Sekar tinggal seminggu di Pantai Cemara, mengurus tujuh hari Bapak, membantu Ibu membereskan rumah, dan duduk berjam-jam di teras menatap laut tanpa banyak bicara. Maskapai memberinya cuti duka. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak punya jadwal, tidak punya brifing, tidak punya tempat yang harus dituju.
Di pagi terakhir sebelum ia harus kembali, ia bangun sebelum subuh—kebiasaan lama yang tak pernah hilang. Ia keluar diam-diam agar tidak membangunkan Ibu, dan berjalan menuruni jalan setapak ke arah pantai. Udara masih gelap kebiruan. Bau garam tajam. Pasir dingin di telapak kakinya yang telanjang.
Ia berhenti di garis tempat ombak menyentuh pasir, lalu surut, lalu kembali lagi. Air laut menjilat ujung jari kakinya, dan seluruh tubuhnya menegang otomatis. Refleks yang sudah belasan tahun ia bawa. Fobia yang tak pernah benar-benar hilang—hanya ia kelola, ia kunci, ia hindari.
Di sinilah, di laut ini, tiga belas tahun lalu, badai menghempaskannya ke karang dan mematahkan lengan kirinya. Di sinilah ia sempat tenggelam beberapa detik—gelap total, tak tahu mana atas mana bawah, paru-paru terbakar, pikiran yang mengira inilah akhir. Bapak yang menariknya naik. Bapak yang sekarang sudah tidak ada.
Sekar berdiri sangat lama di tepi air, jantungnya berdebar keras. Bertahun-tahun ia melatih dirinya menghadapi ketakutan di udara. Ia sudah menembus badai di ketinggian, sudah mendaratkan pesawat mati dengan tenang, sudah membuat keputusan dalam hitungan detik dengan ratusan nyawa di tangannya. Tapi laut—laut yang kecil ini, laut kampungnya sendiri—masih membuatnya beku.
"Penerbang terbaik bukan yang tak punya takut," ia berbisik pada dirinya sendiri, mengulang kalimat psikolog tua di hari wawancara itu, kalimat yang sudah jadi semacam doa baginya, "tapi yang tahu persis apa yang ditakutkan, dan tetap berkepala dingin."
Ia melangkah maju. Air menyentuh mata kakinya. Lalu betisnya. Dingin menusuk. Lengan kirinya berdenyut. Setiap insting dalam tubuhnya menjerit untuk mundur.
Ia tidak mundur.
Selangkah lagi. Air sampai ke lututnya. Ombak kecil mendorong, menarik, mendorong lagi. Ia berdiri kokoh, kakinya menancap di pasir yang berubah-ubah. Ia ingat brifing pertama dengan instruktur terbangnya: jangan lawan turbulensi dengan kaku, baca, ikuti, kendalikan. Ia menerapkannya di sini, di air. Ia tidak melawan ombak. Ia membacanya.
Langit mulai terang di ufuk timur. Garis jingga tipis muncul di batas antara laut dan langit. Dan saat cahaya pertama jatuh ke permukaan air, Sekar melangkah lebih dalam. Sampai pinggang. Sampai dada. Air dingin memeluk seluruh tubuhnya, dan untuk sesaat panik lama itu datang menyergap—gelap, tenggelam, mati. Ia menutup mata.
Tapi kali ini ia tidak melawannya dengan menahan napas dan kaku. Ia membiarkan tubuhnya mengapung. Kapasitas parunya—yang terbaik di angkatannya, yang dulu terlatih dari menyelam mencari kerang di laut ini juga—mengangkatnya. Tubuhnya, yang lahir dari laut ini, ingat cara mengapung sebelum otaknya sempat takut.
Ia membuka mata. Ia mengambang. Telentang, wajah menghadap langit yang perlahan biru, tangan terentang. Air menahannya, bukan menelannya. Untuk pertama kalinya sejak badai itu, laut terasa bukan sebagai musuh, tapi sebagai sesuatu yang ia kenal. Sesuatu dari mana ia berasal.
Air mata mengalir dari sudut matanya dan langsung bercampur dengan air laut, asin dengan asin, sampai ia sendiri tak bisa membedakan mana yang mana.
"Bapak," ia berbisik ke langit, mengambang di atas air yang dulu hampir membunuhnya. "Sekar nggak takut lagi. Lihat, Pak. Sekar nggak takut lagi."
Ombak membawanya naik turun dengan lembut, seperti tangan yang menggendong. Matahari naik, dan permukaan laut berkilau keemasan, sama keemasannya seperti sayap di logo akademinya, sama keemasannya seperti garis di langit yang dulu ia tatap dari atap rumah dan ia kira itu jejak pesawat membawa orang-orang ke tempat yang lebih baik.
Ketika ia akhirnya berenang kembali ke tepi dan berdiri, basah kuyup dan menggigil di pasir dengan matahari pagi menyinari punggungnya, ia tertawa. Tawa kecil yang aneh, setengah isak. Ia menaklukkan langit bertahun-tahun lalu. Hari ini, akhirnya, ia mendamaikan laut.
Dua hal yang dulu paling ia takuti—jatuh dari langit dan tenggelam dalam air—kini bukan lagi tuannya.
Ia berbalik menatap rumah panggung di kejauhan, tempat asap dapur mulai mengepul. Ibu pasti sudah bangun. Sekar memungut sandalnya, melangkah pulang dengan baju basah menempel di tubuh, dan untuk pertama kalinya sejak Bapak pergi, ia merasa utuh. Esok ia akan kembali ke kokpit. Tapi ia kembali sebagai orang yang sudah berdamai dengan dua samudra sekaligus.