Laki-laki itu benar-benar berada dalam mood terburuknya sepanjang minggu ini. Siang dan malam kurang tidur karena bekerja dan menyelidiki macam-macam hal.
Dan yang paling membuatnya merasa semakin buruk adalah bahwa istrinya tercinta itu semakin hari semakin acuh saja padanya.
Penyelidikannya membawanya pada hal-hal yang tak terduga, yang bahkan tak terjangkau akal sehatnya. Penyelidikan itu membimbingnya untuk semakin mengenal istrinya, dan masa lalu yang sampai saat ini masih merupakan misteri baginya.
Ya, hal itu adalah kotak Pandora itu. Kata kunci yang membuat istrinya berubah menjadi kacau.
Bila kenyataan itu sama seperti yang ditakutkannya, akan seperti apakah akhir dari kisah ini? Masihkah ia dapat berharap untuk melihat senyum gadis itu—yang bahkan belum sekali pun didapatkannya?
Bila kenyataan itu memang seperti yang ditakutkannya, masihkah ia dapat berharap untuk dapat melindungi istrinya itu? Apa yang harus dilakukannya bila semua memang benar-benar terjadi?
Lamunannya buyar saat dirinya merasakan sesuatu dihamparkan di atas tubuhnya. Laki-laki itu membuka matanya dan mendapati bahwa gadis yang paling dikhawatirkannya itu tengah menghamparkan selimut di atas tubuhnya yang tengah berbaring di sofa ruang tengah.
"Oh, udah pulang?" tanyanya dengan suara agak parau. Gadis itu membeku sesaat, tak tahu harus bersikap seperti apa.
"Maaf aku bikin kamu kebangun."
Laki-laki itu tersenyum lemah, menggeleng pelan lantas duduk dan menepuk sofa di sampingnya.
"Duduklah. Aku kangen denger suara kamu."
Butuh beberapa detik bagi Leevi untuk menuruti kalimat suaminya itu. Lebih karena teringat kejadian sebulan lalu saat petir menyalak-nyalak meningkahi suara hujan dan dirinya yang bersembunyi dalam lemari pakaian milik laki-laki itu.
Sebenarnya ia sangat takut dengan adegan sesudahnya, di mana setelah ciuman itulah ia justru dapat tertidur dengan lelap dalam lindungan lengan laki-laki itu sampai pagi menjelang. Tiga hari lamanya dirinya menyesali hal itu dan merasa amat kotor.
"Pekerjaanmu menyenangkan?" tanya laki-laki itu sambil memainkan pinggir selimut. Berusaha mencairkan suasana sekaligus menenangkan detak jantungnya yang berubah amat cepat saat gadis itu duduk di sampingnya.
Sementara Leevi justru terkesima dengan pertanyaan barusan. Menyadari betapa dirinya sendiri tak pernah menanyakan pertanyaan yang sama pada laki-laki di sampingnya, bahkan untuk satu kali pun.
‘Itu karena dia bukan suamiku yang sesungguhnya!’ batinnya cepat-cepat membela diri.
Leevi mengangguk sendiri membenarkan pikiran sehatnya barusan. Yang sekaligus menjawab pertanyaan laki-laki barusan lewat anggukan yang sama. Ya, dia bahkan amat menikmati pekerjaannya!
"Syukurlah. Setidaknya tidak sia-sia aku menahan rindu setiap hari untuk melihat wajah kamu,” laki-laki itu menoleh ke samping, menatap wajah yang amat dirindukannya itu.
Leevi masih saja setia dengan sikap kakunya, bahkan kali ini gadis itu mulai terlihat seperti patung. Diam, tak bergerak, tak bersuara, tak merespons.
"Kenapa kamu jadi kaku gitu sih? Padahal dulu kamu cerewet banget, loh. Bahkan sejak sebelum kamu kenal denganku."
"Tidak apa-apa,” balas gadis itu cepat.
