"Kali ini saja, jangan membantah lagi!"
Leevi sontak terdiam. Membiarkan laki-laki itu, ya suaminya itu membelitkan jaket miliknya di pinggang Leevi untuk menutupi paha terbuka sang istri. Aura mencekam menguar dari tubuh laki-laki itu sementara tangannya sibuk membuat simpul di bagian perut sang istri.
Mereka saat ini tengah berada di salah satu sisi mall setelah Leevi terpaksa harus pulang sendirian karena jam telah menunjukkan pukul 6 sore. Sementara Danish mendadak ada rapat dan dengan bodohnya Leevi menolak ajakan pria itu untuk mengantarnya pulang.
Tidak, Leevi belum siap bila Danish mengetahui alamat rumahnya saat ini. Dan ketika telepon meeting itu masuk ke ponsel Danish, Leevi berpikir bahwa Tuhan telah mengabulkan doanya.
Namun kebetulan selalu bisa datang kapan saja dan mengacaukan segalanya. Tidak, belum ada kekacauan yang berarti semenjak Leevi tak sengaja bertemu dengan suaminya itu. Dan coba lihat raut wajahnya yang kaget sekaligus menahan marah itu!
Padahal Leevi baru saja memastikan bahwa Danish benar-benar telah menghilang dari pandangannya sejak mereka berpisah di depan resto tadi.
Lalu dengan tiba-tiba, laki-laki itu menanggalkan jaketnya dan menyampirkannya di pinggang Leevi. Tanpa mengatakan apa pun. Lalu kali ini juga menarik tangan Leevi ke sebuah kursi sementara laki-laki itu berjongkok di depannya dan mulai memegangi kaki Leevi.
“Kamu ... ngapain?!" Leevi berusaha menahan diri untuk tidak meninggikan suaranya saat melihat laki-laki itu berjongkok di depannya. Hal yang sangat ... aneh?
Terlebih saat melihat laki-laki itu mulai bergerak melepaskan heels dengan tinggi tujuh senti itu. Mata Leevi sontak melebar saat melihat bercak darah serta kulit di bagian atas tumitnya tempat sepatu itu menyangkut sempurna kini sudah lecet.
"Sakit?" tanya laki-laki itu, kali ini sambil melepaskan sebelah lagi heels-nya dengan gerakan hati-hati. Sama seperti sebelumnya, kakinya terluka di tempat yang sama. Leevi mengernyitkan dahinya heran. Kenapa ia tak merasa heran sakit sedikit pun sepanjang waktu tadi? Leevi benar-benar tak menyadarinya sama sekali!
"Ah. Tentu saja tak sakit. Bahkan kalau tadi kamu gak sengaja kena pukul atau kena tampar pun, rasa sakitnya gak bakalan pernah sampai ke otakmu," tambah laki-laki itu dingin sambil bangkit berdiri. Leevi melemparkan tatapan tajam campur heran atas ucapan laki-laki itu. Darahnya berdesir merasakan atmosfer yang tak biasa itu.
"Ng ... ngapain sih? Lepasin gak!" Leevi melotot menyadari tangan laki-laki itu berada dalam posisi yang seakan hendak menggendongnya ala bridal style.
"Kamu bisa jalan?" balas laki-laki itu dengan sebelah alis terangkat.
"Tentu saja! Lihat, nih!" Leevi segera berdiri dan melangkahkan kakinya beberapa langkah. Laki-laki itu menghembuskan napasnya lelah, lalu mengekori langkah sang istri sambil melepaskan selopnya.
"Pakai ini,” ujarnya sambil meletakkan selop itu di depan kaki Leevi sementara kakinya sendiri bertelanjang tanpa alas. Bagian belakang selop itu terbuka sehingga Leevi tak perlu khawatir lecetnya akan bertambah.
"Gak perlu. Balikin sepatuku!"
"Kali ini saja. Aku lagi gak pengen berdebat. Pakai itu dan kita pulang!" sahut laki-laki itu dingin. Leevi terpaksa menuruti kata-kata laki-laki itu, terlebih orang-orang susah mulai melongokkan kepala mereka ke arah mereka berdua dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Bagaimana tidak, ada seorang gadis dengan gaun yang panjangnya di atas lutut dengan jaket menutupi hingga sedikit di bawah lututnya, tanpa alas kaki, dengan bagian belakang kakinya lecet. Sementara di depannya ada seorang laki-laki yang sama-sama bertelanjang kaki dengan sepasang heels di tangannya.
Perpaduan yang cukup menarik perhatian di tengah-tengah suasana mal yang ramai dan santai.
Mereka pulang dengan menaiki taksi, dengan laki-laki itu yang masih saja setia berdiam diri dengan muka ditekuk dalam-dalam tanpa mau melirik sedikit pun ke arah Leevi yang berada tepat di sebelahnya.
