Seminggu lamanya aku menunggu.
Tujuh hari yang terasa seperti tujuh tahun. Rumah sebelah kosong tanpa suara. Tidak ada lagi ketukan dua kali di pintu belakangku. Tidak ada lagi pesan mesra di tengah malam. Hanya kadang-kadang Mas Satrio mengirim kabar singkat—"Lagi sibuk urus pemakaman" atau "Santi masih nangis terus"—lalu menghilang lagi.
Aku mencoba bersabar. Aku mencoba mengisi hari dengan memasak, membersihkan rumah, menonton drama Korea, apa saja agar pikiranku tidak terus melayang ke arahnya.
Tapi setiap malam, ketika Danu sudah terlelap di sampingku, aku membuka ponselku dan membaca lagi pesan-pesan lama kami. Mengingat-ingat sentuhannya. Suaranya saat dia berbisik di telingaku. Cara dia menatapku dengan mata gelap penuh hasrat sebelum dia masuk ke dalam tubuhku.
Aku kangen. Parah.
----
Hari kedelapan, aku melihat taksi berhenti di depan rumah sebelah.
Santi turun lebih dulu. Wajahnya pucat, matanya sembab dan berkantung hitam. Rambutnya diikat asal, sepertinya tidak sempat disisir. Dia membawa tas kecil dan sebuah kardus berisi sesuatu—mungkin barang-barang almarhumah ibunya.
Di belakangnya, Mas Satrio turun dengan ransel besar di punggung dan koper kecil di tangan. Wajahnya juga tampak lelah. Jenggotnya sedikit tumbuh, matanya sayu. Tapi ketika matanya bertemu dengan mataku sekilas di sela pagar, ada kilatan di sana.
Kilatan yang sama seperti dulu.
Kilatan yang membuat jantungku berdegup kencang.
Aku ingin keluar. Ingin menyapa Santi. Ingin memeluknya dan mengucapkan turut berduka. Tapi kakiku terasa berat. Rasa bersalah menusuk dadaku setiap kali melihat wajah Santi yang polos dan berduka itu.
Jadi aku hanya berdiri di balik jendela, menunggu waktu yang tepat.
----
Sore harinya, aku memberanikan diri mengetuk pintu rumah sebelah. Sepanci sup ayam hungkul aku bawa—alasan yang paling sopan untuk bertamu.
Santi yang membuka pintu. Matanya masih merah.
"Laras…" suaranya parau.
"Turut berduka ya, San," kataku sambil menyerahkan panci. "Ini sup buat kamu dan Mas Satrio. Makan biar ada tenaga."
Santi menerimanya dengan tangan gemetar. Matanya berkaca-kaca lagi. "Makasih, Ras. Kamu baik banget."
Aku tersenyum pahit.
Baik? Aku tidur dengan suamimu, San. Aku bukan orang baik.
"Masuk dulu, Ras," ajak Santi.
Aku masuk. Rumah sebelah terasa berbeda—lebih sunyi, lebih suram. Ada bunga-bunga di sudut ruangan, mungkin dari pelayat. Foto ibu Santi diletakkan di atas meja, dikelilingi lilin kecil.
Mas Satrio keluar dari kamar. Dia mengenakan kaos oblong hitam dan celana pendek abu-abu—seperti dulu. Rambutnya masih agak basah, sepertinya habis mandi.
"Laras," sapanya datar.
"Mas Satrio," balasku sama datarnya.
Tapi di balik tatapan datar itu, ada percikan api yang tidak bisa kami sembunyikan. Aku merasakannya. Dia juga merasakannya. Kami hanya berpura-pura tidak.
----
Kami mengobrol sebentar di ruang tamu. Santi bercerita tentang ibunya—detik-detik terakhir, proses pemakaman, bagaimana dia merasa bersalah karena tidak bisa berada di sisi ibunya saat meninggal. Aku mendengarkan dengan seksama, sesekali mengusap punggungnya.
Mas Satrio duduk di seberangku, hanya diam mendengarkan. Sesekali matanya menatapku lebih lama dari yang seharusnya.
