Hari ketujuh tanpa Santi. Rumah sebelah terasa begitu sunyi, dan aku… aku mulai terbiasa dengan pemandangan Mas Satrio yang berlalu-lalang di depan rumahnya. Terlalu terbiasa, mungkin.
Pagi itu, aku memutuskan untuk mencuci. Sudah seminggu pakaian kotor menumpuk karena aku sibuk membantu Danu menyelesaikan berkas-berkas kantornya. Jam menunjukkan pukul 10 ketika aku mulai memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci.
Aku tidak menyadari ada yang salah sampai air mulai menggenang di lantai belakang.
----
Pipa Bocor
"Astaga!"
Pipa di belakang mesin cuci itu bocor. Air menyembur deras, tidak besar tapi cukup untuk membuat lantai belakangku basah dalam hitungan menit. Aku panik. Coba menutupnya dengan tangan, tapi air justru muncrat ke wajah dan bajuku.
Dalam beberapa detik, baju tidur tipis yang aku kenakan basah kuyup. Menempel di setiap lekuk tubuhku. Aku merinding, bukan karena dingin tapi karena canggung.
"Aduh, gimana ini…"
Otakku berpikir cepat. Danu sedang bekerja, tidak akan pulang sampai sore. Santi masih di kampung. Tidak ada tetangga lain yang aku kenal cukup dekat selain…
Mas Satrio.
Aku menghela napas. Tidak ada pilihan lain.
Dengan langkah ragu, aku keluar dari belakang rumah, membuka pagar, dan mengetuk pintu rumah sebelah. Pakaianku masih basah. Rambutku menempel di dahi. Aku pasti terlihat sangat menyedihkan.
Tok. Tok. Tok.
Pintu terbuka. Mas Satrio berdiri di hadapanku, masih dengan celana pendek abu-abu kesukaannya dan kaos oblong hitam longgar. Matanya sedikit mengerjap, sepertinya baru bangun tidur.
"Laras? Ada apa? Kamu basah kuyup gitu?"
Aku menggigit bibir. "Maaf, Mas. Pipa belakang rumahku bocor. Aku… aku tidak tahu harus minta tolong siapa lagi. Danu kerja, Santi masih di kampung. Mas bisa bantu perbaiki sebentar?"
Mas Satrio mengerjap lagi, lalu tersenyum kecil. "Tentu saja. Sabar ya, aku ambil peralatan dulu."
----
Membenarkan Pipa
Dia kembali beberapa menit kemudian dengan membawa kunci pipa dan lakban hitam. Kami berjalan ke belakang rumahku, melewati pintu dapur yang masih terbuka.
"Wah, cukup parah juga," komentarnya melihat air yang masih menyembur dari sambungan pipa yang kendur. "Cuma perlu dikencangkan sebenernya. Bentar ya."
Dia berlutut di lantai yang becek, tangannya meraih pipa itu. Aku berdiri di sampingnya, tidak tahu harus membantu apa. Air masih muncrat, dan beberapa kali percikannya mengenai tubuhku. Juga tubuhnya.
"Maaf, Mas. Bikin repot," ucapku gugup.
"Santai aja. Ini mah kerjaan gampang."
Beberapa menit kemudian, setelah memutar dan memasang lakban, semburan air itu berhenti. Pipa sudah kencang kembali. Mas Satrio menghela napas lega, lalu menoleh ke arahku.
Dan di saat itulah dia menyadari sesuatu.
Bajuku basah. Sangat basah.
Baju tidur tipis berwarna krem itu transparan karena air. Aku bisa melihat sendiri bahwa bra-ku terlihat jelas di balik kain tipis itu. Aku menyilangkan tangan di d**a, berusaha menutupi, tapi rasanya sudah telanjur.
Mas Satrio juga basah. Kaos oblong hitamnya penuh dengan noda air dan sedikit kotoran pipa. Dadanya yang bidang terlihat jelas karena kain basah yang menempel.
"Laras…" suaranya pelan. "Baju kamu basah. Nanti masuk angin."
"Iya, Mas. Nanti aku ganti," jawabku, berusaha terdengar biasa.
Tapi Mas Satrio tidak bergerak. Dia berdiri di hadapanku, jarak kami hanya sejengkal. Aku bisa mencium aroma sabun mandinya yang segar bercampur keringat ringan. Wangi laki-laki sejati.
Aku mendongak, menatap wajahnya.
-----
Melepas Pakaian
Tanpa banyak bicara, Mas Satrio menarik ujung kaosnya dan melepasnya. Dalam satu gerakan cepat, kaos basah itu terlepas dan dilempar ke samping.
Aku tercengang.
Di hadapanku kini berdiri Mas Satrio dengan tubuh atletisnya yang terlihat jelas tanpa sehelai kain pun menutupi d**a dan perutnya. Bahunya lebar, dadanya bidang dengan otot pecs yang kokoh. Lengannya padat, urat-uratnya tampak jelas. Dan perutnya…
Perutnya rata dengan sixpack yang terbentuk sempurna. Enam kotak otot yang terlihat kering meskipun baru saja bekerja. Kulitnya sawo matang, membuat setiap lekuk ototnya semakin tegas.
Aku tidak bisa berkata-kata.
"Ma-Mas…" tergagapku.
