Lauryn sedikit terkejut saat mendengar pengakuan itu dari Violeta, ia memang pernah diajak pulang bareng oleh Daren tapi ia tidak memberitahukan pada siapapun. Dan Lauryn hanya menganggapnya hal yang tidak serius. Ia tahu betul, orang seperti apa Daren Ashar. Menurutnya, laki-laki itu hanya haus perhatian dan terbiasa mempermainkan perempuan sesuka hati. Buka. Yang benar bensr menyukainya.
Lauryn berdecak pelan.
“Cih, mana mungkin. Kamu dapat gosip itu dari mana, Vio?” tanyanya sambil mencebik.
“Serius, aku dengar langsung dari mulutnya sendiri. Katanya dia suka sama kamu. Bahkan sepertinya dia mau ngajak kamu ke prom night nanti,” jawab Vio antusias, membocorkan apa yang ia dengar kemarin.
Lauryn langsung mengernyit jijik.
“Aku nggak tertarik pergi sama dia. Cowok seperti Daren itu menjijikkan. Baru beberapa hari lalu dia mengerayangi Jolie, belum lagi perempuan-perempuan lainnya,” ucap Lauryn dengan nada sinis.
“Memangnya kamu lihat sendiri? Atau cuma Jolie yang terlalu banyak omong?” balas Vio sambil mengangkat sebelah alis. “Kamu tahu sendiri kan, Jolie itu suka cari perhatian. Bisa jadi dia sengaja membesar-besarkan cerita karena merasa bangga dekat sama Daren, cowok paling populer di sekolah.”
Lauryn mendengus pelan.
“Bukan sesuatu yang pantas dibanggakan kalau sampai digerayangi Daren,” cibirnya.
Baginya, berhubungan dengan laki-laki seperti Daren hanya akan membawa masalah. Lauryn masih sangat menghargai dirinya sendiri dan masa depannya. Ia tidak ingin kesenangan sesaat menghancurkan cita-cita yang sudah ia bangun sejak lama. Ia ingin sukses dan mengangkat derajat kedua orang tuanya.
“Kayaknya cuma kamu deh yang punya pemikiran begitu,” ujar Vio sambil terkekeh kecil. “Semua cewek di sekolah tergila-gila sama Daren, sedangkan kamu malah ogah mendekat.”
Lauryn justru tersenyum tipis.
“Dan aku bersyukur karena itu,” katanya santai. “Ngomong-ngomong, jangan bilang kamu juga termasuk salah satu penggemarnya?”
“No, I don’t!” Vio langsung menggeleng cepat. “Kamu tahu sendiri aku sukanya Eric. Dia beda sama Daren. Eric itu baik.”
“Semoga saja memang begitu,” balas Lauryn. “Tapi tetap hati-hati, Vio. Kadang orang yang berteman dekat dengan Daren bisa ikut terpengaruh sifat buruknya. Jangan sampai kamu tertipu.”
Vio memutar bola matanya malas.
“Iya, Nona Lauryn yang cantik tapi cerewet,” godanya.
Lauryn terkekeh kecil mendengar itu.
Karena terlalu asyik mengobrol, mereka tidak sadar mobil sudah sampai di rumah Lauryn. Rumah sederhana itu berada di pinggiran kota, jauh dari keramaian. Di kanan dan kiri jalan masih banyak tanah kosong dengan pepohonan liar yang tumbuh tidak beraturan.
“Vio, makasih banyak ya udah nganterin aku pulang,” ucap Lauryn tulus.
“Tenang aja.” Vio tersenyum sambil mengangguk. “Sekarang sana nikmati waktu sama kedua orang tuamu. Mereka pasti bangga banget karena kamu dapat nilai tertinggi.”
Senyum Lauryn langsung mengembang lebar mendengar itu.
“Iya, aku juga nggak sabar mau kasih tahu mereka.”
Setelah berpamitan, Vio segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Lauryn. Sementara Lauryn melangkah masuk ke dalam rumah kecilnya dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan.
--
Malam harinya, Lauryn mengadakan perayaan kecil bersama kedua orang tuanya. Tradisi sederhana yang selalu mereka lakukan setiap kali Lauryn berhasil meraih nilai tertinggi di sekolah.
Di atas meja makan tersaji hidangan yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja. Nasi hangat, sepiring sayur, telur goreng yang dipotong bulat dan disusun mengelilingi piring, serta beberapa potong ayam goreng.
Namun bagi keluarga Moore, hidangan itu adalah sebuah kemewahan.
"Baiklah, saatnya kita mulai," ucap Ergin Moore sambil tersenyum.
Lauryn dan ibunya segera duduk di kursi masing-masing. Mata Lauryn berbinar menatap hidangan di depannya. Sejak siang tadi, setelah mengetahui hasil nilainya, ia sudah tidak sabar menunggu malam tiba.
"Ayah yang pimpin doa," ujar Zaline.
Ergin mengangguk. Ia menengadahkan kedua tangannya, diikuti oleh Lauryn dan Zaline.
"Terima kasih Tuhan atas segala berkat yang telah Engkau berikan kepada keluarga kami. Terima kasih karena malam ini kami masih dapat berkumpul dan menikmati makanan yang begitu istimewa bagi kami."
Ergin berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Terima kasih juga karena Engkau telah menghadirkan Lauryn dalam hidup kami. Hari ini putri kami kembali mendapatkan nilai tertinggi. Kami percaya semua itu terjadi karena penyertaan dan karunia-Mu."
