Langit mendung yang telah beberapa waktu lamanya menggantung di langit akhirnya mulai meluruhkan beban jarum-jarum berkahnya ke bumi yang menanti dengan penuh harap. Hujan yang sama, yang juga turun pada orang-orang yang sama sekali tak mengharapkan kehadirannya.
Gadis itu mungkin adalah orang yang paling membenci hujan lebih dari siapa pun yang pernah membenci hujan. Dengan tatapan kesal campur takut, gadis itu menatap butiran-butiran jarum bening itu turun dengan penuh kebencian.
Melirik jam dinding, mengutuki kesendiriannya. Michelle si waria itu datang tadi pagi untuk membereskan rumah dan menyiapkan makanan dan sudah pergi beberapa puluh menit lalu. Sementara laki-laki itu baru akan pulang ketika matahari sudah menghilang di kaki langit.
Dengan kesal, gadis itu memilih untuk menutup seluruh gorden di rumah itu lalu berniat menyalakan tv dengan volume 3 angka di bawah maksimal. Dia takkan mendengar suara hujan yang menyebalkan itu lagi.
Baru saja gadis itu hendak menyalakan tv, warna putih dari kilat yang menyambar membuat gadis itu mengurungkan niatnya. Guntur menyalak bersahut-sahutan, dan klimaksnya beberapa detik kemudian listrik pun padam. Gadis itu mulai didera kecemasan. Kenapa ia harus mengalami hal sesial ini?
Di luar, suara hujan mulai deras terdengar. Kecemasan itu mulai berubah menjadi ketakutan saat bayangan-bayangan dari masa lalunya mulai berkeliaran di kepalanya. Semakin lama semakin terlihat nyata dan menyakitkan. Hal itu berbanding lurus dengan bunyi hujan yang makin menggila. Dia sungguh-sungguh amat membenci hujan!
Tak tahu harus melakukan apa, mata gadis itu mulai liar menjelajahi sekelilingnya berharap ada sesuatu yang dapat membantunya untuk mengalihkan kecemasannya. Matanya terhenti tepat pada sebuah kamar dengan pintu yang terbuka di lantai 2.
Dia hampir tak pernah melangkahkan kaki ke lantai 2 lebih dikarenakan kamar laki-laki yang saat ini masih berstatus sebagai suaminya itu berada di sana.
Dia hanya berusaha untuk menjaga diri, karena itulah dia lebih banyak mengurung dirinya di kamarnya yang terletak di lantai bawah.
Apakah orang itu sudah pulang? Kenapa ia bisa tidak tahu? Tapi syukurlah. Dia akan melakukan sesuatu—bertengkar sekalipun— untuk membuat laki-laki itu menemaninya sampai hujan reda. Ia benci melewatkan waktu sendirian di tengah hujan berpetir seperti ini.
Dengan pikiran seperti itu, gadis itu mengepalkan tangannya yang gemetaran dan mendingin sejak hujan mulai turun tadi, lalu melangkahkan kakinya meniti anak tangga.
Tak ada siapa-siapa di kamar itu. Sepertinya laki-laki itu masih belum pulang, dan mungkin saja tadi pagi dia lupa menutup pintu kamarnya karena terburu-buru pergi bekerja.
Gadis itu bahkan melihat selimut yang acak-acakan di atas tempat tidur ukuran dobel itu. Sehelai celana panjang tersampir di kursi yang menghadap ke jendela kaca yang terbuka.
Keseluruhan kamar ini agak sedikit berantakan. Gadis itu ingat dulu Michelle pernah dibentak oleh laki-laki itu karena telah dengan berani-beraninya masuk dan membereskan kamar milik laki-laki itu. Itulah pertama kalinya gadis itu melihat dan mendengar laki-laki itu marah.
Telinga gadis itu menangkap suara yang identik dengan pertemuan antara hujan dengan permukaan benda keras. Alisnya mengernyit. ‘Ini tidak seperti suara hujan yang menampar kaca’ batinnya sembari menolehkan pandangan ke sekitar.
~~~
Hujan deras masih terus mengguyur hingga laki-laki itu sampai di rumah. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Laki-laki itu membuka pintu dan terheran-heran mendapati keadaan rumah yang gelap gulita. Setelah melongok ke rumah-rumah lain, laki-laki itu baru sadar kalau listrik di kompleks itu memang sedang padam semua.
