Lauryn menutup mulutnya saat melihat gadis yang berdiri bersama Daren. Gadis itu adalah seseorang yang sangat ia kenal.
Vio!
"Apa yang Vio lakukan di sini? Kenapa dia bersama Daren?" batin Lauryn dipenuhi tanda tanya.
Terlebih lagi, kalimat yang sempat ia dengar masih terngiang jelas di kepalanya.
"Pastikan dia meminum air ini. Setelah itu, antarkan ke kamarku. Kamar 507."
Suara Daren terus berputar di benaknya.
"Siapa yang ingin dijebak Daren? Dan kenapa Vio membantunya? Apa hanya karena dia menyukai Erick? Dan Daren akan membantunya? Tapi kenapa sampai tega melakukan hal seperti itu? Apa dia tidak memikirkan masa depan gadis itu?" gumam Lauryn pelan.
Tubuhnya merinding.
Selama ini, ia mengenal Violeta sebagai gadis yang baik. Memang terkadang terlalu blak-blakan, tetapi tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa Vio bisa melakukan sesuatu sekejam itu.
Bukankah itu sama saja menghancurkan hidup seseorang?
Lauryn kembali ke tengah kerumunan. Namun pikirannya tidak bisa tenang. Rasa takut mulai tumbuh dalam dirinya.
Diam-diam ia mengeluarkan ponsel jadul miliknya dan mengetik pesan kepada sang ayah agar segera menjemputnya. Ia tidak ingin berlama-lama berada di tempat ini.
"Ryn, kok kamu belum ambil apa-apa? Padahal aku sudah ambil banyak makanan," ujar teman yang tadi bersamanya.
"Oh, aku lagi mikir mau makan apa," jawab Lauryn sambil memasukkan ponselnya kembali.
Ia berpura-pura memilih makanan. Namun diam-diam matanya memperhatikan Violeta yang baru saja kembali dan berjalan ke arah meja minuman.
"Kasihan sekali gadis yang dijebak itu. Kalau dia gadis baik-baik, masa depannya bisa hancur," gumam Lauryn lirih.
Tak lama kemudian, tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya. Lauryn tersentak dan langsung menoleh.
Matanya membelalak.
"Ryn, kenapa reaksimu seperti habis melihat hantu? Padahal aku menepukmu pelan, lho," ujar Violeta sambil tertawa kecil.
"Oh... eh... maaf, Vio. Aku lagi tidak konsentrasi," jawab Lauryn gugup.
"Kamu kenapa? Kurang enak badan? Kalau mau istirahat, aku bisa antar ke ruang istirahat."
Entah kenapa, setelah mengetahui apa yang didengarnya tadi, Lauryn justru semakin gugup menatap sahabatnya itu. Meski berusaha mengusir pikiran buruk, bayangan percakapan Daren terus menghantuinya.
"Tidak, kok. Aku cuma kepikiran Ibu. Tadi tetangga mengirim pesan, katanya Ibu sendirian di rumah dan Ayah belum pulang," ujarnya mencari alasan.
"Tenang saja. Tante pasti baik-baik saja, dan ayahmu juga pasti segera pulang," kata Vio menenangkan.
Lauryn mengangguk pelan.
"Ryn, kamu haus tidak? Ini aku sudah ambilin minuman buat kamu."
Vio menyodorkan segelas minuman sambil memegang gelas lainnya untuk dirinya sendiri.
Deg!
Kletak!
Sendok yang dipegang Lauryn terjatuh ke lantai.
Jantungnya berdetak sangat kencang.
Namun ia harus tetap tenang. Ia tidak boleh menunjukkan kecurigaan sedikit pun.
"Terima kasih, Vio. Tapi boleh tidak minumannya dibawa ke meja dulu? Dari tadi aku menahan pipis," ucap Lauryn sambil menyerahkan tas kecilnya.
Di dalam tas itu hanya tersisa jeruk dan beberapa permen. Ponsel serta uangnya sudah ia pindahkan ke saku gaunnya. Untung saja gaun yang ia kenakan memiliki saku.
"Baiklah," jawab Vio tanpa curiga sedikit pun.
Sementara itu, Lauryn segera berbalik dan berjalan cepat meninggalkan keramaian.
Begitu memasuki lorong hotel, langkahnya semakin cepat. Ia mencari jalan keluar secepat mungkin.
Air mata mulai mengalir di pipinya.
Ia tidak pernah menyangka sahabat yang selama ini ia percaya justru berniat menjebaknya. Gadis yang ingin di jebak ternyata dirinya. Menjadikannya umpan untuk Daren, si playboy yang terkenal suka mempermainkan perempuan.
"Apa salahku padamu, Vio?" batin Lauryn pilu.
"Kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku?"
Di sisi lain, Jolie yang sempat melihat Lauryn berjalan tergesa-gesa melewati lorong hotel langsung mengernyitkan dahi.
