Lauryn Moore tersenyum lebar sambil menggenggam erat map biru di dadanya. Suara riuh para siswa yang merayakan kelulusan memenuhi halaman sekolah menengah bergengsi itu. Beberapa siswa sibuk berfoto bersama keluarga mereka, sementara yang lain saling berpelukan penuh haru.
Namun bagi Lauryn, ada satu hal yang paling ingin ia lakukan saat ini.
Pulang!
Gadis itu menatap kembali lembar hasil kelulusannya dengan mata berbinar.
Peringkat satu.
Lagi!
Napasnya bergetar pelan menahan rasa bahagia yang hampir meluap. Semua perjuangannya selama ini akhirnya terbayar. Begadang setiap malam, belajar di tengah lampu redup, membantu kedua orang tuanya sepulang sekolah, semuanya terasa sepadan hari ini.
“Ryn, kamu mau langsung pulang?” tanya Violeta Phillip sambil menghampiri. “Bareng aku saja.”
Lauryn menoleh lalu tersenyum hangat. Violeta adalah sahabatnya sejak kecil. Meski kehidupan mereka sangat berbeda, persahabatan keduanya tetap erat hingga sekarang.
Violeta berasal dari keluarga kaya dan terpandang di kota itu, sedangkan Lauryn hanyalah anak seorang petani sederhana. Penghasilan kedua orang tuanya bahkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun keadaan itu tidak pernah membuat Lauryn menyerah pada hidupnya.
Sejak kecil, ia selalu percaya bahwa pendidikan bisa mengubah nasib keluarganya. Karena itu, ia belajar lebih keras dibanding siapa pun. Bahkan untuk bisa masuk ke sekolah bergengsi ini, Lauryn harus bersaing dengan ratusan siswa lain demi mendapatkan beasiswa penuh.
Dan ia berhasil.
“Iya, aku mau langsung pulang,” jawab Lauryn penuh semangat. “Aku ingin kasih tahu Ayah dan Ibu kalau aku lulus dengan nilai tertinggi.”
Vio terkekeh pelan sambil menyilangkan tangan di d**a.
“Halah, seisi kota juga sudah tahu kamu bakal jadi nomor satu lagi,” godanya. “Coba bilang, siapa yang pernah ngalahin otak jenius kamu itu?”
Lauryn langsung tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya.
“Meski begitu, aku tetap mau merayakannya sama Ayah dan Ibu,” ucapnya lembut.
Violeta menyipitkan mata penuh curiga, lalu menunjuk Lauryn.
“Nah, kan benar. Kamu cuma cari alasan supaya orang tua kamu libur kerja sehari dan kumpul lengkap di rumah.”
Lauryn tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia langsung memeluk sahabatnya erat.
“Kamu memang paling tahu aku.”
Keduanya tertawa bersama sebelum berjalan menuju area parkir sekolah. Di sana, mobil mewah milik keluarga Violeta sudah menunggu.
Violeta segera membuka pintu mobil sambil berkata dramatis, “Baiklah, Nona Juara Pertama. Aku akan mengantarmu pulang secepat kilat supaya kamu bisa pesta kecil bersama keluargamu.”
Lauryn tersenyum lebar tanpa menyadari bahwa hari bahagia itu akan menjadi awal perubahan besar dalam hidupnya.
~~
Di sisi lain, sepasang mata menatap ke arah Lauryn dengan rasa tidak suka. Senyum indah yang terukir di wajah gadis itu justru membuat d**a seseorang terasa panas.
Orang itu adalah Daren Ashar, cowok paling populer di sekolah. Statusnya sebagai anak keluarga kaya dan berpengaruh di kota ini membuatnya bertingkah seenaknya, seolah dunia harus selalu tunduk padanya.
Banyak siswa pernah menjadi korban kesombongan dan permainan liciknya. Bahkan diam-diam, beberapa orang memberinya julukan “penjahat kelamin” karena terlalu sering mempermainkan hati gadis-gadis yang sedang berada di masa paling polos dan mudah jatuh cinta.
“Bukankah dia gadis yang sangat menarik?” ucap Keith yang berdiri di samping Daren.
Namun Daren tetap membisu. Rahangnya mengeras saat melihat Lauryn tertawa kecil sebelum berjalan menjauh bersama temannya.
Sejak lama, Daren memang tertantang untuk mendapatkan Lauryn. Sayangnya, gadis itu pernah menolaknya mentah-mentah. Beruntung tidak ada seorang pun yang mengetahui kejadian memalukan tersebut. Jika sampai tersebar, harga dirinya pasti akan menjadi bahan olok-olokan teman-temannya.
“Dia memang cantik dan berbeda dari gadis lain,” sahut Erick sambil tersenyum tipis.
