Leevi hanya diam tak berkedip, mendapati kembali senyuman lembut dan teduh nan khas milik Azka barusan. Entah kenapa, Leevi merasa sedikit rileks. Sesuatu seperti beban yang selama dua hari belakangan ini menggayutinya, sedikit demi sedikit mulai terangkat.
Dan mungkin hal itu jugalah yang membuat kepalanya refleks mengangguk meski kemudian dalam hati merutuk. Leevi mulai curiga, senyum Azka sepertinya mengandung guna-guna!
Pada halte berikutnya yang berjarak tak jauh dari mal tempat terakhir kali Azka mendapati Leevi dan berakhir dengan lelaki itu membakar gaunnya setiba mereka di rumah.
Terlalu larut dalam kenangan membuat Leevi terdiam cukup lama. Azka menarik tangan Leevi untuk ikut turun. Memasuki mal tanpa melepaskan tautan tangan mereka, Azka masih tak menjelaskan apa-apa sama sekali.
Leevi pasrah dibawa ke toko baju, gadis itu hanya menggeleng kala Azka menyuruhnya memilih pakaian yang disukainya. Leevi sedang tidak mood untuk berbelanja.
Tak hilang akal, Azka mengandalkan insting sambil menerima saran-saran pramuniaga. Leevi menunggu dengan bosan, setengah lapar. Heran, bukannya tadi Azka mengajaknya untuk makan, kenapa malah berujung belanja?
Selepas dari toko pakaian, barulah laki-laki itu membawa Leevi ke gerai makanan. Azka sudah bergerak ke resto keluarga, namun urung masuk saat menyadari tatapan Leevi yang tak lepas-lepasnya memandang salah satu gerai ayam goreng dengan ikon kakek berjanggut putih dengan senyum lebar di wajah.
Azka mengulas senyum simpul. Bagaimana bisa dia lupa dengan makanan favorit istrinya sendiri?
Leevi itu penggemar ayam goreng. Azka tahu itu sejak pertemuan awal mereka di bangku SMP dulu. Azka pernah melihat ekspresi Leevi yang lupa daratan kala menikmati ayam goreng di kantin sekolah mereka.
“Ayo kita ke sana. Kamu jaga tempat, biar aku yang antre,” pesan Azka menggamit lengan Leevi memasuki resto yang agak ramai tersebut.
Leevi menatap heran pada Azka, meski begitu tetap membuntuti langkah sang suami. ‘Bukannya tadi dia mau masuk ke resto keluarga, ya?’ batin Leevi heran.
Meski heran, diam-diam gadis itu senang. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia makan ayam di gerai favoritnya ini.
Beberapa belas menit menunggu, Azka datang membawakan makanan mereka. Laki-laki itu tersenyum dan memberi isyarat bagi istrinya untuk cuci tangan terlebih dahulu yang diangguki Leevi dengan antusias. Gadis itu tak begitu memperhatikan isi nampan yang dibawa Azka.
Sekembalinya ke tempat duduk, Leevi tertegun sendiri melihat bagiannya. Ayam goreng bagian d**a favoritnya, serta beberapa sayap ayam, kentang goreng, sekepal nasi tak lupa dessert es krim vanila favoritnya. Tak lupa leci float serta sebotol air mineral.
Tak sadar jika Azka sudah berlalu untuk cuci tangan, netra Leevi melirik milik Azka yang hanya memesan beberapa sayap ayam dan kentang goreng dan soda. Berbanding terbalik dengan porsinya yang dua kali lipat porsi Azka.
Atau jangan-jangan pesanan mereka tertukar? Jangan-jangan yang terhidang di depan matanya adalah jatah Azka?
“Dimakan, Leevi. Nanti ayamnya hidup lagi kalo diliatin terus,” goda Azka membuyarkan lamunan Leevi.
Gadis itu tak menjawab, hanya menuruti kemauan Azka sekaligus menuntaskan kerinduannya pada ayam goreng favoritnya. Menatap penuh minat pada remah-remah tepung krispi, menarik lapisan garing keemasan untuk kemudian membalurkan saus cabai di atas permukaan garing.
Leevi membuka mulutnya, mencecap rasa yang telah lama tak dinikmati. Mata laksana mata kucing itu terpejam meresapi rasa asin yang pas, berpadu beberapa campuran rempah-rempah, pedas, asam, semua berpadu sempurna dalam lapisan saliva di dalam mulut.
Leevi mendesah, Azka terperangah.