"Lauryn kenapa itu, apakah dia langsung alergi berada ditempat ini," gumam Jolie.
Jolie langsung masuk ke dalam kerumunan pesta. Kemudian menghampiri teman temannya.
"Eh, Lauryn kenapa? Aku tadi melihatnya berlari keluar. Apa dia alergi berada di tengah pesta?" tanya Jolie kepada teman-temannya.
"Entahlah. Tadi aku melihatnya bersama Vio dan yang lainnya," sahut salah satu temannya.
"Dia ke toilet," ujar Violeta santai saat mendengar percakapan mereka. Kebetulan tempat duduknya berdekatan dengan Jolie.
"Oh ya, kalian lihat Daren dan yang lainnya tidak? Malam ini aku akan menghabiskan waktu bersama mereka," ucap Jolie dengan nada pamer.
Violeta melihat Jolie dwngan senyuman yang sinis.
'Percaya diri banget Jolie, seolah olah dia yang paling cantik saja. Padahal Daren malam ini tidak akan bersama dia,' batin Violeta seolah iri dengan Jolie.
Tanpa sengaja, Violeta menyentuh tas kecil milik Lauryn yang dititipkan di kursinya. Ia meraba-raba bagian dalam tas itu, berniat mengambil ponsel sahabatnya. Namun, ia tidak menemukannya.
Karena penasaran, Violeta membuka tas tersebut. Di dalamnya hanya ada beberapa buah jeruk dan permen.
Deg!
"Lauryn menitipkan tasnya, tapi barang-barang pentingnya sudah dibawa. Apa dia sedang menipuku?" gumam Violeta. Ia teringat tadi Lauryn yang terlihat gugup, dan kini ia merasa ada sesuatu yang terjadi.
"Tadi saat aku ke toilet Lauryn kemana," tanya Violeta pada teman yang tadi ngobrol dengan Lauryn.
"Oh tadi aku mengambil makan dengannya, dan dia pergi sebentar, katanya tadi melihat orang yang dikenalnya," sahut temannya.
Deg!
'Mungkinkah Lauryn tadi melihatku bersama Daren,' batin Violeta.
Perasaan tidak enak langsung menyelimutinya. Ia segera berjalan menuju toilet untuk mencari Lauryn. Namun, setelah memeriksa seluruh ruangan, tidak ada seorang pun di sana.
"Sial! Lauryn benar benar melihatku bersama Daren. Dan mungkin saja mendengar semuanya " batin Violeta mulai panik.
Ia segera kembali ke tengah pesta sambil mengirim pesan kepada Daren.
Sementara itu, Daren yang sudah berada di kamar hotel bersama ketiga sahabatnya langsung berubah wajah ketika membaca pesan dari Violeta.
"Sial! Mengurus satu orang saja tidak becus!" gerutunya kesal.
Ia mengepalkan tangannya erat sebelum kembali membaca isi pesan tersebut.
"Kalau sampai dia kabur, berarti Vio benar-benar bodoh. Bagaimana bisa dia kecolongan seperti ini?" lanjutnya dengan rahang mengeras menahan amarah.
Tanpa membuang waktu, Daren segera menghubungi anak buahnya.
~~
~~
Lauryn yang berdiri di depan lift mendadak memucat saat melihat beberapa pria berlari memasuki lorong hotel. Mereka tampak tergesa-gesa, seolah sedang mencari seseorang.
'Bukankah itu anak buah Daren? Apa mereka mencariku?' batin Lauryn panik.
Ia mengenali salah satu pria itu. Orang tersebut sering mengantar Daren ke sekolah.
"Itu dia!" seru salah seorang pria sambil menunjuk ke arahnya.
Jantung Lauryn seakan berhenti berdetak.
"Benar... mereka mencariku," gumamnya dengan suara bergetar.
Tanpa berpikir panjang, Lauryn langsung berbalik dan berlari sekencang mungkin menyusuri lorong hotel. Ia berusaha mencari jalan keluar sebelum mereka berhasil menangkapnya.
Air mata terus mengalir di pipinya. Malam yang seharusnya menjadi malam biasa justru berubah menjadi mimpi buruk.
"Tuhan, aku mohon... selamatkan aku," bisiknya lirih di sela napas yang mulai tersengal.
"Berhenti!" teriak salah satu anak buah Daren.
Namun Lauryn tidak menghiraukannya. Ia terus berlari, berbelok di setiap persimpangan lorong yang ditemuinya.
Suara langkah kaki di belakangnya semakin mendekat.
Deg!
Jantung Lauryn berdebar semakin kencang saat menyadari jarak mereka semakin dekat.
"Ayo, sedikit lagi..." gumamnya sambil terus memaksa kedua kakinya bergerak.
Namun saat hendak berbelok di ujung lorong, tubuhnya tiba-tiba menabrak seseorang.
Bruk!