Sesampainya di rumah pun, kebekuan itu masih tetap terasa bahkan semakin mencekam. Leevi akhirnya memilih untuk membersihkan tubuhnya. Gaun berwarna turkuois ditaruh di atas tempat tidur sebelum dirinya beranjak ke kamar mandi.
Sehabis mandi, Leevi berniat untuk merawat luka lecet di kakinya dan setelahnya ia akan mencuci gaun pemberian Danish. Betapa terkejutnya Leevi saat mendapati gaun itu sudah tak berada di tempatnya semula. Leevi yakin, amat yakin bahwa gaun itu memang belum dipindahkannya ke mana pun.
Di luar, nyala api beserta derik kayu yang terbakar api terlihat mulai membesar dengan warna merah menyala. Leevi menolehkan kepalanya ke jendela. Ludahnya tiba-tiba jadi sulit untuk ditelan. Gadis itu bergegas berlari keluar.
Leevi melihatnya. Gaun berwarna turkuois yang dikenakannya tadi siang sekarang hanya tinggal potongan kain berwarna turkuois. Sepotong terakhir yang menandai bahwa benda itu pernah ada, sebagai sebuah pakaian.
Lalu sepasang heels yang kini sudah meleleh karena panas api. Leevi menghambur hendak menyelamatkan apa pun yang dapat terselamatkan dari gaun tersebut.
"Kamu ngapain, sih?!" hardik laki-laki itu panik.
Laki-laki itu lekas menarik lengan Leevi sebelum tangan sang gadis menyentuh api yang menjilat. Leevi menatap laki-laki itu dengan marah, kedua bola mata itu melotot memancarkan kekesalan tiada tara. Namun tatapan laki-laki itu justru lebih mengintimidasi. Leevi sampai lupa dengan kemarahannya, walau hanya untuk sekejap.
"Apa yang kamu katakan? Memangnya apa salah gaun itu? Dan sepatu itu?"
"Orang-orang menatap kaki kamu dengan tatapan menjijikkan karena kamu memakai gaun sependek itu. Dan sepatu itu telah melukai kakimu!”
Leevi benar-benar berpikir kalau semua ini gila! Hanya karena masalah sesepele itu saja, laki-laki itu sampai harus membakar gaunnya?
"Aku tidak suka jika istriku ditatap dengan cara seperti itu oleh mata laki-laki lain. Jangan pernah mengenakan pakaian seperti itu lagi kalau keluar rumah!" laki-laki itu menarik tangannya lembut memasuki rumah.
Meninggalkan bekas-bekas pembakaran dengan api yang telah padam. Dan Leevi yang tiba-tiba kehilangan kata-kata. Dia memang tidak nyaman mengenakan pakaian seperti itu. Dia hanya tidak bisa menolak permintaan Danish saja.
Laki-laki itu mengambil kotak P3K, lantas mendudukkan Leevi di sofa sementara dirinya sendiri duduk di lantai tepat di hadapan Leevi. Meraih kaki Leevi dan mulai asyik membersihkan darah yang sedikit membersit dari luka di kaki sang istri. Tanpa mengucapkan apa-apa.
"Aku tidak tahu kalau kau bisa mengenakan pakaian sependek itu dengan nyaman. Sayang, kamu ngga terlihat cantik meski begitu."
"Apa?"
Laki-laki itu tersenyum, mendongak menatap Leevi yang duduk di atas sofa.
"Kamu tidak pernah mengenakan sesuatu yang lebih pendek dari betismu. Apa aku benar?"
"Dan kamu juga tidak begitu suka mengenakan heels. Walaupun kamu selalu berusaha untuk dapat memakainya dengan benar seperti yang wanita-wanita lainnya lakukan,” tambah laki-laki itu membuatnya terdiam. Dari mana laki-laki itu tahu? Bahkan sampai sejauh itu?
"Sudah selesai," ujar laki-laki itu setelah menyelesaikan pekerjaannya. Leevi hanya terdiam, tak menyahut apa pun sejak pikirannya mulai terusik dengan satu hal, apa laki-laki ini dulunya adalah seorang penguntit?
Tak peduli meskipun mereka saling kenal di masa lalu, mereka hanya bertemu di sekolah. Tak sekali pun ia pernah bertemu dengan laki-laki ini di luar sekolah.
Citra yang akan terpatri di kepala laki-laki itu hanyalah dirinya yang mengenakan seragam sekolah. Lantas dari mana laki-laki ini tahu mengenai—banyak hal-hal kecil itu?
