"Mending lo sama gue." Kata-kata itu terus menggema di telinga Alana.
Ada sebuah debaran ketika kata-kata itu menggema. Seperti sebuah debaran saat dirinya setiap kali bersama Miko.
Alana pun sampai harus tarik napas panjang berulang-ulang. Karena mendadak seperti ada perasaan asing menyeruak masuk kedalam hatinya.
Lelaki itu memang usil, sering kali membuat Alana naik darah setiap berinteraksi dengannya. Namun lelaki itu selalu melayangkan senyum tampannya setiap kali dia berhasil membuat Alana marah.
"Huuufffttt... " Helaan napas panjang itu pun tedengar Dina hingga perempuan itu menoleh ke arahnya.
"Kenapa lo?" Tanyanya.
"Hah? E---Enggak papa, gue cuma kekenyangan." Jawabnya bohong.
Perempuan bersurai pendek berponi itupun menarik kursinya hingga mendekat pada Alana.
"Kalo gue perhatiin, Miko itu deket banget sama lo ya, Al?!" Ucapnya tiba-tiba.
Alana sedikit terkejut, namun dia berusaha tetap terlihat biasa saja. Takut perempuan di sebelahnya itu curiga.
"Deket banget?" Alana mengerutkan keningnya sambil menatap Dina.
Perempuan itu pun mengangguk.
"Gue sering liat dia merhatiin lo." Jawabnya yang kali ini sukses membuat Alana mematung.
"Terus, dia itu jarang banget bercanda sama cewek, paling sama yang deket sama dia aja. Tapi, bercandanya dia sama lo beda, Al." Lanjutnya, semua penuturan Dina itupun membuat debaran jantung Alana kian cepat.
"Beda gimana?" Tanya Alana hati-hati.
Dina pun menopang dagunya sambil terus menatap Alana.
"Kalo sama yang lain dia bercanda biasa aja, tapi kalo sama lo bercandanya kayaknya deep banget gitu, Al. Kayak pake perasaan," Jawabnya.
"Seperti tadi, dia nggak malu buat nyuapin lo. Ya... Walaupun memang iseng sih, tapi kalo dari pandangan gue kayaknya beda aja. Seperti ada perasaan saat dia lakuin itu ke lo." Lanjutnya.
Alana masih terus diam mendengar penuturan Dina.
"Bercandanya dia ke elo itu kadang sampai kontak fisik, beberapa kali gue pernah liat dia ngacak-ngacak rambut lo, terus dia juga pernah tuh ngebelai rambut lo cuma karena waktu itu kepala lo kejatuhan daun." Lanjutnya lagi makin panjang lebar yang sanggup membuat jantung Alana kian terpompa cepat.
"Mungkin gak sih kalo dia tuh punya perasaan ke elo, Al?" Tanya Dina sambil senyum yang membuat Alana jadi salah tingkah.
Namun, Alana mencoba tetap santai sambil menarik senyum meski terlihat kaku.
"Gak mungkin lah, Din. Dia itu kan udah punya cewek. Lagian kita dekat kan karena emang udah lama temenan." Jelas Alana.
Dina hanya menganggukkan kepalanya. Hingga tak lama kemudian perempuan itupun kembali menarik kursi dan kembali ke tempatnya.
Kini tinggal Alana yang merasa begitu gundah gulana. Ternyata jika orang yang cukup teliti bisa langsung mengetahui kedekatan mereka.
Tapi memang begitulah Miko. Dia memang baik dari dulu. Banyak kesamaan mulai dari hobi hingga selera musik yang membuat mereka berdua begitu dekat.
Namun tetap saja, masih ada perempuan lain di hati lelaki itu. Dan kenyataan itulah yang kembali mengiris hati Alana.
***
Malam harinya Alana berbaring diatas ranjang, tangannya sibuk scrolling sosial medianya. Hingga akhirnya, ibu jarinya berhenti menggulir layar ketika dirinya menemukan sebuah postingan disana.