Sambil menggigil menahan dingin, laki-laki itu menyalakan lampu senter ponselnya dan melangkah masuk.
"Sayaaang! Aku pulang. Kau baik-baik sajaaa?"
Hanya keheningan yang menjawab panggilan laki-laki itu.
Pintu kamar gadis itu tertutup rapat. Laki-laki itu tersenyum sedih, berusaha menghibur dirinya dengan mengatakan bahwa mungkin saja gadis itu sudah tidur.
Dia lantas melangkah menuju kamarnya di lantai 2, mandi dengan diterangi cahaya dari senter ponsel. Setelah mandi, laki-laki itu menyambar sembarangan satu dari puluhan pakaian dalamnya, mengenakan celana panjang yang tersampir di punggung kursi dan mengerang kedinginan saat tak mendapati satu pun baju kering yang bisa dikenakannya secepatnya.
Laki-laki itu lantas membuka pintu lemari pakaiannya. Alangkah kagetnya dia mendapati pintu tersebut macet. Padahal tadi pagi masih baik-baik saja. Dengan menahan kesal dan dingin, laki-laki itu menarik pintu itu sampai terbuka. Baru saja dia hendak mengambil salah satu kaosnya, pintu lemari tiba-tiba menutup sendiri.
Bulu kuduknya meremang seketika. Sekilas laki-laki itu melihat kelebatan lengan yang rasanya amat familier itu. Dengan memberanikan diri, laki-laki itu kembali mencoba membuka pintu tersebut. Ia merasakan adanya tarikan dari dalam sana yang membuatnya tak bisa membuka pintu. Sebuah prasangka melintas di benaknya.
"Sayang? Sayang, kau di dalam?" panggilnya setengah tidak yakin. Tak ada sahutan, hanya suara dengusan khas orang yang sedang menangis saja yang terdengar. Dan pintu itu masih tetap tak dapat dibuka.
"Sayang, kau kenapa? Kau menangis?"
"Berisik! Jangan ganggu aku!" samar-samar suara gadis itu terdengar serak dari dalam lemari. Laki-laki itu menghela napas, campuran antara lega sekaligus heran. Dia terdiam sejenak, berpikir.
"Aku bukannya mau mengganggu kamu atau menakut-nakutimu. Kamu tahu, pegangan lemari itu terbuat dari besi kuningan yang dapat tersambar petir dan membakar habis lemari itu. Aku sudah hendak menggantinya, tapi masih belum sempat. Sayang, kilatnya sepertinya akan menyambar, lo."
Brakk!
Pintu lemari menjeblak terbuka dan gadis itu merangkak tersaruk-saruk keluar dari persembunyiannya. Napasnya tersengal-sengal dan secara keseluruhan, tampilan gadis itu amat kacau.
Laki-laki itu sampai lupa dengan rasa dingin yang mengganggunya, bergegas meletakkan ponsel sembarangan sambil duduk di depan gadis itu. Kecemasan mulai menggerogoti batinnya kala gadis itu terduduk sambil mendekap dirinya sendiri sementara tubuhnya menggigil hebat. Perlahan-lahan laki-laki itu mengulurkan tangannya.
"Sayang? Ada apa? Apa yang terjadi?" tanyanya setengah berbisik.
Kepala gadis itu bergerak dalam gerakan patah-patah, menatap laki-laki di hadapannya dengan tatapan nanar sementara kedua matanya tak hentinya mengucurkan air.
"K ... kau sudah pu ... pulang?" pertanyaan bernada sambutan itu menggoreskan sebuah rasa pedih di hati laki-laki itu. Gadis itu mulai kacau lagi!
"Ma, maafkan aku. Tadinya aku hendak menutup jendelamu yang terbuka. Hujannya ... deras ... aku ... maaf, aku akan kembali ke bawah .... " gadis itu berusaha berdiri dengan susah payah.
Laki-laki itu ikut berdiri dengan banyak prasangka menghiasi benaknya. Namun semuanya hilang saat dirinya melihat bayangan gadis itu samar-samar mulai oleng. Tanpa pikir panjang dia langsung menangkap tubuh gadis itu, lalu membawa kepala gadis itu ke dadanya.