Satu hal yang pasti, Leevi tidak benar-benar mengenal laki-laki yang kini tengah berada di hadapannya ini. Dia tak tahu apa pun, bahkan hal-hal umum seperti hobi atau makanan favoritnya, atau hal-hal kecil lainnya.
Ia tak tahu, dan parahnya lagi ia benar-benar tak peduli. Sama seperti satu hal lainnya yang kembali mengganggu pikirannya kala hal tersebut datang mengusik tanpa diundang. Hal yang membuatnya terdiam dan merasa amat berdosa.
Leevi, dirinya bahkan tak tahu siapa nama lengkap suaminya saat ini.
•••
Jangan salahkan aku atas kemarahan ini. Sebelumnya tak pernah ada yang mampu mengguncang hatiku seperti yang kamu lakukan padaku. Tak peduli, entah mungkin karena kau adalah yang pertama mengetuk pintu hatiku. Atau memang seperti itulah jalannya.
Jangan salahkan aku bila aku tak kuasa menahan amarah. Satu-satunya, hanya kamu yang mampu mengguncang hatiku, menutup akal sehatku dan membuatku lepas kontrol, atas semua emosiku.
Aku seperti bukan diriku yang biasa bila sudah menyangkut tentang dirimu, tak peduli sesepele atau sekecil apa pun hal itu. Semua yang terjadi pada diriku saat ini, semuanya murni karenamu.
Jangan salahkan aku karena cinta ini. Kebetulan, cinta itu jatuh padamu.
•••
Leevi menghela napas panjang. Rautnya berubah-ubah antara kesal, sedih dan bingung. Sementara di sisinya, sang suami tengah terkapar dengan napas menderu cepat dan mata terpejam serta alis yang bertaut seakan tengah menahan sakit.
Sesuatu di dalam d**a gadis itu berdenyut sakit saat melihat raut wajah laki-laki itu saat mendesiskan namanya setiap beberapa menit sekali dalam tidurnya yang tidak tenang itu. Menggetarkan hati yang selama ini beku bergeming.
"Jadi, nanti saya akan berikan resep atas nama siapa?"
"Hah?"
"Nama suami Anda?"
"A ... hm, eh, sebentar," Leevi bergegas membuka dompet milik suaminya itu.
Pura-pura mengambil uang, padahal dirinya justru tengah mencari-cari kartu identitas milik laki-laki tersebut. Beberapa kartu yang tak diketahuinya entah kartu apa terjatuh saat tangannya yang gemetaran menarik paksa sebuah SIM.
Leevi termenung. Menunggu. Sementara sang dokter sudah pergi sejak beberapa belas menit yang lalu.
Hingga akhirnya laki-laki itu membuka matanya yang terasa direkat kuat menggunakan lem setan. Berat sekali untuk dibuka.
"Azka .... " desah Leevi lega saat mata laki-laki itu bergerak-gerak mencari-cari wajahnya.
Leevi dapat menangkap raut keterkejutan dari wajah laki-laki yang berstatus suaminya itu saat dirinya memanggil namanya. Sebuah senyum merekah pada bibir pucat milik Azka, senyum yang semakin menambah porsi rasa bersalah dalam hati Leevi.
"Kamu harus makan."
Azka terlihat kesusahan memegang sendok. Tangannya bergetar membuat bubur di tangannya tercecer mengenai bajunya. Leevi akhirnya mengambil alih sendok tersebut beserta mangkuk buburnya dari tangan Azka, membersihkan ceceran bubur dengan telaten sebelum kembali mengambil tempat di samping tidur Azka.
Dan menyodorkan sesendok bubur tadi ke mulut Azka yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Ya, Leevi yang tak pernah mengacuhkannya itu kali ini tengah menyuapkan bubur padanya!
Azka membuka mulutnya dengan ragu. Menerima suapan pertama dari Leevi. Benar-benar a very first time baginya untuk menerima perlakuan seperti ini. Ya, mungkin bagi pasangan lainnya di luar sana, ini adalah hal biasa.
Tapi bagi dirinya dan kondisi serta situasi dalam pernikahan mereka tidak bisa disamakan dengan pasangan lain di luar sana. Hingga tanpa sadar setetes air mata tiba-tiba jatuh menuruni pipinya. Bubur yang dimakannya tercekat di kerongkongan hingga membuatnya terbatuk.
"Kamu gak papa?" Leevi buru-buru menyodorkan segelas air sambil sibuk mengusap-usap punggung Azka. Sementara Azka berusaha keras menahan salah tingkah yang seakan mencekik tenggorokannya untuk menelan air.
Keheningan kembali melingkupi mereka saat Azka telah selesai meminum obatnya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, dan sesekali Azka juga sibuk mencuri-curi pandang pada sang istri.
