CEKLEK!
Pintu ruangan bertuliskan HRD Room itupun terbuka. Disana sudah berdiri seorang lelaki tampan berkemeja hitam. Lelaki itu berdiri sambil memegang sebuah binder file dan menoleh ke arah pintu, sepersekian detik kemudian dia pun tersenyum.
"Hai." Sapanya masih sambil menoleh ke arah pintu.
Kedua matanya masih tertuju ke arah pintu ketika seorang perempuan cantik berambut panjang hitam kecoklatan menghampirinya.
Perempuan itu pun terhenti ketika sudah berdiri di hadapannya. Dia pun tersenyum lalu mengalungkan kedua tangannya di leher lelaki itu. Dan tanpa tunggu waktu yang lama perempuan itu pun mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan sebuah ciuman tepat di bibir lelaki itu.
Dia terus melakukannya, hingga dalam ruangan itu yang terdengar hanyalah bunyi kecupan yang tercipta dari bibir pasangan itu, juga sedikit lenguhan ketika lidah mereka saling menari liar.
Sang lelaki pun sampai harus meletakkan binder file yang sedari tadi dipegangnya ketika ciuman itu terus menghujami bibirnya.
Tangannya merengkuh pinggang ramping sang perempuan sambil terus membalas setiap lumatannya.
"Hey, bukannya kamu lagi meeting ya?!" Tanyanya ketika berhasil melepaskan ciumannya dari bibir sang perempuan.
Perempuan itu hanya tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. Dia juga menyeka bibir sang lelaki ketika sadar ciumannya itu telah meninggalkan jejak lipstik di bibir lelaki itu.
"Aku kangen." Bisiknya sambil kembali memberikan ciuman kilat di bibir sang lelaki. Tangannya juga sedikit menjelajah kedalam kemeja lelaki itu.
Lelaki itu pun tersenyum.
"Jangan disini, nanti ada yang lihat." Bisiknya sambil membelai wajah perempuan itu.
Perempuan cantik itupun kembali tersenyum. Dia juga kembali menangkup kedua pipi sang lelaki lalu kembali melumat bibir itu.
Lelaki bertubuh tinggi itupun melepaskan rengkuhannya. Hingga akhirnya sang perempuan itupun bergegas pergi keluar ruangan.
Namun sebelum dia membuka pintu, dia menyempatkan diri untuk kembali menoleh ke arah sang lelaki yang sedari tadi masih terus menatapnya disana. Dia pun melemparkan senyum yang setelah itu dia pun sudah keluar dari ruangan itu.
Perempuan itu bernama lengkap Alana Paramita. Perempuan berparas cantik yang kini berusia 27 tahun. Matanya sipit namun berbulu mata lentik, berkulit putih, bertubuh langsing dengan tinggi badan 165 cm.
Sebuah fisik yang terkadang bisa membuat orang merasa iri melihatnya.
Ditambah lagi rambutnya yang panjang hitam kecoklatan dengan ikal dibagian ujungnya, membuatnya dikatakan nyaris sempurna.
Kenapa dibilang nyaris?
Karena diusianya yang sudah dibilang matang namun perempuan itu masih saja sendiri.
Ketika teman-teman seusia Alana yang sudah menikah dan bahkan sudah memiliki anak, namun perempuan itu justru masih sibuk bekerja.
Alana memang bukan dikategorikan anak orang kaya. Ibunya seorang single parent tinggal di sebuah kota di Bandung yang hanya memiliki sebuah usaha aneka kue kering dan basah, membuat Alana memang harus mencintai pekerjaannya.
Dirinya kini berprofesi sebagai seorang staff di salah satu perusahaan pelayaran international.
Dia begitu pintar bergaul, banyak yang menyukainya karena selain cantik, Alana juga pintar dan humoris.
Teman-teman Alana sangat menyayangkan ketika perempuan secantik Alana justru masih sendiri di usianya yang sudah matang.
Namun, itu hanyalah pandangan mereka.
Mereka tak tahu jika sebenarnya Alana sudah memiliki kekasih. Hubungan mereka terjalin secara sembunyi-sembunyi jika melihat profesi masing-masing.
Lelaki yang beruntung mendapatkan perempuan secantik Alana itu bernama Samuel Aditama, lelaki yang usianya tiga tahun lebih muda dari Alana. Lelaki itu juga adalah seorang HRD di tempat Alana bekerja.
Semuanya terjadi benar-benar diluar prediksi Alana.
Alana yang saat itu sedang sakit hati dengan seseorang yang dicintainya, bertekad membalaskan rasa sakit hatinya itu dengan cara memacari Samuel yang adalah anak dari pemilik rumah kost tempat dia tinggal.
Lelaki yang sudah menyakitinya itu bernama Miko Adrian. Lelaki yang sudah dicintai Alana selama dua tahun. Dan Miko juga adalah sahabat Samuel.
Alana dan Miko kenal saat mereka sama-sama bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi.
