Tak terasa sudah hampir sebulan gadis itu bekerja di kafe. Dan frekuensi kedatangan pria itu sedikit bertambah. Bertambah lama jugalah durasinya. Obrolan mereka berjalan mulus. Hanya membicarakan hal-hal yang ringan, kehidupan sehari-hari, topik yang banyak diperbincangkan orang-orang dan masa lalu.
Tanpa menyinggung tentang kehidupan masing-masing. Tak satu pun di antara mereka yang berani mencoba untuk bertanya lebih dahulu. Dan gadis itu, Leevi mulai menikmati semua itu, tanpa memikirkan kemungkinan yang dapat terjadi di kemudian hari.
Dan selama sebulan belakangan itu, Leevi selalu berusaha untuk tiba di rumah tak pernah lewat dari pukul 7 malam. Tak sekali pun ia mau memberi tahu suaminya itu di mana alamat kafe tempat ia bekerja.
Ia tak mau kenyataan bahwa ia telah bersuami sampai diketahui oleh Noelle, temannya sekaligus pemilik kafe itu, terlebih oleh pria yang dicintainya itu. Ia ingin tetap mempertahankan keadaan ini, bahkan kalau mungkin untuk selamanya.
Tak mungkin baginya untuk mundur, tapi lebih mustahil lagi untuk maju. Dia tak sanggup merusak apa pun yang telah tertata hingga saat ini, meskipun jauh di dalam hatinya ia sangat ingin untuk melakukannya.
"Kamu cuma ingin begitu-begitu saja dengannya?" tanya Noelle di suatu kesempatan ketika kafe agak lengang dan pria itu masih belum datang. Sesungguhnya, hari itu memang bukan jadwal kedatangan pria itu.
"Aku nggak pengen menjadi perempuan perusak rumah tangga orang bila melakukan lebih dari ini."
"Tapi kamu sudah melakukannya! Ah, andai kamu dengar apa yang dibicarakan orang-orang di kompleks tentangmu .... “
Leevi menatap tajam pada Noelle. Sementara yang ditatap hanya mengangkat kedua bahunya tak lupa dengan senyum khasnya itu, senyum yang seakan-akan mengatakan: ‘aku tidak peduli pada apa pun’.
"Ya, ya. Aku tahu apa yang hendak kamu katakan. Maksud perkataanku barusan adalah, mau tak mau kamu harus terima dampak buruknya juga. Memang begitulah masyarakat itu, mereka tak selalu dapat menerima apa pun yang kita lakukan. Mereka akan selalu berkomentar! Jadi sebaiknya kau tentukan sikapmu, tujuanmu. Sudah cukup rasanya masa pendekatanmu, gak mungkin kamu benar-benar berharap untuk terus-terusan seperti ini kan?"
Leevi melayangkan pandangannya ke arah lain, ke mana saja selain mata temannya itu. Apakah ia benar-benar sanggup untuk melangkah maju?
"Aku takut dia akan menjauh jika aku melangkah lebih dekat lagi."
"Itu adalah risiko. Kamu harus maju, kita takkan pernah tahu sebelum mencoba!"
Leevi hanya terdiam, meresapi kebenaran kata-kata Noelle yang jauh lebih besar dari keinginannya untuk melakukannya.
"Aku punya ide! Kalau hari ini dia datang, kamu harus maju walaupun cuma satu langkah kecil. Tanyakan sesuatu yang tak berani kamu tanyakan padanya sebelumnya!" Noelle mulai memancing-mancing.
"Dia takkan datang hari ini. Aku tahu, aku yakin!" balas Leevi sambil pura-pura sibuk membersihkan meja counter. Noelle mulai dilanda gemas melihat sikap temannya itu.
"Kalau begitu, kita taruhan! Kalau dia datang, kamu harus tanyakan! Kalau dia tak datang, kau boleh minta apa pun padaku!" tantang Noelle sambil merebut lap dari tangan Leevi.
Sementara matanya mulai awas ke pintu masuk sambil menjaga agar Leevi tetap berada di posisinya saat ini, membelakangi pintu masuk. Firasatnya acap kali bagus kalau sudah menyangkut taruhan, makanya kali ini pun Noelle amat percaya diri dengan menantang Leevi.
"Ayolah, bilang iya atau tidak apa susahnya, sih?" desak Noelle. Sementara Leevi mulai termakan kata-kata Noelle dan akhirnya mengangguk juga. Noelle lantas melemparkan sebuah senyum aneh pada Leevi.
"Oh my God. Congrats me, please? He's comin' here, girl! Ask him now!" ujar Noelle sambil membalikkan tubuh temannya itu ke arah pintu masuk kafe. Bibir Leevi sontak membulat. Pria itu benar-benar sudah berdiri di sana!!
