Telah lima hari Santi pulang ke kampungnya. Orang tuanya sakit, katanya. Ibu Santi jatuh dari sepeda motor dan harus dirawat di rumah sakit. Santi pamit padaku sambil tergesa-gesa di depan pagar rumah, koper kecil di tangannya.
"Laras, tolong kadang-kadang lihat-lihat Mas Satrio ya. Kasih makan kucing-kucingnya juga," pesannya dengan mata sembab.
Aku mengangguk, mengucapkan ikut doa, lalu menatap taksi yang membawa Santi pergi meninggalkan komplek perumahan yang sepi ini.
Kini, hari kelima tanpa Santi.
----
Jam 10 Pagi: Rutinitas Baru
Aku perhatikan Mas Satrio mulai menyiapkan segala kebutuhan sehari-harinya seorang diri. Tanpa Santi, rumah sebelah terasa hampa. Tak ada lagi suara tawa Santi saat mencuci baju di belakang. Tak ada lagi ajakan ngobrol di teras sambil minum teh.
Dan yang paling berbeda—aku melihat Mas Satrio melakukan semua pekerjaan rumah sendirian.
Rutinitasnya mulai sekitar jam 10 atau 11 pagi, seusai tidur sepulang jaga malam. Aku sudah hapal jadwalnya, meskipun tidak pernah aku akui pada diriku sendiri bahwa aku memperhatikannya.
Jam segitu, aku biasanya sedang menyapu teras depan atau menyiram tanaman hias yang Danu belikan minggu lalu. Dan dari sudut mataku, aku bisa melihat halaman rumah sebelah dengan jelas. Hanya dibatasi pagar beton setinggi d**a.
-----
Pemandangan yang Sulit Dilupakan
Hari ini, Mas Satrio sedang menjemur pakaian.
Aku baru saja selesai menyiram bunga ketika suara jemuran ditarik membuatku mendongak. Dan di sanalah dia.
Mas Satrio bertelanjang d**a.
Hanya mengenakan celana pendek berwarna abu-abu yang agak longgar di paha tapi pas di pinggang. Tanpa atasan. Tanpa alas kaki. Rambutnya masih agak basah, sepertinya habis mandi. Dia menjemur dengan gerakan santai, satu per satu kaus dan celana panjangnya ia gantung di tali jemuran plastik biru.
Aku tahu ini salah. Aku tahu ini tidak pantas. Aku perempuan bersuami. Dia laki-laki beristri. Kami tetangga. Seharusnya tidak ada yang aneh.
Tapi mataku… mataku tidak bisa berpaling.
Aku suka mencuri pandang. Itu jujur yang harus aku akui pada diriku sendiri saat menuliskan ini.
Postur tubuh Mas Satrio yang tinggi (180-an) nampak kekar dan berotot. Bahunya lebar, lengannya padat dengan urat-urat yang tampak jelas saat ia meraih jemuran yang tergantung agak tinggi. Dadanya bidang, dengan sedikit bulu halus yang merambat dari d**a hingga ke perut. Perutnya rata, tidak sixpack tapi kokoh, seperti seseorang yang terbiasa bergerak dan menjaga kebugaran.
Sesuatu hal yang memang diperlukan untuk tugas semacam satpam—dan semacamnya.
Aku menelan ludah.
----
Kilas Balik: Saat di Gym
Ini bukan pertama kalinya aku melihatnya seperti ini.
Pernah, sekitar dua minggu lalu, aku sedang berjalan pulang dari warung sembako di ujung komplek. Waktu itu sudah sore, sekitar jam 5. Dan dari kejauhan, aku melihat seseorang berlari kecil ke arahku.
Mas Satrio.
Dia baru pulang dari gym. Tidak jauh dari komplek kami memang ada tempat gym kecil, tidak lengkap peralatannya dan hanya muat untuk lima orang sekaligus. Tapi cukup untuk orang seperti Mas Satrio yang hanya butuh menjaga tubuh tetap prima.
