Hari-hari berlalu damai setelah insiden tersebut. Leevi sedikit menyesal untuk Danish namun ia tak dapat berbuat banyak. Hanya bisa mencari-cari alasan, beruntungnya Danish tidak memperpanjang masalah.
Pria itu hanya tersenyum tipis, namun Leevi dapat merasakan kekecewaan yang ditutupi senyuman.
Ada yang berderak di dalam hatinya kala menangkap senyum terpaksa. Membuatnya berpikir, ‘ah, inilah yang selalu diributkan Azka.’ Jenis ketidaknyamanan yang membuat hatimu diserang perasaan gatal.
Ingin melakukan sesuatu agar senyum terpaksa tersebut dapat tergantikan oleh senyuman tulus. Kalau bisa disertai aura bahagia.
Leevi ingin melakukan sesuatu untuk memperbaiki. Sayangnya, satu-satunya hal yang terlintas di kepalanya hanyalah mengecat lagi rambutnya kembali ke warna cokelat madu. Hal yang, tidak berani dilakukannya. Leevi bersedia melakukan hal lain. Tapi tidak untuk yang satu ini.
Apa yang sesungguhnya ia pikirkan? Adakah semua hal, kepengecutan, keciutan nyalinya untuk menentang keinginan Azka di hari itu berasal dari bibit-bibit ketaklukan? Takut?
Aneh. Biasanya ia tidak pernah takut. Apalagi terhadap Azka. Sebaliknya, justru laki-laki itulah yang acap kali takut pada semua kenekatan yang bercokol di kepalanya. Kenekatan yang bertunas semenjak cintanya kandas. Sejak menerima undangan berwarna hujan.
Dan Azka lebih dari tahu bahwa tunas tersebut telah tumbuh besar hanya dalam waktu semalam. Membuat istrinya sanggup melakukan apa saja demi melancarkan tujuannya. Tunas yang dipupuk oleh kedatangan Danish kembali di kehidupan mereka.
Segalanya menjadi abu-abu. Biru, hitam-putih. Tidak menarik lagi. Hal yang sama yang membuat rasa takutnya memudar hingga nyaris turun ke titik nol. Hal yang sama yang menyebabkan dia, Leevi, mampu bertindak sesuka hati pada Azka. Tidak menghargai laki-laki itu sebagai suaminya.
Lantas kenapa?
Leevi menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha mengusir pikiran yang tak dapat dia pahami.
“Kenapa? Ada lalat?”
Bahunya tersentak tanda terkejut oleh sapaan barusan. Menoleh pada Noelle yang barusan menegur.
“Nggak kok. Cuma lagi mikirin sesuatu aja,” balas Leevi sambil meneruskan pekerjaannya menggosok gelas. Noelle melayangkan pandangan penuh selidik.
“Sesuatu apa seseorang?” usik Noelle dengan nada menggoda. Leevi memutar mata jengah. Kadang-kadang Noelle bisa berubah menjadi menyebalkan ketika usilnya kambuh. Satu-satunya cara untuk lepas dari keusilan mulutnya adalah dengan menyibukkan diri mengerjakan hal lain.
Kalau bisa, tidak dekat-dekat juga. Setidaknya sampai gadis berambut pendek itu lupa, entah karena kesibukan melayani pelanggan kafe atau memang lupa sendiri.
Tiba-tiba bayangan Danish berkelebat di luar jendela kafe.
Ada begitu banyak orang yang berlalu-lalang di depan kafe. Laki-laki dan perempuan. Dan laki-laki yang memiliki postur seperti yang dimiliki oleh Danish juga bukan satu-dua orang saja. Pun yang memiliki potongan rambut, gaya berpakaian yang sama.
Namun entah kenapa, Leevi selalu dapat mengetahui. ‘Ah, ini adalah Danish.’ Seperti radar, sensor. Dan ‘sensor’ tersebut semakin peka akhir-akhir ini. Dulu, dia butuh waktu sekitar satu menit untuk meyakinkan diri.
Kali ini, hanya selayang pandang dan Leevi sudah dapat menebak dengan akurat. Hal yang tidak bisa dilakukannya pada Azka, tak peduli meski mereka sudah menikah selama satu tahun lebih. Mungkin ini lebih pada masalah kepedulian. Kebetulan, Leevi memang tak begitu menaruh peduli terhadap Azka.
