Apa kau pernah merasakan betapa sakitnya ditolak? Betapa tidak mengenakkannya perasaan itu? Perasaan yang, seharusnya tidak kau rasakan dengan adanya status yang kini mengikatmu. Bersama orang yang kau cintai?
Azka tahu, betapa sakit rasanya ditolak. Berkali-kali mengalaminya tak membuatnya serta-merta terbiasa dan dapat melewatinya dengan cuek seakan tak terjadi apa-apa.
Kalaupun hal itu terlihat mudah baginya, berarti Azka telah berhasil menjalankan sandiwaranya dengan baik. Laki-laki berwajah dingin itu sudah terlatih untuk menyembunyikan perih jauh di dalam sanubari.
Meski begitu, selalu ada satu tokoh sok tahu yang akan mengungkit lagi semua perih yang selama ini ditekan. Seseorang yang sejak dulu, bahkan sampai kapan pun akan selalu dianggapnya sebagai sahabat.
Tidak akan pernah bisa lebih, sama seperti perasaan seorang kakak kepada adiknya. Tidak lebih, namun sangat mungkin untuk berkurang.
Apalagi untuk ukuran seseorang seperti Azka yang notabene sangat dingin dan cuek. Hampir-hampir mendekati aseksual karena dirinya nyaris tak pernah tertarik pada lawan jenis ataupun sejenisnya sekali pun. Satu-satunya yang mampu menggugah dirinya hanyalah gim. Atau sesuatu yang memerlukan logika, banyak menggunakan fungsi otak.
Azka tak tahu apa yang menyebabkan dirinya bisa sebegitu tertariknya pada Leevi. Apakah karena Leevi adalah orang pertama yang bersikap biasa padanya? Sementara orang-orang lain terutama para lawan jenisnya begitu getol berlomba-lomba menarik perhatiannya.
Bukannya Azka tidak tahu apa yang mereka maksud dengan mendekatinya. Hanya saja, Azka benar-benar tidak memiliki ketertarikan bahkan pada salah satu di antara mereka.
Azka juga tidak tahu apakah ia benar-benar menyayangi Leevi atau justru hanya menganggap gadis itu seperti sebuah gim—pada awalnya. Seiring berjalannya waktu, laki-laki itu mulai menyadari bahwa Leevi lebih misterius dari sebuah gim.
Salah satu alasannya karena ia tak kunjung berhasil menaklukkan gadis itu. Ini benar-benar berbeda dari gim, dari tantangan apa pun yang pernah singgah dalam hidupnya.
Alasan lainnya, ia tak pernah merasa bosan terhadap Leevi.
Azka tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun sebelumnya. Dan sekalinya jatuh cinta, ia benar-benar jatuh terlalu dalam. Tidak tertolong.
“Kamu tahu kan, betapa dalam aku mencintaimu?” bisik Azka lirih, menatap sendu ke kejauhan.
Matanya menangkap senyuman sang istri yang kini terlihat tengah bercanda dengan seseorang. Orang yang benar-benar ingin Azka lenyapkan saja saking bencinya. Azka menarik napas lelah.
Istrinya tidak mendengarkannya.
Kadang-kadang ingin rasanya Azka menyerah saja kalau ingat betapa Leevi tak pernah tersenyum seperti itu padanya. Tapi saat mengingat bahwa kehadiran gadis itu, serta senyum—yang meski bukan untuknya—merupakan kekuatan tersendiri baginya, Azka akhirnya mengurungkan niatnya tersebut.
Memilih untuk tetap bertahan, terus berusaha.
Azka bergerak mengangkat panggilan telepon, layarnya menunjukkan nama salah seorang teman. Menempelkan ponsel ke telinga, menyimak semua perkataan lawan bicaranya di seberang sana. Raut wajahnya yang semula kusut sekarang berubah tegang, bahkan meski panggilan telepon telah berakhir sepuluh menit yang lalu.
“Kenapa harus seperti ini, Leevi?” desahnya lelah.
Pusing memikirkan apa yang harus ia lakukan apabila suatu hari nanti Leevi mengetahui kenyataan yang memuakkan ini. Azka benar-benar takut bahkan meski hanya membayangkan saja. Akankah gadis itu drop lagi seperti yang dulu terjadi saat Pak Gurunya itu, pria sialan yang kini tengah bercanda dengan istrinya itu. Pria yang sama yang mengantarkan undangan berwarna hujan ke rumah Leevi.
Sekali lagi, Azka kembali mengeluh. Putus asa. Tidak. Tidak boleh.
•••
Di luar, gelap telah menaungi seisi alam. Sang raja siang telah digantikan oleh dewi malam, kali ini bersinar malu-malu dibalik rimbun dedaunan.
