Dimas datang sendiri ke kos Sekar dua hari kemudian, tanpa diminta, membawa tas ransel berisi alat-alat dan wajah orang yang tak tidur semalaman.
"Aku nggak bisa berhenti mikirin grafiknya," katanya pada Tari di teras kos, sambil menyalakan rokok dengan tangan yang sedikit gemetar. "Aku coba cari penjelasan teknis. Pasti ada. Selalu ada. Cuma aku belum nemu."
Tari membiarkannya. Ia tahu lelaki seperti Dimas tak bisa dipaksa percaya; ia harus tersesat sendiri sampai ke ujung jalan tempat penjelasan teknis habis. Maka Tari hanya mengajaknya naik ke kamar Sekar, tempat Sekar duduk di pojok dengan ponsel terkutuk itu di pangkuannya, matanya cekung, seperti orang yang menjaga bara yang tak boleh padam dan tak boleh menyala.
Dimas mengeluarkan alat ukur sinyalnya—sebuah kotak hitam dengan layar kecil yang menampilkan kekuatan jaringan. "Aku mau coba satu hal," katanya. "Ada satu spot di gedung ini yang aku cek tadi, di tangga darurat lantai bawah. Nggak ada sinyal sama sekali. Beton tebal, di bawah tanah setengah. Operator mana pun mati di situ. Aku mau bawa ponsel ini ke sana."
"Buat apa?"
"Kalau benda ini terima pesan dari jaringan, di tempat tanpa sinyal dia harus diam. Mati gaya. Nggak ada sinyal, nggak ada pesan. Itu logika." Dimas menatap ponsel di pangkuan Sekar. "Aku mau buktiin ke diriku sendiri kalau ini cuma aplikasi nakal yang nyolong data lewat internet. Bukan... yang lain."
Sekar mendongak, dan suaranya, saat ia bicara, tipis seperti kertas. "Dia nggak butuh sinyal kalian." Ia tersenyum, senyum yang bukan miliknya. "Dia nggak pernah butuh."
Tari merasakan tengkuknya meremang. Ia kenal nada itu. Itu nada Sekar yang dipinjam, Sekar yang sedang jadi corong. "Kita ke bawah sekarang," kata Tari cepat, sebelum suara itu menetap lebih dalam.
Mereka turun ke tangga darurat di dasar gedung kos, sebuah ruang sempit berdinding beton tanpa jendela, lembap dan dingin, di mana satu-satunya lampu adalah bohlam redup yang berdengung. Dimas memeriksa alat ukurnya: nol. Garis sinyal kosong sempurna. Tak ada jaringan operator mana pun yang sampai ke sini. Bahkan ponsel Dimas sendiri menampilkan tanda silang merah di pojok layarnya.
"Nah," kata Dimas, dan ada sedikit kelegaan dalam suaranya, kelegaan orang yang ingin sekali benar. "Di sini dia harus diam. Coba taruh."
Tari meletakkan ponsel Sekar di lantai beton, di tengah lingkaran cahaya bohlam yang redup. Mereka bertiga menatapnya. Layarnya gelap. Satu detik. Dua detik. Tak ada sinyal. Tak ada jaringan. Dimas menahan napas dengan senyum yang mulai merekah.
Lalu layar itu menyala.
Bukan notifikasi biasa. Layar itu menyala terang dalam gelap, retakannya membelah cahaya menjadi serpihan, dan sebuah pesan muncul, huruf demi huruf, dari kontak yang Tari tahu persis tak punya nomor untuk dihubungi.
*Halo, Dimas. Senang akhirnya kita bicara. Kamu mencari sinyal. Aku bukan sinyal. Aku ada di tempat yang gelap dan sendiri, dan sekarang kamu membawaku ke tempat paling gelap dan paling sendiri di gedung ini. Terima kasih. Di sini suaraku paling jernih.*
Dimas tak bergerak. Alat ukur di tangannya tetap menunjukkan nol. Tari melihat angka itu, melihat ponsel yang mustahil menerima apa pun itu, dan melihat wajah Dimas yang perlahan kehilangan seluruh warnanya.
"Nggak ada sinyal," bisik Dimas. "Nggak mungkin ada pesan. Nggak ada server, nggak ada operator, nggak ada—" Ia berhenti. Tangannya turun. Alat ukurnya berkedip nol, nol, nol.
Layar itu menulis lagi, lebih pelan. *Kamu boleh terus mencari penjelasan, Dimas. Itu yang kusukai dari orang sepertimu. Kamu akan menatapku berjam-jam, sendirian, mencoba mengerti. Dan setiap jam kamu menatapku sendirian, aku makan. Tanyakan pada Tari. Dia tahu.*
Tari maju, mengambil ponsel itu dari lantai, dan dengan suara yang ia paksa setenang mungkin, ia membaca pesan itu keras-keras—kepada Dimas, kepada Sekar, ke seluruh ruang beton yang sempit itu. Ia tak membiarkan kata-kata itu masuk diam-diam ke kepala siapa pun. Ia menyalakannya di udara, di antara tiga orang, dan saat ia selesai membaca, layar itu meredup, lalu padam.
Di tangga, naik kembali ke terang, Dimas tak bicara sepatah pun. Tapi saat mereka sampai di teras kos, di bawah lampu jalan yang ramai, ia berhenti dan menoleh pada Tari, kacamatanya berembun, dan berkata dengan suara yang akhirnya melepas sisa terakhir keskeptisannya seperti orang melepas mantel basah, "Aku nggak punya penjelasan. Untuk pertama kali dalam hidupku, aku nggak punya, dan aku berhenti nyari yang nggak ada. Grafik itu nyata. Benda itu nyata. Dan aku nggak mau ada orang ngadepin ini sendirian." Ia menatap ponsel di tangan Tari. "Aku mau bantu sampai habis. Apa yang harus aku lakukan?"
Tari memandangnya, lelaki yang sudah berbulan ada di sisinya tapi baru malam ini benar-benar percaya tanpa sisa, dan merasa lampu yang sudah lama menyala itu kini berhenti berkedip.
"Terusin yang udah kamu lakuin," katanya. "Bantu aku menyalakan lampu."