Hingga tiba-tiba saja Leevi menatapnya intens, lalu sebelah tangan gadis itu mulai menyusuri pipi Azka dengan lembut. Menghapus air mata yang tadi sempat mengalir.
Azka mengerjap beberapa kali. Melongo seperti orang bodoh sementara jantungnya memompa dua kali lebih cepat dari biasanya. Merambatkan panas ke wajahnya yang perlahan memerah sewarna tomat matang.
"Ada apa? Apa kepala kamu sakit? Wajah kamu merah .... “ pertanyaan serta sentuhan Leevi di keningnya tak banyak membantu mengurai adrenalin yang terlanjur terpacu.
Perhatian yang sekian tahun didambanya. Dan ketika dia mendapatkannya, Azka berubah menjadi cengeng. Air mata itu kembali menetes. Dia tak tahu apakah saat ini ia tengah bahagia atau justru bersedih.
‘Bila aku tidak jatuh sakit seperti ini, apakah kau takkan pernah memperhatikanku?’ suara batin Azka sedih.
Azka menahan tangan istrinya itu tepat di depan kelopak matanya. Seakan-akan menutupi kenyataan bahwa dirinya tengah dilanda baper. Leevi mengerutkan keningnya mendapati perilaku Azka yang tak biasa itu.
Tak lama berselang, Leevi merasakan telapak tangannya basah tepat di atas mata Azka. Bahu Azka bergetar naik turun dengan isak yang tercekat di tenggorokannya. Dan tangan Leevi yang kini turun. Azka menahannya, namun Leevi memaksa menurunkan tangannya. Rasa perih yang sudah biasa dirasakannya kembali menyentil ulu hati Azka. Ditolak lagi.
Namun takdir kembali memilih untuk berpihak pada Azka. Entah ini adalah hari keberuntungannya atau bukan. Yang jelas saat ini tangan itu telah berpindah melingkari lehernya, dan menepuk-nepuk bahunya pelan. Hangat. Kehangatan yang menjalar dari dekapan itu menyentuh, menyebar dalam hati Azka.
Tangannya gemetaran saat mencoba balas memeluk Leevi. Pelukan pertama dari Leevi, setelah hampir satu tahun pernikahan mereka.
Dan pertama kalinya sejak tujuh tahun dirinya menyadari perasaannya yang berlebih untuk gadis yang kini tengah berada dalam dekapannya itu. Betapa seringnya dirinya mengidamkan hal ini, pelukan yang benar-benar diberikan dengan tulus.
Azka semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Leevi, menghirup dalam-dalam aroma khas bayi, aroma kamomil yang amat disukainya itu. Bercampur dengan rasa asin yang berasal dari air mata yang masuk ke celah bibirnya yang kini tertarik pada kedua ujungnya.
Ya, dia tersenyum dalam tangisan bahagianya. Tak dirasakannya lagi rasa berat di kepalanya akibat demam yang tiba-tiba datang, semua tergantikan oleh rasa bahagia yang seakan membayar semua rasa sakit pada fisik dan hatinya.
Sementara itu, tepat dua langkah di balik dinding kamar itu. Michelle memerhatikan semua itu dengan bibir yang menyunggingkan senyum tipis.
Azka hampir tak pernah sakit. Apalagi demam. Yang diingatnya, Azka dulu hanya pernah demam satu kali. Dan itu tepat setelah Leevi menghilang selama dua hari dan akhirnya diketemukan di sebuah gudang di kota sebelah.
Azka langsung kelimpungan mencari keberadaan gadis tersebut selama dua hari dan langsung pingsan setelah menemukan gadis itu berada di gudang kosong tersebut. Michelle-lah yang akhirnya menghubungi pihak keluarga Leevi serta membawa Azka pulang.
Michelle sekarang semakin mengerti betapa dalamnya perasaan Azka pada Leevi. Apa pun yang berhubungan dengan Leevi adalah motor penggerak seorang Azka. Dia dapat melangkah, berlari, bahkan mati karena gadis itu.
Michelle memilih untuk kembali ke dapur setelah mengawasi Leevi yang merebahkan Azka yang terlelap di tempat tidurnya. Setidaknya ia tak perlu khawatir mengenai siapa yang akan merawat sahabatnya itu. Leevi ternyata tidak seapatis seperti yang selama ini terlihat. Atau mungkin gadis itu sudah mulai membuka hati?
Michelle tertawa kecil sembari tangannya sibuk menyusun bahan makanan yang baru dibelinya di kulkas. Demam karena cemburu? Bukankah hal itu terdengar konyol? Dan setahu Michelle, Azka tidak termasuk dalam kategori pria konyol. Hufth, jatuh cinta benar-benar sesuatu yang menggelikan.
Mampu membuat orang pintar menjadi bodoh.