Dia tersenyum kecil, sepertinya sadar dengan efek yang ditimbulkan tubuhnya padaku. "Maaf, kaosnya basah dan kotor. Nggak nyaman."
Aku mengangguk bodoh. Mataku masih tidak bisa lepas dari perutnya yang… sempurna. Aku belum pernah melihat tubuh laki-laki seperti ini secara langsung, sedekat ini. Danu memang tidak gemuk, tapi juga tidak sekekar ini.
Mulutku bergerak tanpa izin otakku.
"Mas… badan kamu keren banget."
Begitu kata-kata itu keluar, aku langsung menyesal. Aku menutup mulut dengan tangan, pipiku terasa panas. Tapi sudah terlambat.
Mas Satrio tertawa kecil. Suaranya berat dan dalam.
"Oh iya? Makasih. Aku rajin olahraga," jawabnya santai, seolah pujian dari tetangga istri orang itu hal yang biasa.
Tapi tidak ada yang biasa dari detik berikutnya.
----
Sentuhan Terlarang
Dia mengambil satu langkah mendekat. Kini jarak kami hanya beberapa sentimeter. Aku bisa merasakan panas tubuhnya menyebar ke seluruh pori-poriku. Wangi sabun dan maskulinitasnya memenuhi kepalaku, membuat pikiranku mulai kabur.
Tiba-tiba, Mas Satrio menarik tanganku.
Tangannya yang besar dan kasar menggenggam pergelangan tanganku dengan lembut tapi tegas. Perlahan, dia menggerakkan tanganku ke depan, menempelkan telapak tanganku yang masih basah ke perutnya yang keras.
Aku tersentak.
"Ma-Mas…"
Dia tidak menjawab. Tangannya masih memegang tanganku, menekankannya sedikit ke otot perutnya yang kokoh. Aku bisa merasakan setiap lekuk sixpack itu di bawah telapak tanganku. Keras. Hangat. Berdenyut sedikit.
"Mas… keras banget…" bisikku tanpa sadar.
Suaraku pelan, hampir seperti desahan. Dan aku tahu, dari nada suaraku itu, tidak ada lagi kata "tidak" yang tersisa di dalam diriku.
Mas Satrio menatap mataku. Matanya gelap, penuh dengan sesuatu yang tidak bisa aku baca. Nafsu? Atau hanya rasa ingin tahu? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku tidak bisa bergerak. Tidak bisa berpikir.
Dan kemudian, dia mencondongkan tubuhnya.
Dia mencium bibirku.
----
Ciuman Pertama
Awalnya, aku menolak. Tepatnya, tanganku terangkat untuk mendorong dadanya yang bidang. Pikiranku berteriak: Ini salah. Kamu istri orang. Dia suami orang. Ini zina. Ini dosa. Berhenti.
Tapi tubuhku tidak mendengarkan.
Ciuman Mas Satrio tidak kasar. Lembut, tapi penuh penekanan. Bibirnya tebal dan hangat, mengulum bibir bawahku dengan lembut. Lidahnya menyentuh bibirku, meminta izin.
Dan aku… aku ikut irama Satrio.
Aku tidak tahu kapan tepatnya aku menyerah. Mungkin saat tangannya yang besar menyentuh pinggangku. Mungkin saat napasnya yang hangat membelai pipiku. Atau mungkin saat lidahnya masuk dan bertemu dengan lidahku, membuat seluruh tubuhku meleleh.
Aku membalas ciumannya. Tanganku yang semula mendorong dadanya, kini justru meraih tengkuknya, menariknya lebih dekat. Aku merasakan otot-ototnya bergerak di bawah sentuhanku. Aku merasakan dadanya yang bidang menekan dadaku yang hanya tertutup kain tipis basah.
Dia menghela napas di sela ciuman. "Laras…"
Namanya keluar dari bibirnya seperti doa. Atau kutukan. Aku belum tahu.
----
Membuka Baju
Saat ciuman itu berlangsung, tangannya mulai bergerak. Dari pinggangku, perlahan naik ke punggungku. Jari-jarinya yang kasar menyentuh kulitku yang basah, membuatku merinding.
"Laras," bisiknya di sela ciuman, suaranya parau. "Baju kamu udah basah."
Aku tidak menjawab. Aku hanya memejamkan mata.
Dengan gerakan yang lembut tapi tegas, Mas Satrio mulai membuka bajuku. Kancing demi kancing. Perlahan. Seolah dia menikmati setiap detiknya, setiap sentimeter kulit yang mulai terbuka.
Ciumannya tidak berhenti. Bibirnya masih menempel di bibirku, di sudut mulutku, di daguku, di leherku. Membuatku kehilangan kemampuan berpikir jernih.
Baju tidurku jatuh ke lantai yang basah. Aku hanya mengenakan bra berwarna putih polos di atas, dan celana pendek di bawah. Mas Satrio mundur sebentar, menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya gelap, napasnya memburu.
"Kamu cantik, Laras," bisiknya. "Aku sudah lama ingin melakukan ini."
Dan sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya, dia sudah menciumku lagi. Lebih dalam. Lebih liar. Seolah tidak ada lagi yang bisa menghentikan kami.
Di belakang rumahku, di siang hari yang terik, dengan pakaian basah berserakan di lantai, aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku.
Atau mungkin… awal dari sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.