Alana menengadahkan kepalanya, membebaskan air shower itu menghujam wajahnya sambil sesekali dia menggosok seluruh tubuhnya.
Setelah dirasa sudah cukup bersih, Alana pun mematikan shower lalu meraih bathrobe berwarna putihnya yang tergantung pada kapstok hook yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dia menyeka sejenak wajahnya degan handuk kecil yang setelah itu dia pun langsung membungkus tubuhnya dengan bathrobe.
CEKLEK!
Alana pun membuka pintu kamar mandi, namun dirinya pun langsung tersentak ketika Samuel sudah berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.
Samuel berdiri dengan mata tajamnya seperti biasa. Namun lelaki itu justru menghampiri Alana hingga membuatnya mundur beberapa langkah.
Kedua tangan Samuel pun langsung mengunci pergerakan Alana ketika perempuan itu sudah tersandar pada sebuah wastafel yang ada di belakangnya.
Dia juga mendekatkan wajahnya hingga membuat Alana pun nyaris menahan napas.
"Kalo mandi jangan lama-lama!" Ucapnya dingin.
Alana pun terdiam sejenak. Dia merasa seperti membeku ketika jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja. Juga cukup diakui, ternyata lelaki yang menurutnya menyebalkan ini ternyata cukup tampan.
"Denger gak??" Tanyanya yang menyadarkan Alana dari lamunannya.
"Kenapa? Kok diam?? Terpesona liat muka gue??" Tanyanya penuh percaya diri.
Namun Alana pun langsung sedikit mendorong tubuh itu hingga dirinya pun terbebas dari kungkungan Samuel. Dia juga mempercepat langkahnya hingga memasuki kamarnya.
Lain halnya dengan Samuel, lelaki itu hanya tersenyum memandangi kepergian Alana.
***
Alana duduk terbengong di tempat kerjanya. Pikirannya masih memikirkan tentang kejadian semalam dan pagi tadi yang membuat jantungnya berdetak begitu cepat.
Belum pernah dia berinteraksi dengan lelaki yang satu itu sedekat apapun. Karena Alana selalu menganggap Samuel itu menyebalkan.
Pernah suatu hari ketika mesin printer di ruangannya rusak, maka Alana pun harus mencetak dokumennya itu ke ruangan Samuel, karena saat dirinya mencoba numpang di divisi lain ternyata harus antri dengan temannya yang lain.
Karena dokumen yang akan dicetaknya itu sangat urgent, terpaksa dia menumpang di ruangan Samuel.
Ctak ctak ctak ctak
Sedang asik mengetik, tiba-tiba saja dirinya dibuat kaget lantaran monitor itu tiba-tiba saja mati.
"Yah! Kok mati sih??" Tanyanya panik.
Alana pun mencoba menggeser-geser mouse yang ada di meja, namun monitor itu tetap saja gelap.
"Sam! Ini kenapa sih kok tiba-tiba mati?? Ya ampun... Mana belum gue save lagi..." Gumamnya masih sambil memandangi monitor.
Namun, Samuel yang duduk dihadapannya itu justru tak menjawab apa-apa.
"SAM!!" Panggilnya lagi lebih keras, namun lelaki itu tampak begitu santai.
"Apa sih...?" Tanyanya santai.
"Ini monitornya tiba-tiba mati...!! Tolongin sih! Dokumen gue urgent banget, Sam!!" Rengek Alana.
"Mungkin karena lo belum cebok kali, Al, makanya komputernya sampe gak mau lo pake." Ucapnya ngawur.
Kedua mata Alana pun terbelalak.
"Hiiihhh!!! Gak ada waktu buat bercanda, Sam!!" Omelnya sambil memukuli lengan Samuel.
Lelaki itu terkekeh, namun justru membuat Alana makin semangat memukulinya.
"Iya, iya, bentar... Ini gue lagi nyiapin dokumen buat gue bawa ke kantor asuransi dulu..." Ucapnya sambil menangkis serangan Alana yang bertubi-tubi.
Hingga akhirnya setelah selesai menyiapkan dokumen, Samuel pun bangun dan menghampiri meja Alana. Lelaki bertubuh tinggi itupun duduk di bangku dan menghadap ke arah monitor.
