Lauryn berdebar saat membuka laptop jadul miliknya. Hari ini adalah hari pengumuman hasil seleksi universitas. Apakah ia diterima di universitas impiannya atau tidak?
"Aku jadi deg-degan," gumam Lauryn.
Zaline menghampiri putrinya sambil membawa sepiring ubi rebus.
"Ibu yakin kamu pasti diterima. Santai saja, makan dulu ubi rebusnya. Biar lebih tenang," ujar sang ibu.
Lauryn mengambil sepotong ubi rebus lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Belum tentu, Bu. Yang mendaftar ke sana juga siswa-siswa terbaik dari berbagai negara. Jadi peluang kami sama-sama besar," jawab Lauryn.
"Tuhan pasti menyediakan satu tempat untukmu. Kamu anak baik dan sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Kamu mengandalkan kerja kerasmu sendiri. Ibu yakin Tuhan akan menunjukkan jalan terbaik untukmu."
"Aamiin, Bu. Ryn juga berharap begitu. Semua yang Ryn capai sampai hari ini tidak lepas dari perjuangan Ibu dan Ayah. Kalian sudah bekerja keras menghadapi hidup tanpa banyak mengeluh. Ryn hanya ingin bisa mengangkat derajat kalian berdua suatu hari nanti."
Matanya menatap ibunya dengan penuh rasa sayang. Sejak kecil ia melihat bagaimana mereka berjuang menghadapi hidup. Mereka bekerja keras setiap hari, bahkan ketika hasil jerih payah mereka terkadang dirampas oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Namun, tak sekali pun mereka menyalahkan keadaan.
Karena itulah Lauryn ingin berhasil.
"Tuhan pasti akan mempermudah jalanmu. Dan kalau suatu hari jalan itu terasa terjal dan penuh duri, tetaplah tabah. Jangan pernah menyerah. Lebih baik gagal setelah berjuang, daripada gagal karena putus asa," nasihat Zaline.
Lauryn mengangguk pelan. Setelah membaca doa, ia mulai membuka hasil pengumuman.
Dan...
Matanya menelusuri setiap kalimat dengan saksama, seolah takut ada bagian yang terlewat.
Westbridge University
Selamat.
Dari ribuan kandidat yang mengikuti proses seleksi tahun ini, Anda terpilih untuk bergabung sebagai mahasiswi Westbridge University.
Keputusan ini diberikan berdasarkan pencapaian, potensi, dan kualitas luar biasa yang Anda tunjukkan selama proses seleksi.
Selamat datang di antara mereka yang terpilih.
Komite Penerimaan Mahasiswa.
Napas Lauryn tertahan.
Namun kejutan belum berhenti sampai di sana.
Ia juga diterima di Imperium Crown University, universitas bergengsi yang dikenal sebagai tempat para pewaris keluarga terpandang menempuh pendidikan.
"Ibu! Aku lolos semuanya! Sekarang aku malah harus memilih mau masuk universitas yang mana!" seru Lauryn dengan mata berbinar.
"Puji syukur kepada Tuhan," ucap Zaline sambil memeluk putrinya erat. "Ibu sudah bilang, kan? Kamu pasti berhasil."
"Kita harus kasih tahu Ayah!" kata Lauryn penuh semangat.
Namun, di balik pintu rumah, sepasang mata sedang mengamati kebahagiaan itu dalam diam.
Violeta.
Sahabat Lauryn itu datang karena beberapa hari terakhir Lauryn tidak pergi ke sekolah. Ia berniat menjenguk, tetapi yang dilihatnya justru pemandangan yang membuat hatinya terasa sesak.
"Kenapa hidupku tidak seperti Lauryn?" gumam Violeta pelan. "Dalam keadaan yang sederhana Lauryn terlihat sangat bahagia, ibu dan Ayahnya selalu mendampinginya," lanjut Vio.
Pikirannya melayang pada kondisi keluarganya sendiri. Orang tuanya terus bertengkar hampir setiap hari. Tidak ada lagi kehangatan di rumah mereka.
Berbeda dengan Lauryn.
Meski hidup sederhana, Lauryn memiliki kedua orang tua yang sangat menyayanginya.
Ceklek!
