24 Desember pukul 05.30 pagi tepat 6 bulan setelah hari kelahiran.
Sisa-sisa angin malam yang lamban dan bergetar diam mengambang tenang lalu berjalalan pelan diselang diam mengambang sebentar lalu tenang lamban dan bergetar sedang mengenang akan setiap tenang yang telah tersebarkan melalui angan-angan yang kadang panjang yang menuntut sekumpulan partikel malam ataukah apapun biasa kelalawar kelalawar yang lapar mengenal berulang kali menegur angin malam bahwa pemikiran tak perlu melulu soal panjang yang bergelombang gelombang hingga mengaburkan kikisan kikisan tulisan disepanjang jalur gelombang, kadang perlu tak melulu berkepanjangan hanya butuh sedikit titik untuk membuka jalan jalan panjang tanpa pertimbangan yang berdentang-dentang dan selebihnya menyerahkan segalanya kepada sesuatu yang orang awam biasa menandainya sebagai kekuatan keseragaman malam walau yang bagi angin malam pasti akan langsung menerbangkan pemikiran penandaan usang semacam yang demikian adanya bahwa kenampakkan yang seakan seragam tersimpan bermacam-macam gemilang bintang bintang malam yang tak akan terperhatikan disaat pagi mengambil alih secara serampangan. Terkisahkan bahwa dahulu atau mungkin sekarang atau kapan pernah keterjadian bahwa sisa siasa angin malam yang lamban dan bergetar tetiba datang menentang setiap rentang karam mengambang centang benderang perkara pekarang janji yang pagi rentangkan, yang dengan serampangan menebar harapan kepada sejuta kehidupan alam semesta bahwa angin malam tak pernah meragukan kehadiran harapan harapan yang termungkinkan hadir dialam semesta akan tetapi pagi bersama harapan yang erat digenggamnya ditanggan kanan dan menyebarkan disetiap jengkal langkah menggoda juga terlihat menggandeng duka berupa kecewa yang berbentuk serupa manusia berusia yang seakan baru menjejakkan kaki didunia tak lebih dari 3 jejakkan kaki, makhluk yang serba lucu sehingga kehadirannya yang serupa manusia baru hanya akan mengundang tawa sesungguh manusia lama tanpa ada yang mengira bahwa kedukaan yang berkepanjang juga ikut terbawara serupa manusia baru belum lagi sekantung lara yang sudah siap sedia menunggu terbang diangkasa dibelakangnya, aihh aihh aihhh bayi manusia yang hanya akan mengandunh tawa dan gembira dan juga menggemaskan sehingga tak akan menyisakan ruang sedikit nakal pada pemikiran bahwa ternyata hanya akan mampu mencipta lara yang berkepanjang bagi sesungguh manusia lama yang telah sekian lama ingin memenuhi segala impiannya. Maka akan terlihat wajar pabila angin malam yang dengan segala cerita mengenai tenang menjadi murka akan kesemena-menaan keagungan pagi dengan segala kantong janji yang telah terisi. lalu bagaimana dengan kehadiran tuan malam bahwa pernah terdengar semacam kabar yang mengatakan bahwa Telah diantarkannya kunang-kunang yang ditelantarkan malam yang sedang bergerumulan menggagas rembulan dengan berantakan sehingga kunang-kunang yang sendirian datang menemu angin malam untuk meminta mau menghindarkan diri dari segala macam kobar puluh sinar mentari, angin malam semestinya tak harus bersusah payah menebar tenang sekali lagi tapi seakan tak mampu meninggal kunang kunang bersama dengan gelisah di hati mungkin, kunang-kunang yang bercahaya terang dalam keadaan malam gemetar akan terang pagi yang dapat menyebabkan kehadirannya menjadi terabaikan lalu digelap malam yang tenang tak disangka mentari pun turut ikur campur pada rembulan hingga kunang kunang yang malang pun kembali hilang, maka tiada pilihan lain bagi angin malam untuk mau mengantar tenang kepada kunang-kunang dan dianggapnya sebagai penutup dari perjalan akhir cerita. Sisa-sisa angin malam yang tengah dan telah malang melintang dengan segala beban yang sekarang seakan ringan serta dalam keadaan sekira bebas nampak tergapah papah bersama lelah mencari bangku-bangku kosong pemilik taman yang lenggang sembari meramban menghitung angka serta memperkirakan jangka mengenai waktu dan memang akan selalu mengenai waktu, sisa waktu yang mampu direngkuh sebelum pagi mengumbar harap dengan begitu serampangan hingga menciptakan ruang bagi selentik tawa hanya sebentar saja dan lalu tangis yang akan menceritakan kisahnya selepasnya, ahhh betapa indahnya menjadi cerah cahaya pagi yang bebas mengisi tangis didalam perjalanan kehidupan khalifah bumi dengan segala macam pengharapan manusia tak perduli entah mengenai wangi kamboja atawa kilauan kaca akan selalu sama saja ketragisan disemuanya bahwa pengharapan akan selalu mampu membawa kemalangan dengan sekian juta-juta cara. Dan biarlah angin malam menikmati ketenangannya sebelum akhirnya sempurna didalam waktu, sekarang aku ingin sedikit berbicara mengenai kamu walau dalam setiap kenangan yang tentangmu akan selau ada berbagai macam perasaan yang bermunculan maka dari itu kumulai dengan sebuah pertanyaa, apakah kamu dengan angan angan tentang siang yang terwakilkan oleh indah bunga Bu Ana yang merekah serta kekupu biru dipundak kirimu yang senantiasa menunggu guncang bahu disela hentakkan langkahmu yang riang dan haru telah puas menikmati kelabu biru di seisi planet biru? Aku tak ingin mengecewakan kamu dengan mengajakmu berlari laju menyusuri puluhan tahun lalu atau bahkan ribuan tahun lalu disaat mata uang apapun itu bentuknya belum mampu membayar sinar mentari untuk singgah mengelilingi bumi melebihi waktu, ya memang akan selalu tentang waktu dan rentang waktu akuku, mengajakmu menyusuri puluhan tahun lalu atau bahkan ribuan tahun lalu sebelum manusia tampak menengadah bebas melepas rindu dari kedatangan sejuk angin malam tak lebih hitungan jam dan selepasnya adalah bekejaran dengan langkah palsu. Ahh senang bisa mengajakmu berlarian menyusuri jalan kegembiraan dan mengawang-awang membayangkan kembali ke angin malam yang telah duduk tenang disudut taman sambil menopang pandang menikmati pergantian latar kehidupan yang nampak begitu jelas dimatanya akan tetapi selalu diingkari setiap manusia dan seolah terlalu cepat serta tak terdeteksi, seberapa sering kamu mendengar air yang marah, hutan renta, gejolak udara kalian manusia mengetahui dengan seksama namun selayaknya makhluk hidup memang telah ditakdirkan untuk sulit menyatakan yang sudah atau terlampau nyata adanya. Maka dari itu mari kita saksikan gelombang gelombang pesan yang telah tersampaikan tetapi selalu terabaikan, biarlah laut dan tebing yang akan kembali mengisahkan tentang yang terlewatkan akan tetapi mungkin masih mungkin di lambai untuk kembali datang.