"Makanya kalo boker tuh jangan buru-buru udahan. Cebok dulu yang bersih! Tuh liat, monitornya aja sampe bunuh diri karena lo bau tai." Ucap Samuel gak penting yang membuat Alana pun kembali refleks memukul pundaknya.
Lumayan lama lelaki itu berkutat mulai dari menggeser-geser mouse, membolak balik monitor komputer, sampai akhirnya lelaki itu malah tertawa cekikikan.
"Diiihhh! Kok lo malah ketawa sih???" Tanya Alana dengan kening berkerut rapat.
Namun lelaki itu makin ngikik. Samuel pun bangun dari kursi yang membuat Alana makin bingung lagi.
"Mau tau gak nih komputer kenapa?" Tanyanya, sementara Alana hanya diam sambil menggerakkan dagunya ke arah Samuel.
Lelaki itu pun refleks menarik salah satu lengan Alana, dia juga mengajaknya berjongkok dan menatap CPU yang diletakkan di kolong meja.
"Soalnya tombol power CPU nya gue matiin tadi." Ucap Samul santai.
Kedua mata Alana pun kembali terbelalak. Dia juga kembali memukuli pundak lelaki itu.
"HIIHHH!!! RESE, RESE, RESEEE!!!" Omelnya, sementara Samuel terbahak hingga terduduk di lantai.
Sambil cemberut Alana kembali menyalakan tombol power CPU itu yang setelah itu dirinya berlari menuju tempat semula. Setelah monitor itu kembali menyala, dirinya pun mencari-cari file yang terakhir dibukanya.
"SAMUEL TANGGUNG JAWAB LO!! FILE GUE ILANG!!!" Teriaknya.
Namun teriakan itu kali ini cukup membuat Samuel pun panik. Dia pun berlari menghampiri Alana.
"Serius lo, Al??" Tanyanya panik.
"Iya!! Semua ini gara-gara keisengan lo!! Pokoknya gue nggak mau tau...!!!" Omel Alana panjang lebar, sementara Samuel masih fokus menatap monitor mencari file yang dimaksud Alana.
"Nama file lo apa?" Tanyanya.
"Berita acara serah terima barang." Jawabnya.
Samuel terdiam masih sambil menatap layar monitor.
"Dih, iya gak ada, Al." Ucapnya.
"Hiiihhhh!!! Pokoknya gak mau tau!! Lo ketikin lagi semuanya!!!" Ancamnya.
"Tapi bo'ong." Samuel nyengir yang membuat Alana terdiam seketika.
Kedua tangan Samuel pun memegangi kepala Alana, lalu dihadapkannya tepat di depan monitor.
"Tuh, lo plototin tuh surat berita acara!" Ucapnya masih sambil memegangi kepala Alana.
Alana pun menghela napas panjang ketika mengingat keisengan Samuel. Dirinya kini hanya duduk bersandar pada sandaran kursi sambil meremas jari-jemarinya sendiri.
Kedua matanya pun berkeliling hingga dirinya pun tak sengaja mendapati Samuel yang sedang berdiri tak jauh dari meja kerjanya.
Lelaki itu tampak sedang berbicara dengan seseorang, namun kedua matanya melirik ke arah Alana.
DEG!
Tanpa sadar jantung Alana pun berdegup kencang. Dirinya pun mengalihkan pandangan demi menghindar dari tatapan Samuel.
Hingga ketika waktu terus bergulir, akhirnya sampailah pada jam makan siang. Seluruh karyawan pun berhamburan.
Mereka mengantri memasuki lift, hingga akhirnya tibalah giliran Alana. Dia memasuki lift itu bersama Dina, teman satu divisinya.
Namun ketika pintu lift yang hendak tertutup itu kembali terbuka ketika ada seseorang yang sengaja menekan tombol dari luar.
DEG!
Lagi-lagi jantung Alana serasa terpompa kencang ketika yang memasuki lift itu adalah Miko, seseorang yang Alana sukai.
Lelaki tampan itu tersenyum lalu berdiri tepat di samping Alana yang tentu saja membuat Alana pun salah tingkah.
"Lo sendirian, Mik? Biasanya sama si Sam?!" Tanya Dina.
"Tadi dia ngedadak ada kerjaan, makanya gue duluan aja. Udah laper banget dari pagi." Jawabnya.
"Emang tadi lo gak sarapan?!" Tanya Dina lagi.
