Pagi ini, Azka terbangun tepat saat matahari sudah mulai menanjak beberapa jengkal di atas pagar rumahnya. Rasa pusing sedikit menderanya kala cahaya matahari menyusup dan menyilaukan penglihatannya. Azka mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sebelum memindai ke sekeliling kamarnya.
Hingga akhirnya ia menemui kejanggalan saat menolehkan kepalanya ke sisi bawah tempat tidurnya. Matanya sontak melebar saat melihat Leevi yang tengah meringkuk di atas permukaan karpet tebal dengan selimut tipis yang menutupi dari pinggang ke bawah.
Tak jauh dari tempat Leevi meringkuk, tergeletak beberapa handuk kecil dan baskom berisi air dingin serta sebotol air putih.
Perasaan bersalah langsung menghinggapi hati Azka melihat sang istri tercintanya itu tengah meringkuk kedinginan.
Seharusnya Leevi tidak perlu memaksakan diri untuk merawatnya. Azka sangat tahu betapa merepotkannya tingkahnya ketika sedang terserang demam. Bahkan Michelle saja yang notabene merupakan teman dekatnya angkat tangan kalau Azka sudah terserang demam.
Azka yang sedang demam adalah kebalikan dari Azka yang sehari-harinya tenang dan kalem. Ia akan berubah jadi manja, mengeluh tanpa henti dan sangat-sangat merepotkan.
Azka tak tahu apakah orang-orang lainnya juga begitu bila sedang demam, tapi ya. Azka sendiri mengakui kalau dirinya dikala demam adalah Azka yang sangat memalukan.
Untunglah, selama ini dia termasuk dalam tipe orang yang punya daya tahan tubuh yang bagus hingga jarang terkena demam, apalagi sakit keras. Begitu-begitu Azka juga rajin olahraga demi menjaga kebugaran tubuhnya. Namun yang kemarin adalah pengecualian karena demam kemarin disebabkan oleh masalah psikis.
Azka terlalu cemburu hingga over heat dan akhirnya terpanggang hingga demam. Demi apa pun, hal itu sungguh memalukan!
Azka turun dari tempat tidurnya, lalu dengan gerakan hati-hati menyelipkan masing-masing satu tangannya di bawah punggung dan bawah lutut sang istri lalu mengangkatnya pelan-pelan ke tempat tidurnya.
Menyelimuti gadis itu hingga leher dengan senyum bahagia yang merekah kala menyadari perlakuan Leevi yang merawatnya semalaman (walaupun sebenarnya ia tak ingat apa-apa sama sekali). Azka tahu ia tak boleh terlalu berharap. Tapi untuk kali ini saja, tolong biarkan ia larut dalam kebahagiaan kecil ini.
Azka mengecup kening Leevi lama, melepasnya dengan tidak rela sebelum beranjak untuk menutup gorden. Lalu beranjak keluar dari kamar dengan menutup pintu sepelan mungkin agar tak mengganggu tidur sang istri.
Di bawah, Azka mendapati Michelle yang tengah bersiap-siap untuk pergi.
“Aku udah nyiapin kebutuhan dapur kamu buat beberapa hari. Aku harus pergi, bos aku ngamuk-ngamuk di telepon tadi. Maaf ya, aku gak bisa nyiapin apa-apa buat sarapanmu,” ujar Michelle sambil mengenakan jaketnya.
Azka menatap temannya itu cemberut. Michelle mengerutkan keningnya, isyarat bahwa ia tengah bingung.
“Kamu gak nanyain keadaan aku setelah demam semalam? Bahkan buat basa-basi sekali pun?”
Michelle memutar kedua bola matanya gemas.
“Orang bodoh sekalipun akan langsung tahu betapa manjurnya perhatian dari orang tercinta yang merawatmu semalam! Oh Tuhan, aku baru yakin kalau dia memang istimewa. Aku saja tidak sanggup menghadapimu. Tapi dia bahkan berkeras untuk merawatmu sendirian sampai pagi!”
