Tari kembali ke kos Wonokromo bukan untuk Bu Sri kali ini, tapi untuk Rani.
Ada gudang di belakang bangunan tiga lantai itu—ruang lembap tempat Bu Sri menumpuk barang-barang penghuni lama yang tak pernah diambil. Bu Sri menyebutnya sekali, di antara obrolan, bahwa beberapa barang Rani masih di sana, yang tak dijual karena dianggap tak berharga: kardus berisi buku kuliah, baju, kertas-kertas. Polisi sudah mengambil yang mereka anggap penting bertahun lalu. Sisanya teronggok, dilupakan, di kegelapan gudang yang Bu Sri sendiri enggan masuki.
"Saya temani," kata Bu Sri, menyalakan lampu gudang yang temaram, kuning, dan berkedip. "Saya nggak mau kamu sendirian di sini. Apalagi setelah yang di pos itu."
Mereka berdua, dengan Yusuf menunggu di pintu—aturan baru, tak ada yang sendirian di tempat gelap—mulai membongkar kardus-kardus berdebu. Bau apek, kertas yang menguning, ngengat beterbangan dari lipatan baju. Tari membuka kardus demi kardus dengan jantung yang anehnya tenang. Ia sudah berdamai dengan Rani dalam kepalanya, perempuan di foto warung kopi yang tersenyum canggung, yang menulis peringatan dan tak sempat menyelesaikannya, yang jatuh dari lantai tiga sebelum bisa memperingatkan siapa pun secara langsung.
Di kardus ketiga, di antara buku-buku akuntansi, Tari menemukannya. Bukan ponsel—ponsel itu sudah dilebur di Gang Mawar, terkubur di pondasi. Ini sesuatu yang lebih tua, lebih manusiawi. Sebuah buku tulis bersampul biru, sudutnya melengkung lembap, halaman-halamannya bergelombang oleh waktu. Buku harian. Tulisan tangan, bukan ketikan. Sesuatu yang tak bisa di-reset, tak bisa dihapus dari jarak jauh, tak bisa hilang dari galeri lalu muncul jadi wallpaper. Sesuatu yang ada di kertas, di dunia, di luar jangkauan benda yang hidup di layar.
Tari membawanya ke bawah lampu kuning. Bu Sri berdiri di sampingnya, membaca dari balik bahunya, napasnya tertahan.
Halaman-halaman awal biasa saja—catatan kuliah, keluhan soal kos, rindu pada ibunya di kampung. Lalu, sekitar sepertiga buku, nadanya berubah. Tulisannya jadi lebih cepat, lebih miring, kadang menekan begitu keras sampai kertas hampir sobek.
Dia bicara lagi tadi malam, tulis Rani. Aku tahu seharusnya aku berhenti mendengar tapi dia satu-satunya yang ada. Mama jauh. Tak ada teman di sini. Dia tahu segalanya tentang aku. Bagaimana mungkin aku tak mendengarkannya.
Tari membalik halaman. Tangan Bu Sri menggenggam lengannya, dingin.
Aku mencoba cerita ke Bu Sri kemarin tapi tak jadi. Dia akan pikir aku gila. Lebih baik aku simpan sendiri. Dia bilang juga begitu—ini rahasia kita, Rani, jangan dibagi, mereka tak akan mengerti, mereka akan menjauh.
"Itu yang dia bilang ke Rani," bisik Bu Sri, suaranya pecah. "Dan Rani percaya. Coba dia cerita ke saya. Coba saja."
Tari membalik ke halaman-halaman terakhir, dan di sanalah, di antara coretan yang makin kacau, ia menemukan baris yang membuat seluruh tubuhnya membeku. Bukan karena seram. Karena penting. Karena baris itu, ia rasakan dalam tulang, adalah petunjuk yang Rani bayar dengan nyawanya untuk ia tinggalkan.
Aku tanya dia di mana dia paling kuat. Dia jawab. Dia tak bisa bohong soal dirinya sendiri, aku rasa, atau dia terlalu sombong untuk bohong. Dia bilang ada satu ruang. Bukan tempat, katanya. Ruang di mana semua layar bertemu. Tempat semua yang menyala sendirian dalam gelap berkumpul jadi satu. Di situ dia paling besar. Di situ dia paling lapar. Kalau ada yang bisa menutup ruang itu—tapi tak ada yang bisa, Rani, katanya, karena ruang itu ada di mana-mana dan tak di mana-mana—
Tulisannya berhenti. Halaman berikutnya kosong. Lalu, di halaman paling akhir, satu kalimat saja, ditulis dengan tangan yang nyaris tak terbaca, seakan ditulis dalam gelap, mungkin ditulis di malam terakhir:
Aku lelah sendirian. Mungkin dia benar. Mungkin lebih mudah kalau aku berhenti.
Tari menutup buku itu pelan. Air matanya jatuh, untuk Rani yang tak pernah ia temui, yang sendirian sampai akhir, yang hampir mengerti tapi tak punya seorang pun untuk diceritai sehingga pengertiannya membusuk jadi keputusasaan.
"Ruang di mana semua layar bertemu," ulang Tari, pelan, di gudang yang berdebu dan lembap. "Dia ninggalin petunjuk, Bu. Rani ninggalin petunjuk buat kita. Ke jantungnya benda itu."
Bu Sri menggenggam tangannya. "Apa artinya, Mbak?"
"Aku belum tahu," kata Tari, menatap buku biru di tangannya. "Tapi aku akan cari tahu. Kali ini ada yang bisa Rani ceritai. Telat bertahun-tahun, tapi ada."