Lupa cara bernapas, lupa kelaparan yang tadi ikut mengalihkan fokus. Laki-laki itu berpikir lama, setengah menyusuri kenangan masa lalunya bersama gadis di hadapannya.
Kenangan yang hanya bernilai segelintir dari panjang hari-hari yang telah dilaluinya selama hidup di dunia. Segelintir, yang lucunya malah berarti segalanya.
Azka tidak tahan dengan kata-kata itu. Waktu yang dilalui Leevi bersama pria b******k itu juga hanya segelintir. Dan yang sesedikit itu mampu mengubah Leevi sampai berani mengubah warna rambutnya seperti ini.
Azka menghela napas lelah. Mendadak kehilangan nafsu makan. Tangannya mengambil dua potong sayap ayam goreng yang tersisa kemudian meletakkannya di piring sang istri.
Sementara ia sibuk dengan pikirannya, Leevi sudah nyaris menandaskan isi piringnya sendiri. Semua, termasuk dua potong sayap ayam yang diberikan Azka tadi.
Leevi benar-benar suka ayam. Azka jadi berpikir kalau dia adalah suami yang buruk. Seharusnya ia lebih sering mengajak sang istri makan di luar. Bukannya menunggu selama setahun setelah pernikahan seperti ini.
Orang yang sedang jatuh cinta memang seperti itu. Suka amnesia, entah siapa yang dulu sibuk mengurung diri di kamar setiap kali Azka pulang ke rumah?
Leevi menghabiskan semuanya, bahkan sama sekali tidak sadar kalau jumlah ayam di piringnya telah bertambah secara misterius. Ia terlalu sibuk memperhatikan lalu lalang orang-orang di sekelilingnya.
Mereka meninggalkan resto cepat saji tanpa Leevi tahu ke mana Azka akan membawanya. Azka menyodorkan es krim vanila untuknya, menggamit sebelah tangan Leevi yang bebas. Sementara tangan lainnya penuh dengan kantong-kantong belanja.
Para gadis yang menatap iri dan penuh kagum sama sekali tak diindahkan oleh Azka.
Siang sudah berganti sore ketika Azka mengajak Leevi menuju suatu tempat yang diisi kursi-kursi berderet yang semuanya menghadap masing-masing satu cermin besar di depan. Beberapa orang staf berapron menanti di dalam, memusatkan tatapan mereka pada Azka dan Leevi.
Salon?
Leevi sedikit heran, meski begitu pasrah saja dirinya diarahkan untuk duduk di salah satu kursi. Azka sendiri sibuk berbicara pada salah satu staf salon. Tempat ini memang sedang sepi, hanya ada mereka setelah sebelumnya satu pengunjung selesai merapikan potongan rambutnya. Seorang laki-laki berusia sekitar 25-an tahun dengan rambut diwarnai cokelat kemerahan.
Leevi tak ada pemikiran, mungkin Azka hendak memotong rambut atau mengubah warna rambut. Es krim di tangannya sudah habis, kemudian tiba-tiba Azka mengambil sampah plastik pembungkus es krim tersebut dari tangan Leevi.
Salah satu staf yang diajak bicara oleh Azka barusan berganti mendekati Leevi, membentangkan kep potong di depan tubuhnya. Alis Leevi sontak menukik heran.
“Balikin hitam aja? Padahal warnanya udah bagus gini.”
Leevi sontak mengalihkan tatapannya ke belakang, menatap Azka tajam menuntut penjelasan. Staf tadi peka, memilih mundur setelah sebelumnya merutuki mulutnya sendiri. Sibuk pura-pura mencari karet gelang ikat rambutnya demi merasakan aura gelap memancar dari Leevi.
“Kenapa sayang?”
“Masih bisa nanya?” balas Leevi dingin.
Senyum masih setia bertengger di bibir Azka, yang berubah hanyalah matanya yang sudah tak lagi turut tersenyum. Leevi merasakan bulu kuduknya berdiri. Meski begitu masih menolak untuk menyerah atau menunduk takluk.
“Warna rambut kamu yang sekarang tuh, jelek. Lebih baik balikin hitam lagi aja, ya?"
“Gak ada bantahan. Aku tidak suka kamu ditatap aneh sama orang lain gara-gara warna rambut kamu,” Leevi bersumpah, dia ingin sekali membantah.
Sayangnya fungsi-fungsi tubuhnya tiba-tiba berkhianat. Sebaliknya mereka malah berkoordinasi untuk tidak melakukan apa pun. Mematung, patuh.
