Lauryn berdiri di depan cermin di kamarnya. Tatapannya tertuju pada bayangan dirinya yang terpantul di sana.
Ia mengenakan gaun berwarna smoky blue yang anggun, dengan kerah rapi dan deretan kancing mutiara menghiasi bagian depan. Bordir bunga berwarna perak yang terukir di area d**a membuat gaun itu tampak mewah tanpa terkesan berlebihan.
Lengan pendek berbahan tulle transparan jatuh lembut di bahunya, sementara rok mengembang sepanjang betis berkilauan samar setiap kali terkena cahaya.
Itu adalah satu-satunya gaun pesta yang ia miliki. Setiap ada acara besar, gaun itulah yang selalu dikenakannya. Hadiah dari Ayah dan Ibunya setahun yang lalu.
"Anak Ibu cantik sekali," puji Zaline sambil mengusap rambut panjang Lauryn yang dibiarkan tergerai rapi.
"Itu karena Ibu cantik, makanya aku juga cantik. Untuk itu aku berterima kasih karena Ibu sudah mewariskan gen yang bagus padaku," sahut Lauryn sambil tersenyum.
Baginya, sang ibu adalah wanita tercantik yang pernah ia kenal. Anggun, lembut, dan berwibawa layaknya seorang bangsawan.
"Apakah kamu bangga memiliki Ibu seperti ini? Ibu bahkan tidak bisa memberikan kehidupan yang mewah untukmu," ujar Zaline pelan.
"Tentu saja aku bangga. Ayah dan Ibu cantik dan tampan, selain itu kalian juga cerdas. Itu sudah lebih dari cukup. Soal masa depanku, biar aku yang memperjuangkannya sendiri. Lagi pula, gen Ayah dan Ibu sudah luar biasa," jawab Lauryn.
Meskipun hidup mereka sederhana, Lauryn tidak pernah merasa kekurangan. Tangki kasih sayangnya selalu penuh berkat cinta yang diberikan kedua orang tuanya.
Zaline hanya bisa terkekeh mendengar jawaban putrinya.
"Nanti hati-hati di sana. Jangan sampai terpisah dari Vio," pesannya.
"Iya, Bu. Aku akan berhati-hati."
Tepat saat itu, suara mobil terdengar berhenti di depan rumah.
Vrrrooom!
Zaline mengintip dari jendela dan tersenyum ketika melihat siapa yang datang.
"Itu Vio sudah datang."
"Kalau begitu aku berangkat dulu ya, Bu."
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
Zaline mengantar putrinya hingga ke mobil milik Violeta. Suaminya sedang ada urusan sehingga tidak bisa mengantar Lauryn malam ini.
"Vio, Tante titip Lauryn, ya. Dia belum pernah datang ke pesta seperti ini," ujar Zaline.
"Tenang saja, Tante. Lauryn aman bersamaku," jawab Violeta.
"Kalian berdua hati-hati. Jangan menerima atau minum apa pun sembarangan."
Zaline tahu pesta seperti itu sering kali diwarnai kenakalan remaja. Meskipun acara sekolah, bukan tidak mungkin ada yang diam-diam membawa minuman beralkohol dari luar.
"Kami berangkat dulu, Bu," ucap Lauryn.
Zaline mengangguk dan melambaikan tangan. Ia terus memperhatikan hingga mobil itu menghilang di tikungan jalan.
"Biasanya Lauryn tidak suka datang ke acara seperti prom night, kan, Zal?" tanya salah satu tetangganya yang kebetulan lewat.
"Iya. Sebenarnya dia memang tidak mau datang. Tapi kemarin Violeta mengajaknya untuk menemani, jadi akhirnya dia bersedia."
"Oh begitu. Entahlah, aku kadang merasa anak orang kaya belum tentu tulus berteman dengan anak biasa."
Zaline tersenyum tipis.
"Vio anak yang baik. Lauryn sudah berteman dengannya hampir dua tahun, dan selama ini tidak pernah ada masalah."
Tetangganya hanya mengangguk, sementara Zaline kembali menatap ke arah jalan yang sudah sepi, berharap putrinya menikmati malam itu dengan aman dan bahagia.
**
**
**
Violeta dan Lauryn akhirnya tiba di sebuah hotel bintang lima tempat sekolah mereka menyewa aula untuk acara prom night.
"Ramai sekali. Apa kita pulang saja, Vio?" ucap Lauryn sambil menatap deretan mobil mewah yang memenuhi area depan hotel.
"Baru juga datang sudah mau pulang?" Violeta terkekeh. "Kamu sudah janji menemaniku, lho."
"Baiklah, aku akan menemanimu. Tapi jangan lama-lama, ya. Ibu pasti khawatir kalau aku pulang terlalu malam."
"Sudahlah, sekali-sekali nikmati hidup. Jangan monoton terus," balas Violeta sembari merangkul lengan sahabatnya. "Pasti seru. Anggap saja ini pengalaman berharga. Kapan lagi kita bisa menghadiri pesta seperti ini? Sebentar lagi kita juga akan lulus dan mulai menjalani kehidupan masing-masing."