Kafe sedang tak begitu ramai meski hari sudah menjelang malam. Beberapa orang memilih untuk memesan makanan yang agak berat untuk menghilangkan rasa lapar.
Sejak awal bulan ini, Noelle memang sudah mulai memperluas bisnisnya. Dimulai dari menu makanan yang lebih beragam dan memasukkan makanan berat, serta menambah satu orang koki khusus untuk memasak makanan berat tersebut.
Ekspansi kecil-kecilan itu menampakkan hasil yang cukup positif. Noelle pernah berkata ingin membuat kafe ini menjadi kafe dan resto sekaligus suatu hari nanti. Leevi pikir, Noelle cukup sukses dengan percobaannya.
Setengah mengeluh, Leevi mengembalikan fokusnya sembari mengantar pesanan Danish. Ramen. Seharusnya Danish datang lebih cepat. Durasi sifnya akan segera berakhir sebentar lagi. Ia tak bisa menemani Danish lama-lama karena sekarang Azka sudah semakin ketat mengenai jam malam.
So, Leevi harus pulang tepat waktu. Tentu saja gadis itu tak menerimanya. Memangnya sejak kapan dia menurut pada Azka?
Namun kali ini Azka sudah bukan Azka yang dulu lagi. Kali ini ia tak menyia-nyiakan kecerdasan otak yang telah dianugerahkan Sang Pencipta padanya. Kali pertama Leevi pulang melewati jam kerjanya di kala sif malam, Azka muncul.
Literally muncul di kafe. Masuk, menatap ke sekeliling, mencari-cari sosok Leevi. Hampir saja laki-laki itu mencegat Noelle yang kebetulan berada beberapa meja di depan—jika saja Leevi tidak cepat-cepat muncul dan menariknya keluar dari kafe.
“Kamu ngapain datang ke sini?” tanya Leevi kentara dengan nada tidak suka. Mereka sudah setengah jalan menuju halte bis. Berhenti di dekat lampu merah, agak mepet ke taman pinggir trotoar yang ditanam untuk menetralisir polusi kendaraan.
Azka bergeming, hanya menghela napas dalam-dalam. Balas menatap pada manik bulat yang dibingkai kelopak mata berbentuk laksana mata kucing. Tatapannya, Leevi tak bisa menjelaskan. Yang jelas, ada sesuatu yang berbeda di sana.
“Aku udah bilang, kan, kamu sekarang punya jam malam. Dan aku gak suka kalo kamu melewatinya. Aku bebasin kamu berada di luar rumah, seharian, selama matahari masih bersinar. Ketika malam, kamu harus ingat untuk kembali menjadi istriku. Berada di rumah.”
“Kalo aku nggak mau?” tantang Leevi, tak gentar. Malah balik menatap netra hitam kelam milik Azka.
“Aku gak peduli. Kita punya tujuan masing-masing, kamu dengan tujuanmu yang ingin dapetin hati cowok b******k itu. Aku, aku nggak mau ngelepasin istri aku begitu saja. Kamu punya waktu sepanjang siang untuk berusaha. Sebagai gantinya, aku juga berhak untuk berusaha di malam hari!”
Untuk sesaat, semua kata-kata yang terangkai di benak Leevi buyar. Menghilang bagai selarik asap yang ditiup angin kencang.
“Aku usah hafal semua sifat kamu. Udah bisa menebak jawaban-jawaban kamu. Kali ini aku nggak bisa cuma diam aja. Aku juga bakalan nekat kalo kamu nekat. Jadi tolong, jangan melewati batas yang udah aku tentukan.”
Itu bukan sekedar omong kosong. Azka sudah lebih dahulu membuktikan aksinya sebelum memberikan klarifikasi.
Untuk pertama kalinya, Azka mampu membuat nyali Leevi menciut hanya lewat tatapan dan kata-katanya barusan. Ah. Sebelumnya juga pernah. Saat insiden gaun turkuois yang dibakar.
Azka serius. Dan Azka yang serius, bisa menjadi sangat keras kepala.
Hal ini jugalah yang akhirnya mampu membuat Leevi ‘berkompromi’ dengan syarat dari Azka mengenai jam malam. Kompromi, tolong garis bawahi. Leevi tidak tunduk, tidak kepada siapa pun. Azka adalah orang terakhir yang Leevi akan tunduk padanya, bahkan meskipun hidupnya menjadi taruhannya.