Azka melongo mendengar penuturan Michelle barusan. Sementara itu Michelle sudah menghilang di balik pintu dapur dengan gerutuannya tentang bosnya yang tak hentinya menelepon.
Sebuah senyuman merekah di bibir Azka bersama sebuah rasa hangat yang menjalar di hatinya. Dengan gembira, Azka membuka kulkas dan mulai memikirkan menu yang akan dibuatnya untuk sarapannya bersama sang istri nanti.
Azka berkutat selama beberapa puluh menit untuk menyiapkan sarapan favorit semua umat: nasi goreng dengan telur mata sapi dan irisan tomat serta potongan sosis celup telur goreng.
Azka menyiapkan segelas s**u hangat untuk sang istri dan secangkir kopi untuk dirinya sendiri. Sampai tiba-tiba telinganya menangkap derap langkah terburu menuruni tangga dan Azka sudah dapat menebak bahwa itu memang Leevi.
“A—”
“Selamat pagi, sayang. Sarapan sudah siap, cepetan cuci muka dan kita sarapan,” ujar Azka sambil tersenyum geli melihat tampilan istrinya dengan mata sembap kurang tidur serta rambut acak-acakan. Meski begitu, Leevi tetap terlihat menarik di mata Azka.
Leevi setengah tertegun, menatap bergantian sarapan di meja makan dengan wajah Azka yang tak hentinya menyunggingkan senyum. Gadis itu melangkah maju mendekati Azka, laku mengangkat tangannya dan menempelkannya di kening Azka.
Jangan tanya betapa berisiknya detak jantung Azka saat ini. Laki-laki itu hanya bisa berdiri kaku dengan dua bahu terangkat dan mata yang melebar karena shock. Wajahnya sontak memanas, apalagi saat menyadari betapa dekatnya jarak antara wajahnya dengan wajah Leevi.
Leevi mengerutkan keningnya, heran melihat perubahan warna pada wajah Azka.
“Demamnya sudah turun, tapi kenapa wajah kamu masih merah, ya?” gumam Leevi pelan pada dirinya sendiri, sambil menurunkan tangannya.
Azka diam tak menjawab, sibuk berdoa agar debaran jantungnya berhenti menyiksanya. Azka menghela napas lega ketika Leevi mundur, dan kini rautnya tergantikan oleh senyum miris ketika melihat gadis itu berlalu dan masuk ke kamarnya.
Ditolak lagi!
Tak peduli sudah berapa kali pun ia mengalaminya, tetap saja terasa tidak nyaman. Azka sudah terlalu banyak berharap hanya karena perlakuan Leevi yang merawatnya semalaman. Bukan berarti gadis itu membuka hati untuknya! Sadar, Azka! Leevi bahkan sudah pernah meminta kamu menandatangani surat cerai! Apa yang bisa lebih buruk dari itu?
Azka menghela napas panjang, menarik kursi dan duduk menatap dua piring nasi goreng buatannya dengan tatapan hampa. Nafsu makannya mendadak menghilang, ia bahkan sudah berencana hendak membuang nasi goreng itu ke tempat sampah saat ini juga.
Meski begitu, yang dilakukannya hanyalah mengaduk-aduk nasi goreng tersebut dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Kenapa tidak dimakan?”
Sapaan dari Leevi barusan menyadarkan Azka dari lamunannya, membuatnya mendongak dan akhirnya menyesali kenapa ia harus mendongak.
Pemandangan Leevi yang baru selesai mandi dengan kaos kedodoran dan rok model A sebetis itu membuat Azka hanya dapat meneguk ludah dengan susah payah. Apalagi rambut sang istri yang diangkat ke atas hingga menampilkan leher jenjangnya yang putih, sungguh pemandangan yang menggugah iman.
Azka menggeleng cepat, berusaha menjernihkan pikirannya yang semakin lama semakin melantur.
