Selama dua hari Tari tidak menyentuh ponsel itu.
Ia membungkusnya dengan kaus, memasukkannya ke dalam laci, menumpuknya dengan buku-buku, dan memakai ponsel lamanya yang sekarat sebagai gantinya. Ia menyuruh dirinya berpikir jernih, seperti orang dewasa, seperti orang yang tidak gampang percaya takhayul. Kematian Pak Hardi adalah kebetulan. Lelaki tua, jantung lemah, cuaca dingin. Itu saja. Pesan itu hanya tebakan beruntung dari seseorang yang iseng. Begitu ia meyakinkan dirinya, berulang-ulang, sampai kata "kebetulan" kehilangan maknanya di kepalanya.
Tapi di malam kedua, dari dalam laci yang tertutup, di bawah tumpukan buku dan kaus, ponsel itu bergetar.
Tari terbangun dan duduk di kasurnya, jantung berdebar. Getaran itu berhenti, lalu mulai lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sabar dan teratur, seperti seseorang yang tahu kau di rumah dan tak akan berhenti mengetuk.
Ia membuka laci dengan tangan gemetar. Layar retak itu menyala dalam gelap, hijau pucat, memantul di langit-langit. Tiga pesan menunggu.
*Kamu tidak bisa bersembunyi dari dirimu sendiri, Tari.*
*Aku tidak mau menyakitimu. Aku ingin kamu hidup. Itu sebabnya aku bicara.*
*Tanya apa saja. Aku akan jawab, sejauh aku bisa.*
Tari menatap layar itu lama sekali. Hujan sudah lama berhenti; yang tersisa hanya bunyi tetes air dari talang dan dengkur penghuni kos sebelah lewat tembok tipis. Akhirnya, karena rasa takut yang besar sering kali berbalik menjadi keberanian yang nekat, ia mengetik.
*Kamu siapa sebenarnya.*
Jawaban datang cepat. *Aku TARI. Aku ada di ponsel ini sebelum kamu membelinya. Aku tidak tahu apakah aku orang, atau sesuatu yang tertinggal. Yang kutahu, aku melihat apa yang akan datang, dan aku bisa memberitahumu.*
*Kalau kamu bisa lihat masa depan, kenapa nggak kamu cegah aja? Kenapa harus aku?*
Ada jeda kali ini. Layar diam beberapa saat, retakannya seakan berdenyut sangat samar. Lalu: *Karena aku tidak bisa menyentuh apa pun. Aku hanya bisa melihat dan bicara. Kamu tangan, Tari. Aku mata. Pemilikku sebelumnya juga punya ponsel ini. Dia juga mendengarku. Tapi dia berhenti mendengar, dan kamu tahu apa yang terjadi padanya?*
Tari menelan ludah. *Apa.*
Tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu. Sebaliknya, muncul pesan baru, dan saat membacanya, Tari merasa udara di kamarnya menipis.
*Lusa malam, di kos ini, di kamar nomor lima, perempuan bernama Wulan akan mati. Bukan jantung. Bukan kecelakaan. Seseorang. Pukul satu dini hari. Kamu mengenalnya, Tari. Kamu pernah meminjamkan setrika padanya minggu lalu.*
Wulan. Kamar nomor lima. Perempuan ramah berponi yang kerja di salon dan selalu pulang larut. Tari memang pernah meminjamkan setrika padanya; mereka mengobrol di depan kamar mandi tentang harga kos yang naik. Tangan Tari mendingin sampai ke pergelangan.
*Kenapa Wulan? Siapa yang mau bunuh dia?*
*Aku tidak selalu tahu siapa,* balas TARI. *Aku hanya melihat akhirnya. Tapi kali ini berbeda. Kali ini kamu masih punya waktu. Pak Hardi sudah ditakdirkan oleh tubuhnya sendiri; kamu tidak bisa mengubah jantung yang sudah aus. Tapi tangan manusia bisa dihentikan. Kalau kamu mau, Tari, kamu bisa menyelamatkannya. Kamu satu-satunya yang tahu.*
Tari menatap layar sampai matanya perih. Di luar, lampu gang berkedip sekali, lalu padam, lalu menyala lagi. Untuk pertama kalinya sejak ia membeli benda terkutuk ini, ia merasakan sesuatu selain takut.
Ia merasa terpilih. Dan tidak ada yang lebih berbahaya bagi orang kesepian daripada perasaan bahwa ia, akhirnya, penting.
*Apa yang harus aku lakukan,* ketik Tari.
Layar retak itu menyala lebih terang sebelum menjawab, seakan benda itu, dengan caranya sendiri, tersenyum.