Kembali ke masa kini. Sifnya akan berakhir dalam 5 menit. Leevi harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, tidak melewati batas meski hanya 10-20 menit. Meskipun jauh di dalam sanubari, ia benar-benar ingin berada di sisi Danish jauh lebih lama lagi.
Tidak. Belum saatnya. Ia harus sabar jika tidak ingin rencananya berantakan hanya oleh satu kali kemunculan Azka di hadapan Danish.
“Aku harus memeriksa banyak lembar ujian,” belum apa-apa, Danish sudah bicara begitu. Apa laki-laki ini sedang mengusirnya secara halus atau apa? Entahlah, Leevi tak paham. Danish kadang-kadang bisa menjadi amat misterius.
Tiga menit, ramen panas sudah mulai menjadi ramen hangat. Danish masih sibuk di dunianya sendiri. Leevi juga tak berniat mengganggu, hanya duduk sambil memperhatikan sosok di depannya tanpa rasa bosan.
Hingga akhirnya 5 menit terlewati secepat satu tarikan napas. Danish masih sibuk dengan kertas-kertas, terkejut kala melihat sosok Leevi yang tiba-tiba berdiri dan membuka apron.
“Kamu marah? Sorry, ini emang lagi belibet banget soalnya .... “
Leevi menggeleng seraya tersenyum lembut.
“Sifku emang udah habis. Makanlah sebelum minya mengembang,” pesan gadis itu seraya mendorong kursi bekas duduknya menempel ke pinggiran meja. Meninggalkan Danish yang terbengong. Laki-laki itu sepertinya tak percaya kalau dirinya baru saja ditinggal oleh Leevi.
Bukannya Leevi tidak peka dengan arti dari tatapan Danish. Tapi keadaanlah yang memaksanya untuk melakukan hal ini.
Jujur, Leevi rindu untuk bersama Danish lebih lama. Meskipun tidak melakukan apa-apa, hanya duduk menemani laki-laki itu mengoreksi lembar jawaban. Sudah cukup baginya.
Tapi saat ini belum bisa. Mungkin juga tidak bisa. Bayang angan-angan di benaknya sudah terlalu jauh, mengelana ke mana-mana. Membayangkan mereka duduk berdua di ruang tengah. Lembaran-lembaran kertas jawaban berserakan memenuhi meja.
Danish sibuk mengoreksi, rambut pendeknya yang semi-kering sehabis mandi terlihat berantakan. Jatuh menutupi dahi, menyentuh pinggiran kacamata baca yang bertengger di hidungnya yang seperti paruh burung.
Kemudian Leevi datang, membawakan secangkir teh hangat serta beberapa potong kue yang baru selesai dipanggang. Aroma kue memenuhi udara, menghangatkan hingga ke dalam hati.
Tak lupa, Leevi akan menyampirkan sweater di bahu Danish. Mengusir dingin yang menyelusup, terbawa oleh hujan di luar sana.
Kemudian, Danush akan menghentikan kegiatannya. Menyeruput teh dengan penuh hikmat, mencomot sepotong kue, melemparkan pujian tentang seberapa enak kue tersebut.
Mungkin jenis pujiannya seperti : ‘Kuenya kurang manis, tapi kalau dimakan sambil memandangi kamu, manisnya langsung pas.’
Kemudian dia akan menemani Danish mengoreksi jawaban hingga larut malam. Ditemani suara hujan, goresan pena, detak jam dinding. Waktu tak pernah berlalu lambat jika dilalui bersama orang yang disayangi.
Kemudian ....
Leevi menghentikan langkah. Halte sedang lengang. Gadis itu mengusap wajahnya kasar. Dia sudah terlalu jauh berangan-angan. Kebahagiaan yang diidam-idamkannya bukanlah terletak pada tas mahal, perhiasan indah, rumah besar atau barang-barang bermerek.
Kebahagiaannya adalah sesederhana menemani laki-laki yang dicintainya melewati malam hingga larut hanya untuk mengoreksi lembar jawaban. Sesederhana itu. Tapi kenapa begitu sulit untuk diwujudkan?
Bahkan ia tidak bisa meski untuk menemani 5 menit lebih lama. Begitu sulit dan terjal jalan yang harus dilaluinya hanya demi sebuah kebahagiaan kecil. Bukan hanya harus mengendap-endap dan mencuri-curi waktu seperti saat ini.
