Tari membaca baris itu berulang kali sampai hafal, dan makin ia membacanya, makin ia yakin bahwa Rani—dalam keputusasaannya—telah salah menafsirkannya, dan salah tafsir itulah yang membunuhnya.
Ia menggelar buku harian Rani di meja makan Bu Sri, di hadapan Yusuf, Sekar, dan Bu Sri sendiri. Lampu ruangan menyala penuh, pintu terbuka, radio kecil menyala pelan di sudut—aturan rumah terang, bahkan saat mereka cuma berdiskusi.
"Rani nulis ruang di mana semua layar bertemu," kata Tari, jarinya menelusuri tulisan miring itu. "Dia ngira itu tempat. Tempat magis. Sesuatu yang harus dicari, dimasuki, dihancurkan. Dia bilang sendiri, dia putus asa karena nggak ada yang bisa nutup ruang itu, karena ruang itu ada di mana-mana dan nggak di mana-mana. Dia mentok di situ. Dia pikir karena nggak ada tempat yang bisa diserang, berarti benda itu nggak bisa dikalahkan. Dan kalau nggak bisa dikalahkan—"
"—lebih gampang nyerah," Sekar menyelesaikannya pelan, karena ia tahu jalan pikiran itu dari dalam.
"Iya." Tari menatap mereka. "Tapi aku rasa Rani salah baca petunjuknya sendiri. Dia kepikir tempat. Padahal dengerin baik-baik apa yang benda itu bilang." Ia membaca lagi, lambat. "Ruang di mana semua layar bertemu. Tempat semua yang menyala sendirian dalam gelap berkumpul jadi satu. Di situ dia paling besar. Di situ dia paling lapar."
Yusuf mengernyit, polisi dalam dirinya mencari logika. "Maksudmu itu bukan tempat?"
"Bukan tempat. Kondisi." Tari merasa kepingan-kepingan itu jatuh ke tempatnya, dan ia bicara lebih cepat, lebih yakin. "Pikirin. Kapan benda itu paling kuat? Bukan di gedung tertentu. Bukan di pasar tertentu. Tapi pas ada orang—satu orang—yang benar-benar sendirian total, dalam gelap, natap layar yang nyala, tanpa siapa-siapa yang tahu, tanpa siapa-siapa yang dengerin. Itu ruangnya. Setiap kali ada satu orang dalam kondisi itu, di mana pun di kota ini, di situ semua layar bertemu. Di situ jadi satu titik tempat dia paling besar."
Ruangan jadi sunyi. Bu Sri yang pertama mengerti, dan wajahnya berubah. "Jadi ruang itu... ruang itu kebentuk setiap kali ada yang kesepian dalam gelap."
"Setiap kali," kata Tari. "Kamar Rani waktu dia ngunci diri dan ngomong sendiri tiga bulan. Itu ruangnya. Halte tempat Sekar duduk dini hari. Itu ruangnya. Kos Mira pas dia pulang shift, capek, sendiri. Itu ruangnya. Brankas pos pas ponsel Sekar nyala dalam gelap tanpa siapa-siapa. Itu ruangnya. Bukan satu tempat di peta. Ruang itu kebentuk dari kesendirian itu sendiri. Makanya Rani nggak bisa nyerang—nggak ada yang bisa diserang. Tapi itu juga berarti—"
Sekar menatapnya, dan untuk pertama kali ada harapan, bukan ketakutan, di matanya. "—itu juga berarti ruangnya bisa ditutup."
"Persis." Tari menggebrak meja pelan, bukan dari marah, dari semangat. "Rani ngira karena ruang itu ada di mana-mana, dia nggak bisa dihancurin. Tapi balik logikanya. Kalau ruang itu kebentuk dari satu orang sendirian dalam gelap—maka kita tutup ruang itu dengan membalik kondisinya. Kasih orang itu temen. Kasih dia terang. Kasih dia suara. Begitu dia nggak sendirian lagi, ruangnya runtuh. Benda itu kehilangan tempat dia paling besar."
Yusuf bersandar di kursinya, menyilangkan lengan, memproses. "Itu yang udah kamu lakuin selama ini. Tanpa tahu kenapa berhasil."
"Tanpa tahu kenapa," Tari mengakui. "Aku cuma tahu bercerita bikin dia lapar. Aku nggak ngerti mekanismenya. Sekarang aku ngerti. Aku nggak cuma nyelametin satu orang tiap kali. Tiap kali aku bikin satu orang nggak sendirian dalam gelap, aku nutup satu ruang tempat benda itu paling kuat. Dan kalau aku bisa nutup cukup banyak ruang—"
Ia tidak menyelesaikannya. Ia belum berani. Sebab membayangkan menutup semua ruang, di seluruh kota, di setiap kamar kos dan halte dan gang gelap di mana orang sepi menatap layar—itu terlalu besar, terlalu mustahil. Satu kota penuh kesendirian. Berapa banyak ruang yang terbentuk setiap malam, di Surabaya yang besar dan dingin dan penuh perantau yang tak saling kenal?
"Satu per satu dulu," kata Bu Sri lembut, membaca pikirannya seperti biasa. "Jangan kamu kepikiran semuanya sekaligus, nanti kamu yang mentok kayak Rani. Tutup yang ada di depan mata dulu. Mira. Yang berikutnya. Yang berikutnya lagi."
Tari mengangguk, tapi di kepalanya, sebuah benih sudah tertanam—sesuatu yang lebih besar dari menyelamatkan satu orang di satu halte. Kalau ruang itu adalah kesendirian itu sendiri, maka musuhnya bukan ponsel, bukan pasar, bukan benda apa pun. Musuhnya adalah kesunyian sebuah kota yang penuh orang yang tak saling menyalakan lampu.
Ia menutup buku harian Rani dan menyimpannya, hati-hati, seperti menyimpan surat dari teman yang baru ia kenal terlambat. "Makasih, Rani," gumamnya pelan, dan tak ada yang menertawakannya.