Miko,
dia merangkul mesra pundak sang kekasih. Perempuan berkulit putih dengan surai panjang hitam legam itupun turut merangkul tubuh Miko. Mereka tampak begitu bahagia dengan sebuah caption tertulis "3 Years anniversary ❤"
Tangan Alana seakan gemetar memandang dan membaca caption yang tertulis disana. Hatinya pun seperti tersayat, tertusuk atau bahkan tercabik karena pada kenyataannya lelaki itu masih begitu mencintai sang kekasih.
Tanpa sadar air matanya pun luruh begitu saja. Dia juga melempar hpnya ke atas ranjang dengan sembarang.
Masih dengan rasa sakit yang nyelekit, Alana pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sepersekian detik kemudian dia kembali membuka tangkupan tangannya dari wajahnya. Dia hanya duduk bengong menatap ke arah meja riasnya, menyaksikan secara langsung wajah bodohnya disana.
Ya,
Alana memang bodoh.
Sudah lama dia mengetahui jika lelaki itu masih memiliki kekasih yang begitu dicintainya, namun rasa itu tak kunjung hilang juga.
Tanpa sadar juga Alana merutuki dirinya yang sampai detik ini belum bisa berpaling dari lelaki itu.
Dia pun menarik napas panjang.
"Kayaknya gue mesti cari pengganti dia deh. Cari cowok yang mungkin bisa bikin gue benar-benar berpaling dari dia." Gumamnya tanpa sadar.
BRUAK!!!
Sebuah gebrakan terjadi dari luar kamar yang membuat Alana pun kaget hingga nyaris terlonjak. Dia pun buru-buru bangun dan berlari membuka pintu kamar untuk memastikan apa yang terjadi diluar sana.
Hingga ketika pintu itu sudah terbuka, dirinya benar-benar mematung melihat apa yang terjadi disana.
Sudah ada Samuel yang sedang memeluk seekor ular besar berwarna kuning, yang sepertinya hendak dimasukkannya kedalam keranjang.
Namun lelaki itu tampak begitu santai menatap balik Alana. Hingga akhirnya Alana pun memutuskan untuk kembali menutup dan mengunci pintu kamarnya.
"Dasar cowok aneh! Bener-bener aneh!!" Gerutunya, dia berjalan mundur sambil memandangi daun pintu hingga dirinya pun kembali terduduk di pinggir ranjang.
"Pantesan aneh, ngeselin, temenannya aja sama ular!" Gerutunya lagi.
Alana pun kembali meraih benda pipih yang sedari tadi tergeletak diatas ranjang. Namun baru beberapa saat kemudian, atensinya pun teralihkan ketika pintu kamarnya diketuk dari luar.
TOK TOK TOK
Alana terdiam sejenak. "Siapa ya? Perasaan gue belum kenal banyak orang disini?!" Gumamnya masih sambil menatap daun pintu kamarnya.
TOK TOK TOK
Pintu itu kembali terketuk dari luar yang mau tak mau Alana pun bangkit dan menghampirinya.
Namun saat dirinya membukanya, kedua matanya terbelalak lebar ketika mendapati Samuel yang tengah berdiri tepat di hadapannya dengan seekor ular kuning peliharaannya itu yang melilit di lehernya.
"AKH!!!" Alana pun memekik kaget, dia juga mundur beberapa langkah.
"Ngapain lo???" Tanyanya dengan kedua mata yang terus mengawasi pergerakan Samuel.
"Cuma mau ngenalin temen gue ke elo." Jawabnya santai, tangannya juga menjulurkan kepala ular kuning miliknya.
"Hiihhh!! Nggak perlu!!! Gue lebih tertarik temenan sama manusia ketimbang ular!!" Jawab Alana sambil mundur, namun sayangnya Samuel justru melangkah masuk kedalam kamarnya.
"MAU NGAPAIN LO???" Tanyanya lagi sambil menunjuk Samuel yang terus mendekat.