Laki-laki itu lantas meraih tangan Leevi dan menggenggamnya erat-erat. Hatinya ingin sekali memeluk sang istri demi melepaskan rindu yang seperti hendak meledakkan isi dadanya.
Namun sekuat tenaga diurungkannya karena takut Leevi akan lari. Dirinya saat ini sama sekali masih belum memegang bahkan seujung kuku pun dari simpati gadis itu. Jangankan hati, bahkan simpati pun ia tak punya.
"Ceritakan sesuatu padaku."
Leevi menatap laki-laki itu heran. Laki-laki itu balas menatapnya dengan senyum tersungging.
"Apa yang harus kuceritakan?"
"Apa saja. Pekerjaanmu, temanmu, atau mungkin .... “ laki-laki itu mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Pelanggan kafe?" lanjutnya berusaha terdengar polos.
Leevi menatap laki-laki itu dalam-dalam. Apa maksud pertanyaan itu? Leevi yakin, 2 kata terakhir sebenarnya tidak memiliki maksud secara harfiah. Jangan bilang kalau laki-laki ini sesungguhnya ingin tahu tentang pria yang dicintainya?
Seberapa jauh laki-laki ini tahu?
"Semuanya baik."
"Bagaimana dengan temanmu? Ceritakan sesuatu tentangnya,” Azka masih mencoba.
"Kenapa tiba-tiba ingin tahu?"
"Supaya kamu terus bicara. Aku kangen mendengar suaramu .... “
"Aku nggak bakalan luluh dengan itu!" tukas Leevi, kali ini dengan nada sengit.
"Aku tahu. Sudahlah, ceritakan saja memangnya kenapa sih?" balas laki-laki tersebut tak peduli. Leevi menghela napas dalam-dalam. Laki-laki ini bukan lawan yang mudah!
"Dia teman SMA-ku. Kami sangat akrab sebelumnya, dan kami bertemu lagi di hari ketika aku melihatmu berpelukan dengan seorang wanita .... “ laki-laki itu sudah membuka mulut untuk membela diri, namun gadis itu lebih dulu mengangkat tangannya.
"Aku nggak peduli siapa pun wanita itu. Bukankah tadi kamu sendiri yang nyuruh aku buat cerita?"
Laki-laki itu akhirnya memilih menutup mulutnya sembari mengangguk pasrah. Mengalah. Kapan sih ia akan menang dari istrinya ini?
"Maaf, aku yang salah sayang .... Silakan lanjutkan."
Leevi tertegun sesaat ketika mendengar kata sayang barusan. Rasanya sudah lama sekali tidak mendengar panggilan itu. Mungkin karena itulah dirinya merasa sedikit aneh. Entahlah, mungkin juga karena ini pertama kalinya dirinya mengobrol dengan laki-laki itu dengan tangan yang diremas-remas seperti sekarang.
"Dan aku memutuskan untuk di luar rumah lebih lama. Saat berjalan tak tentu arah itulah, aku menemukan sebuah kafe baru. Masih lengang, dan hanya ada dia dan seorang karyawan paruh waktu di kafenya. Kami lantas mengobrol panjang. Ada banyak hal yang diceritakannya dan dia bahkan memaksaku untuk menginap di rumahnya."
"Aku yakin temanmu itu adalah orang baik," sela laki-laki itu dengan tatapan menilai.
"Tentu saja dia adalah orang yang baik! Dia adalah teman terbaikku sampai kapan pun. Dia selalu membantuku dalam banyak hal .... " Leevi mengalihkan pandang ke arah lain. Gawat, dia hampir saja membocorkan rahasianya sendiri pada laki-laki itu!
"Kamu pasti sayang banget sama dia,” tambah laki-laki itu seakan tak terpengaruh dengan jeda tiba-tiba barusan.
"Tentu saja! Kami dulu bahkan pernah membayangkan betapa menyenangkannya bila kami bertukar peran, bahkan meski hanya untuk satu hari saja. Seandainya dia menjadi aku dan memiliki keluarga yang lengkap dan hangat. Dan aku menjadi dirinya yang bebas dan punya kepercayaan diri yang tinggi.
