Sejak saat itu, kami rajin bertemu.
Bukan hanya seminggu sekali. Bukan hanya saat ada kesempatan. Tapi hampir setiap hari. Seolah ada magnet tak terlihat yang menarik kami kembali ke dalam kamar yang sama, ke ranjang yang sama, ke dalam pelukan yang sama.
Aku tidak tahu sejak kapan tepatnya hubungan ini berubah. Mungkin saat pertama kali dia menyentuhku. Mungkin saat pertama kali aku memintanya untuk tidak berhenti. Atau mungkin sejak awal—sejak pertama kali aku mencuri pandang ke halaman rumahnya, melihat tubuh atletisnya bertelanjang d**a, dan merasakan getaran yang tidak bisa aku jelaskan.
Yang aku tahu, sekarang aku tidak bisa berhenti.
----
Jam 10 pagi. Itulah waktu sakral kami.
Mas Satrio pulang jaga malam sekitar jam 6 pagi. Dia tidur beberapa jam, lalu bangkit sekitar jam 9 untuk mandi dan membersihkan diri. Dan tepat jam 10, ketika suami aku sudah berangkat kerja sejak jam 7 pagi dan tidak akan kembali hingga sore hari, Mas Satrio mengetuk pintu belakang rumahku.
Dua ketukan pelan. Kode rahasia kami.
Aku sudah menunggu di balik pintu. Kadang dengan daster tipis. Kadang hanya dengan handuk. Kadang—jika aku sedang berani—dengan tubuh telanjang langsung.
Dia masuk. Pintu terkunci. Dan dunia luar berhenti berarti.
Ah Ah Mas Satrio… Enak Mas…
Setiap pertemuan selalu dimulai dengan cara yang berbeda. Tapi selalu berakhir dengan cara yang sama: aku lemas, dia puas, dan seprai kami basah.
Hari ini, dia tidak membuang waktu. Begitu pintu tertutup, dia langsung menarikku ke dalam pelukannya. Bibirnya mendarat di bibirku—liar, lapar, seolah dia sudah menahan diri sepanjang malam saat berjaga.
"Laras…" bisiknya di sela ciuman.
"Mas Satrio…" balasku dengan napas tersengal.
Dia mendorongku ke dinding. Tangannya yang besar meremas pinggangku, lalu turun ke pantatku, lalu naik lagi ke dadaku. Semua dilakukan dengan cepat, dengan penuh nafsu, seolah tidak ada waktu yang boleh terbuang.
"Aku kangen kamu," kataku.
"Dari tadi malam aku mikirin kamu," balasnya. "Bisa gila aku jaga malam mikirin badan kamu."
Aku tersenyum bangga.
Dia mencium leherku. Menghisapnya perlahan. Aku yakin akan meninggalkan bekas, tapi aku tidak peduli. Aku ingin dunia tahu bahwa aku dimiliki oleh laki-laki jantan ini, meskipun hanya untuk beberapa jam setiap hari.
"Ah… ah… Mas Satrio… enak, Mas…" desahku.
Tanganku meraba tubuhnya. Kaosnya aku singkapkan, lalu aku lepaskan. Dadanya yang bidang terbuka di hadapanku. Aku menempelkan bibirku ke dadanya, menjilat putingnya, menggigitnya sedikit. Dia mengerang.
"Kamu jail, Laras."
"Kamu yang bikin aku begini, Mas."
Kami pindah ke ranjang. Seperti biasa. Seperti ritual yang sudah hafal di luar kepala.
Mas Satrio membaringkanku dengan lembut, lalu menelanjangi aku satu per satu. Dasterku terbang ke sudut kamar. Bra-ku dia lepaskan dengan satu tangan—kemampuan yang membuatku selalu terkesima. Celana dalamku melorot ke mata kaki, lalu dia singkirkan dengan kakinya.
Dia menatap tubuhku telanjang dengan mata gelap.
"Cantik," bisiknya. "Setiap kali lihat kamu, rasanya kayak pertama kali."
"Jangan cuma diliat, Mas," godaku. "Pakai."
Dia tersenyum. Lalu dia membungkuk, mencium dadaku, perutku, pusarku, lalu lebih rendah lagi…
Aku menjerit kecil saat lidahnya menyentuh tempat paling sensitif di tubuhku. Tanganku meraih rambutnya, menariknya, mendorongnya, tidak tahu harus berbuat apa.
"Mas… Mas… aduh, Mas…"
Dia ahli. Sungguh, aku tidak tahu dari mana dia belajar semua ini. Mungkin dari Santi. Mungkin dari pengalaman sebelumnya. Atau mungkin memang bakat alami. Yang aku tahu, lidahnya bisa membuatku kehilangan akal sehat dalam hitungan menit.
Aku sampe. Untuk pertama kalinya sore itu. Cepat. Tapi dia belum selesai.
