"Daren, apa benar semalam kamu mengajak kedua temanmu ke tempat pelacuran?" tanya John kepada putranya.
"Hm, aku hanya mengenalkan mereka pada dunia gemerlap," jawab Daren santai. "Sebentar lagi mereka juga akan memasuki usia dewasa. Lagi pula, aku tidak mau bersenang-senang sendirian."
Nada bicaranya datar, seolah hal itu bukan masalah besar. Memang, sejak lama ia dan ayahnya sudah terbiasa membahas hal-hal yang berkaitan dengan pergaulan bebas tanpa merasa canggung sedikit pun.
John Asher adalah seorang duda. Bertahun-tahun lalu, istrinya meninggalkannya karena tidak tahan dengan gaya hidup John yang terlalu bebas. Pria itu gemar berganti pasangan dan hidup tanpa batas. Rasa muak akhirnya membuat sang istri memilih pergi, meninggalkan Daren yang saat itu masih kecil bersama ayahnya.
Pada awalnya, John sempat kewalahan mengurus anak seorang diri. Namun lama-kelamaan ia menemukan cara yang menurutnya paling mudah, yaitu membawa Daren ke mana pun ia pergi. Tanpa memikirkan dampaknya, ia bahkan sering membawa putranya ke tempat-tempat yang seharusnya tidak pernah dikunjungi anak-anak.
"Semalam ayah Erick meneleponku," ujar John sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Katanya dia melihat Erick pulang dalam keadaan mabuk. Dia bilang Erick tidak boleh terlalu banyak minum karena bagaimanapun juga dia anak seorang kepolisian"
John berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Dan tadi subuh, ibunya Keith juga meneleponku. Dia panjang lebar mengomel karena ada kerabat mereka yang melihat Keith masuk ke tempat itu."
Daren mendengus pelan.
"Mereka semua munafik," katanya tanpa ragu. "Ayah Erick sok benar saat berbicara, padahal dia sendiri melakukan korupsi dan membiarkan para pengedar narkoba berbisnis di kota ini."
Ia mengangkat bahu acuh.
"Sedangkan orang tua Keith selalu bertingkah paling suci. Mereka merasa hidup paling dekat dengan Tuhan, padahal tidak jauh berbeda dengan orang lain. Aku malah kasihan pada Keith. Hidupnya penuh larangan. Tidak boleh ini, tidak boleh itu."
Senyuman sinis muncul di wajahnya.
"Lagi pula, kenapa kerabat mereka bisa berada di sekitar tempat itu kalau bukan karena mereka juga datang ke sana?"
Daren memang tidak menyukai orang-orang yang menurutnya munafik, terutama keluarga Keith. Baginya, Keith adalah sosok yang terlalu penakut dan selalu dihantui rasa bersalah.
Setiap kali mereka melakukan sesuatu yang melanggar aturan, Keith selalu mengatakan hal yang sama.
"Bagaimana kalau Tuhan menghukum kita?"
"Bagaimana kalau Tuhan mengambil semua yang kita miliki karena kita melanggar perintah-Nya?"
Dan masih banyak lagi kalimat serupa yang membuat Daren jengkel.
Sebenarnya, salah satu alasan Daren berteman dengan Keith adalah karena ia ingin menyeret pemuda itu keluar dari kehidupan yang dianggapnya terlalu lurus dan membosankan.
"Meski begitu, jangan ajak mereka ke tempat itu lagi," kata John akhirnya. "Dan jangan mencekoki mereka minuman keras."
"Hm."
Hanya itu jawaban Daren. Nada suaranya jelas menunjukkan ketidakpedulian.
Membosankan.
Namun di balik itu, Daren merasa beruntung memiliki ayah yang tidak pernah membatasi dirinya. John selalu mengajaknya bersenang-senang dan membiarkannya mencoba apa pun yang diinginkan.
Bahkan, Daren pertama kali mencicipi minuman keras saat berusia sembilan tahun karena penasaran dengan apa yang sering diminum ayahnya.
Sementara itu, John sendiri adalah tipe ayah yang terlalu lunak. Ia jarang mempersoalkan kenakalan putranya karena merasa masa mudanya jauh lebih buruk dibandingkan Daren.
Akibatnya, setiap kali Daren membuat masalah, John memilih berpura-pura tidak tahu.
Sebagai gantinya, ia meminta Kevin Fret untuk membereskan semuanya.
Kevin Fret adalah ayah Erick sekaligus kepala kepolisian kota itu. Jabatan yang ia miliki saat ini tidak lepas dari dukungan John di masa lalu. Karena itulah, Kevin sering kali tidak punya pilihan selain menutupi berbagai ulah Daren.