Lauryn mengangguk pelan lalu mengikuti langkah Violeta memasuki hotel.
Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di hotel semewah itu. Langit-langit yang tinggi dihiasi lampu kristal berkilauan. Lantai marmer mengilap memantulkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan tampak elegan. Beberapa tamu berlalu-lalang dengan pakaian mahal dan penampilan yang begitu rapi.
"Ternyata seperti ini tempat orang-orang kaya bersenang-senang," batin Lauryn sambil memandangi sekeliling dengan takjub.
Senyum kecil terukir di bibirnya.
"Nanti kalau aku sudah sukses, aku ingin mengajak Ayah dan Ibu menginap di hotel seperti ini."
Mereka berjalan menuju aula utama yang berada di lantai dua. Dari kejauhan, suara musik sudah terdengar mengalun lembut.
Begitu pintu aula dibuka, Lauryn langsung terpana.
Ruangan itu telah disulap menjadi tempat pesta yang sangat indah. Lampu-lampu gantung berkilauan menghiasi langit-langit. Tirai berwarna biru tua dan perak menjuntai di setiap sisi ruangan. Di tengah aula terdapat lantai dansa yang diterangi sorot lampu berwarna-warni.
Para siswa dan siswi datang dengan pakaian terbaik mereka. Para lelaki mengenakan setelan jas yang elegan, sedangkan para perempuan tampil cantik dengan gaun-gaun yang beraneka warna.
Di salah satu sudut ruangan tersedia meja hidangan yang dipenuhi berbagai makanan dan minuman. Aroma steak, pasta, dan aneka kue manis bercampur menjadi satu, membuat suasana semakin mewah.
"Oh ternyata begini pesta porm itu," ucap Lauryn sambil menganggukan kepalanya. Memang sangat meriah sih, namun saja Lauryn masih tidak tenang.
"Bagaimana? Aku tidak berbohong, kan?" Violeta tersenyum puas melihat ekspresi sahabatnya.
Lauryn hanya mengangguk pelan.
Jujur saja, ia merasa sedikit minder. Gaun yang dikenakannya sangat sederhana dibandingkan teman-teman lain yang tampil bak putri kerajaan. Namun di sisi lain, ada rasa kagum dan bahagia karena bisa merasakan pengalaman yang selama ini hanya ia lihat di televisi. Hanya saja ia khawatir jika bertemu Daren.
Musik mulai berganti menjadi lebih ceria. Beberapa siswa naik ke atas panggung untuk berfoto bersama, sementara yang lain memenuhi lantai dansa.
"Vio, aku rasa aku lebih baik duduk saja di sana," kata Lauryn sambil menunjuk meja kosong di dekat jendela.
"Kamu ini benar-benar tidak bisa diajak bersenang-senang," teriak Violeta karena suara musik terlalu keras. Meski demikian Violeta mengangguk.
Lauryn menyapa teman-teman yang sudah dikenalnya dengan baik. Beberapa di antara mereka bahkan mengajaknya bergabung ke dalam kelompok obrolan. Ia tentu tidak menolak. Selain karena merasa nyaman bersama mereka, Lauryn juga tidak ingin terlihat sendirian di acara prom yang begitu meriah malam itu.
Mereka saling bertukar cerita tentang kampus yang akan mereka masuki setelah kelulusan.
"Ryn, aku mau ke toilet sebentar ya. Kamu tunggu di sini," ucap Violeta.
"Baiklah," jawab Lauryn sambil mengangguk.
Belum lama Violeta pergi, salah satu teman sekelasnya menghampiri.
"Ryn, kita ambil makanan di ujung sana yuk."
"Ya sudah, ayo," sahut Lauryn sambil berdiri.
Ia berjalan bersama temannya melewati deretan meja prasmanan yang dipenuhi hidangan mewah. Namun langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.
Daren.
Pria itu berdiri di area balkon indoor yang lebih sepi, jauh dari keramaian para tamu.
Lauryn refleks menoleh lebih lama.
Ia melihat Daren menyerahkan sebotol minuman kepada seorang gadis yang berdiri membelakanginya.
"Siapa gadis itu?" gumam Lauryn pelan.
Entah kenapa sosok itu terlihat begitu familiar.
Rasa penasaran membuat Lauryn berjalan mendekat. Ia berpamitan singkat pada temannya, lalu mencari posisi yang tidak terlalu mencolok di balik pilar marmer besar dekat balkon.
Dan...
Deg!
Tubuh Lauryn mendadak menegang.
Gadis itu berbalik, mata Lauryn membelalak lebar, ia mengenalnya.
Sangat mengenalnya.
Tangan Lauryn mulai bergetar ketika samar-samar ia mendengar percakapan mereka.
"Jangan sampai gagal, aku ingin malam ini menjadi miliku," ucap Daren sambil menyeringai.
Jantung Lauryn berdetak semakin cepat.
Tidak mungkin...
Kenapa mereka berdua bersama?