pagi. Tiap hari. Buat bantuin angkat ikan kembung. Sekar dulu benci itu, Pak. Sekar pengin tidur kayak anak-anak lain. Sekar pengin lihat langit, bukan tumpukan ikan." Ia tersenyum getir. "Tapi waktu di akademi, instruktur bangunin kami jam empat. Anak-anak kota pada ngeluh, ada yang nangis, ada yang nyerah. Sekar nggak, Pak. Sekar udah biasa bangun lebih pagi dari itu. Sekar udah dilatih sama Bapak tanpa Bapak sadar."
Ia menarik napas dalam-dalam.
"Bapak nolak Sekar dulu. Sekar tahu sekarang kenapa. Bukan karena Bapak nggak percaya. Bapak takut kehilangan. Bapak takut Sekar pergi terus nggak balik. Tapi Pak, Sekar nggak pernah benar-benar pergi. Tiap kali Sekar di atas sana, tiap kali roda pesawat lepas dari bumi, Sekar selalu ingat satu hal—Sekar anak nelayan. Sekar anak Bapak."
Suaranya pecah. Ia membiarkannya.
"Pak Karta bilang Bapak dengar berita Sekar di radio. Bapak bilang, 'Anak saya yang nurunin pesawat itu.'" Sekar menutup mulut dengan punggung tangan, menahan isak. "Itu kalimat paling indah yang pernah Sekar denger seumur hidup, Pak. Sekar nunggu kalimat itu tiga tahun lebih. Dan akhirnya datang. Walaupun Sekar nggak sempat dengar langsung dari mulut Bapak."
Ombak memecah di kejauhan, teratur, sabar, seperti detak jantung dunia yang tak pernah berhenti.
"Sekar janji, Pak." Ia meletakkan telapak tangannya di atas tanah merah yang dingin. "Sekar bakal terusin ini sampai jadi kapten. Empat garis di bahu, kayak Kapten yang dulu nguji Sekar. Sekar bakal buktiin sampai habis bahwa restu Bapak nggak sia-sia. Dan Sekar janji satu lagi—Sekar jagain Ibu. Ibu nggak bakal Sekar tinggal. Apapun yang terjadi sama karier Sekar, Ibu nomor satu. Itu janji Sekar di atas makam Bapak."
Ia diam lama. Langit sudah hampir gelap sempurna, dan bintang-bintang pertama mulai muncul—bintang yang sama yang dulu ia tatap dari atap rumah panggung, bintang yang sama yang ia tatap di malam sebelum solo flight pertamanya.
"Bapak tahu," kata Sekar, kini lebih tenang, "dulu Sekar naik ke atap, terus janji sama langit: suatu hari, Sekar yang di atas sana. Sekar udah sampai, Pak. Sekar udah di atas sana." Ia mengangkat wajah ke arah bintang-bintang. "Tapi sekarang Sekar tahu, yang paling penting bukan seberapa tinggi Sekar bisa terbang. Yang paling penting adalah ada yang nungguin Sekar pulang. Dan Bapak selalu nungguin. Bahkan waktu Bapak bilang nggak setuju, Bapak tetap nungguin."
Ia bangkit perlahan, lututnya kaku dan dingin. Ia merapikan seragamnya, menarik garis di bahu agar lurus. Lalu ia berdiri tegak di samping makam, dan—entah dorongan dari mana—ia mengangkat tangan kanannya ke pelipis. Hormat. Hormat seorang penerbang pada orang yang membesarkannya tanpa pernah tahu apa itu langit.
"Selamat jalan, Pak. Sampai ketemu di pendaratan terakhir."
Ketika ia turun dari bukit pasir menuju cahaya lampu minyak rumah panggung tempat Ibu menunggunya, untuk pertama kalinya sejak berita itu datang, dada Sekar terasa sedikit lebih ringan. Lukanya belum sembuh. Mungkin tak akan pernah sembuh sepenuhnya. Tapi restu yang dulu tertahan kini sudah lunas. Dan janji sudah diucapkan.
Di belakangnya, laut terus berdebur dalam gelap—laut yang sama, yang esok akan ia hadapi lagi.