Ah Gadis Ini Betul-Betul Ingin Melihatku Menderita
24 Desember pukul 13.00 tepat 6 bulan setelah hari kelahiran.
Tebing memicingkan matanya, "matahari betul - betul ingin terlihat sempurna hari ini" begitu pikir Tebing. 37°c bukan suhu cuaca favoritnya tapi bagaimanapun juga pertemuan hari ini harus tetap berlangsung dan berharap segala sakit akan menemui penjelasan yang menggembirakan dan langkah kakinya pun semakin melambat seiring bertambahnya jarak yang telah ditempuhnya. "Ini adalah pertemuan yang tiada berguna, seharusnya aku tak datang menemuinya, kenapa pula aku harus mengikuti hatiku, bukankah puing-puing luka yaang bertebaran disepanjang jalan cerita adalah akibat terlalu mendengarkannya, Tuhan segala yang terjadi biarkan lah terjadi Tuhan." Mengingat jalan cerita manusia terlebih untuk kehidupannya, Tebing tidak pernah begitu Terkecewakan dengan segala bentuk pengecewaan manusia tak satupun yang begitu akan menyakitkan bagi dirinya setiap kecewa disikapi sebagai bentuk tindakan yang lahir dari sebuah pemikiran manusia baik buruk pemikiran tersebut untuk Tebing keduanya sama-sama dia hargai tak lebih dan tak kurang sebagai hak yang dimiliki oleh setiap kehidupan didunia, maka dengan itu tak peduli seberapa menyakitkannya dia akan dengan riang gembira berjalan kaki melewati luka dihatinya dengan sendirian atau paling tidak dengan menggunakan sepeda kelabu merah jambu pemberian Ibu. Kekecewaan atawa kesendirian yang terkadang datang tanpa sebuah tanda peringatan diakhir rute pemberhentian dianggap sebagai angin lalu yang setiap saat dan sewaktu bagaimanapun baginya adalah katalis bagi kumpulan angin yang mulai lamban bagi Tebing realitas keberadaan alam dan sekitarnya sudah lebih dari cukup untuk menemani perjalanannya yang bagi sebagian orang adalah perjalanan yang membosankan.
Setiba di kedai kopi, kedai kopi kafepora tempat dimana cerita cerita terlepas dan terbiarkan mengisi sela-sela diantara meja-meja yang berbaris tertata dan terpisahkan oleh seleret kaca guna menjadi penegas dua bagian yang bukan saja saling memisahkan antara dua bentuk kepercayaan yang terbentuk karena keberadaan jaman tapi juga sebagai peredam suara bagi masing-masing pemilik kepercayaan untuk memendam keyakinannya masing-masiing, lalu bagaimana dengan seorang pemuluk kepercayaan yang satu tetapi datang bersama seorang yang menyakini kepercayaan yang satunya lagi dan pemeluk kepercayaan yang pertama harus ikut berada diruang kepercayaan yang kedua bagaimana dengan orang yang semacam itu tebing biasa menyebut mereka orang-orang pelintas kepercayaan, maka matanya langsung menyorot keseluruh ruangan dan dengan cepat berhenti kesatu titik dengan penuh pengamatan.
“Ahh ternyata jalan kaki, sepertinya kamu masih akrab dengan matahari dan juga trotoar.”
“Ahh dan kamu juga sudah tahu pasti bagaimana sikapku terhadap keduanya.”
Tebing segera menyambut senyuman Timur dengan helaian napas panjang dan rantaian kata–kata.
“Itu adalah bentuk kecintaanku terhadap manusia mengenai sifat mereka yang begitu polos dengan terus mengeluh tentang kemacetan, fasilitas trotoar, angka kesehatan dan mungkin juga pemanasan global akan tetapi terus memakmurkan industri-industri kendaraan bermotor dan beralibi bahwa itu semua karena fasilitas untuk berjalan kaki kurang baik dan sebagainya akan tetapi mereka lupa bahwa setiap kebijakan pemerintah dalam menyediakan fasilitas publik berdasarkan angka-angka kebutuhan masyarakat dan belum pernah ada sepengetahuanku seorang pemimpin yang sibuk membangun fasilitas publik sesuai kehendaknya sembari lantang berbicara bahwa wahai rakyatku yang memilihku inilah yang kuanggap terbaik untuk kehidupan kita bersama maka dari itu kamu sekalian harus memanfaatkannya dengan maksimal sebagai pola kehidupan yang baru dan meninggal pola kehidupan yang lalu, belum ada yang seberani demikian diera kebebasan modern ini, dan disisi lain para aktivis lingkungan hidup sedang asyik berkeliling mensosialisasikan pemanasan global menggunakan motor masing masing lalu setiba dirumah mengeluh tentang bagaimana semakin panasnya suhu udara sembari menyalakan pendingin ruangan ironis sekali Timur, aku hanya tidak ingin menjadi terlalu terlabeli sebagai manusia pembawa jejak karbon dan penyebar metana timur hanya itu saja.”