Suara Ergin mulai terdengar lebih lembut.
"Kami berdoa agar Lauryn selalu diberi kesehatan, kekuatan, dan kebijaksanaan untuk meraih cita-citanya. Bimbinglah langkahnya dalam menghadapi setiap rintangan. Semoga masa depannya dipenuhi hal-hal baik yang telah Engkau siapkan. Amin."
"Amin," jawab Lauryn dan Zaline bersamaan.
Begitu doa selesai, Lauryn segera mengambil ayam di depannya. Senyum lebar tidak pernah lepas dari wajahnya sepanjang makan malam.
Melihat itu, Ergin dan Zaline hanya saling berpandangan sambil tersenyum.
Namun di balik senyum tersebut, ada rasa sesak yang mengendap di hati Ergin.
Putrinya tampak begitu bahagia hanya karena bisa menikmati beberapa potong ayam.
Hal yang bagi banyak keluarga dianggap biasa, justru menjadi hadiah istimewa bagi mereka.
'Ayah minta maaf, Nak,' batin Ergin.
'Ayah belum bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untukmu. Bahkan makanan seperti ini pun tidak bisa Ayah sediakan setiap hari.'
Biasanya mereka hanya makan sayur, tahu, atau tempe. Telur mungkin masih bisa dinikmati seminggu sekali. Sedangkan ayam atau daging harus menunggu momen-momen tertentu.
Namun Lauryn tidak pernah mengeluh.
Gadis itu selalu belajar dengan giat, seolah memahami setiap pengorbanan kedua orang tuanya.
"Ayah," panggil Lauryn di sela-sela makannya.
"Hm?"
"Kalau nanti aku diterima di universitas yang aku inginkan, apakah Ayah dan Ibu mau ikut pindah bersamaku?"
Ergin dan Zaline saling berpandangan.
"Kita lihat nanti," jawab Ergin tenang. "Kita belum tahu kamu akan diterima di mana. Selain itu Ayah juga harus memikirkan pekerjaan. Belum tentu di sana Ayah bisa mendapatkan pekerjaan yang cocok."
Lauryn mengangguk.
"Itu benar juga. Tapi nanti aku bisa survei dulu. Kalau di sana ada peluang kerja untuk Ayah, kita bisa pindah sementara."
Ergin tersenyum.
"Itu ide yang bagus. Nanti Ayah antar kamu ke sana. Sekalian melihat lingkungan dan mencari informasi pekerjaan. Kalau semuanya memungkinkan, baru Ayah jemput Ibu."
Mendengar itu, senyum Lauryn semakin lebar.
Salah satu hal yang selalu ia syukuri dalam hidup adalah kasih sayang kedua orang tuanya.
Mereka mungkin tidak memiliki banyak uang.
Namun mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga.
Cinta.
~
Di saat Lauryn menghabiskan malam dengan tawa dan kebahagiaan, Violeta Philips justru menangis sendirian di dalam kamarnya.
Gadis itu meringkuk di atas tempat tidur sambil menutupi kedua telinganya menggunakan bantal.
Namun suara pertengkaran dari luar kamar tetap terdengar jelas.
Brak!
Prang!
Suara benda pecah membuat tubuh Vio bergetar.
Air matanya kembali mengalir.
Ia bahkan sudah tidak ingat sejak kapan kedua orang tuanya selalu bertengkar seperti ini.
Yang ia tahu, rumah mewah yang mereka tinggali tidak pernah benar-benar terasa hangat.
Setiap sudutnya dipenuhi kemewahan.
Tetapi tidak dengan kebahagiaan.
"Kenapa harus bertengkar lagi..." bisiknya lirih.
Di tengah tangisnya, wajah Lauryn tiba-tiba muncul dalam benaknya.
Rumah kecil yang sederhana. Meja makan yang sering kali hanya berisi lauk seadanya.Namun selalu dipenuhi tawa.
Vio pernah beberapa kali berkunjung ke sana.Tidak ada lampu kristal yang mahal.Tidak ada perabot mewah. Tidak ada pelayan.
Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah ia miliki.
Kehangatan keluarga!
'Kenapa keluarga Ryn bisa seperti itu? Mereka hidup serba kekurangan, tapi selalu terlihat bahagia,' batin Violeta.
Sementara dirinya...
Memiliki hampir semua hal yang diinginkan banyak orang.
Uang!
Rumah besar!
Mobil mewah!
Fasilitas terbaik!
Namun tidak pernah memiliki keluarga yang utuh.
Brak!
Suara benda lain dilempar membuat Vio memejamkan mata rapat.
"Aku sudah tidak sanggup hidup denganmu yang temperamental dan kasar!" teriak ibunya.
"Apa kau kira aku sanggup?" bentak ayahnya. "Kalau bukan karena Vio, kita sudah bercerai sejak lama!"
Tubuh Vio membeku.
Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada suara pecahan kaca yang memenuhi rumah mereka.
Jadi selama ini...
Kedua orang tuanya bertahan hanya karena dirinya? Air mata Vio mengalir semakin deras. Ia ingin keluar dari kamar. Dan memeluk kedua orang tuanya, meminta mereka berhenti bertengkar. Namun keberaniannya selalu hilang setiap kali mendengar suara bentakan.
Pada akhirnya, ia hanya bisa meringkuk di atas tempat tidur sambil menangis sendirian.
Malam itu, untuk kesekian kalinya, Vio berharap memiliki keluarga seperti Lauryn.