Tebing membutuhkan beberapa saat untuk mengolah setiap perkataan yang terlontar dan memilah milah setiap kemungkinan yang tersedia dan bahwa fakta mereka telah lama tidak bertemu semakin menguatkan kesimpulannya dan dari dalam kedai beatles seakan–akan menjadi lebih bersemangat membawakan lagu girl miliknya “ahh gadis ini betul–betul ingin melihatku menderita.” pikir Tebing.
“Apakah ini adalah salah satu bentuk kesenianmu Timur?”
“Aku hanya ingin bermain main.”
“Dan aku sangat menyukai caramu bermain."
“Aku ingin kamu ikut denganku ke Mars bermain bersamaku disana menyusuri setiap lubang lubang yang tersedia dan melihat bulan dari arah yang berbeda bersama berdua. Mungkin disana telah ada beberapa pasangan yang telah mendahui kita dan itu sudah pasti karena kesalahanmu yang hidup dibumi ini tanpa memiliki ambisi sedikitpun.”
“Mungkin aku akan bersedia ikut denganmu jika setiap kebutuhan untuk hidup bersama di Mars sudah kamu siapkan seluruhnya seperti cadangan oksigen yang melimpah, aku tentu tidak ingin menikmati bulan di Mars denganmu hanya untuk beberapa detik saja, oh dan tentu jangan lupa untuk membawa beratus - ratus tumbuhan agar sinar matahari mampu lebih terserap oleh Planet Mars dan masih banyak lagi keperluhan yang harus kamu siapkan, aku yakin kamu akan sangat sibuk saat - saat ini dan untuk menghargai usahamu itu akan dengan senang hati menemanimu pergi ke Mars bersama dan berdua dan juga tak ada seorangpun gemini yang terlahir dan hidup dengan ambisi yang kuat. Mereka para gemini telah ditakdirkan menjadi teman sejati dan bagi para gemini dunia hanya sekadar taman bermain dan dengan membawaku ke Mars tidak tidak akan merubah fakta itu Timur.”
“Dan tak punya imajinasi.”
“Apa.”
“Apa semua gemini tak punya ambisi dan imajinasi juga?” tanya Timur.
“Aku pikir begitu. Tapi Kadang sungguh aku ingin juga bisa membayangkan hal-hal yang selama ini tak dapat ditangkap oleh daya imajinasiku sampai akhirnya imajinasimu menyeretku untuk mau bergabung dalam imajimasi yang seluruhnya sudah kamu siapkan Timur, setiap apa yang coba kamu utarakan untukku adalah hal-hal yang sungguh-sungguh menyenangkan bagiku Timur, bahkan kucing-kucingku tak mampu membuatku sebahagia itu.”
“Aku pikir dalam hal ini kamu sudah terlalu kelewatan
Manis sekali tebing caramu memujiku walaupun dalam hal ini aku pikir kamu sudah terlalu kelewatan dengan cara membandingkanku dengan kucing-kucingmu karena setiap orang yang mengenalmu pasti tau bahwa tidak ada yang lebih membahagiakanmu selain melihat tingkah laku kucing-kucingmu, manis sekali Tebing sungguh manis sekali caramu menyindirku.” Kata Timur.
“Dan dimanakah kita saat ini.”
“Kita saat ini sedang sama-sama hidup di dalam imajinasiku Tebing.”
“Kita memang selalu hidup dalam imajinasimu dan karena kurangnya kemampuanku untuk berimajinasi membuatmu dapat sesuka hati merealitaskan imajinasimu secara berlebihan yang kadang hanya akan membuatku sakit.” Kata Tebing.
“Jadi saat kita telah setuju untuk bersama-sama hidup di Mars.”
“Hm Aku pikir begitu.”
“Apakah aku harus bertemu dengan Putin untuk meminjam salah satu wahana pendarat miliknya.”
“Aku pikir juga begitu.” dan tawapun lepas diantara keduanya.
“Aku bosan, aku ingin jalan - jalan bersamamu.”
“Dengan senang hati Timur, tidak ada seorangpun yang lebih menyukai kesendirian begitupun halnya dalam berjalan kaki.”
Merekapun pergi meninggalkan kedai dengan perasaan yang lebih menenangkan bagi keduanya.
Mata merekapun saling menatap satu sama lain dan seakan mengisi ruang kekosongan yang tercipta akibat tersentuhnya bagian terapuh diantara keduanya.