Isak yang sejak tadi berusaha ditahan oleh gadis itu luluh saat merasakan kehangatan yang menguar dari tubuh yang melindunginya dan lengan yang menahan agar dirinya tetap berada dalam keadaan tersebut.
Perlahan gadis itu merasakan tangan besar laki-laki itu membelai-belai rambutnya dan tangan lainnya mengusap-usap punggungnya. Menahan kepalanya dengan meletakkan dagunya di ubun-ubun gadis itu. Rapat mengunci tubuh gadis itu dalam pelukannya.
Gigil gadis itu makin keras terasa. Laki-laki itu dapat merasakan wajah dan tangan istrinya itu terasa dingin di kulitnya. Perlahan-lahan laki-laki itu melepaskan pelukannya, lalu tanpa disangka-sangka dia membopong gadis itu dan membawanya ke tempat tidur. Selagi laki-laki itu mencari-cari selimutnya, tangan dingin gadis itu meraba-raba permukaan tempat duduknya.
Kesadaran gadis itu perlahan kembali menyeruak bersamaan dengan sebuah selimut yang dihamparkan oleh laki-laki itu di atas tubuhnya. Mata gadis itu membulat panik saat laki-laki itu juga ikut naik ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut.
"A ... apa yang kau lakukan?" tanya gadis itu dengan suara bergetar. Ia berusaha untuk kabur dari situasi itu, namun tangannya terlanjur ditahan oleh laki-laki itu. Ia baru sadar kalau laki-laki yang dipeluknya tadi tengah bertelanjang d**a.
"Apa yang kulakukan? Kamu pikir gara-gara siapa aku kedinginan seperti ini? Sekarang kamu malah mau lari?" balas laki-laki itu dengan nada santai yang semakin menambah kepanikan dalam diri gadis itu.
Tangannya yang digenggam laki-laki itu semakin dingin dan gemetaran seakan mengekspresikan ketakutannya. Gadis itu sudah menarik tangannya untuk lepas dari genggaman kuat laki-laki itu saat kilat kembali membayang.
Laki-laki itu cepat-cepat merengkuh kepala gadis itu ke dadanya dan menutup kedua telinga gadis itu rapat-rapat saat petir menyalak setelah itu. Untuk sesaat gadis itu sampai lupa dengan rasa takutnya pada hujan.
"Jangan berpikiran kotor dulu. Kamu lihat situasinya, aku sudah terlalu kedinginan untuk kembali mengambil baju sementara kamu sendiri takut dengan hujan dan petir.
Dan aku tidak yakin kamu bisa turun dengan selamat dalam kegelapan seperti ini. Jadi sebagai suami yang baik, aku akan memeluk istriku sampai hujan reda agar dia tidak ketakutan lagi seperti ini!" jelas laki-laki itu setelah bunyi petir menghilang.
"T ... tapi .... “
"Sudah kubilang, aku bukan laki-laki b******k seperti persangkaanmu itu! Sini, apa kau tidak merasakan dingin yang menusuk ini?" laki-laki itu berbaring menyamping dengan kedua lengan terentang ke arahnya.
Setelah merasakan kebenaran kata-kata laki-laki itu, gadis itu lantas memilih untuk duduk dan menarik selimut menutupi kakinya tanpa menggubris lengan yang menunggu itu.
Laki-laki itu jadi gemas sendiri. Dengan satu tarikan lembut kepala gadis itu sudah berada di salah satu lengan laki-laki itu. Sementara lengan lainnya sudah memeluk pinggang gadis itu. Deru napas gadis itu memburu ketakutan, terlebih karena laki-laki itu memeluknya sangat erat.
"Astaga, tubuhmu dingin sekali sayang. Maaf aku pulang telat hari ini. Kamu marah?" bisik laki-laki itu sambil memperbaiki letak selimut yang menutupi tubuh mereka. Laki-laki dapat merasakan gelengan pelan gadis itu di lengannya. Bibir laki-laki itu tertarik sendiri dengan sikap patuh istrinya.
"Suara jantungmu berisik sekali," bisik gadis itu pelan. Di luar, hujan masih terus mengguyur bumi, menyisakan rasa dingin pada semua yang dikenainya. Namun hal itu tidak berlaku pada laki-laki itu.