•••
Semakin hari keyakinan yang selama ini kupupuk dengan kesabaran menjadi tak ada artinya lagi saat aku melihat wajahnya yang senantiasa berseri-seri sebanyak empat kali dalam seminggu.
Sementara kerinduanku untuk memandang wajahnya setiap hari semakin lama semakin bertambah besar kurasakan. Kali ini, bila dapat melihat wajahnya sekali-dua kali dalam sehari sudah merupakan keberuntungan yang luar biasa.
Dia tak pernah libur, apalagi cuti. Berangkat lebih pagi dariku dan pulang pun selalu langsung masuk ke dalam kamar. Dan baru akan keluar keesokan harinya untuk kemudian berangkat lebih dulu dariku.
Dia tak pernah menelepon balik bahkan meski hanya untuk satu kali saja. Tak pernah minta jemput atau minta antar. Tidak pernah mengeluhkan apa-apa lagi. Dia terlalu sibuk bahkan hanya sekedar untuk say hello denganku.
Andai saja hari itu Jesse tidak terkilir oleh sepatu hak tinggi laknatnya itu dan jatuh ke arahku. Dan andai saja dia tak ada di tempat dan waktu yang salah itu tentu ceritanya takkan menjadi seperti ini. Aku ingin sekali marah pada Jesse, tapi aku merasa seperti pecundang sejati bila melakukannya.
Aku tak ingin siapa pun ikut campur dalam kehidupan rumah tanggaku yang menyedihkan ini. Ya, aku sudah dapat membayangkan betapa rumitnya bila Jesse menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi pada istriku itu.
Sedang selama sebelas bulan pernikahanku saja, tak terhitung entah sudah berapa kali aku harus bicara dengan suara di balik gerahamku yang terkatup rapat untuk mencegahnya menasihati tingkah istriku yang menurutnya sangat keterlaluan itu.
Bila ada yang harus dinasihati, maka akulah orangnya. Dan sayangnya, aku tak bisa menerima nasihat apa pun tentang keputusanku yang satu ini. Ini adalah masalah keyakinan, dan aku bahkan tak yakin aku dapat terhentikan bahkan bila keyakinan itu sendiri benar-benar sudah hilang dari diriku, dari hatiku.
Aku tak bisa mengabaikan ‘alarm’ yang terus-terusan berbunyi nyaring sebanyak 4 kali dalam seminggu itu. Maka dari itulah, di satu hari yang telah kutandai sebagai salah satu dari 4 hari yang aneh tersebut, kuputuskan untuk mengikutinya diam-diam.
Membuntuti bis yang ditumpanginya, mengamati kafe tempatnya bekerja, mengamati manajer kafe yang badge-nya bertuliskan Noelle. Jadi wanita ini yang sudah memberikan ponsel bekasnya pada Leevi? Teman satu SMA-nya itu? Mereka terlihat akrab, tapi aku menangkap sesuatu yang ganjil dari Noelle itu. Sesuatu yang tak dapat kujelaskan.
Setengah hari mengintai, tepat saat aku sudah hendak pergi sebentar untuk mencari makanan karena tak tahan lapar, saat itulah orang itu datang. Aku benar-benar tak dapat memercayai penglihatanku sendiri sampai akhirnya aku mendekati tempat mereka duduk dan melihatnya melalui zoom DSLR-ku.
Itu memang pria b******k itu! Seketika rasa lapar itu menguap entah ke mana. Kepalaku mendadak kosong, sementara mataku tak hentinya mengawasi mereka dari dalam mobilku dengan bantuan zoom kamera. Aku bahkan tak sadar entah sudah berapa lama waktu berlalu sampai kusadari bahwa orang itu akhirnya pergi tepat di pukul setengah 7 malam.
Istriku lantas pergi setelahnya. Aku tahu, dia akan tiba di rumah tepat pukul 7 malam seperti yang selama ini selalu dilakukannya. Apakah mereka selalu menjadwalkan pertemuan di tempat ini? Seperti tadi?
Dan selalu pulang pukul 7 malam? Apa saja yang mereka bicarakan? Kenapa istriku selalu tersenyum di depan pria sialan itu? Senyuman yang, tak pernah kudapatkan barang sekalipun sejak hari pertama kami memulai pernikahan ini?
Aku hanya bisa menatap bayangan istriku berlalu melewati mobil tempatku duduk mengamati. Aku ingin memanggilnya dan mengajaknya pulang bersama namun pita suaraku mendadak tak berfungsi sehingga aku hanya bisa membuka mulutku dan membisikkan namanya.
Dia tak berbalik sedikit pun, hanya terus melangkah dalam langkah mantap dan memasuki bis yang berhenti di halte. Meninggalkanku di antara kepulan asap dan debu tipis dari knalpot bis, dalam kesepian yang seakan mampu membunuhku detik ini juga.