Pintu terbuka.
Lauryn keluar dengan wajah cerah. Ia berniat menyusul ayahnya ke ladang untuk menyampaikan kabar bahagia itu.
"Lho, Vio? Kamu di sini? Kenapa tidak masuk?" tanyanya ramah.
Violeta terkejut. Wajahnya seketika berubah gugup.
"Kamu kenapa? Wajahmu kelihatan pucat. Masuk dulu saja," kata Lauryn sambil menggandeng tangan sahabatnya.
"Tidak kok... aku baik-baik saja," jawab Violeta cepat.
Lauryn menatapnya dengan khawatir.
"Tidak apa-apa. Kebetulan aku juga sedang santai. Kalau ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan, aku siap mendengarkan."
Violeta terdiam.
Melihat senyum tulus di wajah Lauryn, entah mengapa rasa iri di dalam hatinya justru semakin besar.
"Aku hanya sebentar, aku ingin kamu menemaniku nanti datang di prom night," ucap Violeta dengan sedikit ragu.
Lauryn menghela napas berat, ia ingat bagaimana tatapan Daren saat itu. Ia takut, dan Lauryn tidak mau mengambil resiko.
"Maaf Vio, aku tidak bisa datang karena ada beberapa hal yang aku urus," ucap Lauryn beralasan.
Violeta menggenggam tangan Lauryn erat.
"Ryn, kamu sahabatku, kan? Please, temani aku. Lagipula ini mungkin terakhir kalinya kita semua bertemu sebelum melanjutkan kuliah masing-masing," ucap Violeta, sengaja menggunakan kata sahabat untuk meluluhkan hati Lauryn.
Lauryn tampak bimbang. Di satu sisi ia tidak ingin pergi, tetapi di sisi lain ia tidak tega menolak permintaan sahabatnya.
"Aku juga datang sendirian. Nanti kita cuma sebentar, setelah itu langsung pulang. Yang penting hadir dulu," lanjut Violeta meyakinkan.
Lauryn akhirnya menganggukkan kepala.
"Baiklah."
"Nah, begitu dong. Itu baru sahabat baikku," ujar Violeta sambil merangkul bahu Lauryn.
"Eh iya, ngomong-ngomong, bagaimana hasil pengumumanmu? Bukankah hari ini hasil penerimaan universitas keluar?" lanjutnya seolah baru teringat.
Senyum lebar langsung menghiasi wajah Lauryn. Ia bahkan memeluk Violeta dengan penuh kebahagiaan.
"Vio, aku diterima di beberapa universitas! Ini aku mau kasih kabar Ayah. Tadi beliau masih di ladang," ucap Lauryn antusias.
"Selamat, ya, Lauryn! Aku sudah bilang, kan? Kamu pasti diterima. Jadi tidak perlu terlalu khawatir," sahut Violeta.
Lauryn tersenyum sambil mengangguk.
"Wajar kalau aku takut. Soalnya yang mendaftar ke sana semuanya pintar-pintar. Aku benar-benar khawatir tidak lolos. Tapi sekarang aku tinggal menentukan mau masuk universitas yang mana. Setelah itu aku harus bekerja lebih keras lagi supaya beasiswaku tidak dicabut."
"Semangat, Lauryn!" seru Violeta memberi dukungan.
"Aku juga berdoa untukmu. Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan dan sukses di masa depan. Kamu orang baik, jadi pasti akan mendapatkan karma baik juga," ucap Lauryn tulus.
Violeta tertawa kecil mendengarnya.
"Makasih, Ryn. Ya sudah, aku pulang dulu, ya."
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
Lauryn mengantar sahabatnya hingga ke depan rumah.
Violeta kemudian masuk ke dalam mobil. Namun sebelum menutup pintu, ia sempat menoleh ke arah rumah sederhana milik Lauryn.
Derrtt!
Derrtt!
Ponselnya tiba-tiba bergetar menandakan sebuah pesan masuk.
Violeta segera membuka notifikasi tersebut. Seketika wajahnya berubah tegang. Rasa gelisah terlihat jelas saat matanya membaca isi pesan yang tertera di layar.
(Semuanya tergantung padamu.)
Jantung Violeta berdetak lebih cepat.