Ia merasakan tubuhnya menghangat, berawal dari d**a dan menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh. Hanya dengan gadis itu berada di pelukannya. Terasa sangat pas, ia tak tahu apakah itu karena tubuh gadis itu memang sedikit mungil atau justru karena gadis itu memang diciptakan untuknya.
"Maafkan aku," bisik laki-laki itu pelan sarat bujukan.
"Tidak apa-apa. Suaranya mengalahkan deru hujan di luar sana. Aku jadi ngga perlu mendengar suara hujan yang menyebalkan," gadis itu mulai memberanikan diri untuk meletakkan tangannya di pinggang laki-laki itu ketika rasa pegal di tangannya mulai tak tertahankan lagi.
Gadis itu tak tahu tindakannya itu membuat detak jantung laki-laki itu menjadi semakin kencang berpacu. Laki-laki itu memilih untuk membelai rambut gadis itu untuk menutupi debaran di hatinya.
"Aku ingin hujan terus turun sampai pagi. Dinginnya justru memberiku kehangatan yang belum pernah kudapatkan sebelumnya," bisik laki-laki itu sambil berlama-lama mengecup ubun-ubun istrinya.
Laki-laki itu dapat merasakan tubuh gadis itu menegang dalam pelukannya. Perlahan rasa perih yang sama kembali menyayat hatinya. Sampai kapan ia harus menunggu sampai gadis itu menyerah pada laki-laki b******k itu dan benar-benar hanya akan melihat pada dirinya seorang?
"Kenapa kamu menciumku?" tanya gadis itu sambil merenggangkan pelukan mereka untuk melihat wajah laki-laki itu.
"Kenapa bertanya?" balas laki-laki itu bertanya. Dia dapat melihat samar-samar bibir gadis itu mengerucut sebal.
"Tentu saja aku harus tahu alasannya! Aku tak mau kamu tiba-tiba menciumku seperti kemarin lusa, agar aku bisa berhati-hati untuk selanjutnya. Aku kan harus menjaga diriku tetap bersih sampai kita berpisah nanti, atau aku akan kehilangan kepercayaan dari orang itu.
Kamu pasti akan mengejekku, tapi aku tak peduli karena aku yakin apa pun dapat terjadi di dunia ini. Bahkan kemungkinan yang paling mustahil sekalipun!"
Seperti de ja vu, 'kejadian' kemarin lusa itu terjadi lagi. Bibir laki-laki itu kembali menyinggahi bibir lembut milik gadis itu, mendarat begitu lama. Hanya mendarat, tanpa melumat.
Gadis itu melotot kaget oleh ulah laki-laki itu, jantungnya berdebar kencang saat matanya menangkap bayangan kilat yang jatuh di wajah laki-laki itu.
Bulu mata yang panjang serta kelopak mata yang tertutup. Hatinya berontak ingin lepas, namun tubuhnya justru melemas. Ia hanya bisa menunggu sampai laki-laki itu puas dan melepaskan bibirnya.
Sementara petir menyambar, bayangan pria yang dicintainya melintas di benaknya. Bersama kenyataan bahwa sebuah kenyataan yang hampir pasti. Pria yang dicintainya itu, entah sudah berapa ratus kali mencium bibir milik wanita itu.
Istrinya itu. Ia benci dengan kenyataan itu. Sama bencinya dengan situasi yang tengah dihadapinya saat ini, ketika laki-laki di hadapannya itu begitu lancangnya menciumnya.
"Aku ingin membunuhmu!" bisik gadis itu beberapa saat setelah bibir mereka terlepas. Suaranya keluar dari balik gigi-giginya yang dikatupkan kuat-kuat. Sama kuatnya dengan kelopak matanya yang dipejamkan untuk menahan kemarahannya.
Tak ada sahutan apa pun dari laki-laki itu. Yang terdengar hanyalah embusan napasnya yang teratur dan detak jantungnya yang berdegup pelan. Gadis itu melirik ke atas dan mendapati bahwa laki-laki itu sudah jatuh tertidur.
