Sepanjang hari berikutnya Tari mengamati kos itu dengan mata baru.
Ia memperhatikan siapa yang keluar masuk, siapa yang berlama-lama di gang, siapa yang menatap kamar nomor lima sedikit terlalu lama. Ia mendapati dirinya mencurigai semua orang. Penjaga kos, Bu Tum, yang lututnya sakit dan selalu mengeluh soal air. Anto, mahasiswa teknik di kamar nomor tujuh yang matanya merah karena begadang. Lelaki tak dikenal berjaket abu-abu yang ia lihat dua kali berdiri di mulut gang, menatap ke atas, lalu pergi.
TARI memberinya petunjuk-petunjuk yang menetes pelan, seperti orang yang menyimpan kartu di tangannya.
*Jangan percaya wajah yang ramah. Wulan punya masa lalu yang ia tinggalkan. Masa lalu itu mengikutinya ke kota ini.*
*Pukul satu, pintu kamarnya tidak akan terkunci. Itu kesalahannya. Atau bukan kesalahan—mungkin ia membukanya untuk seseorang yang ia kenal.*
Tari mencoba bicara dengan Wulan sore itu. Ia mengetuk pintu kamar nomor lima dengan dalih mengembalikan setrika, walau setrika itu sudah dikembalikan seminggu lalu. Wulan membukanya, wajahnya lelah tapi ramah, poninya basah dari mandi.
"Eh, Tari. Ada apa?"
Tari membuka mulut, lalu menyadari betapa gilanya yang akan ia katakan. Permisi, Mbak, ponsel saya bilang Mbak akan dibunuh besok dini hari. Ia menelan kata-kata itu. "Anu, Mbak... Mbak ada masalah sama seseorang, nggak? Maksud saya, ada yang ganggu Mbak akhir-akhir ini?"
Wajah Wulan berubah. Hanya sekejap, tapi Tari melihatnya: sebuah kewaspadaan yang naik seperti tirai, lalu turun lagi. "Nggak ada. Kenapa kamu nanya gitu?"
"Nggak, cuma... hati-hati aja, Mbak. Kalau pulang malam."
Wulan tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Iya. Makasih, ya." Dan ia menutup pintu, sedikit terlalu cepat.
Malam itu Tari tidak tidur. Ia duduk di lantai kamarnya, punggung ke pintu, ponsel di tangan, mendengarkan kos yang perlahan terlelap. Satu per satu suara mati: televisi di kamar tiga, gitar Anto yang dipetik asal, derit ranjang, lalu sunyi. Hanya jam dinding kos yang berdetak, dan napas Tari sendiri.
Pukul dua belas, ponsel bergetar. *Dia sebentar lagi datang. Lewat belakang, dari arah jemuran. Kamu harus keluar sekarang, Tari, atau kamu hanya akan jadi saksi.*
Tari berdiri. Kakinya kaku. Ia membuka pintu kamar pelan-pelan, dan koridor kos terbentang di hadapannya, panjang dan gelap, hanya diterangi satu lampu kuning di ujung. Kamar nomor lima ada di seberang, tiga pintu jauhnya. Pintunya tertutup. Tari melangkah keluar, jantung memukul-mukul tulang rusuknya.
*Cepat,* tulis TARI di layar yang ia genggam erat. *Dia sudah di tangga belakang.*
Dan saat itulah Tari mendengarnya. Langkah kaki. Pelan, hati-hati, dari arah jemuran di belakang kos, naik tangga besi yang biasanya berderak tapi malam ini sengaja diinjak dengan lembut. Seseorang yang tahu cara bergerak tanpa suara. Seseorang yang sudah pernah ke sini.
Tari berdiri di tengah koridor, di antara kamarnya dan kamar Wulan, sendirian dalam gelap, dengan layar retak yang menyala di tangannya seperti satu-satunya cahaya di dunia. Langkah itu mendekat. Sebuah bayangan jatuh di dinding ujung koridor, memanjang.
Dan untuk pertama kalinya, Tari sadar bahwa ramalan tidak menyelamatkan siapa pun. Ramalan hanya memastikan kau ada di sana, melihat, saat semuanya terjadi.