Kamu tahu, dia sebetulnya tak perlu bekerja! Ketika orang tuanya tewas saat dirinya masih kecil dulu, mereka meninggalkan warisan dengan banyak sekali aset yang takkan pernah habis seumur hidupnya! Sementara yang kumiliki hanyalah keluarga sederhana yang kadang terlalu memusingkan hal-hal yang seharusnya tak perlu mereka pusingkan!"
Laki-laki itu merasa sangat rileks mendengar istrinya bicara sebanyak itu, seperti dulu yang selalu ada dalam ingatannya. Sesuatu yang sudah amat dirindukannya sejak sebulan belakangan ini!
"Syukurlah, kamu memiliki teman yang baik. Jadi, kapan kamu bisa mengenalkannya padaku? Aku ingin berterima kasih padanya karena sudah menjaga istriku yang sedang cemburu dan minggat dari rumah."
"Mungkin setelah aku sudah tidak berstatus sebagai istrimu lagi?" balas Leevi sarkastik disertai sebuah delik. Laki-laki itu tersenyum simpul, berusaha menyembunyikan ketakutannya atas perkataan sang istri barusan. Takut bila hal itu benar-benar menjadi kenyataan.
"Itu berarti kamu nggak akan pernah memperkenalkannya padaku?"
"Kok ngomongnya gitu?" Leevi balas bertanya, gagal paham.
"Karena kamu akan tetap berstatus sebagai istriku, sampai kapan pun!"
"Jangan terlalu yakin! Kita takkan pernah tahu apa yang mungkin terjadi di masa depan!"
"Kalau begitu, kamu sendiri juga jangan terlalu yakin untuk bisa berpisah dariku. Kita nggak pernah tahu apa yang mungkin dapat terjadi di masa depan, bukan begitu sayang?"
Leevi hanya bisa menghela napas jengkel. Kenapa laki-laki di sampingnya ini selalu punya cara dan jawaban-jawaban menyebalkan yang juga mengandung kebenaran untuk membalikkan semua kata-katanya? Keyakinannya?
Tapi Leevi takkan menyerah.
"Apakah kamu akan membantunya bila suatu saat nanti dia kesulitan?"
"Tentu saja. Aku akan melakukan apa saja, aku akan merelakan semua milikku untuknya!"
"Emangnya dia pantas untuk itu?"
"Sudah pasti! Ada apa sih? Dari tadi kamu ngomongnya seakan-akan dia adalah orang jahat?"
Laki-laki itu menggeleng pelan sambil tersenyum. Dia merasa sudah cukup mendapatkan jawaban atas segala hal yang ingin diketahuinya dari sang istri. Sekarang hanya perlu mencari tahu sendiri hal-hal lain yang masih harus dipastikannya. Tentang perempuan bernama Noelle itu.
Laki-laki itu tak hentinya menatap Leevi sepuas-puasnya. Sementara yang ditatap, entah sejak kapan sudah terdiam menahan jengah karena ditatap terus-terusan oleh laki-laki di sampingnya.
Entah sejak kapan, tiba-tiba jemari laki-laki itu sudah berada di keningnya, merapikan rambutnya ke belakang telinganya. Tiap senti permukaan kulit wajah Leevi yang bersentuhan dengan jari laki-laki itu terasa panas seakan tengah bersentuhan dengan api.
"Ngantuk, gak?" tanya laki-laki itu lembut. Gadis itu tersentak, namun tak tahu harus menjawab apa. Sensasi panas yang menjalari kulitnya barusan rupanya masih membiusnya, hingga lupa cara menjawab pertanyaan mudah tersebut.
Laki-laki itu tersenyum simpul sambil menahan kantuk yang memberati matanya. Dengan gerakan pelan, laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Leevi.
Leevi masih belum sadar dengan apa yang tengah terjadi sampai akhirnya ia merasakan sentuhan hangat di keningnya. Matanya tak berkedip selama beberapa detik sampai laki-laki itu melepaskan kecupannya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Leevi.