Tahun demi tahun berlalu dengan pola yang sama.
Tak ada hukuman.
Tak ada konsekuensi.
Dan tanpa disadari, semua itu membuat Daren tumbuh menjadi sosok yang semakin sulit dikendalikan.
**
Daren saat ini berada di Dream High School. Meskipun seluruh ujian telah selesai dan nilai akhir sudah diumumkan, para siswa masih datang ke sekolah untuk mengurus berbagai dokumen kelulusan. Termasuk bagi mereka yang ingin mendaftar ke universitas menggunakan jalur beasiswa. Sekolah akan membantu proses administrasinya, meskipun ada juga beberapa siswa yang memilih mengurusnya sendiri.
Daren keluar dari mobil sport miliknya. Di parkiran, kedua sahabatnya sudah menunggu sambil menikmati jajanan yang mereka beli dari kantin.
"Daren, akhirnya kamu datang juga. Sedikit lagi kami berubah jadi akar karena terlalu lama menunggu," ujar Erick sambil terkekeh.
"Kan baru hampir. Ayo masuk saja," balas Daren santai.
Ia berjalan lebih dulu, diikuti kedua temannya dari belakang. Seperti biasa, kehadirannya langsung menarik perhatian banyak siswi.
"Daren!"
"Hai, Daren! Kenapa kamu makin tampan saja?"
"Kamu mau melanjutkan kuliah di mana?"
Beberapa siswi berlomba-lomba menyapanya saat ia melewati koridor sekolah.
"Boleh tidak kalau nanti kita tetap berhubungan?"
"Bagaimana kalau kami kangen padamu, Daren?"
"Bersediakah kamu menghabiskan malam perpisahan denganku?"
Salah satu siswi cantik memberanikan diri mengatakannya hingga membuat teman-temannya bersorak heboh.
Daren hanya tersenyum puas. Ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian dan menikmati setiap sorakan yang diberikan kepadanya.
Namun, senyumnya perlahan memudar ketika pandangannya menangkap sosok Lauryn.
Gadis itu tampak biasa saja. Tidak melambai, tidak tersenyum, bahkan tidak menoleh ke arahnya.
'Sial! Hanya dia satu-satunya gadis yang tidak bisa kudapatkan,' batin Daren kesal.
'Jika dia tidak mau datang secara sukarela, maka aku akan memaksanya. Lihat saja, Lauryn. Saat malam perpisahan nanti, kesombonganmu akan hancur. Aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku.'
Tatapan Daren semakin tajam sebelum sebuah senyum smirk menghiasi wajahnya.
Tanpa ia sadari, Lauryn sempat melirik ke arahnya.
Gadis itu langsung terkejut saat melihat Daren tengah menatapnya dengan senyum yang membuat bulu kuduknya meremang.
'Ada apa dengannya?' pikir Lauryn.
'Kenapa dia menatapku seperti itu? Dan senyuman itu... seolah-olah dia sedang merencanakan sesuatu.'
Ia teringat ucapan Violeta beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa Daren menyukainya.
'Jangan-jangan karena aku pernah menolaknya? Dan Daren yang terkenal sebagai playboy itu, sedang merencanakan sesuatu yang buruk.'
Semakin memikirkannya, semakin tidak tenang perasaan Lauryn.
Tanpa membuang waktu, ia segera menyelesaikan seluruh dokumen yang perlu ditandatangani hari itu. Setelah urusannya selesai, ia bertekad tidak akan datang lagi ke sekolah, termasuk menghadiri malam perpisahan.
Lauryn tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun.
Terlebih lagi jika harus berurusan dengan keluarga Asher.
Saat hendak pulang, ia bertemu dengan sahabatnya, Violeta.
"Ryn, kamu mau ke mana?" tanya Violeta sambil menghampiri. "Ke kantin dulu, yuk."
Lauryn menggeleng pelan.
"Aku mau pulang, Vio. Maaf, aku tidak bisa menemanimu hari ini."
Violeta mengernyitkan dahi.
"Pulang? Tumben sekali. Biasanya kamu yang paling lama kalau sudah di perpustakaan."
Lauryn memaksakan senyumnya.
"Aku sedikit lelah. Lagi pula semua urusanku sudah selesai."
Meski berkata demikian, sebenarnya ia hanya ingin segera meninggalkan sekolah.
Entah kenapa, firasatnya terasa sangat buruk sejak melihat tatapan Daren beberapa menit yang lalu.