Sebulan sudah.
Tiga puluh hari. Empat minggu. Ratusan jam yang kami habiskan bersama di balik pintu tertutup. Ratusan sentuhan. Ratusan ciuman. Ratusan kali aku memanggil namanya dengan napas tersengal di ranjang yang sama.
Sebulan sudah aku menjalin hubungan terlarang dengan Mas Satrio.
Aku tidak tahu persis kapan waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin pertama kali bibirnya menyentuh bibirku di belakang rumah, basah oleh air pipa yang bocor. Rasanya baru kemarin pertama kali aku melihat tubuh atletisnya tanpa busana, pertama kali merasakan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan bersama Danu.
Tapi sekarang, sebulan sudah. Dan aku sudah kecanduan.
----
Pagi itu seperti biasa. Aku baru selesai membersihkan dapur setelah menyiapkan bekal untuk Danu. Jam menunjukkan pukul 9. Biasanya, satu jam lagi Mas Satrio akan mengetuk pintu belakangku dengan dua ketukan pelan—kode rahasia kami.
Tapi pagi ini berbeda.
Ponselku bergetar. Aku meraihnya, setengah tersenyum, mengira itu Mas Satrio yang mengirim pesan mesra seperti biasa.
Tapi senyumku langsung hilang ketika membaca pesannya.
Mas Satrio:
"Laras, aku mau ke kampungnya Santi. Orang tuanya meninggal. Ibunya. Tadi malam."
Jantungku berhenti berdetak sesaat.
Aku membaca pesan itu berulang kali. Berharap ada salah baca. Berharap ini hanya mimpi buruk. Tapi tidak. Kata-kata itu tetap sama. Nyata. Dingin. Menghancurkan.
Ibu Santi meninggal.
Ibu yang Santi pulang kampung untuk merawatnya. Ibu yang katanya jatuh dari sepeda motor beberapa minggu lalu. Ibu yang—menurut cerita Santi sebelum dia pergi—sudah mulai membaik.
Sekarang, ibunya meninggal.
Dan Santi… Santi ada di sana, sendirian, tanpa suaminya di sisinya selama berminggu-minggu terakhir karena suaminya sibuk—tidak, karena suaminya sibuk berselingkuh dengan tetangganya sendiri.
Dengan aku.
Aku terdiam. Ponselku masih tergenggam di tangan, tapi tanganku terasa dingin. Dadaku sesak. Bukan karena aku kehilangan seseorang—aku bahkan tidak pernah bertemu ibu Santi. Tapi karena rasa bersalah yang tiba-tiba menerjang seperti gelombang tsunami.
Selama se bulan Santi merawat ibunya yang sakit, aku merawat suaminya di ranjangku.
Selama se bulan Santi berdoa semoga ibunya cepat sembuh, aku berdoa semoga Santi tidak cepat pulang.
Selama se bulan Santi sendirian di kampung halaman, aku bersenang-senang dengan satu-satunya orang yang seharusnya menjadi sandarannya.
Aku menjatuhkan diri di kursi dapur. Mataku terasa panas, tapi aku tidak tahu apakah aku berhak menangis. Air mata untuk siapa? Untuk ibu Santi yang tidak aku kenal? Atau untuk diriku sendiri yang baru menyadari betapa dalamnya aku telah terjerumus?
----
Ponselku bergetar lagi.
Mas Satrio:
"Aku berangkat siang ini. Naik bus. Mungkin sampai besok pagi."
Mas Satrio:
"Laras, kamu di rumah aja. Jangan kemana-mana."
Mas Satrio:
"Aku akan rindu kamu."
Aku menatap tiga pesan terakhir itu. Pesan terakhirnya membuat hatiku terenyuh sekaligus tersiksa.
Dia akan rindu padaku.
Di saat istrinya sedang berduka kehilangan ibu, dia memikirkan aku. Di saat Santi mungkin menangis di kampung sendirian, Mas Satrio mengirim pesan mesra untuk simpanannya.
Aku seharusnya marah. Aku seharusnya jijik pada diriku sendiri. Tapi kenyataannya? Aku malah membalas pesannya.
Aku:
"Turut berduka cita, Mas. Sampaikan ke Santi ya. Aku ikut berdoa."
Aku:
"Aku juga akan rindu kamu."
Aku mengirim pesan itu. Lalu aku menatap layar ponselku, menunggu balasannya meskipun aku tahu dia sedang sibuk bersiap-siap.
Balasannya datang semenit kemudian.
Mas Satrio:
"Makasih, Ras."