Hingga sang staf yang telah menemukan ikat rambutnya kembali mendatangi mereka dengan beberapa peralatan di tangannya. Siap menyulap kembali helai demi helai kembali ke warna semula : hitam.
Leevi tak tahu kenapa dia bisa pasrah seperti ini. Di bawah tatapan lembut milik Azka yang tak henti-hentinya mengamati Leevi dan apa yang dilakukan sang staf pada rambutnya. Pikiran Leevi tiba-tiba menjadi penuh, menyesal karena belum sempat memperlihatkan penampilan rambut barunya pada Danish.
Diam-diam Leevi setuju dengan kata-kata Azka. Tiga hari lamanya ia tetap tak terbiasa dengan tatapan pengunjung kafe padanya. Entah hanya perasaannya atau bagaimana, rasanya jumlah pengunjung laki-laki bertambah beberapa persen dalam tiga hari terakhir. Tepatnya sejak ia mengganti warna rambutnya
Leevi agak risi, meski tetap berusaha untuk berpikiran positif, tidak gede rasa. Lantas bagaimana Azka dapat memahaminya sampai ke tahap ini?
Leevi mengatupkan matanya rapat-rapat. Memahami? Atau ini hanya bentuk cemburunya saja? Emosi? Leevi tak paham. Tak ingin tahu juga. Ada banyak kata yang tersimpan dalam bening mata Azka ketika menatap dirinya.
Laki-laki itu tak pernah lagi membicarakan tentang perasaannya, hanya memilih untuk menutup mulut. Dan memperbanyak aksi.
Malam itu, Leevi tak tahu bagaimana caranya hingga tahu-tahu terbangun di atas ranjangnya yang hangat. Diapit dinding dan sebuah guling di sisi bebasnya.
Mengingatkan gadis itu pada bayi yang selalu diberi guling sebagai pembatas agar tak jatuh ketika berguling dalam tidur. Apakah Azka juga memikirkan hal ini ketika meletakkan guling di sisinya tubuhnya? Leevi tak tahu.
Sama tidak tahunya dengan perasaan aneh kala matanya tak sengaja menangkap penampakan punggung lebar di temaram lampu dapur. Punggung Azka.
Laki-laki itu menghadap kompor dengan tutup panci di satu tangan, sementara tangan yang lain sibuk mengaduk sesuatu yang terhalang oleh tubuhnya.
Sosok itu tiba-tiba berbalik dengan kedua tangan memegang telinga panci, meletakkannya di meja makan. Tatapan mereka bertemu tepat ketika Azka sudah hendak menyeruput masakannya. Mi instan yang direbus dan dimakan langsung dari panci.
“Kamu terbangun, ya?” tanya Azka kikuk sembari menggaruk belakang kepalanya. Tersenyum canggung kala Leevi tak menyahut. Hanya menunduk, lantas melanjutkan langkah ke kamar mandi. Cuci muka, sekaligus menuntaskan kebelet.
“Lapar? Kamu mau coba, nggak? Enak loh ....”
Azka masih tak menyerah merayu Leevi untuk ikut duduk bersamanya. Leevi manut, duduk di sisi Azka dan membiarkan laki-laki itu sibuk sendiri. Kenapa tiba-tiba Azka masak mi instan malam-malam begini? Apa ...
Tiba-tiba Leevi teringat dengan jumlah ayam goreng yang dimakannya kemarin sore. Jangan-jangan ....
“Ayo aaa ...” mata Leevi membulat kala sesendok potongan telur ceplok berada tepat di depan mulutnya. Ingin menolak, namun binar penuh harap di mata Azka tiba-tiba kembali membuatnya pasrah.
Leevi tak tahu kenapa hari ini dia jadi sangat penurut pada Azka. Anehnya, ia sama sekali tak merasakan keberatan, terpaksa atau hal-hal semacam itu. Apa yang terjadi hari ini, semuanya mengalir begitu saja tanpa paksaan apa pun.
Apakah ini karena Azka sudah membantunya melewati kesulitan-kesulitan kecil yang agak mencubit hatinya? Hal-hal kecil namun cukup mengganggu yang tak diberitahukannya pada siapa pun. Azka hari ini bersikap seperti bentengnya, siap menjadi alasan jika ada yang bertanya kenapa.
Pelindung? Leevi tak tahu. Pikirannya berkelana ke mana-mana sementara mulutnya mengunyah potongan telur pemberian Azka. Keheningan di antara mereka dipecahkan oleh suara berdecak dan seruput Azka menandaskan isi panci. Leevi terenyuh. Sepertinya Azka lapar sekali.