Mas Satrio baru saja hendak bangkit dari ranjang. Tubuhnya yang atletis masih basah oleh keringat, otot-ototnya masih tegang sisa-sisa gelombang kenikmatan yang baru saja kita ciptakan. Aku melihat punggung lebarnya yang bidang, rambutnya yang acak-acakan, dan untuk sesaat aku berpikir: Tuhan, kenapa laki-laki ini begitu sempurna?
Aku meraih tangannya.
"Mas," panggilku pelan.
Dia menoleh. "Iya?"
"Nanti aku akan kasih tahu," kataku. Aku sendiri tidak tahu aku akan kasih tahu apa. Tapi kata-kata itu keluar begitu saja.
Tapi kemudian, sebelum dia sempat bertanya lebih lanjut, aku bangkit.
Aku bangkit dari ranjang yang basah dan kusut. Tubuhku masih telanjang, tidak malu lagi di depannya. Aku mendekat, meraih wajahnya dengan kedua tanganku, lalu mencium bibirnya. Muahhh.
Ciuman itu tidak lembut. Tidak seperti tadi. Ini ciuman yang lapar, ciuman yang haus, ciuman yang seolah bilang: Aku belum puas. Aku masih ingin kamu.
"Laras…" bisiknya di sela ciuman.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya menekan bibirku lebih dalam ke bibirnya, lidahku mencari lidahnya, tanganku merambat ke dadanya yang bidang, ke perutnya yang sixpack, ke tempat yang sebentar lagi akan kuminta lagi.
"Sekarang aku mau lagi, Mas."
Matanya membelalak sebentar. Lalu dia tersenyum—senyum nakal yang membuat jantungku berdegup kencang.
"Kamu ini benar-benar…" dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Karena aku sudah mencuri ciuman lagi.
Muahh. Plok. Plok.
Aku mengecup bibirnya berkali-kali, seperti orang kecanduan yang tidak bisa berhenti. Aku merasakan bibirnya yang tebal dan hangat, sedikit pecah-pecah karena terik matahari, tapi justru itu yang membuatnya terasa nyata. Terasa jantan.
"Kamu jantan banget, Mas," bisikku di sela ciuman. Mataku menatap matanya, tidak lagi malu-malu. "Lihat di kaca."
Aku menoleh ke cermin besar di lemari pakaianku. Di sana, terbayang dua tubuh telanjang yang saling berpelukan. Rambutku yang panjang tergerai kusut di bahu. Kulitku yang putih bersanding dengan kulit sawo matang Mas Satrio yang tegap dan kekar.
"Kita cocok banget, Mas," kataku sambil tersenyum. "Ah, muahh. Plok plok. Enak banget, Mas."
Mas Satrio tidak bisa menahan diri lebih lama. Dengan satu gerakan cepat, dia membalikkan tubuhku, menelungkupkanku di ranjang, lalu masuk dari belakang. Aku mengerang pelan, lalu mendesah.
Dia bergerak. Perlahan di awal, lalu makin cepat, makin dalam.
"Terus, Mas… terus…" pintaku dengan napas tersengal. "Mas obok-obok terus…"
Dan dia menurut. Dia terus bergerak, mengguncang tubuhku, membuatku kehilangan pijakan dunia. Setiap dorongannya mengirimkan gelombang kenikmatan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku menggigit bantal, berusaha meredam jeritan yang ingin keluar, tapi tidak bisa sepenuhnya.
"Mas…" bisikku di tengah kenikmatan yang memuncak. Mataku terpejam, tapi mulutku berbicara jujur—sesuatu yang seharusnya tidak pernah kukatakan. "Aku mau punya anak dari kamu, Mas."
Dia terdiam sesaat. Gerakannya melambat.
"Aku mau ayah dari anakku ganteng," lanjutku tanpa bisa berhenti. "Atletis. Jantan. Kayak kamu."
Dia mempercepat lagi gerakannya. Seolah kata-kataku justru membakar semangatnya.
"Kamu serius, Ras?" bisiknya dengan suara parau di belakang telingaku.
Aku mengangguk, meskipun aku tahu ini gila. Meskipun aku tahu ini akan menghancurkan segalanya. Tapi di saat itu, di atas ranjang yang basah oleh keringat dan kenikmatan, aku tidak peduli.
Setelah beberapa saat, dia berbalik lagi. Kini aku di atas, menungganginya, mengatur ritme sendiri. Aku suka begini—aku bisa melihat wajahnya, bisa melihat matanya yang gelap, bisa melihat bibirnya yang sedikit terbuka setiap kali aku bergerak.
"Mas," tanyaku di sela gerakan. "Kamu bisa atletis gini gimana? Nge-gym ya?"
Dia tertawa kecil, meskipun napasnya tersengal. "Iya. Setiap pagi sebelum jaga malam. Atau sepulang jaga malam, sebelum tidur."
"Rajin amat," pujiku sambil terus bergerak.
"Ya… buat jaga badan. Buat jaga…" dia berhenti sebentar, lalu menarik pinggangku lebih dalam. "Buat jaga performa."
"Performa buat apa, Mas?"
Dia tidak menjawab. Tapi senyumnya sudah menjadi jawaban.
-----
Dan seperti biasa, aku sampe berkali-kali.
Bukan sekali. Bukan dua kali. Aku sudah kehilangan hitungan setelah gelombang kelima atau keenam. Tubuhku sudah lemas, berkeringat, hampir tidak bisa bergerak lagi. Tapi Mas Satrio?
Dia masih tegak. Masih keras. Masih harus ronde ke berapa baru keluar.
"Mas, kamu ini manusia atau mesin sih?" tanyaku setengah mengeluh, setengah kagum.
Dia tertawa. "Kamu yang memancing terus, Ras. Mana aku bisa berhenti kalau kamu masih minta?"
Dan akhirnya, setelah mungkin ronde keempat atau kelima—aku benar-benar tidak ingat—dia mulai menegang. Gerakannya menjadi cepat, tidak beraturan, napasnya tersengal di telingaku.
"Sekarang, Mas…" bisikku. "Keluar. Di dalam lagi."
Dia menurut. Aku merasakannya—hangat, deras, cairannya selalu penuh, bahkan luber.
Seperti tadi. Seperti sebelumnya. Setiap kali, rasanya tidak pernah cukup. Setiap kali, aku merasa dia memberikan segalanya, sampai tetes terakhir.
Aku berbaring di dadanya, lemas, basah, berantakan. Tangannya mengelus rambutku dengan lembut. Kontras dengan beberapa menit yang lalu ketika dia begitu liar dan buas.
"Laras," bisiknya.
"Iya."
"Ini gila."
Aku tersenyum. "Aku tahu."
"Kita tidak bisa berhenti, ya?"
Aku mendongak, menatap matanya. "Aku tidak mau berhenti."
Dia menghela napas. Lalu mencium keningku. "Aku juga tidak mau."