Waktu itu, dia memakai tanktop hitam yang basah oleh keringat. Celana training panjang yang menggantung di pinggangnya. Wajahnya merah, napasnya masih tersengal. Keringat membasahi lehernya, menetes ke d**a yang bidang, membuat tanktopnya menempel sempurna di setiap lekuk otot.
Ia tampak jantan.
Bukan sekadar tampan. Tapi jantan. Seperti laki-laki dari iklan-iklan parfum mahal yang tidak pernah aku beli. Seperti figuran di film action yang selalu menyelamatkan wanita dalam bahaya.
Kami berpapasan di depan gang sempit.
"Mas Satrio, baru pulang gym?" sapaku, berusaha terdengar biasa.
"Iya, Laras. Kamu dari mana?" jawabnya sambil menyeka keringat di dahinya dengan ujung tanktop—tanpa sadar memperlihatkan perutnya yang kokoh untuk satu detik.
"Dari warung, beli telur."
"Baik, hati-hati di jalan."
Percakapan sederhana. Tidak lebih dari 20 detik. Tapi getarannya... aku diam-diam merasakan getaran yang tidak bisa aku jelaskan.
Getaran yang tidak seharusnya aku rasakan untuk tetangga sebelah. Getaran yang tidak seharusnya aku rasakan sebagai istri Danu. Getaran yang membuatku bergidik setiap kali mengingatnya, sekaligus membuatku malu pada diriku sendiri.
----
Hari Ini: Lagi-lagi Curi Pandang
Kembali ke hari ini.
Mas Satrio masih menjemur. Dia membungkuk sebentar untuk mengambil ember berisi jemuran, dan aku bisa melihat dengan jelas bentuk punggungnya yang lebar dan kekar, mengerucut ke pinggang yang ramping.
Dia tiba-tiba menengok ke arahku.
Aku terkejut. Jantungku berdegup kencang. Apakah dia tahu aku sedang menatapnya? Apakah dia sadar bahwa selama lima menit terakhir mataku tidak pernah lepas dari tubuhnya?
Dengan panik, aku pura-pura sibuk memeriksa daun bunga mawar yang sudah aku siram lima menit lalu. Aku memetik daun kering yang sebenarnya tidak perlu dipetik. Aku berpura-pura sangat fokus pada tanaman hiasku.
"Awas, nanti layu kalau terlalu banyak air," tiba-tiba suara Mas Satrio terdengar dari balik pagar.
Aku mendongak, berusaha memasang ekspresi biasa. "Iya, Mas. Lagi belajar. Masih baru soal tanaman beginian."
Dia tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang membuat matanya menyipit dan garis di pipinya muncul.
"Santai aja. Nanti kalau Santi pulang, bisa tanya sama dia. Santi jago soal tanaman."
"Oh iya, Mas. Santi memang hobi tanam-tanaman ya?"
"Iya. Rumah jadi asri karena dia."
Percakapan singkat lagi. Tidak lebih dari satu menit. Tapi cukup untuk membuat dadaku sesak.
Dia masuk ke rumah, membawa ember kosong. Pintu dapur tertutup perlahan.
Dan aku masih berdiri di depan pot bunganya, memegang gayung air, dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa aku jelaskan.
Rasa bersalah? Rasa malu? Atau justru... rasa penasaran?
Aku tidak tahu. Yang aku tahu, Santi baru pergi lima hari. Masih sepuluh hari lagi sebelum dia kembali. Dan aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapi sepuluh hari ke depan, dengan pemandangan seperti tadi pagi yang terus berulang di kepalaku.
Aku masuk ke rumahku, menutup pintu, dan bersandar di baliknya.
"Ya Allah, Laras, kamu kenapa sih?" bisikku pada diri sendiri.
Tapi hatiku tidak menjawab.
Atau mungkin, hatiku sengaja tidak mau menjawab.