Mas Satrio:
"Ini berat banget. Tapi aku harus kuat buat Santi."
Mas Satrio:
"Tapi jujur, yang ada di pikiranku sekarang selain Santi ya kamu."
Aku menggigit bibir.
Ini gila. Ini benar-benar gila. Seharusnya dia fokus pada istrinya yang sedang berduka. Seharusnya dia tidak memikirkan aku sama sekali. Tapi justru itulah yang membuat hubungan ini semakin terasa... nyata. Bukan hanya tentang fisik. Bukan hanya tentang seks. Tapi ada sesuatu yang lebih.
Atau aku hanya membohongi diriku sendiri?
-----
Jam 11 siang, aku mendengar suara pintu rumah sebelah terbuka dan tertutup. Aku mengintip dari balik tirai jendela.
Mas Satrio keluar dengan membawa ransel besar. Wajahnya tampak lelah—mungkin karena baru saja bangun, atau karena kabar duka yang masih segar. Dia mengenakan kemeja putih polos dan celana jeans hitam. Sederhana. Rapi. Tidak seperti biasanya yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek.
Seperti orang yang sedang berduka.
Aku ingin keluar. Ingin mendekatinya. Ingin memeluknya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya tetangga. Istri tetangga. Bukan istrinya. Bukan keluarganya. Tidak punya hak untuk ikut berduka apalagi ikut pergi.
Jadi aku hanya berdiri di balik tirai, menatapnya dari kejauhan, seperti yang biasa aku lakukan sebelum semuanya dimulai.
Dia menoleh ke arah rumahku sekilas. Matanya bertemu dengan mataku di sela tirai yang tidak sepenuhnya tertutup. Dia tersenyum tipis—senyum yang pahit, senyum yang bilang "aku pergi dulu" tanpa suara.
Lalu dia berjalan ke arah gang, menghilang di tikungan.
Dan aku sendirian lagi.
----
Malam harinya, Danu pulang seperti biasa. Dia makan malam yang aku masak, menonton berita di televisi, lalu tidur lebih awal. Dia tidak bertanya kenapa aku tampak murung seharian. Tidak bertanya kenapa aku tidak membalas chat-chatnya yang biasa. Dia hanya mengucapkan selamat malam, mencium keningku cepat, lalu mematikan lampu.
Aku terbangun di tengah malam. Jam menunjukkan pukul 2. Ponselku tidak ada notifikasi baru dari Mas Satrio.
Aku membuka chat kami. Pesan terakhir masih dari siang tadi.
"Aku berangkat siang ini. Naik bus. Mungkin sampai besok pagi."
Seharusnya dia sudah sampai sekarang. Tapi tidak ada kabar.
Aku mencoba tidur lagi, tapi tidak bisa. Pikiranku melayang ke kampung Santi. Membayangkan Mas Satrio duduk di ruang duka, menemani Santi yang menangis di samping peti jenazah ibunya. Membayangkan Santi yang tidak tahu bahwa suaminya, yang sekarang duduk di sampingnya, telah berselingkuh selama se bulan terakhir dengan tetangganya sendiri.
Aku membayangkan Santi menangis. Bukan hanya karena ibunya meninggal. Tapi karena pengkhianatan yang belum dia ketahui.
Dan aku? Aku diam-diam berharap Mas Satrio tetap mengirimiku pesan, meskipun sedang berduka.
Aku memang monster.
----
Jam 3 pagi, ponselku akhirnya bergetar.
Mas Satrio:
"Udah sampai, Ras. Capek banget."
Mas Satrio:
"Santi nangis terus. Aku kasihan lihatnya."
Mas Satrio:
"Tapi aku gak bisa berhenti mikirin kamu. Ini gila."
Aku membaca pesan itu berulang kali. Jantungku berdegup kencang. Aku ingin membalas banyak hal. Ingin bertanya bagaimana keadaannya. Ingin bilang aku juga memikirkannya. Ingin bilang aku kangen.
Tapi yang aku balas hanya:
Aku:
"Istirahat yang cukup, Mas. Kamu pasti lelah."
Aku:
"Jaga Santi baik-baik."
Aku:
"Aku juga mikirin kamu."
Balasannya datang cepat.
Mas Satrio:
"Makasih, Ras."
Mas Satrio:
"Aku akan kabari lagi besok."
Mas Satrio:
"Jangan pergi kemana-mana ya."
Aku tersenyum tipis di kegelapan kamar. Lalu aku memejamkan mata, membayangkan wajahnya, tubuhnya, suaranya.
Besok. Dan besok-besok setelahnya. Aku akan menunggu.