Kepalaku terasa penuh dan berat. Aku cuma bisa bengong sampai akhirnya tersadar kembali saat lampu kafe dimatikan dan bayangan Noelle melangkah pergi dari kafe. Sudah jam 10 malam. Dengan berat hati kunyalakan mesin mobil dan mulai menyetir pelan-pelan.
Lampu kamarnya masih menyala terang saat aku sampai di depan rumah. Aku bahkan dapat melihat bayangannya yang tengah termangu di depan jendela, menatap keluar dengan tatapan melamun. Persis seperti dirinya yang dulu, hidup dalam angan-angannya sendiri. Dan kali ini, angan-angan itu bisa saja berubah menjadi kenyataan.
Mendadak aku merasa tidak sanggup untuk masuk ke dalam rumahku sendiri. Kukeluarkan ponsel, berusaha mengendalikan jari-jemariku yang gemetaran dan mengetikkan pesan. Bersikap ceria seperti biasanya!
Selalu kuulangi kalimat itu sementara aku merasa tak ingin untuk melakukannya. Inilah pertama kalinya aku tidak pulang ke rumah sejak sebelas bulan masa pernikahan kami. Dan inilah kali pertama aku tak tahu harus ke mana malam ini. Hufth, kelakuanku persis remaja labil yang kabur dari rumah!
Aku mengawasinya yang tengah membaca pesan di ponsel. Dia terlihat biasa saja, tak sedih atau kesal. Hanya membacanya seakan itu adalah pesan spam, lalu melangkah ke tempat tidurnya dan berbaring.
Tak berapa lama, kulihat dia sudah tertidur lelap. Tanganku bergerak sendiri sementara otakku menentang, kembali mengetik pesan. Saat tombol kirim kutekan, aku bahkan tak tahu apa yang barusan kuketik.
Padahal aku mengharapkan setidaknya dia akan menungguku pulang. Dengan raut wajah kesal. Atau mengomeliku lewat pesan singkat. Tapi seperti biasa, dia tetap bersemangat untuk mengacuhkanku.
•••
"Aku nggak tahu kenapa dulu kubiarkan dirimu dimiliki laki-laki lain."
Aku menghentikan kegiatanku mengaduk kopi miliknya. Apa maksud perkataannya?
"Aku bahkan melupakan fakta bahwa aku tidak punya hak untuk mengatakan hal itu,” dia tertawa sumbang, menatap warna gelap pekat dari kopi yang kusuguhkan untuknya.
Sementara itu, otakku berputar cepat berusaha mencari-cari celah untuk lolos dari ujung pembicaraan ini, dari sesuatu yang kutakutkan.
"Kenapa kamu bicara seakan-akan aku benar-benar telah dimiliki laki-laki lain?" balasku defensif.
Dia meraih ponsel di atas meja. Itu memang bukan ponselku, tapi dia memberiku hak untuk menggunakan ponsel miliknya itu padaku. Dan mengacung-acungkannya dengan tatapan khas itu.
Dan senyum itu. Seakan-akan ia mengatakan kesalahanku adalah kesalahan yang disebabkan olehnya. Itu bukan salahku. Tapi juga bukan murni kesalahannya.
"Siapa lagi yang mampu mengirim pesan yang semesra ini selain suamimu?"
"Seseorang yang sudah hampir gila dapat melakukannya. Seperti teman serumahku itu contohnya," balasku kembali defensif.
Memasang wajah tak berdosa sementara di dalam hati mengutuki kebodohanku yang tidak langsung menghapus pesan dari laki-laki sialan itu. Tak cukup hanya tidak pulang, sekarang dia bahkan membawaku pada situasi chaos seperti ini!
"Benarkah?"
"Kamu bisa menganggapnya begitu. Hanya jika kamu memercayaiku," habislah sudah jika dia memilih untuk tidak memercayaiku!!
Dia menatapku lama, dengan tatapan menilainya yang khas itu. Dan satu-satunya cara yang kutahu untuk menghadapinya hanyalah dengan balas menatapnya tanpa kedip sampai dia menyerah.
"Kamu melakukannya dengan cara yang sangat seksi.”
Aku tidak tahu apa yang dia maksud dengan kata seksi yang membuatku merinding barusan. Dan aku tidak peduli dengan maksudnya. Yang kupedulikan adalah dia tidak bertanya-tanya lagi setelah itu.
Sekilas saat aku memalingkan wajah ke arah Noelle, aku dapat melihat senyumnya menghiasi sudut-sudut bibirnya. Sayangnya, aku tak percaya kalau dia benar-benar tersenyum. Entah kenapa, hari ini dia terlihat aneh.