Setelah sekitar satu jam, Santi menguap. "Maaf, Ras. Aku ngantuk banget. Belum bisa tidur nyenyak semenjak…"
"Ya udah, kamu istirahat, San," kataku cepat. "Aku pamit dulu."
Santi mengangguk lelah. "Makasih supnya, ya."
Dia masuk ke kamar, meninggalkan aku dan Mas Satrio di ruang tamu. Hanya berdua. Untuk pertama kalinya setelah seminggu lamanya.
Mas Satrio berjalan mendekat. Aku berdiri di dekat pintu, tidak tahu harus pergi atau tinggal.
"Laras," bisiknya dengan suara rendah.
"Mas Satrio…"
Dia melihat ke arah kamar—pintunya tertutup. Santi mungkin sudah tidur. Dengan langkah cepat, dia meraih tanganku dan menarikku ke sudut ruangan yang tidak terlihat dari kamar.
"Sebentar saja," bisiknya. "Aku kangen."
"Aku juga," jawabku pelan.
Dia mencium bibirku. Cepat. Tapi penuh rasa. Cukup untuk membuat lututku lemas. Cukup untuk membuatku ingin lebih.
Tapi ini bukan waktunya. Santi di kamar. Hanya satu pintu tipis yang memisahkan kami.
"Aku harus pulang," bisikku setelah melepaskan ciuman.
"Iya," jawabnya, meskipun tangannya masih memegang pinggangku. "Nanti kita cari waktu."
Aku mengangguk, lalu melangkah keluar dengan perasaan campur aduk. Rindu, bersalah, ingin, takut—semua menjadi satu.
---
Keesokan paginya, Danu berangkat kerja seperti biasa. Tapi pagi itu berbeda—Santi ada di rumah. Seharian penuh. Tidak ada lagi kebebasan seperti dulu.
Aku hampir putus asa. Tapi kemudian, sekitar jam 10 pagi, ponselku bergetar.
Mas Satrio:
"Santi pergi ke pasar sama ibu-ibu komplek. Mungkin satu jam. Cepat."
Jantungku melonjak.
Aku tidak perlu didorong dua kali. Segera aku membersihkan diri, menyisir rambut, memakai daster tipis yang dia suka. Lalu aku menunggu di dekat pintu belakang.
Tiga ketukan pelan. Bukan dua seperti biasa, mungkin karena Santi ada di rumah jadi dia harus lebih hati-hati.
Aku membuka pintu. Mas Satrio masuk dengan cepat, langsung menutup pintu di belakangnya dan menguncinya.
Tidak banyak bicara. Tidak perlu. Kami sudah saling hapal.
Dia langsung menarikku ke dalam pelukannya. Bibirnya mendarat di bibirku—liar, lapar, seperti orang yang kehausan setelah berhari-hari di padang pasir. Aku membalasnya dengan semangat yang sama.
"Kangen banget," bisiknya di sela ciuman.
"Kangen juga," balasku.
Dia mendorongku ke dinding dapur. Tangannya meremas pinggangku, lalu naik ke dadaku, lalu turun lagi ke bawah. Semuanya dilakukan dengan cepat, dengan penuh nafsu, tapi juga dengan hati-hati—telinganya selalu waspada mendengar suara dari luar.
"Kita cepat saja," bisiknya. "Takut Santi pulang."
Aku mengangguk.
----
Ah… Ah… Nikmat Sekali…
Dia membawaku ke ruang tamu—terlalu berisiko kalau ke kamar, karena jendela kamar menghadap ke gang. Di ruang tamu, setidaknya kami bisa melihat jika ada orang lewat.
Dasterku dia singkapkan. Bra-ku dia buka dengan satu tangan—kemampuan yang selalu membuatku terkesima. Celana pendekku melorot ke lantai. Dalam hitungan detik, aku sudah telanjang di hadapannya.
Dia melepas celana pendeknya. Dan di sanalah dia—imran-nya yang sudah seminggu tidak aku lihat, sudah seminggu tidak aku rasakan. Masih seperti yang aku ingat. Besar. Panjang. Tebal.
"Masuk, Mas…" bisikku tidak sabar. "Aku sudah basah dari tadi."