Tak bisa dimungkiri, Lauryn memang gadis tercantik di Dream High School. Bahkan, banyak orang menganggap kecantikannya yang paling menonjol di kota ini. Dan dalam pikiran Daren, gadis secantik itu seharusnya menjadi miliknya. Sama seperti mobil mewah, pakaian mahal, atau apa pun yang selalu berhasil ia dapatkan. Daren terbiasa memperoleh segala yang diinginkannya.
Keluarganya termasuk salah satu yang paling kaya dan berkuasa di kota ini. Tidak heran jika banyak gadis dengan sukarela mendekatinya, berharap bisa menjadi bagian dari kehidupan glamor milik sang Casanova. Namun semua itu tidak berlaku bagi Lauryn. Gadis itu sama sekali tidak tertarik padanya, bahkan tak pernah memberi sedikit pun tatapan kagum.
Dan hal itulah yang membuat Daren merasa terhina.
Bagaimana mungkin seorang gadis miskin seperti Lauryn berani menolaknya?
Daren bisa merasakan tatapan jijik yang tersembunyi di balik keramahan Lauryn. Memang, gadis itu selalu tersenyum dan bersikap baik kepada siapa saja. Namun entah kenapa, Daren yakin Lauryn memandangnya rendah, seolah dirinya hanyalah lelaki menjijikkan yang pantas dihindari.
Itu sangat mengganggu harga dirinya.
Dalam benak Daren, tidak mungkin ada gadis yang mampu menolak pesonanya. Wajah tampan, kekayaan, dan popularitasnya adalah sesuatu yang diidam-idamkan banyak perempuan. Menurutnya, Lauryn akan menyesal karena memilih menjauh darinya.
Namun berbeda dengan Lauryn yang sama sekali tidak peduli pada keberadaan Daren. Memang benar, banyak gadis rela mengantre demi mendapatkan perhatian cowok itu, tetapi bagi Lauryn hal tersebut hanyalah sesuatu yang bodoh.
Ia tidak menyukai laki-laki seperti Daren, pria yang hanya bisa membanggakan harta orang tuanya dan memperlakukan perempuan seperti koleksi.
Di mata Lauryn, Daren tak ubahnya seperti sampah yang harus dijauhi karena hanya akan merusak harinya.
“Ayo pergi dari sini,” ucap Daren dingin sebelum melangkah menuju mobil mewahnya yang terparkir di halaman sekolah.
~~
“Ryn, jadi gimana? Kamu jadi kuliah di luar negeri?” tanya Vio sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Aku berharap bisa diterima dengan beasiswa penuh,” jawab Lauryn sambil menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Ia ingin puas menikmati kota ini sebelum pergi meninggalkannya jika benar diterima di universitas impiannya.
“Kamu pasti diterima. Pengumumannya besok, kan? Berarti kita nggak akan bertemu dalam waktu yang lama…” ucap Vio sambil tersenyum pahit. “Aku iri sama kamu, Ryn. Coba saja aku punya mata hijau, kulit mulus, rambut lembut dan tebal seperti kamu. Ditambah lagi otak encer dan nilai bagus sampai bisa kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Pasti hidupku sempurna.”
Lauryn terkekeh pelan. “Ya Tuhan, Vio. Kamu juga cantik, tahu. Mata cokelatmu itu indah, belum lagi rambut ikalmu yang bikin kamu makin manis. Dan kamu juga pintar. Keluargamu kaya, kamu bisa makan apa pun yang kamu mau tanpa harus memikirkan besok makan apa. Kamu bisa membeli apa saja tanpa takut tidak bisa bertahan hidup.”
Lauryn menoleh ke arah sahabatnya lalu melanjutkan dengan lembut, “Tuhan menciptakan setiap manusia dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Semua sudah diberikan dengan adil, hanya saja kadang kita sendiri yang malas berusaha. Nggak adil kalau kita iri pada orang yang bekerja lebih keras dari kita.”
Vio hanya diam mendengarkan.
“Kamu itu pintar, Vio. Hanya saja sedikit malas. Kamu tahu sendiri bagaimana aku belajar dari waktu ke waktu. Bahkan saat makan pun aku masih membaca buku. Sekarang aku tanya, apa kamu mau belajar sekeras itu?”
Vio tertawa kecil. “Hahaha… coba saja Tuhan nggak memberiku rasa malas, mungkin aku bisa belajar nonstop setiap hari.”
“Hah, lagi-lagi kamu menyalahkan Tuhan.” Lauryn menggeleng sambil tertawa tipis. “Kau pikir aku nggak punya rasa malas? Aku juga ingin bermalas-malasan, nonton TV, nongkrong bersama teman-teman, menikmati dunia luar seperti yang lain. Tapi aku nggak bisa melakukan itu. Kalau aku hidup santai seperti kamu, keluargaku mungkin akan terus miskin selamanya.”
“Ha… ha… iya, iya. Semua ucapan Tuan Putri Lauryn pasti benar,” goda Vio. “Ngomong-ngomong, sepertinya Daren sangat menyukaimu. Menurutmu bagaimana, Ryn?”
Deg!