Langit mendung yang telah beberapa waktu lamanya menggantung di langit akhirnya mulai meluruhkan beban jarum-jarum berkahnya ke bumi yang menanti dengan penuh harap. Hujan yang sama, yang juga turun pada orang-orang yang sama sekali tak mengharapkan kehadirannya.
Gadis itu mungkin adalah orang yang paling membenci hujan lebih dari siapa pun yang pernah membenci hujan. Dengan tatapan kesal campur takut, gadis itu menatap butiran-butiran jarum bening itu turun dengan penuh kebencian.
Melirik jam dinding, mengutuki kesendiriannya. Michelle si waria itu datang tadi pagi untuk membereskan rumah dan menyiapkan makanan dan sudah pergi beberapa puluh menit lalu. Sementara laki-laki itu baru akan pulang ketika matahari sudah menghilang di kaki langit.
Dengan kesal, gadis itu memilih untuk menutup seluruh gorden di rumah itu lalu berniat menyalakan tv dengan volume 3 angka di bawah maksimal. Dia takkan mendengar suara hujan yang menyebalkan itu lagi.
Baru saja gadis itu hendak menyalakan tv, warna putih dari kilat yang menyambar membuat gadis itu mengurungkan niatnya. Guntur menyalak bersahut-sahutan, dan klimaksnya beberapa detik kemudian listrik pun padam. Gadis itu mulai didera kecemasan. Kenapa ia harus mengalami hal sesial ini?
Di luar, suara hujan mulai deras terdengar. Kecemasan itu mulai berubah menjadi ketakutan saat bayangan-bayangan dari masa lalunya mulai berkeliaran di kepalanya. Semakin lama semakin terlihat nyata dan menyakitkan. Hal itu berbanding lurus dengan bunyi hujan yang makin menggila. Dia sungguh-sungguh amat membenci hujan!
Tak tahu harus melakukan apa, mata gadis itu mulai liar menjelajahi sekelilingnya berharap ada sesuatu yang dapat membantunya untuk mengalihkan kecemasannya. Matanya terhenti tepat pada sebuah kamar dengan pintu yang terbuka di lantai 2.
Dia hampir tak pernah melangkahkan kaki ke lantai 2 lebih dikarenakan kamar laki-laki yang saat ini masih berstatus sebagai suaminya itu berada di sana.
Dia hanya berusaha untuk menjaga diri, karena itulah dia lebih banyak mengurung dirinya di kamarnya yang terletak di lantai bawah.
Apakah orang itu sudah pulang? Kenapa ia bisa tidak tahu? Tapi syukurlah. Dia akan melakukan sesuatu—bertengkar sekalipun— untuk membuat laki-laki itu menemaninya sampai hujan reda. Ia benci melewatkan waktu sendirian di tengah hujan berpetir seperti ini.
Dengan pikiran seperti itu, gadis itu mengepalkan tangannya yang gemetaran dan mendingin sejak hujan mulai turun tadi, lalu melangkahkan kakinya meniti anak tangga.
Tak ada siapa-siapa di kamar itu. Sepertinya laki-laki itu masih belum pulang, dan mungkin saja tadi pagi dia lupa menutup pintu kamarnya karena terburu-buru pergi bekerja.
Gadis itu bahkan melihat selimut yang acak-acakan di atas tempat tidur ukuran dobel itu. Sehelai celana panjang tersampir di kursi yang menghadap ke jendela kaca yang terbuka.
Keseluruhan kamar ini agak sedikit berantakan. Gadis itu ingat dulu Michelle pernah dibentak oleh laki-laki itu karena telah dengan berani-beraninya masuk dan membereskan kamar milik laki-laki itu. Itulah pertama kalinya gadis itu melihat dan mendengar laki-laki itu marah.
Telinga gadis itu menangkap suara yang identik dengan pertemuan antara hujan dengan permukaan benda keras. Alisnya mengernyit. ‘Ini tidak seperti suara hujan yang menampar kaca’ batinnya sembari menolehkan pandangan ke sekitar.
~~~
Hujan deras masih terus mengguyur hingga laki-laki itu sampai di rumah. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Laki-laki itu membuka pintu dan terheran-heran mendapati keadaan rumah yang gelap gulita. Setelah melongok ke rumah-rumah lain, laki-laki itu baru sadar kalau listrik di kompleks itu memang sedang padam semua.
Sambil menggigil menahan dingin, laki-laki itu menyalakan lampu senter ponselnya dan melangkah masuk.
"Sayaaang! Aku pulang. Kau baik-baik sajaaa?"
Hanya keheningan yang menjawab panggilan laki-laki itu.
Pintu kamar gadis itu tertutup rapat. Laki-laki itu tersenyum sedih, berusaha menghibur dirinya dengan mengatakan bahwa mungkin saja gadis itu sudah tidur.
Dia lantas melangkah menuju kamarnya di lantai 2, mandi dengan diterangi cahaya dari senter ponsel. Setelah mandi, laki-laki itu menyambar sembarangan satu dari puluhan pakaian dalamnya, mengenakan celana panjang yang tersampir di punggung kursi dan mengerang kedinginan saat tak mendapati satu pun baju kering yang bisa dikenakannya secepatnya.
Laki-laki itu lantas membuka pintu lemari pakaiannya. Alangkah kagetnya dia mendapati pintu tersebut macet. Padahal tadi pagi masih baik-baik saja. Dengan menahan kesal dan dingin, laki-laki itu menarik pintu itu sampai terbuka. Baru saja dia hendak mengambil salah satu kaosnya, pintu lemari tiba-tiba menutup sendiri.
Bulu kuduknya meremang seketika. Sekilas laki-laki itu melihat kelebatan lengan yang rasanya amat familier itu. Dengan memberanikan diri, laki-laki itu kembali mencoba membuka pintu tersebut. Ia merasakan adanya tarikan dari dalam sana yang membuatnya tak bisa membuka pintu. Sebuah prasangka melintas di benaknya.
"Sayang? Sayang, kau di dalam?" panggilnya setengah tidak yakin. Tak ada sahutan, hanya suara dengusan khas orang yang sedang menangis saja yang terdengar. Dan pintu itu masih tetap tak dapat dibuka.
"Sayang, kau kenapa? Kau menangis?"
"Berisik! Jangan ganggu aku!" samar-samar suara gadis itu terdengar serak dari dalam lemari. Laki-laki itu menghela napas, campuran antara lega sekaligus heran. Dia terdiam sejenak, berpikir.
"Aku bukannya mau mengganggu kamu atau menakut-nakutimu. Kamu tahu, pegangan lemari itu terbuat dari besi kuningan yang dapat tersambar petir dan membakar habis lemari itu. Aku sudah hendak menggantinya, tapi masih belum sempat. Sayang, kilatnya sepertinya akan menyambar, lo."
Brakk!
Pintu lemari menjeblak terbuka dan gadis itu merangkak tersaruk-saruk keluar dari persembunyiannya. Napasnya tersengal-sengal dan secara keseluruhan, tampilan gadis itu amat kacau.
Laki-laki itu sampai lupa dengan rasa dingin yang mengganggunya, bergegas meletakkan ponsel sembarangan sambil duduk di depan gadis itu. Kecemasan mulai menggerogoti batinnya kala gadis itu terduduk sambil mendekap dirinya sendiri sementara tubuhnya menggigil hebat. Perlahan-lahan laki-laki itu mengulurkan tangannya.
"Sayang? Ada apa? Apa yang terjadi?" tanyanya setengah berbisik.
Kepala gadis itu bergerak dalam gerakan patah-patah, menatap laki-laki di hadapannya dengan tatapan nanar sementara kedua matanya tak hentinya mengucurkan air.
"K ... kau sudah pu ... pulang?" pertanyaan bernada sambutan itu menggoreskan sebuah rasa pedih di hati laki-laki itu. Gadis itu mulai kacau lagi!
"Ma, maafkan aku. Tadinya aku hendak menutup jendelamu yang terbuka. Hujannya ... deras ... aku ... maaf, aku akan kembali ke bawah .... " gadis itu berusaha berdiri dengan susah payah.
Laki-laki itu ikut berdiri dengan banyak prasangka menghiasi benaknya. Namun semuanya hilang saat dirinya melihat bayangan gadis itu samar-samar mulai oleng. Tanpa pikir panjang dia langsung menangkap tubuh gadis itu, lalu membawa kepala gadis itu ke dadanya.