"Selamat tidur, sayang .... "
Leevi bergegas bangkit dari duduknya untuk menghindari laki-laki itu. Sementara itu, laki-laki itu roboh ke samping, ke tempat yang diduduki istrinya barusan. Leevi terpaku, tak tahu harus berkata apa atau bersikap bagaimana. Jantungnya berdebar tak karuan, sementara wajahnya terasa hangat. Hal yang baru pertama kalinya ia rasakan saat disentuh oleh suaminya itu.
Leevi memeriksa laki-laki itu setelah detak jantungnya kembali normal. Merasa aneh karena laki-laki itu tiba-tiba roboh ke samping. Namun tak ada yang aneh. Leevi menyadari bahwa laki-laki itu hanya sedang tertidur.
Dengan lega, gadis itu lantas memungut selimut yang terjatuh di sisi sofa dan menghamparkannya kembali ke atas tubuh laki-laki itu. Memerhatikan ekspresi tidur laki-laki itu yang begitu polos dan tenang.
•••
Leevi menatap nanar pada gaun yang baru saja diberikan pria itu kepadanya. Ya, pria yang dicintainya itu—bukan suaminya. Gaun dengan warna yang dibencinya namun tak dapat ditolaknya karena yang memberikannya adalah pria itu.
Terlebih lagi ia tak pernah mengenakan gaun yang lebih pendek dari betisnya seumur hidupnya. Gaun ini panjangnya sedikit di atas lutut. Ditambah dengan standar paling pendek untuk bajunya adalah hingga mencapai betis, dia tak dapat membayangkan akan seperti apa risinya nanti saat mengenakan gaun ini.
"Turkuois?!"
Ia masih ingat betul dengan nada terkejut yang keluar dari mulut Noelle saat ia mengeluarkan gaun itu dari dalam paper bag yang bertuliskan nama toko pakaian tempat pria itu membeli gaun tersebut di ruang karyawan, di dalam kafe.
"Kalian pasti sangat cocok. Bagaimana dia tahu warna kesukaanmu adalah turkuois?"
"Ini warna favoritnya dia," balas Leevi. Noelle mengangkat sebelah alisnya dengan heran. Seingatnya, Leevi juga menyukai warna tersebut tapi kenapa raut wajahnya justru menunjukkan sebaliknya?
Leevi akhirnya memutuskan untuk mengenakan gaun tersebut tanpa berpikir macam-macam lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.45 AM, sementara ia harus bertemu dengan pria itu tepat jam 12 siang.
Dengan menyingkirkan rasa ragunya, Leevi mengenakan heels setinggi 7 cm yang sewarna dengan gaunnya lalu melenggang meninggalkan rumah. Pria itu memintanya untuk menemuinya di salah satu pusat pertokoan di kota sebelah.
Leevi berusaha mengingat-ingat kembali cara berjalan menggunakan heels yang pernah dilakukannya sekitar dua tahun lalu, berusaha untuk tidak terlihat t***l dengan heels di kakinya dan menaiki bis yang berhenti di halte, lalu turun di tiga halte berikutnya.
Saat Leevi sedang berjalan sambil mencoba mendapatkan feel-nya lagi meskipun terkadang masih suka berhenti tiba-tiba karena kehilangan keseimbangan.
"Leevina!"
Seruan itu membuatnya harus memalingkan wajah untuk mencari asal suara yang telah sukses membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
Ya, memang pria itulah yang telah memanggilnya. Tersenyum lebar, semakin membuat mood-nya membaik dan melupakan rasa t***l yang sejak tadi ditahannya saat mengenakan heels.
"Hai, maaf aku terlambat," ujar Leevi saat jaraknya hanya tinggal beberapa puluh senti dari pria pujaannya itu. Laki-laki itu menggeleng.
"Siap untuk pergi?"