“Aku menyukai penjelasan panjangmu” kata Timur sambil menatap mata Tebing.
“Tapi apakah kamu mengerti, aku tidak ingin kata kataku menjadi sia–sia.”
“Kata katamu tidak akan sia-sia Tebing Aku menyukainya.”
“Tapi kata kataku akan lebih berarti jika kamu mengerti.”
“Lalu apa yang sebenarnya ingin Kamu sampaikan sehingga kata-katamu menjadi bermakna.”
“Aku hanya ingin menyampaikan bahwa tidak akan ada yang berubah pada perilaku kita bahkan setelah kita mengetahui kebenarannya.”
“Apakah seputus asa itu.”
Tebing hanya tersenyum, senyum yang bagi sebagian orang adalah sebuah kunci bagi pembebasan akan percakapan yang melelahkan tapi bagi mereka yang telah terlalu lama terpisahkan oleh waktu dan ruang kehadiran senyuman adalah lebih dari sekadar kunci, mereka adalah sebuah kail yang mengayun-ayun bebas diangkasa dan mencari siapapun saja yang mau menyapa untuk selepasnya ikhlas terbawa terbang kembali kemasa-masa yang telah lama tenggelam untuk dipaksa untuk mengambang sekali lagi dan mungkin untuk masa yang sekian lama serta selamanya.
“Kamu adalah manusia dengan senyum termanis dan dengan sikap terdingin yang pernah Aku kenal.”
“Aku adalah seorang manusia berhati lembut yang selalu membutuhan objek untuk menyalurkannya Timur, dan kamu harus mengakuinya Timur.” kata Tebing.
“Bagaimana kabar kucing-kucingmu?”
“Mereka sehat dan bersemangat.”
“Mereka sehat dan belum disteril.”
“Aku bukan Tuan Nakata yang bisa berbicara dengan kucing - kucing Timur dan manusia sudah terlalu banyak omong terhadap segala yang mereka tidak mengerti bahkan soal kucing.”
“Aku sangat merindukan peristiwa berbicara denganmu seperti sekarang ini.”
“Kamu pasti akan bisa lebih sering menikmati peristiwa semacam ini kalo saja kebohongan mu itu dapat sedikit kamu pendam.”
“Kamu sudah tau pasti Tebing bagaimana sikapku terhadap kebohongan.”
“Bagimu kebohongan adalah sebuah seni dan setiap orang yang terlibat adalah sebuah aktor yang sedang terlibat dalam drama kenyataan.”
“Dan sebuah seni tak akan menyakiti siapapun.” kata Timur rendah.
Mata merekapun saling menatap satu sama lain dan seakan mengisi ruang kekosongan yang tercipta akibat tersentuhnya bagian terapuh diantara keduanya.
.
“Akan tetapi hasil karyamu yang terakhir telah menyakiti dan menghancurkan segalanya.”
“Begitupun juga aku.” kata Timur.
“Ya aku tau.”
“Beruntungnya kamu Tebing terlahir dengan kulit yang sangat sulit berkeringat dan juga jiwa yang menyukai kesendirian.”
“Tidak ada seorangpun yang suka akan kesendirian Timur tidak ada.”
“Maka mungkin itulah alasan dari pertemuan kita ini Tebing.”
Dan Tebing pun menatap sebuah karya seni dari sang maha pencipta dengan begitu tajam dan senyum yang semakin lama semakin tersimpul dan juga mata yang semakin melebar “Bagaimana gadis secantik dan sesempurna ini bisa mengocar-acirkan kehidupan dan perasaanku dengan seketika.” Pikirnya.
“Bagaimana kabar lukisan-lukisanmu?”
“Hasil karyaku yang itu masih belum menyakitu siapapun.” Tawa merekapun lepas.
“Sepertinya satu persatu ambisi dari gadis sagitarius ini mulai terpenuhi.”
“Gadis sagitariusmu.”
“Dulu.”
“ Masih.”
“Aku sangat ingin melihatmu melukis” kata Tebing.
“Apakah kalimat itu adalah hadiah ulang tahun untuk gadis malang ini?”
“Jika menurutmu itu cukup aku akan senang sekali.”
“Aku ingin megundangmu kepernikahanku bulan depan dan aku harap kamu akan datang sebagai kado ulang tahun untukku.”
Tebing membutuhkan beberapa saat untuk mengolah setiap perkataan yang terlontar dan memilah milah setiap kemungkinan yang tersedia dan bahwa fakta mereka telah lama tidak bertemu semakin menguatkan kesimpulannya dan dari dalam kedai beatles seakan–akan menjadi lebih bersemangat membawakan lagu girl miliknya “ahh gadis ini betul–betul ingin melihatku menderita.” pikir Tebing.