"Sarapan, cuma baru makan lontong 10 senti." Jawabnya yang sontak saja membuat Alana dan Dina pun terbahak.
"Si goblok... Lontong pake diukur." Kata Dina sambil mendorong pundak Miko.
TING!
Pintu lift pun terbuka, mereka bertiga pun keluar bersamaan. Karena hari ini Miko sendirian, alhasil lelaki itu pun mengekor kemana pun Alana dan Dina pergi hingga memasuki sebuah kantin dan langsung memesan disana.
Mereka duduk di satu meja yang sama, dengan formasi Alana duduk bersebelahan dengan Dina, sementara Miko duduk tepat di depan Alana.
Alana begitu canggung meskipun lelaki itu selalu bersikap biasa saja selayaknya tak pernah terjadi sesuatu diantara mereka.
Meskipun rasa sakit hati itu sering kali muncul setiap melihat wajahnya, namun Alana berusaha baik-baik saja. Dia tak mau sampai ada orang lain yang tahu tentang masa lalunya bersama Miko.
"Gue cobain punya lo dong, Al." Miko pun iseng menyendok soto milik Alana dan langsung mencicipinya.
"Ih, manis, Al." Ucapnya lagi.
"Ya lo liat aja tuh kuah item gitu, udah kayak oli samping!" Ucap Dina.
"Sembarangan lo dibilang oli samping!"Omel Alana sambil memukul lengan Dina, sementara Miko hanya terkekeh saja.
" Nih, lo cobain punya gue nih... Enak!" Miko pun menyodorkan sendoknya hendak menyuapi Alana yang sontak saja Alana menolak. Karena selain malu, jujur saja dia salting brutal.
"Kaga, kaga!" Tolak Alana sambil memalingkan wajah.
"Dih, serius! Cobain dulu! Biar besok-besok lo gak perlu pake kecap banyak-banyak, kayak air comberan!" Miko terus memaksa namun ucapannya itu cukup membuat Alana tertawa.
Hingga akhirnya Alana pun nurut, dia mencicipi makanan yang disuapi Miko.
"Enak kan?!" Tanya lelaki itu, dia juga langsung memasukkan sendok bekas mulut Alana itu ke mulutnya sendiri yang membuat Alana makin berdebar.
Seketika Alana pun jadi kikuk, dia hanya mengangguk dan sedikit menundukkan wajahnya yang sudah bersemu merah ketika Miko tersenyum sambil menatapnya.
"Duuuhhh... Jantung gue kayak mau meledak!" Gumamnya dalam hati.
Hingga akhirnya setelah selesai makan mereka pun kembali ke kantor masih bersamaan. Alana dan Miko ngobrol seperti biasa hingga mereka pun berpisah ketika Miko berbelok arah dan memasuki toilet.
Alana terus melangkah masih dengan senyum yang tersisa.
"Ehem!!" Suara deheman yang begitu familiar yang seketika menghentikan langkah Alana.
Perempuan itupun menoleh, sudah ada Samuel yang sedang bersandar di dinding sambil tersenyum menatapnya.
Lelaki jangkung dan bermata tajam itupun menghampiri Alana. Dia begitu santai sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
"Kayaknya ada yang senang nih habis makan bareng sama temen gue." Ucapnya, seketika langkahnya terhenti tepat di depan Alana.
"Hah? Siapa?" Tanya Alana tak mengerti dengan kening yang berkerut rapat.
"Elo" Jawab Samuel simple. "Lo suka ya sama temen gue?" Tanyanya lagi sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Alana. "Gue liat tadi kayaknya lo bahagia banget bercanda sama temen gue." Tambahnya lagi.
Alana pun terdiam. Ucapan lelaki itu seakan langsung menusuk ulu hatinya hingga membuatnya kesulitan menelan ludah.
Samuel yang bertubub tinggi itu pun makin membungkukkan tubuhnya hingga jarak wajah mereka makin dekat.
"Gue kasih tau aja sama lo, temen gue itu udah punya pacar," Ucapnya.
"Mending lo sama gue." Tambahnya yang kali ini sukses membuat kedua mata Alana terbelalak.
Lelaki itu tersenyum membuatnya terlihat makin tampan. Tanpa berkata apa-apa, Samuel pun melenggang pergi meninggalkan Alana.