Mereka begitu dekat, mereka juga begitu nyambung setiap kali ngobrol, bahkan selera musik dan film mereka sama. Semua itulah yang membuat Alana jatuh cinta pada Miko.
Selain tampan, Miko juga humoris yang membuat Alana begitu nyaman berteman dengannya.
Hingga suatu hari ketika perusahaan tempat mereka bekerja itu bangkrut, yang membuat semua karyawan pun kehilangan pekerjaan.
Saat itulah Alana bertekad mengutarakan perasaannya pada Miko. Dia berpikir mereka tak akan pernah bertemu lagi, maka perasaan itupun harus tersampaikan sebelum dirinya mati penasaran.
Namun sayangnya Miko justru menolaknya.
Saat itu Miko memang sudah memiliki seorang kekasih. Namun bukan hal itu yang menyakitkan Alana.
"Aku cuma nganggep kamu seperti adikku. Kalau ditanya suka atau nggak? Aku memang suka sama kamu." Ucap Miko saat itu yang membuat Alana pun terdiam.
"Kamu asik, lucu, selera kita juga banyak yang sama. Tapi di sisi lain aku udah punya seseorang yang aku cintai." Tambahnya.
"Lagian, paling nggak enak kalau dalam pertemanan itu tiba-tiba ada seseorang yang naksir. Karena pastinya bakal bikin suasana canggung. Dan aku minta kamu untuk mengubur rasa cinta kamu ke aku. Aku cuma pengen kita tetap sahabatan seperti dulu." Lanjutnya lagi yang kini benar-benar seperti mengiris hati Alana.
Kata-kata itu benar-benar menyayat hati. Namun, tak membuat Alana menghapus kontak Miko baik itu nomor telepon ataupun sosial medianya. Semuanya masih tersimpan yang terkadang membuat Alana iseng untuk stalking lelaki itu meskipun ujung-ujungnya membuat sakit hatinya makin nyeri lagi.
Hingga akhirnya ketika sudah hampir empat bulan Alana tak bertemu dengan lelaki itu, ternyata Tuhan berkehendak lain.
Alana dan Miko kembali bertemu di tempat kerja yang baru. Mereka kembali bertemu di sebuah kantor yang sama meskipun divisi yang berbeda.
Tak ada yang berubah dari lelaki itu. Dia masih terlihat tampan. Wajah putih bersih dengan kedua alis tebal, hidung mancung, bibir tipis kemerahan dan rahang yang tegas seakan kembali membangkitkan rasa cinta Alana yang sudah berhasil dia kubur.
Semua pertahanannya benar-benar runtuh ketika lelaki itu kembali menyapanya.
Meskipun setiap kali bertemu rasa sakit itu masih sering menyerang, namun kenyataannya rasa cinta itu masih bersemayam, bahkan makin menggebu. Semua itu terbukti dengan setiap getaran yang dia rasakan setiap kali bertemu dengan lelaki itu.
Hingga Alana pun memutuskan untuk membalaskan rasa sakit hatinya, yaitu dengan mencari pacar agar bisa meyakinkan Miko jika dirinya bisa lebih bahagia setelah ditolaknya.
Dan semuanya pun lagi-lagi seperti diluar prediksi Roy Kiyoshi.
Alana yang baru saja menghuni sebuah kamar kost baru harus dikejutkan ketika kamarnya bersebelahan dengan Samuel, teman satu kantornya.
Selain itu yang membuatnya makin terkejut adalah karena ternyata Samuel adalah anak dari pemilik kost itu.
Hubungan Alana dan Samuel memang tak terlalu baik. Samuel sering menggodanya di kantor hingga terkadang membuat Alana begitu senewen dengan lelaki itu.
Samuel yang cuek dan dingin dengan perempuan lain, namun dia begitu usil pada Alana. Semua itu terbukti ketika dirinya pertama kali bertemu Samuel di kost barunya.
"Ngapain lo disini??" Tanya Samuel pada Alana yang saat itu berdiri tepat ditengah pintu kamarnya.
"Ada juga lo yang ngapain disana?? Itu kan kamar anaknya ibu kost!!" Balas Alana tak kalah judes.
Namun lelaki itu justru menyeringai. Dia juga menghampiri Alana yang masih berdiri ditempat sambil bersedekap d**a.
"Kamar anaknya ibu kost??" Tanya lelaki itu dengan senyuman meledek yang membuat Alana pun mengerutkan keningnya.
"Gue anaknya ibu kost!!" Ucapnya tegas yang kali ini membuat kedua mata Alana pun terbelalak.
"Selamat! Sekarang kita tinggal satu atap!!" Ucap Samuel lagi sambil merentangkan kedua tangannya.
Lelaki itu pun pergi lalu memasuki kamarnya. Lain halnya dengan Alana yang masih mematung ditempatnya berdiri.
***
Alana duduk termenung dipinggir ranjang. Pikirannya masih ngalor ngidul memikirkan kenapa semuanya bisa seperti ini.
