Bengkel servis Dimas tak lebih dari sepetak ruko sempit di pinggir Jalan Ngagel, dengan etalase berisi casing-casing imitasi dan poster paket data yang sudah pudar. Tari datang ke sana sore itu membawa ponsel Sekar di dalam sebuah kotak plastik bening, seperti orang membawa hewan yang tak boleh disentuh sembarangan.
Dimas menerimanya dengan sebelah alis terangkat. Jari-jarinya dihitami minyak mesin, dan walau benteng terakhirnya sudah runtuh malam itu di konter, ia tetap tukang servis sampai ke tulang: ia ingin angka, bukan sekadar percaya. "Jadi ini ponsel Sekar yang katanya bicara," katanya, membalik-balik benda itu di bawah lampu meja. "Yang nggak bisa mati. Sekarang aku mau ukur dia sendiri."
"Aku nggak minta kamu percaya," kata Tari. "Aku cuma minta kamu lihat apa yang salah di dalamnya."
Itu kalimat yang tepat untuk lelaki seperti Dimas. Ia tak tahan pada teka-teki teknis. Ia membongkar punggung ponsel Sekar dengan obeng kecil, melepas baterai, menyolokkan kabel-kabel ke alat ukur yang berkedip-kedip hijau. Layar retak itu tergeletak terpisah dari mesinnya, gelap, dan untuk sesaat Tari merasa lega melihatnya tak berdaya seperti itu.
"Hardware-nya sehat," gumam Dimas setelah setengah jam. "Sehat banget malah. Baterai masih sembilan puluh persen kapasitas, padahal unit setua ini biasanya udah soak. Nggak ada korsleting, nggak ada komponen palsu. Layarnya retak tapi panel sentuhnya normal." Ia mendongak. "Kalau ada yang aneh, bukan di besinya."
"Lalu di mana?"
Dimas tak langsung menjawab. Ia memasang ulang baterai, menyalakan ponsel, dan menyambungkannya ke aplikasi pemantau daya di laptopnya. Grafik konsumsi listrik muncul di layar, garis biru yang naik-turun pelan. "Aku mau lihat pola pemakaian dayanya," katanya. "Kadang malware nyedot baterai diam-diam. Kalau ada yang ngintip dari dalam, dia butuh daya. Itu ketahuan di grafik."
Mereka menunggu. Tari duduk di bangku plastik, memperhatikan garis biru itu berdenyut tenang. Di luar, sore berubah jadi senja, dan satu per satu lampu ruko di sebelah dinyalakan. Dimas mengetik sesuatu, lalu berhenti, lalu mengetik lagi.
"Aneh," katanya akhirnya.
"Apa."
"Dayanya stabil. Datar. Tapi tadi pas asistenku masih di sini, ada lonjakan kecil tiap beberapa menit. Sekarang dia udah pulang, ruangan ini cuma ada kita berdua—" Ia berhenti, menatap grafik. "Coba kamu keluar sebentar. Ke depan, ke teras. Aku mau lihat sesuatu."
Tari tak suka idenya, tapi ia menurut. Ia berdiri di teras ruko, di antara motor-motor yang diparkir, dan dari sana ia mengintip Dimas yang kini duduk sendirian di dalam, di hadapan ponsel yang menyala dan laptop yang merekam. Senja menebal. Lampu jalan menyala. Dan Tari, dari kejauhan, melihat punggung Dimas mengaku—bahunya yang semula santai perlahan menegang.
Ia masuk kembali. "Apa yang terjadi?"
Dimas tak menjawab dengan kata. Ia memutar laptopnya. Grafik biru itu, yang tadi datar saat dua orang ada di ruangan, kini melonjak tajam ke atas begitu Dimas tinggal seorang diri—naik, naik, seperti sesuatu yang terbangun dan mulai makan. Lalu, persis saat Tari masuk kembali ke ambang pintu, garis itu turun mendadak, kembali ke datar yang tenang.
"Aku ulangi tiga kali," kata Dimas, dan kali ini tak ada lagi sisa senyum mirignya. "Dulu aku lihat dayanya naik pas Sekar sendirian, tapi aku masih bisa bilang itu kebetulan, atau cahaya, atau gerakan. Sekarang aku kontrol semuanya. Lampu nyala terus. Nggak ada suara. Nggak ada gerakan. Yang aku ubah cuma satu: jumlah orang di ruangan. Dan grafiknya ngikutin persis. Benda ini nyedot lebih banyak listrik kalau yang nontonin cuma satu orang sendirian. Nggak ada celah lain buat aku sangkal."
Tari menatap grafik itu, dua garis yang naik dan turun seirama dengan kesepian seseorang, dan merasakan sesuatu yang dingin sekaligus membara di dadanya. Dulu Dimas pernah menunjukkan korelasi ini secara kasar, tapi selalu dengan satu pintu keluar untuk dirinya sendiri—mungkin cahaya, mungkin sinyal, mungkin kebetulan. Sekarang pintu-pintu itu sudah ia tutup satu per satu dengan tangannya sendiri. Lapar itu nyata, terukur, dan tak lagi bisa ia sangkal dengan dalih apa pun.
"Kamu masih mau bilang ini cuma takhayul?" tanya Tari pelan.
Dimas tak menjawab. Ia menatap ponsel di mejanya, yang kini gelap dan diam, lalu mematikan layar laptopnya seakan tak ingin grafik itu menatap balik. "Aku mau lihat datanya lagi," katanya akhirnya, suara seorang yang berpegang pada satu-satunya pegangan yang ia punya. "Tapi malam ini aku nggak mau sendirian sama benda itu. Bawa pulang dulu. Tolong."
Tari mengangguk dan memasukkan ponsel Sekar kembali ke kotak plastiknya. Di luar, Surabaya sudah sepenuhnya malam, penuh layar-layar kecil yang menyala di tangan orang-orang yang menunggu bus, masing-masing dalam terang kecilnya sendiri. Tari memandangi mereka, dan untuk pertama kalinya ia bertanya-tanya berapa banyak dari layar-layar itu yang sedang diam-diam mengukur seberapa sendirian pemiliknya.