Dia naik ke atas, mencium bibirku—aku bisa merasakan rasa diriku sendiri di bibirnya—lalu dia masuk.
"Ahhhh… Mas…"
Dia bergerak. Perlahan di awal, membiarkan aku menyesuaikan. Lalu semakin cepat, semakin dalam, semakin liar.
Aku memeluknya erat. Kakiku melilit pinggangnya. Aku ingin dia sedalam mungkin, sekeras mungkin, selama mungkin.
"Enak, Mas… enak banget…" desahku terus-menerus. "Aduh… aduh… Mas Satrio… jangan berhenti… jangan…"
Dia tidak berhenti. Bahkan ketika aku sampe untuk kedua kalinya, dia terus bergerak. Bahkan ketika aku sampe untuk ketiga kalinya, dia masih bergerak. Bahkan ketika tubuhku sudah lemas dan tanganku sudah tidak kuat memeluknya, dia tetap bergerak.
"Kamu tahan banget, Mas…" bisikku setengah mengeluh, setengah kagum.
"Buat kamu," jawabnya singkat.
Ketika dia akhirnya akan keluar—setelah aku sampe entah yang ke berapa kalinya—aku sudah hapal tanda-tandanya. Napasnya memburu. Gerakannya menjadi tidak beraturan. Tubuhnya menegang.
"Di dalam, Mas," pintaku seperti biasa. "Semuanya."
Dia memejamkan mata. Tubuhnya bergetar. Dan aku merasakannya—tembakan demi tembakan cairan panas yang memenuhi ronggaku. Penuh. Deras. Sampai luber keluar dan membasahi pahaku.
Kami berbaring di ranjang yang basah, lelah, puas, dan berdosa.
----
Anehnya—atau mungkin untungnya—pasangan kami tidak curiga sedikit pun.
Danu, suamiku, pulang setiap hari sekitar jam 5 sore. Dia selalu tampak lelah, duduk di sofa, menonton televisi, lalu tidur lebih awal. Dia tidak pernah bertanya kenapa aku terlihat segar setiap malam. Tidak pernah bertanya kenapa aku sering mencuci seprai hampir setiap hari. Tidak pernah bertanya kenapa aku tiba-tiba rajin membeli pengharum ruangan.
Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Terlalu lelah dengan Jakarta. Terlalu percaya padaku.
Dan Santi? Santi masih di kampung.
Setiap malam, Mas Satrio mengirimiku pesan singkat: "Santi masih belum pulang. Besok jam 10 ya?"
Dan setiap malam, aku membalas: "Jam 10. Aku tunggu."
Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang curiga.
Karena jam kerja mereka benar-benar berbalik dengan Mas Satrio. Danu kerja pagi sampai sore. Mas Satrio jaga malam sampai pagi. Mereka hampir tidak pernah bertemu. Dan bahkan jika mereka bertemu di pagi hari saat pergantian shift sekalipun, mereka hanya bertukar sapa biasa.
"Salam sama Laras ya, Mas," kata Danu suatu pagi saat berpapasan dengan Mas Satrio di depan gang.
"Iya, nanti aku sampaikan," jawab Mas Satrio dengan wajah datar.
Padahal satu jam kemudian, dia akan masuk ke rumahku. Padahal satu jam kemudian, dia akan menelanjangiku. Padahal satu jam kemudian, aku akan berteriak namanya di atas ranjang yang sama yang aku bagi dengan Danu.
Tapi Danu tidak tahu. Tidak akan pernah tahu.
----
Selagi Santi Masih di Kampung
Inilah masa keemasan kami. Masa di mana kami bisa bertemu setiap hari tanpa rasa takut. Masa di mana kami bisa bercinta di pagi hari, siang hari, bahkan kadang sampai sore sebelum Danu pulang. Masa di mana kami bisa eksplorasi tanpa batas.
Kadang di kamar. Kadang di ruang tamu. Kadang di dapur. Kadang di kamar mandi—setelah aku memastikan tidak ada tetangga yang melihat.
Kadang cepat, hanya 15 menit, karena Mas Satrio harus segera tidur atau aku harus segera memasak. Kadang lama, berjam-jam, sampai kami benar-benar kehabisan tenaga.
"Aku akan rindu ini kalau Santi pulang," bisikku suatu hari, setelah kami selesai.
Mas Satrio menghela napas. "Aku juga. Tapi kita pasti bisa cari cara."
"Gimana caranya?"
Dia tersenyum misterius. "Kita lihat aja nanti."
Aku tidak tahu rencana apa yang ada di kepalanya. Tapi aku percaya padanya. Aku percaya pada laki-laki yang tubuhnya sudah aku hafal lebih baik dari tubuh suamiku sendiri.
Aku percaya pada laki-laki yang membuatku merasakan kenikmatan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Aku percaya pada laki-laki yang—entah bagaimana—membuatku lupa bahwa ini semua salah.