"Kan udah gue bilang... Gue cuma mau ngenalin temen gue ke elo..." Jawabnya sesantai tadi.
"GUE BILANG GAK PERLU!! GUE ADUIN KE NYOKAP LO YA!!!" Alana pun memgancam ketika dirinya sudha kian terpojok. Kini Alana sudah duduk di ranjang sementara Samuel sudah kian mendekat masih dengan ular kuning di lehernya.
Kedua mata Alana terus mengawasi kepala ular kuning itu. Jantungnya berdegup begitu kencang, belum lagi bulu kuduk yang meremang ketika setiap kali ular kuning itu menjulurkan lidahnya keluar.
Samuel masih tampak begitu santai.
"Nyokap gue lagi ke Jogja sama bokap gue, Anak-anak dibawah juga pada sibuk bikin skripsi di kamar. Jadi diatas sini cuma tinggal lo sama gue aja." Jelasnya, dia makin merapatkan tubuhnya yang membuat Alana kian mundur.
"Sam, please, Sam, jauhin ular itu dari gue! Gue takut, Sam!!" Pinta Alana suaranya sudah sedikit bergetar.
Samuel pun menarik senyum sebelah bibirnya, sebuah senyum meremehkan.
"Sama ular aja takut." Ucapnya enteng.
Lalu lelaki itupun kian mendekatkan wajahnya ke wajah Alana.
"Kalo sama ular kasur takut nggak?!" Tanyanya dengan senyum meledek.
Alana pun membelalakkan kedua matanya.
"Keluar dari kamar gue!!!" Perintah Alana, dia sudah kepalang kesal. Namun justru membuat lelaki itu makin kesenangan.
"Tenang aja, ular kasur punya gue lebih hebat dari ular ini." Ucapnya sambil menyeringai.
"KELUAR!!!" Bentak Alana.
Samuel pun terkekeh.
Dia melangkah mundur masih dengan kedua mata yang tertuju pada Alana. Namun sepersekian detik kemudian Samuel mengedipkan sebelah matanya pada Alana.
Alana hanya diam sambil terus menatap sinis hingga lelaki itu benar-benar keluar. Setelah itu Alana pun bergegas menuju pintu lalu ditutup dan dikincinya.
"Hiiihhhh!!! Dasar cowok stress! Gila! Jancuk! Tai!!" Makinya secara bertubi-tubi sambil menunjuk-nunjuk daun pintu kamarnya.
***
Keesokan harinya Alana berangkat seperti biasa. Namun baru saja dia keluar dari rumah kost, terlihat disana mobil sang pemilik kost memasuki garasi rumah.
Rupanya mereka baru saja pulang jika mengingat kata Samuel mereka pergi ke Jogja.
"Pagi, Bu, Pak." Sapa Alana ketika sepasang paruh baya itu turun dari mobil mereka.
"Pagi... Loh kok nggak bareng sama Samuel sih, Al? Kan kalian satu kantor?!" Tanya sang perempuan paruh baya itu yang adalah Amira, ibu kandung Samuel.
"Hehehehe iya, Bu. Tadi saya kesiangan bangun." Jawab Alana.
"Mau saya antar?" Tanya Johan, ayah Samuel.
"Nggak usah, Pak, terimakasih. Kebetulan saya udah pesan ojek online." Jawab Alana sambil mengangguk sopan.
"Oh... Gitu..." Johan pun mengangguk.
"Yaudah saya berangkat dulu ya, Pak, Bu. Ojolnya udah dateng." Pamit Alana sambil menunjuk ke arah luar pagar rumah.
"Iya, hati-hati ya, Al..." Ucap Amira begitu ramah.
Lalu Alana pun bergegas menuju ojek onlinenya.
"Pak, tolong ngebut ya!" Perintahnya ketika menaiki motor itu sambil memakai helm.
Sang pria berjaket hijau itu pun mengangguk, setelah Alana sudah siap, motor itupun melaju.