"Eum ... sebenarnya kamu mau membawaku ke mana, Kak?" Leevi memberanikan diri untuk bertanya.
Memang, pria itu tak mengatakan tempat tujuan mereka. Dan mengenai panggilan itu, Leevi benar-benar tak punya ide harus memanggil dengan sebutan apa. Pak Guru? Sekarang dirinya sudah tidak berstatus sebagai murid lagi, sementara pria itu juga tidak suka dipanggil seperti itu.
Om? Kalau yang ini, justru Leevilah yang risi. Bila ada orang lain yang mendengarnya, tidakkah akan terdengar janggal? Pria itu bahkan tak terlihat seperti om-om. Jadi yang paling memungkinkan hanyalah dengan memanggil kakak.
"Danish," ujar pria itu tiba-tiba sebelum melanjutkan langkah memasuki pintu masuk sebuah restoran. Membuat langkah Leevi ikut terhenti karenanya.
"Maaf?"
"Panggil aku Danish. Tanpa embel-embel apa pun. Mulai hari ini."
"T ... tapi .... “
"Aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun! Nah, sekarang ayo kita masuk!" ajak pria pujaan Leevi yang bernama Danish itu sambil menggandeng tangan Leevi.
Sejurus lamanya Leevi hanya bisa terdiam dengan wajah memucat. Entahlah, seharusnya dia senang dengan hal itu. Tapi ... entahlah. Apakah ini adalah sebuah hal yang baik untuk memanggil pria itu langsung menggunakan namanya tanpa embel-embel apa pun?
Hal itu, bukankah dapat memberikan suatu bukti pada orang lain—mungkin salah satu teman dari istri Danish— atas ... hubungan yang tak jelas ini? Panggilan itu bisa diartikan secara bebas oleh orang lain namun pada kenyataannya mereka justru tak terlihat seperti itu. Seperti teman?
Ya, teman.
Teman macam apa yang diajak ke acara reuni SMA? Sementara semua orang tahu kalau Danish sudah punya istri. Tak mungkin tidak ada yang mengenali istri Danish di antara mereka. Tidakkah Danish memikirkan apa yang akan dikatakan orang-orang mengenai hal ini?
Leevi mendadak tidak siap. Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di depan pilar besar dalam resto yang mampu menyembunyikan tubuhnya dari gerombolan orang di meja yang kini tengah dituju oleh Danish.
Sungguh, ia tak pernah memikirkan konsekuensi atas kenekatannya sampai sejauh ini sebelumnya. Pikirannya dangkal, sesuatu yang sederhana di mana dunia hanya milik berdua. Dan hal itu berarti tak seorang pun yang perlu tahu mengenai dirinya dan Danish. Cukup hanya mereka berdua saja yang menjalaninya saja yang mengetahui hal tersebut.
Terlalu lama berkurung di dalam rumah membuat pikirannya menjadi sempit. Sekaligus menciutkan nyalinya di saat yang bersamaan. Ujung-ujung jari Leevi mulai gemetaran seakan mengekspresikan ketegangan yang tengah ia rasakan.
"Leevina? Ada apa? Kau baik-baik saja?"
Leevi tersentak kaget. Danish rupanya sudah kembali ke pilar tempatnya berdiri mematung. Menatapnya dengan heran.
"A ... apakah tidak apa-apa? Maksudku, kamu seharusnya pergi bersama istrimu dan aku ... kamu tahu kan .... “
"Mereka semua itu, tak seorang pun yang datang ke pernikahanku dulu. Dan terserah mereka mau mengartikan apa melihat kita jalan bareng seperti ini," sahut Danish ringan sambil meraih kedua tangan Leevi dalam genggamannya.
Melemparkan sebuah senyum yang mampu mengalihkan semua keraguan bahkan akal sehat Leevi. Meyakinkannya untuk kembali membalas genggaman jari-jemari Danish yang panjang. Menghilangkan segala kerisauan yang tadi sempat membekukan sekujur tubuhnya.
"Jadi? Bisa kita menemui mereka sekarang?"