Kami masih berciuman di belakang rumahku. Pakaian basah berserakan di lantai. Tubuhku menggigil, bukan karena dingin, tapi karena api yang menjalar di setiap urat nadiku.
Muah… muah…
Kami saling berciuman. Bukan ciuman biasa. Ini ciuman yang mempertukarkan rasa, napas, bahkan lidah. Lidahnya bertemu lidahku, berputar, bermain, seolah tidak ada habisnya. Ini adalah ciuman paling hot yang pernah kurasakan seumur hidupku. Dan aku sudah menikah.
Danu memang suamiku. Tapi tidak pernah—sekali pun tidak pernah—dia menciumku seperti ini.
Mas Satrio menarik tubuhku lebih dekat. Dadanya yang bidang dan keras menekan dadaku yang hanya tertutup bra basah. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat, seirama dengan detak jantungku yang seolah mau meledak.
"Laras…" bisiknya di sela ciuman, suaranya parau dan penuh nafsu. "Aku ingin kamu. Sekarang."
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya mengangguk, lalu menggenggam tangannya, menuntunnya masuk ke dalam rumahku. Ke kamarku. Tempat tidur yang biasa aku bagi dengan Danu. Ranjang yang sebentar lagi akan dinodai oleh dosa yang tidak terampuni.
Mas Satrio mengajakku ke kamarku. Dan aku setuju.
Begitu pintu kamar tertutup, dia melepaskan bra-ku dengan gerakan yang terampil. Tangannya yang besar dan kasar menyentuh dadaku dengan lembut, membuatku menarik napas tajam. Matanya menatapku dengan gelap, penuh hasrat yang selama ini mungkin dia pendam.
Lalu dia melepas celana pendeknya.
Aku terkesima.
Aku belum pernah melihat milik Danu dengan jelas—kami selalu melakukannya dalam gelap, cepat, tanpa banyak eksplorasi. Tapi Mas Satrio berbeda. Imran-nya—istilah yang kupinjam dari bahasa gaul teman-temanku dulu—gede. Panjang. Tebal.
Aku menelan ludah.
Suamiku gak ada apa-apanya, batinku jujur.
Tapi rasa takut juga menyergap. Apakah aku bisa? Apakah muat?
Saat pertama kali dia masuk, sakit sekali.
Aku mengerang, menggigit bibir sampai hampir berdarah. Mataku berkaca-kaca. Tubuhku menegang. Mas Satrio berhenti, menatapku dengan khawatir.
"Sakit, Ras?" bisiknya.
Aku menggeleng, meskipun sebenarnya iya. "Terusin," paksaku.
Dia melanjutkan, perlahan. Sakit itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang mengalir. Sesuatu yang membuat pinggangku bergerak sendiri mengikuti iramanya.
Namun setelah itu, sangat nikmat.
Sungguh, aku tidak tahu bahwa ini bisa seenak ini. Setiap gerakannya, setiap sentuhannya, membuatku kehilangan kendali. Aku bukan lagi Larasati istri Danu yang baik-baik. Aku adalah Larasati yang haus, yang lapar, yang selama ini tidak pernah benar-benar kenyang.
Aku nyampe. Keluar. Berkali-kali.
Bukan sekali. Bukan dua kali. Aku kehilangan hitungan. Setiap kali aku pikir sudah cukup, Mas Satrio mengganti ritmenya, menggali lebih dalam, dan aku kembali terlempar ke puncak kenikmatan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Suara bawah kami menyatu sangat indah. Desahanku, erangan beratnya, tepukan basah dari pertemuan tubuh kami—semuanya menjadi simfoni dosa yang tidak bisa aku hentikan.
Aku dibuat kelimpungan oleh permainan Mas Satrio. Dia tahu persis di mana menyentuh, kapan harus cepat, kapan harus lambat, kapan harus dalam, kapan harus berhenti. Seolah dia sudah membaca seluruh peta tubuhku sejak lama.
Tanpa sadar, aku membandingkannya dengan suamiku.
Danu baik. Danu penyayang. Tapi di ranjang? Danu selesai dalam lima menit, terkadang kurang. Aku jarang—bahkan hampir tidak pernah—merasakan klimaks bersamanya. Aku pikir mungkin memang tidak ada yang namanya kepuasan sejati dalam pernikahan.
Tapi Mas Satrio menunjukkan bahwa aku salah.
Mas Satrio membuatku nyampe berkali-kali, sementara miliknya masih tegak. Masih keras. Masih siap untuk putaran berikutnya. Dia seperti mesin yang tidak pernah kehabisan bahan bakar.
Dan dia pun, dalam panasnya momen itu, tanpa sadar membandingkan diriku dengan istrinya.
"Santi…" bisiknya suatu saat, setengah sadar. Lalu dia menggeleng, menatapku. "Kamu berbeda, Laras. Santi tidak pernah sebasah ini. Tidak pernah sepanas ini."
Aku seharusnya tersinggung. Tapi justru aku merasa... bangga? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, kata-katanya membuatku semakin bernafsu.
Setelah beberapa jam kemudian, Mas Satrio akan keluar.
Aku bisa merasakan dia mulai menegang. Gerakannya menjadi lebih cepat, lebih tidak beraturan. Napasnya tersengal di telingaku.
"Aku mau keluar, Ras," bisiknya dengan suara parau.
Dan tanpa sadar, tanpa berpikir, tanpa mempertimbangkan konsekuensi, mulutku berkata:
"Di dalam. Keluar di dalam."
Dua detik kemudian, dia memenuhi permintaanku.
Aku merasakannya. Hangat. Deras. Cairan cintanya penuh banget. Memenuhi setiap sudut, naik ke atas, sampai aku merasa rahimku bahkan penuh. Begitu penuhnya sampai luber keluar saat dia menarik diri.
Aku terdiam, menatap langit-langit kamar, dengan cairan kental yang mengalir di pahaku.
Apa yang baru saja aku lakukan?
----
Janji di Atas Dosa
Mas Satrio berbaring di sampingku, napasnya masih terengah-engah. Tangannya meraih tanganku, menggenggamnya erat.
"Itu tadi… luar biasa, Laras," bisiknya.
Aku hanya tersenyum tipis. Masih terlalu lelah untuk bicara.
Dia menoleh, menatap mataku. "Kita harus ulangi lagi."
Aku tahu ini salah. Aku tahu ini akan menghancurkan pernikahanku, pernikahannya, persahabatanku dengan Santi, semuanya. Tapi di saat itu, dengan tubuh yang masih berdenyut-denyut, dengan rasa yang masih tersisa di antara pahaku, aku tidak bisa berkata tidak.
"Kapan?" tanyaku pelan.
"Besok. Atau lusa. Selagi Santi masih di kampung," jawabnya cepat, seolah sudah memikirkan ini sejak lama.
"Baik," bisikku. "Lain kali lagi."
Dia mencium keningku, lalu bangkit, mengumpulkan pakaiannya yang berserakan. Aku masih berbaring telanjang di ranjang yang basah oleh keringat dan cairan kami.
Saat dia melangkah keluar kamar, dia menoleh sekali lagi.
"Laras."
"Iya?"
"Ini rahasia kita."
Aku mengangguk. "Rahasia kita."
Pintu depan tertutup perlahan. Aku sendirian lagi di rumahku, di ranjang yang sebentar lagi akan kucuci seprai-nya sebelum Danu pulang.
Tapi bekasnya tidak akan pernah hilang. Tidak di tubuhku. Tidak di pikiranku.