Kebahagiaan kecil? Alis Leevi mengerut. Angan-angan yang barusan buyar, itu bukan sekedar kebahagiaan kecil. Berada di bawah atap yang sama, menghabiskan waktu hingga larut malam. Bukankah itu adalah hal yang lazimnya dilakukan oleh pasangan suami-istri?
Bukan hal yang bisa dilakukan tanpa ikatan. Karena rasanya, feel-nya, tidak akan pernah sama.
Leevi akhirnya sadar. Dia ingin Danish utuh. Ia tak mau bertemu Danish seperti saat ini. Sembunyi-sembunyi. Mereka dekat, tapi ada batas tak terlihat yang memisahkan.
Leevi mungkin optimis dapat mengesampingkan Azka. Tapi bagaimana dengan istri Danish? Dan Danish sendiri? Jujur Leevi tak tahu banyak tentang kondisi rumah tangga mereka selain dari rumor-rumor yang beredar.
Bahkan jika rumor tersebut benar adanya, bagaimana dengan perasaan terdalam Danish? Apa arti dirinya untuk laki-laki itu?
Apakah sedalam seperti yang dirasakannya—nekat membuang segalanya demi dapat bersama Danish?
Leevi menghela napas panjang. Bis tujuan rumahnya sudah tiba. Gadis itu segera masuk. Menempelkan kartu, mencari tempat duduk untuk kembali melanjutkan lamunannya.
Di depannya duduk sepasang remaja, murid SMP dan SMA. Leevi tidak tahu apakah mereka kakak-beradik, pacaran, atau hanya teman. Menilik dari jemari yang saling bertautan meski bibir tak saling mengucap.
Sosok mereka sukses membawa Leevi terhanyut lagi dalam pikirannya sendiri.
Salahkah jika Leevi menginginkan lebih? Apa yang harus dilakukannya dengan perasaannya? Leevi belum pernah menginginkan sesuatu sebanyak dia menginginkan Danish sebelumnya. Sejak Leevi sudah mulai bisa mengingat, Leevi selalu akrab dengan kesabaran. Menahan diri, sudah biasa tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Tidak merepotkan siapa pun, terutama orang tuanya. Mereka sulit disenangkan, sementara Leevi takut dibenci. Kombinasi yang pas untuk membentuk kepribadian yang tidak banyak menuntut. Terbiasa memendam segalanya sendiri. Kalau pun ada yang dapat dibagikannya pada teman-temannya, itu adalah tentang kisah suka. Duka? Telan sendiri saja.
Kemudian Danish datang. Awalnya Leevi hanya menganggapnya sebagai seorang guru yang ramah dan karismatik. Sampai akhirnya mereka menjadi dekat karena seringnya Leevi dibantu dalam hal pelajaran oleh sang guru.
Obrolan yang semula hanya berkisar tentang soal-soal di buku pelajaran lama-lama mulai merambat ke hal-hal lain. Danish adalah sosok orang dewasa pertama yang memberi Leevi pencerahan sesungguhnya tentang definisi ‘orang dewasa.’
Danish berbeda dari orang tua maupun orang-orang dewasa lain yang dikenalnya. Mereka sulit disenangkan, mengekang, tidak menyenangkan, suka menekan, tidak tergapai.
Danish sabar, dewasa, ngemong. Dapat memahaminya. Yang paling penting, Danishlah orang dewasa pertama yang tidak membuatnya merasa sesak dan tertekan. Leevi selalu bisa, selalu boleh menjadi dirinya sendiri jika sedang bersama Danish. Sesuatu yang baru pertama kali dirasakannya.
Sejak saat itulah, Leevi mulai berharap lebih. Mulai menginginkan. Leevi tidak pernah meminta apa-apa sepanjang hidupnya. Sampai Danish datang dan mengubah sifat pasrahnya. Leevi pikir, ia bisa menjadi penjahat hanya demi mendapatkan hati Danish.
Sejauh itu dia mendamba. Harapan yang telah dipupuk sejak masih jaman sekolah menengah.
Lamunan Leevi buyar kala melihat kedua anak di depannya telah bergerak turun. Leevi baru sadar kalau dua anak itu turun di halte yang sama dengannya. Untung saja, kalau tidak mungkin ia sudah kelewatan halte.
Bisa-bisa Azka akan ribut rempong meneleponnya, mencarinya. Atau membuat keributan di kafe, lalu bertemu dengan Danish yang mungkin masih belum pulang. Bukan tidak mungkin, kan, kalau Azka akan nekat menanyai Danish?