Ruang–ruang yang kosong dengan bagian bagian rapuh dalam diri manusia, kelam, dan hilang menyedihkan, serta kenyataan yang menyakitan, ruang-ruang yang akan selalu penuh akan tetapi juga selalu mampu terisi serta akan senantiasa hidup bersamanya hingga kematian menjelang,mungkin. Barangkali memang itulah cara kerja manusia-manusia yang terbaharukan dengan tanpa paksaan mereka dapat menyimpan segala hal yang tak terpertimbangkan oleh akal dan hitung-hitungan nalariah ataupun perasaan dan angan-angan yang indah, telah sepapatutnya hidup berdampingan dengan ruang-ruang ini, ruang ruang yang senantiasa ditekan ntuk segera termungkinkan hilang dan tenggelam bersama lara-lara yang telah tercipta disepanjang kehidupan tuan pemunya. Setiap lara yang telah tercipta melalui sebuah kenyataan yang menyakitkan, lara-lara yang kelam serta menyedihkan tak peduli bagaimana lara tersebut termungkinkan hadir, apakah lara-lara tercipta melalui kecewa ataukah lara yang tercipta dari luka, yang kini pasti adalah mereka yaitu manusia-manusia hasil produksi reproduksi keluaran terbaru akan selalu bersedia meluangkan waktu untuk b*********a dengan cara yang lebih pada duka sungkawa, tiadakah satuan pembasmi luka dan lara dalam diri tuan pemunya dan fakta bahwa manusia-manusia yang hidup hari ini adalah manusia- manusia yang telah berulang–kali mengalami perbaikan-perbaikan secara berkala, apakah mereka lupa akan satuan pembasmi luka dan lara atau memang kemampuan mereka baru sebatas mampu memperbesar kapasitas ruang ruang kosong yang tak akan pernah penuh tak peduli seberapa jejal-menjejalnya. Tiadakah satuan yang demikian di diri manusia yang sedih dan semakin gelisah, dan entitas diluar diri manusia untuk menjadi pembuka ruang yang memang telah tersepakati oleh tuan pemunya untuk ditenggelamkan kedasar jiwa hingga terasa tiada, ruang ruang kosong yang akan selalu kosong dan akan tetap dibiarkan kosong telah mereka sepakati untuk tetap terkunci sampai saat kedua mata saling bertemu hingga debar yang tak terkenali datang untuk sedikit mencipta goda guna kembali membuka dan mempersilakan angin dan mentari bukan untuk melihat apakah bagian tersebut masih utuh atau telah runtuh akan tetapi untuk melihat adakah sendau bunga yang tak sengaja tumbuh dan memaksa pemilik tubuh untuk mau memberi waktu untuk mata tetap saling menyapa dan senyum terus menghantarkan rasa hingga bunga akan teruss tumbuh dan tetap tumbuh maka tak ada alasan bagi angin dan mentari bersama debar yang kian tak menemu henti akan gelisah kesana kemari mengenai kepastian tumbuhnya bunga yang tak tersedari didalam diri tuan pemunya melalui tatap mata dan tawa seorang manusia.
Breaking news telah ditemukan sebuah kapas yang terlihat sedang terombang-ambing atau mungkin dapat dibilang diombang-ambingkan dengan semurung-murungnya oleh rindu, sang rindu dengan hati-hati dan dengan sangat pelan telah berusaha untuk menembus pertahanan cakrabyuha yang melindungi diri tubuh ringkih penuh berlapis kapas, rindu yang tak ingin segera untuk undur diri telah berulang kali dibuat bingung oleh pertahanan berliku-liku dan berlapis-lapis kapas dan bahkan sampai pukul sembilan lebih seperempat malam masih belum pula rindu untuk bahkn hanya sekadar melihat bayangan sang kapas, hingga pukul sebelas duabelas satu dua lalu tiga empat dan seterusnya tiada lagi cerita terdengar setelahnya, ribuan prajurit yang ditinggalkan tanpa mendapatkan pengetahuan siapa yang dijaga atau yang harus dihadapi pun merasa kebingungan dan segera kehilangan kedisiplinan dalam formasi berperang hingga akhirnya kesemuanya mati dalam posisi membentuk tulisan tulisan yang kurang lebih seperti ini.
Serat Kapasku
Kembali ku ingat alur waktu
Alur yang menjadi tanda sentuhmu
Serta masih jelas wajahmu yang seperti ragu
Saat ku datang memanja rindu
Imajiku pun melayang
Terbayang sebuah alur nan indah
Lalu seketina berubah bak kapas dan sang waktu
Waktu yang mempertemukannya dengan angin
Angin yang membawaku padamu
Terombang ambingnya tubuh sang kapas
Tetapi angin tak selalu tentang sendu
Begitu pun alur rinduku
Rangkaian kata serta raut wajahmu
Mengungkapkan bahwa kau sedang tak utuh
Dan sang kapas pun menemu bagian darinya
Disaat senyum itu mulai merekah
Sang kapas mulai sadar akan batasnya
Tentang diri yang akan amblas setelah bermakna
Tentang jiwa yang akan musnah setelah berguna
Singkat kata sang kapas pun mulai ragu
Layakkah kapas untuk sang bunga yang mulai merekah
Atau hanya sisa diri dan jiwanya lah yang tetap bersama
Tidak jasadnya.