Singkatnya kini Alana sudah sampai tepat di depan sebuah gedung tinggi dimana kantor tempatnya bekerja berada. Setelah turun dari ojek online, Alana terus berlari memasuki lobi. Namun sayangnya dia harus mengantri untuk memasuki lift hingga membuat dirinya pun makin kesal.
"Duh! Pake acara ngantri lagi nih lift! Gak tau orang udah telat sepuluh menit apa??" Gerutunya.
"Nih gara-gara ularnya si Sam! Gara-gara dia gue jadi gak bisa tidur gara-gara ketakutan!!" Gerutunya lagi.
Hingga akhirnya Alana pun sedikit bernapas lega ketika pintu lift sudah kembali terbuka dalam keadaan kosong.
Dia langsung melangkahkan kaki memasukinya, lalu menekan tombol angka 5 dimana tempatnya berada.
Hingga akhirnya ketika pintu lift terbuka di lantai lima, Alana pun langsung berlari hingga memasuki resepsionis kantornya.
Namun sayangnya, absen fingerprint itu sudah keburu dibawa masuk ke ruang HRD, sehingga siapapun yang terlambat harus setor muka ke HRD secara langsung.
"Akh, sial!!" Umpatnya pelan.
Dan mau tak mau Alana pun bergegas menuju ruang HRD.
Dirinya pun masuk ketika setelah mengetuk pintu dan di perbolehkan masuk oleh sang pemilik ruangan. Namun, melihat Samuel yang duduk begitu santai sambil tersenyum di bangkunya membuat Alana makin naik darah lagi.
Sebuah senyuman mengejek.
"Kenapa telat??" Tanyanya sambil bersedekap d**a.
Alana tak menjawab, dia begitu malas meladeni lelaki satu ini. Dia hanya berjalan sambil sedikit menunduk hingga tepat di depan meja Samuel.
"Kenapa telat?? Gue tanyain juga!" Ucapnya lagi.
Alana pun melirik malas ke arah Samuel.
"Kesiangan." Jawab Alana malas.
"Kesiangan? Punya jam weker gak? Kalo semua karyawan kesiangan kayak lo yang ada ngerugiin perusahaan!" Ucapnya yang makin menaikkan tensi darah Alana.
Alana hanya diam, dia mengalihkan pandangannya dari Samuel sambil menghela napas kasar.
"Huuufffttt..." Hanya terdengar helaan napas Alana yang membuat lelaki itu mengangkat sebelah alisnya.
"Kalo lagi diajak ngomong sama HRD tuh jangan hela napas ya, gak sopan!!" Samuel pun makin nyerocos yang bikin Alana pun makin kesal lagi.
"Ini semua tuh gara-gara lo!!! Gara-gara lo bawa ular ke kamar gue bikin gue ketakutan dan gak bisa tidur!!! Jadi gue kesiangan tuh gara-gara lo!!! GARA-GARA LO...!!!" Alana pun akhirnya meledak. Dia mengeluarkan semua unek-unek nya hingga tanpa sadar menarik kerah kemeja Samuel sehingga jarak wajah mereka begitu dekat.
Samuel pun mematung ketika perempuan dihadapannya itu tampak ngos-ngosan karena baru saja meluapkan semua kekesalannya.
"Ngerti kan maksud gue??" Tanya Alana penuh penekanan.
Samuel masih terpaku dengan kedekatan wajah mereka. Hingga sepersekian detik kemudian lelaki itupun terkekeh.
"Makanya... Mending lo tidur sama gue, jadi ada yang bangunin." Ucapnya sambil membelai wajah Alana dengan jari telunjuknya.
"Najis lo!!!" Alana pun mendorong tubuh Samuel hingga terhempas ke sandaran kursi, setelah itu perempuan itupun keluar dari ruangan Samuel masih sambil membawa emosinya.
Yang tinggal hanyalah Samuel yang terkekeh.
"Hmmmm... Baru kali ini kantor begitu menyenangkan." Ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya.