"Kamu salah paham! Semuanya tak seperti yang kau lihat!"
Belum apa-apa, laki-laki itu sudah berseru-seru tidak jelas tepat di depan rumah mereka. Sepertinya laki-laki itu menunggunya, mungkin juga sejak semalam. Gadis itu menandainya dari pakaian laki-laki itu, yang masih sama seperti yang dikenakannya kemarin.
Sang gadis menatap suaminya itu dengan tatapan ragu-ragu yang telah beberapa kali dilatihnya sebelum pulang kembali ke rumah mereka. Itu pun baru dilakukannya setelah 45 kali panggilan tak terjawab dan pesan suara yang tak terhitung banyaknya.
Yang membuatnya memutar otak untuk memanfaatkan situasi ini demi kepentingannya sendiri. Oho, jangan sebut dia perempuan egois, saat ini dirinya hanyalah seorang wanita yang datang kembali ke rumah dengan menguatkan hati setelah apa yang dilihatnya sehari sebelumnya.
"Benarkah?" balasnya dengan nada ragu-ragu.
"Sungguh! Memangnya kapan aku pernah bohong sama kamu?" balas laki-laki itu berusaha meyakinkan gadis itu. Kepanikan dan ketakutan jelas terpancar di wajahnya.
Sementara gadis itu menghela napas panjang, lalu melangkah menuju pintu masuk dan membukanya dengan gerakan pelan seperti yang dilakukan para istri yang dikhianati oleh suami yang mereka cintai.
"Terserah kamu aja. Apa pun yang kamu lakukan, gak ada hubungannya denganku. Bukankah pernikahan ini juga bukan pernikahan sungguhan?" ujar gadis itu sambil berjalan pelan menuju kamarnya yang tertutup. Laki-laki itu buru-buru menyusul gadis itu dan menahan gerakannya yang hendak membuka pintu tersebut.
"Kita belum selesai bicara!"
"Aku sudah! Singkirkan tanganmu sekarang juga!" balas gadis itu mulai tersulut emosi. Seperti yang dipelajarinya di sinetron, dengan mata membeliak dan mulut mengatup rapat. Aktingnya cukup meyakinkan untuk membuat laki-laki itu kelimpungan.
"Semalam kamu tidur di mana?" laki-laki itu tak menggubris kemarahan istrinya. Malah balas menantang. Gadis itu mengambil jeda sejenak sebelum memamerkan senyum miringnya.
"Bukan urusanmu!"
"Leevina! Jawab aku!" laki-laki itu menaikkan nada suaranya setengah oktaf.
Mata gadis itu membelalak kaget. Baru kali ini laki-laki itu berteriak dan menyebut namanya dengan cara menyeramkan seperti itu. Tidak, dia tidak boleh panik! Ini adalah saat penentuan, atau dia justru akan terjebak dengan skenarionya sendiri.
"Aku bahkan tidak menanyakan apa pun bahkan setelah bukti itu terpampang nyata tepat di depan mataku. Lalu sekarang kamu masih sanggup menaikkan suara padaku?”
“Kamu pikir aku bakalan sanggup untuk pulang setelah mendapati bahwa orang yang selama ini bilang sayang padaku, malah memeluk perempuan lain tepat di depan mataku?!" gadis itu mati-matian menahan tawa setelah menuntaskan dialognya barusan. Persis seperti yang ditontonnya di sinetron-sinetron siang hari!
"Sayang .... Lalu kamu pikir aku nggak terluka dengan kamu yang setiap harinya selalu mengingat pria lain?" balasan barusan tak diperhitungkan sama sekali sebelumnya. Tapi lihat saja, dia tidak akan kalah lagi!
"Setidaknya aku bahkan nggak pernah menemuinya atau bahkan berpelukan dengannya barang sekali pun sejak kamu menikahiku. Aku sudah berusaha untuk tidak lebih melukaimu, setiap hari, setiap jam, setiap saat sementara bayangan orang itu tak pernah mau hengkang dari ingatanku!
Kamu tidak pernah mengerti betapa mengerikannya menjalani hidup seperti yang selama ini kujalani. Kamu pikir, aku tidak terluka menjalani semua ini?"
Ada keheningan yang mencekik selama beberapa saat. Baik laki-laki itu maupun gadis itu sama-sama tak bergerak maupun bicara. Gadis itu mulai melupakan taktiknya saat ia meluapkan kemarahannya barusan. Itu bukan dialog rekayasa. Tapi sebuah kebenaran.
Perlahan-lahan, laki-laki itu menggerakkan tangannya untuk memeluk tubuh gadis itu. Gadis itu tersadar dari lamunan, bergerak mundur menghindar dari jangkauan tangan laki-laki itu. Gerakan tangan laki-laki itu langsung terhenti.
"Sayang, maafkan ... maafkan aku! Sungguh, maafkan aku .... “
Kalimat laki-laki itu terpotong saat gadis itu membuka pintu kamarnya, lalu masuk dan menutupnya dengan gerakan cepat. Meninggalkan laki-laki itu termangu sendirian menatap pintu yang tertutup itu sementara rasa bersalah di hatinya seakan menyumbat tenggorokannya. Kalimat istrinya barusan terngiang kembali di telinganya.
‘Aku sudah berusaha untuk tidak lebih melukaimu, setiap hari, setiap jam, setiap saat.’
Kali ini, bolehkah ia sedikit berharap?
Berharap semoga gadis itu mulai berusaha untuk menerimanya?
•••
"Sayang, kamu benar-benar mau pergi?"
Gadis itu mengangguk tanpa menatap suaminya yang berdiri di hadapannya. Sibuk merapikan dan menarik sepasang sepatu dari dalam kotaknya. Sepatu kanvas yang entah sudah berapa lama tak dipakainya. Sementara laki-laki itu gemas sendiri dengan tingkah istrinya yang semakin ajaib itu.
"Kamu nggak harus bekerja. Tidak, kamu nggak perlu bekerja! Aku masih sanggup membiayaimu bahkan meski kamu belanja gila-gilaan setiap hari!"
Gadis itu berhenti tepat di depan pintu depan, lalu berbalik menghadap ke arah suaminya. Kedua mata kucing itu menatap lurus-lurus ke arah laki-laki yang lebih tinggi 25 cm darinya itu selama beberapa saat.
"Kamu nggak punya hak ngelarang-larang aku. Bukannya aku juga nggak pernah melarang kamu melakukan apa pun yang kamu mau di-luar-sana?!" gadis itu memberi tekanan pada tiga kata terakhir. Laki-laki itu memejamkan mata sambil merapatkan rahangnya, mencoba menyabarkan diri.
"Tapi sayang—“
"Cepatlah bersiap-siap. Kamu udah telat masuk kantor!" potong sang istri sebelum pembicaraan menjadi semakin panjang. Mata laki-laki itu liar menatap jam dinding. Gadis itu berkata benar.
"Sayang, kamu bakalan pulang ke rumah ini lagi kan? Aku bakal nganter kamu! Tunggu aku!" laki-laki itu sibuk berlari ke kamarnya sambil meneriakkan beberapa hal yang sama sekali tak ditanggapi sang istri.
"Urus saja urusanmu sendiri!" ketusnya sebelum berbalik dan pergi.
Gadis itu merasa amat bersemangat hari ini.
Kejadian kemarin benar-benar membukakan peluang menuju kebebasannya. Setelah memergoki laki-laki itu sedang berpelukan dengan seorang wanita-entah siapa-di mal, gadis itu memutuskan untuk singgah di sebuah kafe baru yang masih berada di lingkungan sekitar
Sengaja dirinya tak singgah ke food court di mal tersebut karena menghindari pertemuan kembali dengan laki-laki itu. Setelah pemandangan ganjil itu, dia tak dapat membayangkan akan seberapa ganjilnya pertemuannya nanti. Ia sungguh-sungguh tak ingin melihat laki-laki itu, suaminya itu lagi, paling tidak untuk hari itu saja.
Siapa sangka, kafe yang didatanginya kemarin rupanya dijalankan oleh teman baiknya semasa SMA dulu. Mereka mengobrol cukup lama hingga tak terasa waktu telah beranjak sore. Temannya itu lalu menawarinya untuk menginap di rumahnya karena masih ingin terus mengobrol tentang banyak hal.
Malam itu, temannya banyak menceritakan tentang pria itu, pria yang dicintainya itu. Tentang bagaimana seringnya pria itu datang ke kafe tersebut, rumor-rumor yang santer beredar tentang ketidakharmonisan rumah tangganya.
Tentang ketiadaan seorang anak dalam hidup mereka. Tentang masa lalunya yang tak hentinya mengejar-ngejar pria itu. Serta sedikit suntikan untuk mendapatkan kembali cinta lama yang tak kunjung pupus tersebut.
Tanpa sekali pun menyinggung tentang dirinya, tentang pernikahannya.
Gadis itu hanya menduga-duga, mungkin saja temannya ini memang tidak mengetahui sama sekali tentang status KTP-nya yang sudah tidak tercetak sebagai lajang lagi.
Dan hari ini, ia akan mulai bekerja di kafe itu, dengan mengusung kembali harapan lama yang tak kunjung padam. Harapan itu kembali bersemi dan kali ini justru berkembang semakin besar. Pagi ini, pria itu datang ke kafe dan duduk di sudut yang paling disukainya.
Tepat seperti yang dideskripsikan temannya itu. Dan saat ini ia tengah melangkah pelan menuju meja itu, dengan jantung yang tak hentinya berdetak dengan kencang.
Pria itu menatapnya terpana. Tak menggubris kopi yang terhidang, malah merentak berdiri dengan ekspresi seperti habis melihat hantu.
"Kamu ... baik-baik saja?" tanya laki-laki itu setelah beberapa saat berlalu dalam suasana hening yang ganjil itu.
"Lama tidak bertemu. Bagaimana denganmu sendiri?" balas gadis itu dengan suara yang diusahakan untuk tidak bergetar karena haru yang menyesakkan paru-parunya.
Mereka bertatapan lama selama beberapa saat. Manajer kafe itu tersenyum simpul di balik meja kasir, menyaksikan semua yang terjadi setelah itu dengan perasaan lega yang ganjil. Pembicaraan kedua orang itu terlihat mengalir dengan lancar.
***
Laki-laki itu merasa amat heran dengan perilaku istrinya itu. Semua dimulai sejak ia 'kepergok' tengah memeluk seorang wanita di mal yang sialnya justru juga sedang dikunjungi sang istri.
Istrinya berubah menjadi ajaib dan ia tak hentinya khawatir dengan hal itu. Hal ini seperti sebuah firasat buruk, dan ia merasa gadis itu tengah berusaha mencari celah. Celah untuk meninggalkannya.
Coba saja lihat betapa berbedanya sikap istrinya saat ini. Tak peduli betapa lelahnya, laki-laki itu selalu dapat melihat pipi sang istri yang berseri-seri dan aura jatuh cinta yang dulu pernah akrab diketahuinya.
Memang, semua itu bukan ditujukan untuknya, tak peduli dulu atau sekarang. Dan hal itulah yang menambah kecemasannya. Bayang wajah pria sialan itu menari-nari di benaknya lengkap disertai ilusi-ilusi lainnya tentang tak ada yang tak mungkin di dunia ini.
Bagaimana jika kalimat sang istri waktu itu benar adanya? Tentu saja ia sangat berharap hal itu benar-benar dapat terjadi padanya, suatu saat nanti—entah kapan— istrinya itu benar-benar akan menatap dirinya. Tanpa disesaki bayang-bayang orang lain lagi.
"Oh, kamu sudah pulang?"
Sapaan itu membuyarkan lamunannya. Ia melirik pada istrinya yang barusan menegurnya, berusaha untuk tersenyum sementara ia sendiri sedang merinding.
Istrinya itu tidak pernah menegur lebih dulu sebelumnya. Tak peduli betapa pelik atau seberapa butuhnya ia dengan suaminya, gadis itu tak pernah menegurnya lebih dulu. Keanehan ini, apakah ini tanda-tanda bahwa ia memang harus berhati-hati?
"Sayang, maaf aku tak pernah sempat menjemputmu. Bisakah beritahu aku alamat tempat kerjamu?"
Gadis itu menggeleng tegas.
"Kamu nggak perlu menjemputku. Aku bisa pulang sendiri."
"A ... aku juga berpikir begitu, tapi sif kerjamu tampaknya semakin larut. Aku khawatir terjadi sesuatu .... “
"Takkan terjadi apa-apa. Beberapa hari lagi aku akan pulang lebih dulu darimu seperti sebelumnya. Untuk beberapa hari ini, aku terpaksa pulang telat karena menggantikan sif karyawan lain," potong gadis itu sebelum pembicaraan menjadi semakin panjang.
Sementara tangannya sedang sibuk mencari-cari sesuatu di tasnya. Sekilas, laki-laki itu menangkap bayangan sebuah benda.
Sejak kapan istrinya itu punya ponsel android?
Tanpa pikir panjang, laki-laki itu segera mengambil ponsel tersebut dari atas meja dan memeriksa kontaknya secepat kilat.
"Hei, ngapain sih?! Balikin ponselku!"
"Sebentar, aku sedang memasukkan nomor ponselku. Kamu harus beritahu kalau pulang telat, minta jemput, diikuti orang aneh atau apa saja!" ia bicara sementara matanya tak lepas dari layar ponsel sang istri.
Sejauh ini tak ada tanda-tanda buruk. Hanya berisi tiga kontak saja, seseorang yang bernama Noelle, kontak atas nama sang istri serta kontaknya. Atau mungkin belum?
Laki-laki itu tak tahu bahwa benda yang tengah dicari-cari istrinya itu adalah sebuah kartu nama milik pria itu. Pria yang tak pernah hengkang dari ingatan gadis itu. Gadis itu menyembunyikannya saat suaminya sibuk memeriksa ponselnya.
"Ponselmu kelihatan sedikit tua. Kenapa nggak bilang sama aku kalau ingin punya ponsel baru?"
"Itu punya Noelle. Dia sudah punya ponsel baru dan dia memberikan ponsel android lamanya begitu saja tanpa bertanya aku menginginkannya atau tidak."
Bless!!
Sebuah pisau imajiner menggores ulu hati laki-laki itu. Seharusnya ia melakukan hal yang sama seperti Noelle lakukan itu, tapi ia terlalu takut kalau hal itu akan berbalik menjadi bumerang terhadap dirinya sendiri. Bagaimana bila gadis itu menggunakannya untuk menghubungi pria itu?
"Aku akan membelikanmu ponsel android baru."
"Tak perlu. Ini sudah lebih dari cukup,” balas gadis itu sambil memasuki kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat. Tak memberi kesempatan untuk laki-laki itu mengucapkan selamat malam, atau ciuman selamat tidur.
"Kamu salah paham! Semuanya tak seperti yang kau lihat!"
Belum apa-apa, laki-laki itu sudah berseru-seru tidak jelas tepat di depan rumah mereka. Sepertinya laki-laki itu menunggunya, mungkin juga sejak semalam. Gadis itu menandainya dari pakaian laki-laki itu, yang masih sama seperti yang dikenakannya kemarin.
Sang gadis menatap suaminya itu dengan tatapan ragu-ragu yang telah beberapa kali dilatihnya sebelum pulang kembali ke rumah mereka. Itu pun baru dilakukannya setelah 45 kali panggilan tak terjawab dan pesan suara yang tak terhitung banyaknya.
Yang membuatnya memutar otak untuk memanfaatkan situasi ini demi kepentingannya sendiri. Oho, jangan sebut dia perempuan egois, saat ini dirinya hanyalah seorang wanita yang datang kembali ke rumah dengan menguatkan hati setelah apa yang dilihatnya sehari sebelumnya.
"Benarkah?" balasnya dengan nada ragu-ragu.
"Sungguh! Memangnya kapan aku pernah bohong sama kamu?" balas laki-laki itu berusaha meyakinkan gadis itu. Kepanikan dan ketakutan jelas terpancar di wajahnya.
Sementara gadis itu menghela napas panjang, lalu melangkah menuju pintu masuk dan membukanya dengan gerakan pelan seperti yang dilakukan para istri yang dikhianati oleh suami yang mereka cintai.
"Terserah kamu aja. Apa pun yang kamu lakukan, gak ada hubungannya denganku. Bukankah pernikahan ini juga bukan pernikahan sungguhan?" ujar gadis itu sambil berjalan pelan menuju kamarnya yang tertutup. Laki-laki itu buru-buru menyusul gadis itu dan menahan gerakannya yang hendak membuka pintu tersebut.
"Kita belum selesai bicara!"
"Aku sudah! Singkirkan tanganmu sekarang juga!" balas gadis itu mulai tersulut emosi. Seperti yang dipelajarinya di sinetron, dengan mata membeliak dan mulut mengatup rapat. Aktingnya cukup meyakinkan untuk membuat laki-laki itu kelimpungan.
"Semalam kamu tidur di mana?" laki-laki itu tak menggubris kemarahan istrinya. Malah balas menantang. Gadis itu mengambil jeda sejenak sebelum memamerkan senyum miringnya.
"Bukan urusanmu!"
"Leevina! Jawab aku!" laki-laki itu menaikkan nada suaranya setengah oktaf.
Mata gadis itu membelalak kaget. Baru kali ini laki-laki itu berteriak dan menyebut namanya dengan cara menyeramkan seperti itu. Tidak, dia tidak boleh panik! Ini adalah saat penentuan, atau dia justru akan terjebak dengan skenarionya sendiri.
"Aku bahkan tidak menanyakan apa pun bahkan setelah bukti itu terpampang nyata tepat di depan mataku. Lalu sekarang kamu masih sanggup menaikkan suara padaku?”
“Kamu pikir aku bakalan sanggup untuk pulang setelah mendapati bahwa orang yang selama ini bilang sayang padaku, malah memeluk perempuan lain tepat di depan mataku?!" gadis itu mati-matian menahan tawa setelah menuntaskan dialognya barusan. Persis seperti yang ditontonnya di sinetron-sinetron siang hari!
"Sayang .... Lalu kamu pikir aku nggak terluka dengan kamu yang setiap harinya selalu mengingat pria lain?" balasan barusan tak diperhitungkan sama sekali sebelumnya. Tapi lihat saja, dia tidak akan kalah lagi!
"Setidaknya aku bahkan nggak pernah menemuinya atau bahkan berpelukan dengannya barang sekali pun sejak kamu menikahiku. Aku sudah berusaha untuk tidak lebih melukaimu, setiap hari, setiap jam, setiap saat sementara bayangan orang itu tak pernah mau hengkang dari ingatanku!
Kamu tidak pernah mengerti betapa mengerikannya menjalani hidup seperti yang selama ini kujalani. Kamu pikir, aku tidak terluka menjalani semua ini?"
Ada keheningan yang mencekik selama beberapa saat. Baik laki-laki itu maupun gadis itu sama-sama tak bergerak maupun bicara. Gadis itu mulai melupakan taktiknya saat ia meluapkan kemarahannya barusan. Itu bukan dialog rekayasa. Tapi sebuah kebenaran.
Perlahan-lahan, laki-laki itu menggerakkan tangannya untuk memeluk tubuh gadis itu. Gadis itu tersadar dari lamunan, bergerak mundur menghindar dari jangkauan tangan laki-laki itu. Gerakan tangan laki-laki itu langsung terhenti.
"Sayang, maafkan ... maafkan aku! Sungguh, maafkan aku .... “
Kalimat laki-laki itu terpotong saat gadis itu membuka pintu kamarnya, lalu masuk dan menutupnya dengan gerakan cepat. Meninggalkan laki-laki itu termangu sendirian menatap pintu yang tertutup itu sementara rasa bersalah di hatinya seakan menyumbat tenggorokannya. Kalimat istrinya barusan terngiang kembali di telinganya.
‘Aku sudah berusaha untuk tidak lebih melukaimu, setiap hari, setiap jam, setiap saat.’
Kali ini, bolehkah ia sedikit berharap?
Berharap semoga gadis itu mulai berusaha untuk menerimanya?
•••
"Sayang, kamu benar-benar mau pergi?"
Gadis itu mengangguk tanpa menatap suaminya yang berdiri di hadapannya. Sibuk merapikan dan menarik sepasang sepatu dari dalam kotaknya. Sepatu kanvas yang entah sudah berapa lama tak dipakainya. Sementara laki-laki itu gemas sendiri dengan tingkah istrinya yang semakin ajaib itu.
"Kamu nggak harus bekerja. Tidak, kamu nggak perlu bekerja! Aku masih sanggup membiayaimu bahkan meski kamu belanja gila-gilaan setiap hari!"
Gadis itu berhenti tepat di depan pintu depan, lalu berbalik menghadap ke arah suaminya. Kedua mata kucing itu menatap lurus-lurus ke arah laki-laki yang lebih tinggi 25 cm darinya itu selama beberapa saat.
"Kamu nggak punya hak ngelarang-larang aku. Bukannya aku juga nggak pernah melarang kamu melakukan apa pun yang kamu mau di-luar-sana?!" gadis itu memberi tekanan pada tiga kata terakhir. Laki-laki itu memejamkan mata sambil merapatkan rahangnya, mencoba menyabarkan diri.
"Tapi sayang—“
"Cepatlah bersiap-siap. Kamu udah telat masuk kantor!" potong sang istri sebelum pembicaraan menjadi semakin panjang. Mata laki-laki itu liar menatap jam dinding. Gadis itu berkata benar.
"Sayang, kamu bakalan pulang ke rumah ini lagi kan? Aku bakal nganter kamu! Tunggu aku!" laki-laki itu sibuk berlari ke kamarnya sambil meneriakkan beberapa hal yang sama sekali tak ditanggapi sang istri.
"Urus saja urusanmu sendiri!" ketusnya sebelum berbalik dan pergi.
Gadis itu merasa amat bersemangat hari ini.
Kejadian kemarin benar-benar membukakan peluang menuju kebebasannya. Setelah memergoki laki-laki itu sedang berpelukan dengan seorang wanita-entah siapa-di mal, gadis itu memutuskan untuk singgah di sebuah kafe baru yang masih berada di lingkungan sekitar
Sengaja dirinya tak singgah ke food court di mal tersebut karena menghindari pertemuan kembali dengan laki-laki itu. Setelah pemandangan ganjil itu, dia tak dapat membayangkan akan seberapa ganjilnya pertemuannya nanti. Ia sungguh-sungguh tak ingin melihat laki-laki itu, suaminya itu lagi, paling tidak untuk hari itu saja.
Siapa sangka, kafe yang didatanginya kemarin rupanya dijalankan oleh teman baiknya semasa SMA dulu. Mereka mengobrol cukup lama hingga tak terasa waktu telah beranjak sore. Temannya itu lalu menawarinya untuk menginap di rumahnya karena masih ingin terus mengobrol tentang banyak hal.
Malam itu, temannya banyak menceritakan tentang pria itu, pria yang dicintainya itu. Tentang bagaimana seringnya pria itu datang ke kafe tersebut, rumor-rumor yang santer beredar tentang ketidakharmonisan rumah tangganya.
Tentang ketiadaan seorang anak dalam hidup mereka. Tentang masa lalunya yang tak hentinya mengejar-ngejar pria itu. Serta sedikit suntikan untuk mendapatkan kembali cinta lama yang tak kunjung pupus tersebut.
Tanpa sekali pun menyinggung tentang dirinya, tentang pernikahannya.
Gadis itu hanya menduga-duga, mungkin saja temannya ini memang tidak mengetahui sama sekali tentang status KTP-nya yang sudah tidak tercetak sebagai lajang lagi.
Dan hari ini, ia akan mulai bekerja di kafe itu, dengan mengusung kembali harapan lama yang tak kunjung padam. Harapan itu kembali bersemi dan kali ini justru berkembang semakin besar. Pagi ini, pria itu datang ke kafe dan duduk di sudut yang paling disukainya.
Tepat seperti yang dideskripsikan temannya itu. Dan saat ini ia tengah melangkah pelan menuju meja itu, dengan jantung yang tak hentinya berdetak dengan kencang.
Pria itu menatapnya terpana. Tak menggubris kopi yang terhidang, malah merentak berdiri dengan ekspresi seperti habis melihat hantu.
"Kamu ... baik-baik saja?" tanya laki-laki itu setelah beberapa saat berlalu dalam suasana hening yang ganjil itu.
"Lama tidak bertemu. Bagaimana denganmu sendiri?" balas gadis itu dengan suara yang diusahakan untuk tidak bergetar karena haru yang menyesakkan paru-parunya.
Mereka bertatapan lama selama beberapa saat. Manajer kafe itu tersenyum simpul di balik meja kasir, menyaksikan semua yang terjadi setelah itu dengan perasaan lega yang ganjil. Pembicaraan kedua orang itu terlihat mengalir dengan lancar.
***
Laki-laki itu merasa amat heran dengan perilaku istrinya itu. Semua dimulai sejak ia 'kepergok' tengah memeluk seorang wanita di mal yang sialnya justru juga sedang dikunjungi sang istri.
Istrinya berubah menjadi ajaib dan ia tak hentinya khawatir dengan hal itu. Hal ini seperti sebuah firasat buruk, dan ia merasa gadis itu tengah berusaha mencari celah. Celah untuk meninggalkannya.
Coba saja lihat betapa berbedanya sikap istrinya saat ini. Tak peduli betapa lelahnya, laki-laki itu selalu dapat melihat pipi sang istri yang berseri-seri dan aura jatuh cinta yang dulu pernah akrab diketahuinya.
Memang, semua itu bukan ditujukan untuknya, tak peduli dulu atau sekarang. Dan hal itulah yang menambah kecemasannya. Bayang wajah pria sialan itu menari-nari di benaknya lengkap disertai ilusi-ilusi lainnya tentang tak ada yang tak mungkin di dunia ini.
Bagaimana jika kalimat sang istri waktu itu benar adanya? Tentu saja ia sangat berharap hal itu benar-benar dapat terjadi padanya, suatu saat nanti—entah kapan— istrinya itu benar-benar akan menatap dirinya. Tanpa disesaki bayang-bayang orang lain lagi.
"Oh, kamu sudah pulang?"
Sapaan itu membuyarkan lamunannya. Ia melirik pada istrinya yang barusan menegurnya, berusaha untuk tersenyum sementara ia sendiri sedang merinding.
Istrinya itu tidak pernah menegur lebih dulu sebelumnya. Tak peduli betapa pelik atau seberapa butuhnya ia dengan suaminya, gadis itu tak pernah menegurnya lebih dulu. Keanehan ini, apakah ini tanda-tanda bahwa ia memang harus berhati-hati?
"Sayang, maaf aku tak pernah sempat menjemputmu. Bisakah beritahu aku alamat tempat kerjamu?"
Gadis itu menggeleng tegas.
"Kamu nggak perlu menjemputku. Aku bisa pulang sendiri."
"A ... aku juga berpikir begitu, tapi sif kerjamu tampaknya semakin larut. Aku khawatir terjadi sesuatu .... “
"Takkan terjadi apa-apa. Beberapa hari lagi aku akan pulang lebih dulu darimu seperti sebelumnya. Untuk beberapa hari ini, aku terpaksa pulang telat karena menggantikan sif karyawan lain," potong gadis itu sebelum pembicaraan menjadi semakin panjang.
Sementara tangannya sedang sibuk mencari-cari sesuatu di tasnya. Sekilas, laki-laki itu menangkap bayangan sebuah benda.
Sejak kapan istrinya itu punya ponsel android?
Tanpa pikir panjang, laki-laki itu segera mengambil ponsel tersebut dari atas meja dan memeriksa kontaknya secepat kilat.
"Hei, ngapain sih?! Balikin ponselku!"
"Sebentar, aku sedang memasukkan nomor ponselku. Kamu harus beritahu kalau pulang telat, minta jemput, diikuti orang aneh atau apa saja!" ia bicara sementara matanya tak lepas dari layar ponsel sang istri.
Sejauh ini tak ada tanda-tanda buruk. Hanya berisi tiga kontak saja, seseorang yang bernama Noelle, kontak atas nama sang istri serta kontaknya. Atau mungkin belum?
Laki-laki itu tak tahu bahwa benda yang tengah dicari-cari istrinya itu adalah sebuah kartu nama milik pria itu. Pria yang tak pernah hengkang dari ingatan gadis itu. Gadis itu menyembunyikannya saat suaminya sibuk memeriksa ponselnya.
"Ponselmu kelihatan sedikit tua. Kenapa nggak bilang sama aku kalau ingin punya ponsel baru?"
"Itu punya Noelle. Dia sudah punya ponsel baru dan dia memberikan ponsel android lamanya begitu saja tanpa bertanya aku menginginkannya atau tidak."
Bless!!
Sebuah pisau imajiner menggores ulu hati laki-laki itu. Seharusnya ia melakukan hal yang sama seperti Noelle lakukan itu, tapi ia terlalu takut kalau hal itu akan berbalik menjadi bumerang terhadap dirinya sendiri. Bagaimana bila gadis itu menggunakannya untuk menghubungi pria itu?
"Aku akan membelikanmu ponsel android baru."
"Tak perlu. Ini sudah lebih dari cukup,” balas gadis itu sambil memasuki kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat. Tak memberi kesempatan untuk laki-laki itu mengucapkan selamat malam, atau ciuman selamat tidur.