Leevi buru-buru menggelengkan kepala kuat-kuat. Tidak. Cukup sampai di sana, semua khayalan ini dapat membunuhnya pelan-pelan. Salah-salah, kalau dituruti, Leevi bisa kena serangan kecemasan. No!
“Leevi!”
Baru saja dipikirkan, orangnya sudah muncul. Dengan pakaian kerja, satu lengan menenteng sweter, dasi yang simpulnya sudah turun hingga ke d**a, dua kancing teratas kemejanya dibuka. Dan gurat lelah yang tertutupi oleh senyum semringah kala netranya menangkap sosok Leevi.
Dijemput, huh? Kentara sekali dari penampilannya kalau laki-laki ini baru pulang kerja dan langsung keluar lagi untuk menjemputnya.
‘Kenapa? Mau menggerebek ke kafe biar rahasianya terbongkar?’ pikir Leevi dengan tampang datar. Tak memedulikan ekspresi semringah Azka, atau tatapannya yang seperti mata anak anjing yang menyambut kepulangan tuannya.
“Baru aku mau jemput, eh kamunya pas banget udah turun dari bis,” ujar Azka sambil menyampirkan sweter di lengannya ke bahu Leevi. Leevi menghentikan langkah, menatap sengit tepat pada manik kelam Azka.
Sementara yang ditatap masih mempertahankan senyum polosnya. Sepuluh detik berlalu, akhirnya Azka sadar apa maksud dari tatapan tersebut.
“Ah, kan, cuacanya lagi berangin. Aku takut kamu ntar pilek kena angin malam. Takutnya ntar ujan, kan ....”
“Sekalian aja bawa payung!” sahut Leevi ketus. Mulai berjalan. Azka menggaruk tengkuknya, tengsin jelas tergambar lewat cengirannya. Memilih untuk mengekori langkah istrinya dua langkah di belakang.
“Aku yang salah. Besok-besok aku usahakan pulangnya lebih cepat. Biar nanti bisa ada waktu buat ngambil payungnya dulu,” Azka bertutur seraya mengamati sosok punggung sang istri. Ada senyuman kecil bertengger di bibir.
Berjalan pulang beriringan seperti ini saja sudah cukup membuat hatinya meletup berbunga-bunga. Sesederhana itu arti kebahagiaan bagi seorang Azka. Dia tidak berani mengharapkan lebih, misalkan bergandengan tangan atau saling berangkulan.
Meski di depan Leevi ia selalu bicara besar dan penuh keyakinan bahwa dia dapat menaklukkan hati gadis itu, jauh di dalam sanubarinya Azka justru merasa takut. Pesimis. Bahkan terkadang lamunannya dipenuhi dengan menghitung-hitung, kira-kira berapa lama lagi kebersamaan ini akan berlangsung?
Azka sesungguhnya bukan tipe orang yang over percaya diri yang merasa bisa melakukan segalanya hanya dengan modal omong besar. Terlebih ini adalah masalah hati, sesuatu yang tak dapat dipaksakan. Kadang usaha bisa saja menjadi tak ada gunanya kalau sudah menyangkut masalah hati.
Makanya, Azka cukup bersyukur dengan keadaan ini. Bisa menatap punggung sempit yang berjarak dekat sekaligus juga terasa jauh tak tergapai. Bersyukur bahwa gadis yang dicintainya berada dalam jarak pandangnya, meski ia tahu bahwa gadis tersebut tidak menaruh secuil pun tentang Azka dalam benaknya.
Bersyukur bahwa Leevi masih mau mengenakan sweter yang ia sampirkan. Meskipun kini sweter itu sudah teronggok tak berdaya di lantai, tak jauh dari kursi ruang makan. Sementara si pemakai kini tengah sibuk senyum-senyum sendiri melihat layar ponsel.
Azka menghela napas panjang, memungut sweter tersebut dan membawanya ke kamarnya di lantai dua.
Semuanya disaksikan diam-diam oleh Leevi yang tak sengaja menoleh ke arah ruang makan. Tatapan gadis itu tak terbaca. Sementara di tangannya, layar ponselnya berkedip tanda pesan masuk.
[Aku minta maaf udah ngacangin kamu. Gimana kalau aku traktir makan sebagai permintaan maaf?]