Leevi mengerutkan keningnya, gadis itu duduk di hadapan Azka lalu tanpa mengatakan apa pun segera menyendokkan nasi goreng buatan Azka ke mulutnya. Rasanya lumayan, dan kebetulan ia memang sedang lapar. Leevi terlalu mencemaskan keadaan Azka yang meracau semalam hingga lupa bahwa ia belum makan apa pun sejak kemarin siang.
Azka akhirnya ikut menyendokkan nasi ke mulutnya dengan tatapan terfokus pada Leevi. Melihat gadis itu makan selahap itu cukup membuatnya kenyang. Sesekali ia berusaha menahan senyuman freak-nya yang gemas melihat pipi Leevi yang menggembung oleh nasi. Dan bibir yang bergerak-gerak sinkron saat mengunyah itu.
Azka cepat-cepat mengalihkan tatapannya pada piring nasi gorengnya sendiri, dengan gugup menyuapkan sesendok penuh ke mulutnya hingga ia justru tersedak karenanya.
Leevi yang telah mengosongkan piringnya buru-buru bangkit dan mendekati Azka lalu menepuk-nepuk punggungnya sementara tangannya yang lain menyodorkan segelas air untuk Azka. Azka menerimanya dan segera mengosongkan gelasnya sementara tangan Leevi masih setia mengusap-usap punggung Azka.
“Su ... sudah, aku nggak apa-apa.”
Ucapan itu dengan cepat disesali Azka karena tepat setelah itu Leevi segera menghentikan usapannya dan melangkah kembali ke piringnya dan membawanya ke bak cuci piring. Sementara itu Azka memutuskan untuk kembali ke kamarnya untuk mandi dan mengecek surel dari kantornya selama ia tidak masuk selama dua hari belakangan.
Hampir tiga puluh menit Azka menenggelamkan diri mengecek surel hingga akhirnya ia merasa sudah cukup dan turun kembali ke bawah. Tak lupa Azka membawa turun semua peralatan kompresnya semalam.
Bibir Azka sontak tertarik secara alami saat matanya menangkap bayangan sang istri yang tengah duduk bersandar di sofa depan tv dengan kepala terkulai ke samping dan mata terkatup lelah serta bibir yang sedikit terbuka. Betapa dalam kondisi apa pun Leevi tetap terlihat menarik di matanya.
Mungkin bagi orang lain, pemandangan itu terlihat biasa bahkan cenderung membosankan. Namun tidak bagi Azka. Cinta tulus yang tumbuh dalam hatinya sejak pertama kali gadis itu memasuki hatinya membuat semua hal, bahkan sisi tak sempurna milik Leevi menjadi lengkap dan cukup baginya.
Azka tidak butuh istri yang sempurna. Yang ia butuhkan hanya pemilik hatinya, alasan dirinya tetap bernapas di dunia yang kejam ini.
Pemilik hati yang membuatnya betah untuk terus menjalani hidup setiap hari demi untuk terus merasakan rasa hangat di dadanya yang muncul setiap kali dirinya mendapati sosok gadis itu di hidupnya. Tersenyum dengan ceria, Azka bahkan tak peduli bahwa senyum itu bukan tertuju untuknya.
Sudah cukup baginya dengan memiliki gadis itu di sisinya, ia tak butuh apa-apa lagi.
Azka duduk di samping Leevi dengan gerakan hati-hati, lalu masih dalam mode hati-hati tersebut ia kembali menyusupkan lengannya di bawah lutut dan di punggung Leevi lalu beranjak memindahkannya ke kamar Leevi yang pintunya terbuka.
Membaringkan tubuh gadis itu pelan-pelan di ranjang ukuran single-nya sebelum akhirnya menyetel suhu AC kamar dan kembali duduk di pinggir ranjang. Menatap wajah tidur Leevi yang damai dengan senyuman yang terkembang di bibirnya.
Azka mensyukuri demam yang dialaminya kali ini. Setidaknya ia bisa mendapatkan perhatian Leevi yang amat jarang-jarang bisa ia dapatkan ini.