Dia pindah dari tempat kost lamanya karena sering diganggu oleh makhluk halus. Sering kali benda-benda yang ada di kamarnya itu bergerak dan berpindah sendiri.
Namun untung saja Alana belum sempat menyaksikan penampakan dalam bentuk apapun. Dirinya sudah cukup stress dengan pergerakan barang-barang itu.
Jadi sebelum dirinya tambah stress, makanya dirinya memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang baru.
Namun sayangnya justru bertemu dan harus satu atap dengan Samuel, lelaki yang sering membuatnya naik darah di tempat kerja.
"AAARRRGGGHHH....!!!" Teriak Alana sambil mengacak-acak rambutnya. Suaranya itupun sampai terdengar keluar kamar hingga membuat Samuel yang sedang lewat pun menghentikan langkahnya.
"Dasar cewek stress!!" Gumamnya.
Mereka menempati lantai dua, dimana terdapat tiga buah kamar dan satu kamar mandi dan gudang kecil.
Samuel menempati kamar paling depan sementara Alana tepat di sebelahnya.
Hingga akhirnya ketika suatu malam saat Alana keluar dari kamarnya, dia menghampiri sebuah dispenser air yang terletak didepan kamarnya.
Suasana begitu redup karena penerangan hanyalah berasal dari cahaya lampu dari balkon dan kamar mandi.
Alana mengisi gelas dengan air lalu meminumnya. Namun dia kembali mengisi gelas itu untuk dibawanya kedalam kamar.
"Gue refill aja deh, biar gak bolak-balik." Gumamnya.
Lalu setelah gelas itu terisi penuh, Alana pun berbalik arah hendak kembali memasuki kamar.
Namun dia begitu kaget karena ternyata ada seseorang yang berdiri tepat di belakangnya sehingga dirinya pun menabrak hingga sedikit menumpahkan air minum di tubuh orang itu.
Dan ternyata orang itu adalah Samuel.
"Aduh, maaf, Sam. Gue ngga tau kalau lo ada di belakang gue!" Ucap Alana kaget, dia juga refleks mengusap tubuh Samuel yang tersiram air minum itu.
Seketika Alana pun terdiam. Dia memandangi Samuel dari atas sampai bawah.
Lelaki itu bertelanjang d**a dan hanya memakai sebuah boxer ketat hingga nyaris menonjolkan lekuk k*********a.
Alana makin kaget lagi ketika tangannya itu tiba-tiba saja ditarik dan digenggam kencang oleh Samuel, sehingga dirinya pun masuk kedalam rengkuhan tubuh besar itu. Dia juga kembali menengadahkan kepalanya dan menatap Samuel yang tubuhnya lebih tinggi darinya itu.
"Heh! Kalau lo ngeraba sampe kebawah, lo mau ngebangunin adek gue??" Tanyanya.
Mendengar hal itu terucap dari mulut Samuel, Alana pun langsung buru-buru melepaskan genggaman tangan Samuel, lalu dia pun bergegas memasuki kamarnya.
Kini yang tinggal hanyalah Samuel yang masih memandangi pintu kamar Alana yang sudah tertutup itu. Hingga sepersekian detik kemudian Samuel pun melangkah menuju kamar mandi yang ada disudut ruangan.
Dia menutup rapat pintu itu. Dia juga menyandarkan tubuhnya di daun pintu.
Samuel menghela napas panjang. Tatapannya pun turun ke arah celana boxernya.
Sudah ada yang menonjol tegang disana yang membuat dirinya pun kembali menghela napas panjang.
"Anjir lah! Baru gitu aja udah bangun lo!" Gumamnya masih memandangi area vitalnya.
Samuel pun kembali menyandarkan kepalanya di daun pintu. Dia jadi kembali teringat dengan apa yang telah membuat k*********a itu menegang.
Dia ingat benar ketika kejadian itu, meskipun suasana begitu redup tapi masih sangat terlihat jelas ketika dirinya bertemu pandang dengan Alana.
Perempuan itu tak memakai bra.
Karena terlihat dengan jelas dari belahan dadanya, juga dengan dua buah p****g yang sedikit menyembul dibalik dress satin tipis yang dipakainya.
Belum lagi ketika tubuh kecil itu menabrak tubuhnya yang bertelanjang d**a, dia begitu merasakan kedua p******a itu menubruk langsung ke dadanya yang sontak saja membuat sang junior terbangun dan menegang.
Samuel kembali menghela napas panjang ketika mengingatnya. Dia pun membuka boxernya hingga dirinya kini tak memakai sehelai benang pun dan menghampiri kloset lalu duduk diatasnya.
Tangannya menyentuh area vitalnya, mengusap-usapnya dengan gerakan perlahan hingga gerakan cepat hingga membuat dirinya mengejang.
Kedua matanya tertutup, tangannya masih terus mengocok sambil membayangkan dua p******a yang tak sengaja dilihatnya tadi.