Kami ketiduran.
Setelah gelombang kenikmatan yang ke sekian kalinya, tubuhku benar-benar lemas. Mataku berat, pikiranku kosong, dan tanpa sadar aku terlelap di samping Mas Satrio. Kepalaku bersandar di lengannya yang kekar, kakiku masih terkait dengan kakinya, dan tubuh kami masih basah oleh keringat yang mengering perlahan.
Aku tidak tahu sudah berapa lama kami tidur. Mungkin setengah jam. Mungkin satu jam. Yang aku tahu, ketika aku membuka mata, cahaya matahari yang masuk lewat jendela sudah bergeser. Sore mulai merambat masuk.
Aku menoleh ke samping.
Mas Satrio masih tidur. Wajahnya tenang, bibirnya sedikit terbuka, dadanya yang bidang naik turun perlahan mengatur napas. Rambutnya acak-acakan, beberapa helai menutupi dahinya. Dia terlihat begitu damai—sangat kontras dengan pria liar yang beberapa jam lalu membuatku kehilangan kendali.
Aku tersenyum sendiri.
----
Perlahan, aku bangkit. Tidak ingin membangunkannya, tapi juga tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Aku memeluk dirinya dari samping. Kepalaku bersandar di dadanya yang bidang, mendengarkan detak jantungnya yang lambat dan teratur. Tanganku mulai bergerak—dari dadanya, turun ke perutnya.
Aku mengelus perut sixpack-nya.
Satu… dua… tiga… empat… lima… enam.
Aku menghitung setiap kotak otot itu dengan ujung jariku. Keras. Padat. Hangat. Kenapa tubuh laki-laki ini begitu sempurna? Kenapa Danu tidak pernah memiliki tubuh seperti ini?
Kemudian, aku mencium dadanya. Perlahan. Sekali. Dua kali. Lalu aku mencium bagian tengah dadanya, tempat jantungnya berdetak. Aku menciumnya lama, menikmati aroma sabun dan keringat yang masih tersisa di kulitnya.
Lalu, tanpa sadar, aku menggigit putingnya.
Gigitan kecil. Main-main. Tapi cukup untuk membuat tubuhnya bergerak.
Ia bangun.
----
Mas Satrio mengerang pelan. Matanya masih setengah terpejam, tapi tangannya sudah meraih pinggangku.
"Laras…" suaranya serak karena baru bangun.
Aku tersenyum nakal. "Bangun, Mas."
Dia mengusap wajahnya, mencoba sadar sepenuhnya. Tapi kemudian dia menyadari sesuatu. Matanya membuka lebar. Dia menunduk, melihat ke bawah, lalu menatapku dengan ekspresi setengah tidak percaya.
"Edan kamu, Laras," bisiknya. "Mas ngaceng lagi."
Aku terkekeh pelan. "Aku tahu, Mas. Aku merasakannya dari tadi."
"Kamu ini gila," ulangnya lagi, tapi nadanya bukan marah. Lebih ke kagum bercampur tak percaya. "Belum puas?"
Aku menggeleng. Aku merangkak naik ke atas tubuhnya, mencium bibirnya sebentar—muahh—lalu berbisik di telinganya.
"Ayo Mas, masukin lagi."
Dia menatapku dengan mata gelap. "Kamu yakin?"
"Buat aku enak. Sampai cairan kamu kering."
Dia tidak perlu didorong dua kali.
----
Dengan gerakan yang sudah akrab, dia membaringkanku kembali. Tubuhnya di atasku, berat tapi nyaman. Tangannya meraba pinggangku, pinggulku, pahaku—seolah menghafal setiap sentimeter tubuhku.
Lalu dia masuk.
Dan lagi-lagi, aku kembali dibuat nyampe berkali-kali.
Aku sudah tidak bisa menghitung lagi. Mungkin yang ketujuh. Kedelapan. Kesembilan. Setiap kali dia mengubah ritme, setiap kali dia menggali lebih dalam, aku terlempar ke puncak lagi. Tubuhku sudah lemas, keringatku sudah habis, tapi rasa itu tetap datang bergelombang.
Aku menjerit kecil, menggigit bahunya, mencakar punggungnya. Aku tidak peduli lagi apakah tetangga lain bisa mendengar. Aku tidak peduli lagi apakah Danu akan pulang dan mencium bau asing di kamar ini.
Yang aku pedulikan hanya saat ini. Hanya dia. Hanya rasa yang dia berikan.
Miliknya lama keluar.
Bahkan setelah aku berkali-kali sampai, dia masih bertahan. Masih bergerak. Masih memberi. Seolah dia tidak pernah lelah. Seolah tubuhnya dibuat khusus untuk ini—untuk memberi, memberi, dan memberi tanpa henti.
Dan ketika akhirnya dia sampai, ketika tubuhnya menegang dan napasnya tersengal di telingaku…
Dia menumpahkan banyak tembakan. Cairan panasnya memenuhi seluruh ronggaku. Penuh. Sampai luber.
Aku merasakannya mengalir keluar, membasahi pahaku dan seprai di bawahku. Hangat. Deras. Seperti sungai yang meluap setelah hujan deras.
Kami terdiam beberapa saat. Hanya suara napas kami yang terdengar di ruangan itu.
Mas Satrio jatuh di sampingku, sama lelahnya. Tangannya meraih tanganku, menggenggamnya erat.
"Laras," bisiknya setelah beberapa menit.
"Iya."
"Ini terakhir kali," katanya. Tapi suaranya ragu. Seolah dia sendiri tidak percaya dengan kata-katanya.
Aku menoleh, menatap matanya. "Kita tahu itu tidak akan terjadi."
Dia tersenyum pahit. "Kita sedang bermain api, Ras."
"Aku tahu," bisikku. "Tapi apinya enak, Mas."
Dia tidak menjawab. Tapi jari-jarinya masih menggenggam tanganku. Tidak melepaskan.
Aku melihat ke luar jendela. Matahari mulai condong ke barat. Danu akan pulang*** satu atau dua jam lagi. Aku harus membersihkan diri. Mencuci seprai. Membuka jendela. Menghilangkan bau asing dari kamar ini.
Tapi untuk saat ini, untuk lima menit ke depan, aku masih ingin berbaring di sampingnya. Masih ingin merasakan hangat tubuhnya. Masih ingin berpura-pura bahwa ini bukan kesalahan.
Aku tahu ini akan berakhir buruk. Aku tahu suatu hari nanti Danu akan tahu, atau Santi akan tahu, atau tetangga lain akan melihat dan mulai bergosip.
Tapi untuk saat ini, aku tidak peduli.
"Besok?" tanyaku pelan.
Dia menghela napas. Lalu mencium keningku.
"Besok."