Dia tersenyum nakal. Lalu dia mendorongku untuk berbaring di karpet ruang tamu—karpet yang biasanya aku gunakan untuk duduk-duduk santai. Sekarang menjadi altar dosa kami.
Dia membuka kakiku lebar. Lalu dia masuk.
"Ah…" Aku mengerang pelan, menahan suara sekencang mungkin.
Dia bergerak. Perlahan di awal, membiarkan aku menyesuaikan. Lalu semakin cepat, semakin dalam, semakin liar.
"Ah… ah… Mas… enak… nikmat sekali…" desahku dengan suara teredam. Aku menggigit tanganku sendiri untuk menahan jeritan.
"Sssst… jangan keras-keras," bisiknya.
"Iya… iya… tapi enak banget, Mas…"
Dia terus bergerak. Aku memeluknya erat. Kakiku melilit pinggangnya. Aku ingin dia sedalam mungkin, sekeras mungkin, selama mungkin—tapi kami tidak punya banyak waktu.
Aku sampe. Cepat. Mungkin karena sudah seminggu tidak.
Tapi dia belum selesai. Dia terus bergerak. Aku sampe lagi. Dan lagi.
"Mas… aduh, Mas… aku mau teriak rasanya…"
"Tahan, Ras. Sebentar lagi."
Dan akhirnya, setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, dia menegang. Tubuhnya bergetar. Aku merasakannya—tembakan demi tembakan cairan panas yang memenuhi ronggaku. Penuh. Deras.
Kami berdiam diri beberapa saat, mengatur napas. Lalu dia menarik diri, dan aku merasakan cairannya mengalir keluar membasahi pahaku.
"Waktunya habis," bisiknya sambil melihat ponsel. "Santi mungkin segera pulang."
Aku mengangguk, lalu berdiri dengan kaki sedikit gemetar. Aku mengumpulkan pakaianku, membersihkan diri sebisanya dengan tisu.
"Besok?" tanyaku.
"Besok kita lihat situasi," jawabnya sambil memakai celananya.
Satu ciuman cepat di bibir, lalu dia keluar lewat pintu belakang, menghilang ke rumahnya sendiri.
Aku tersenyum sendiri. Meskipun hanya sebentar, meskipun harus diam-diam, rasanya nikmat sekali bisa bersamanya lagi.
----
Sore harinya, Mas Satrio mengirim pesan.
Mas Satrio:
"Laras, kita harus cari cara biar kita bisa kayak dulu lagi."
Aku membaca pesan itu berulang kali. Jantungku berdegup kencang. Dia benar—kami tidak bisa terus-terusan hanya mengandalkan keberuntungan dan waktu sempit saat Santi pergi ke pasar. Kami butuh solusi jangka panjang.
Aku:
"Iya, Mas. Aku juga mikir gitu."
Aku:
"Kamu harus cari cara, Mas, biar kita bisa n*****t kayak dulu lagi."
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
Mas Satrio:
"Iya, Ras."
Mas Satrio:
"Kayaknya aku harus cari kerjaan buat Santi. Biar dia gak di rumah seharian."
Mas Satrio:
"Sekalian biar ada alasan buat dia supaya gak mikirin ibunya terus."
Aku terdiam membaca pesan itu.
Mas Satrio ingin Santi bekerja. Bukan karena dia peduli pada karier istrinya atau ingin Santi bangkit dari duka. Tapi agar Santi tidak ada di rumah. Agar kami punya waktu luang untuk berselingkuh.
Sungguh egois. Sungguh kejam.
Tapi aku tersenyum membacanya.
Aku:
"Ide bagus, Mas."
Aku:
"Cari kerjaan yang seharian keluar ya. Jangan yang paruh waktu."
Mas Satrio:
"Iya. Aku pikir-pikir dulu."
Mas Satrio:
"Yang penting kita bisa sering-sering lagi."
Aku:
"Aku tunggu kabar baiknya, Mas."
Aku mematikan layar ponselku. Perutku terasa hangat—bukan hanya karena kenikmatan tadi pagi, tapi juga karena antisipasi. Rencana ini gila. Tapi aku tidak bisa berhenti.
Santi tidak tahu. Santi mungkin tidak akan pernah tahu.
Dan untuk saat ini, itu cukup.