Menyelinap di antara celah papan rumah-rumah pedesaan, di antara sempitnya gedung-gedung dan bangunan-bangunan. Di mana saja dia sanggup menyelinapkan meski hanya selarik tipis sinarnya yang lemah.
Kelakuan sang dewi malam itu, tak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh seorang gadis manis berambut sepunggung dengan poni yang baru saja dipotong beberapa jam lalu.
Kepala bersurai cokelat madu itu sibuk menoleh kiri-kanan, memanjangkan leher agar dapat mengintip penampakan dalam rumah berlantai dua yang sudah setahun ke belakang dihuninya.
Gelap.
Alis Leevi menukik penuh heran, tak sengaja merogoh ponsel. Jam digital pada lock screen bergambar biru langit penuh awan tipis berarak menunjukkan angka 20.00. Tanpa notifikasi apa pun.
Apa sang suami belum pulang? Rasanya mustahil, batinnya sambil menyentuh gerendel pintu. Memutarnya hanya untuk terkejut kala mendapati bahwa pintu tersebut tidak terkunci.
Masih dengan keheranan yang sama, Leevi melangkahkan kaki ke dalam, mencari-cari sakelar lampu. Menekannya ke atas. Lampu menyala, Leevi terpekik. Seseorang yang masih mengenakan pakaian formal yang dikenakannya tadi pagi, familier serta membuatnya memberanikan diri untuk melihat sekali lagi. Memastikan.
Sosok itu tersenyum tipis di balik dua tangan yang jemarinya saling bertautan di depan mulut. Menatap sang istri dengan jenis tatapan datar yang baru kali ini terasa menguarkan aura tak nyaman.
“Kenapa tidak menyalakan lampu? Kupikir tadi ada pencuri!”
Ini rekor. Pertama kalinya sang istri memulai sebuah percakapan. Laki-laki itu masih setia dalam geming.
“Seharusnya kamu juga tidak masuk dengan sebegitu gampangnya,” ke dalam hatiku, merasuki sanubariku, batin laki-laki itu menurunkan tangannya. Berdiri dari duduknya dan melangkah menutup pintu depan sekalian menguncinya.
Leevi hanya terdiam di tempat, bergeming entah untuk alasan apa. Azka melangkah kembali, pelan. Berdiri di sampingnya dan menatap sang istri dalam-dalam. Leevi membalikkan tubuh, menghadap laki-laki itu.
Tatapan Azka begitu tajam, menghunus dan membuatnya tak nyaman. Leevi hendak mengucapkan sesuatu, kala mata bermanik sekelam malam tanpa bintang tersebut terpaku pada sosoknya.
Rambut barunya yang diwarnai cokelat madu, ujung rambut bergelombang, poni sebatas alis. Gaun baru, di dalam paper bag bertuliskan merek butik ternama. Leevi masih mengenakan pakaian yang sama seperti yang dilihat Azka tadi siang kala mengintai sosok di depannya ini dari kejauhan.
Bibir yang sudah merah alami, berlapis lip tint merah tipis tersebut bergetar hendak mengucapkan sesuatu. Pembelaan, penjelasan, penyangkalan atas apa pun yang tengah berkecamuk di kepala laki-laki di depannya.
Sementara Azka setia diam, menunggu.
Hingga selang dua menit berlalu dalam keheningan yang seakan berdurasi selamanya. Leevi dirundung kelu, Azka dirundung pilu. Lebih memilih untuk berlalu, sebelum emosi dan kemarahan menguasainya.
Menghancurkan raut tanpa emosi yang telah dilatihnya semenjak dua jam lalu dirinya sampai di rumah. Dan mendapati hanya kesunyianlah yang menyambut, tidak ramah.
Untuk kemudian disambut oleh sosok bidadari. Tidak, dialah yang menyambut sang bidadari. Cantik, memang. Namun Azka tidak suka. Selama ini Leevi tidak pernah berdandan sampai mengubah warna rambutnya seperti tadi.
Istrinya itu sudah cantik apa adanya.
Hanya saja, fakta bahwa Leevi mempercantik diri bukan untuknya cukup membuat Azka kesal. Marah. Err ... mungkin cemburu adalah kata yang tepat untuk mewakili perasaannya saat ini.
“Apa yang sudah dengan lancang kuharapkan darinya?”
Azka merasa perih sendirian, terpaku menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih gading. Inilah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Dia tetaplah milikmu, sah secara hukum dan agama. Yang tidak sah kau miliki hanyalah hatinya.
•••
Sikap Azka yang sedikit berbeda itu cukup membuat benak Leevi dipadati oleh berbagai macam tanya. Apa laki-laki itu marah? Leevi lekas menggeleng, itu sudah pasti tak perlu diragukan lagi.
Yang agak membuat Leevi gentar adalah tatapan Azka. Mengungkapkan banyak hal yang tak dapat dia selami satu per satu.
Sampai tadi pagi, Azka pergi lebih dahulu ke kantor tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan meskipun mereka telah berpapasan begitu dekat di ruang tengah, Azka lebih memilih untuk menunduk dalam-dalam dan mempercepat langkahnya ke pintu depan. Hal yang baru pertama kalinya terjadi dalam kurun waktu setahun terakhir semenjak mereka menikah.
Apakah ini akan berlangsung lama? Alis Leevi bertaut sembari otaknya merancang beberapa kemungkinan ke depan. Jika mereka terus seperti ini selama beberapa waktu, mungkin Leevi bisa memanfaatkan hal ini sebagai alasan untuk membuat Azka menandatangani surat cerai mereka!
Ah, sungguh kesempatan selalu datang di saat yang tak terduga. Sekarang, mari berharap ini akan berlangsung lancar sementara di sisi lain, dia sibuk mengusahakan agar Danish kembali menjadi Danishnya. Seperti yang seharusnya.
Dengan pemikiran seperti itu, Leevi pun akhirnya memilih untuk bersiap ke tempat kerjanya. Mematut bayangan sendiri di cermin, berniat menambahkan polesan bedak.
Yang terjadi justru dirinya yang tertegun menatap sosok yang menatap balik padanya di balik bayangan cermin. Bayangan yang hampir-hampir tak dapat dikenalinya lagi.
Mungkinkah ini alasan di balik tatapan dingin Azka semalam? Bahkan Leevi sendiri tak mengenali lagi cerminan sosok yang kini tengah balik menatap disertai tatapan nanar tersebut. Sudut kecil di hatinya meneriakkan kata palsu berulang kali, bergaung dan memekakkan telinga dalam kesunyian.
Leevi menggeleng kencang, bergegas mengambil sisir dan mulai merapikan helai rambut barunya. Berusaha mengenyahkan perasaan aneh yang melingkupinya semenjak bercermin tadi. Menyelesaikan ritual dandannya yang sederhana sebelum kemudian berlalu menuju kafe tempatnya bekerja.
Noelle menghadiahinya tatapan takjub kala mereka bertemu di ruang loker. Leevi tak berkata apa-apa, pun ketika Noelle memuji warna rambut barunya. Leevi tahu, Noelle tak berbohong dengan kalimat pujiannya. Namun entah kenapa hatinya tetap merasa tidak nyaman.
Rasa yang terus mengganduli sejak semalam. Sejak Azka menatap dingin dan bersikap aneh padanya.
Leevi tak tahu kenapa dia bisa seperti itu. Sepanjang hari, para pelanggan tetap di kafe tak hentinya memuji rambut barunya. Leevi makin tak nyaman. Hari itu, orang yang menjadi alasannya mengubah warna rambut tidak datang ke kafe. Leevi makin merasa aneh.
Dua hari penuh, hingga tepat di hari ke tiga saat mendapat jatah sif hanya sampai jam makan siang, Azka muncul. Tepatnya di halte tempatnya biasa menunggu bis. Azka tak mengatakan apa-apa, rautnya masih tetap sama seperti malam itu.
Yang berbeda adalah tatapan mata laki-laki itu yang terfokus pada Leevi. Hal itu cukup untuk membuat gadis itu bergeming, antara bingung mau berkata apa campur ngeri karena ditatap sebegitu intensnya oleh Azka.
Bis datang, Leevi naik tanpa menghiraukan Azka. Tanpa diduga-duga, laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya itu justru ikut naik, bahkan mengambil tempat di sampingnya. Leevi berusaha bersikap tenang walau pun dalam dirinya ia makin merasa situasi ini amat ganjil.
Sudah dua hari Azka mendiamkannya. Sesuatu yang bisa dicatat sebagai rekor, karena sejak mereka mulai hidup sebagai suami-istri, tak sekali pun Azka pernah mendiamkannya. Bahkan meski hanya untuk satu hari pun. Yang lazim terjadi adalah Leevi yang mendiamkan Azka.
Leevi mulai berpikir jika ini adalah karma karena selama ini dia sudah bersikap tidak baik pada Azka. Hingga akhirnya suara berat namun lembut milik Azka mengumandangkan sebuah tanya.
“Sayang, kamu udah makan?”
Butuh 30 detik bagi Leevi untuk mencerna pertanyaan sederhana barusan. Belum lagi ia sempat menjawab, Azka telah kembali melontarkan pertanyaan baru.
“Siang ini temani aku, ya,” Azka melirik, tatapan mereka beradu.
“Kita kencan,” imbuhnya sembari tersenyum lembut.