Isak yang sejak tadi berusaha ditahan oleh gadis itu luluh saat merasakan kehangatan yang menguar dari tubuh yang melindunginya dan lengan yang menahan agar dirinya tetap berada dalam keadaan tersebut.
Perlahan gadis itu merasakan tangan besar laki-laki itu membelai-belai rambutnya dan tangan lainnya mengusap-usap punggungnya. Menahan kepalanya dengan meletakkan dagunya di ubun-ubun gadis itu. Rapat mengunci tubuh gadis itu dalam pelukannya.
Gigil gadis itu makin keras terasa. Laki-laki itu dapat merasakan wajah dan tangan istrinya itu terasa dingin di kulitnya. Perlahan-lahan laki-laki itu melepaskan pelukannya, lalu tanpa disangka-sangka dia membopong gadis itu dan membawanya ke tempat tidur. Selagi laki-laki itu mencari-cari selimutnya, tangan dingin gadis itu meraba-raba permukaan tempat duduknya.
Kesadaran gadis itu perlahan kembali menyeruak bersamaan dengan sebuah selimut yang dihamparkan oleh laki-laki itu di atas tubuhnya. Mata gadis itu membulat panik saat laki-laki itu juga ikut naik ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut.
"A ... apa yang kau lakukan?" tanya gadis itu dengan suara bergetar. Ia berusaha untuk kabur dari situasi itu, namun tangannya terlanjur ditahan oleh laki-laki itu. Ia baru sadar kalau laki-laki yang dipeluknya tadi tengah bertelanjang d**a.
"Apa yang kulakukan? Kamu pikir gara-gara siapa aku kedinginan seperti ini? Sekarang kamu malah mau lari?" balas laki-laki itu dengan nada santai yang semakin menambah kepanikan dalam diri gadis itu.
Tangannya yang digenggam laki-laki itu semakin dingin dan gemetaran seakan mengekspresikan ketakutannya. Gadis itu sudah menarik tangannya untuk lepas dari genggaman kuat laki-laki itu saat kilat kembali membayang.
Laki-laki itu cepat-cepat merengkuh kepala gadis itu ke dadanya dan menutup kedua telinga gadis itu rapat-rapat saat petir menyalak setelah itu. Untuk sesaat gadis itu sampai lupa dengan rasa takutnya pada hujan.
"Jangan berpikiran kotor dulu. Kamu lihat situasinya, aku sudah terlalu kedinginan untuk kembali mengambil baju sementara kamu sendiri takut dengan hujan dan petir.
Dan aku tidak yakin kamu bisa turun dengan selamat dalam kegelapan seperti ini. Jadi sebagai suami yang baik, aku akan memeluk istriku sampai hujan reda agar dia tidak ketakutan lagi seperti ini!" jelas laki-laki itu setelah bunyi petir menghilang.
"T ... tapi .... “
"Sudah kubilang, aku bukan laki-laki b******k seperti persangkaanmu itu! Sini, apa kau tidak merasakan dingin yang menusuk ini?" laki-laki itu berbaring menyamping dengan kedua lengan terentang ke arahnya.
Setelah merasakan kebenaran kata-kata laki-laki itu, gadis itu lantas memilih untuk duduk dan menarik selimut menutupi kakinya tanpa menggubris lengan yang menunggu itu.
Laki-laki itu jadi gemas sendiri. Dengan satu tarikan lembut kepala gadis itu sudah berada di salah satu lengan laki-laki itu. Sementara lengan lainnya sudah memeluk pinggang gadis itu. Deru napas gadis itu memburu ketakutan, terlebih karena laki-laki itu memeluknya sangat erat.
"Astaga, tubuhmu dingin sekali sayang. Maaf aku pulang telat hari ini. Kamu marah?" bisik laki-laki itu sambil memperbaiki letak selimut yang menutupi tubuh mereka. Laki-laki dapat merasakan gelengan pelan gadis itu di lengannya. Bibir laki-laki itu tertarik sendiri dengan sikap patuh istrinya.
"Suara jantungmu berisik sekali," bisik gadis itu pelan. Di luar, hujan masih terus mengguyur bumi, menyisakan rasa dingin pada semua yang dikenainya. Namun hal itu tidak berlaku pada laki-laki itu.
Ia merasakan tubuhnya menghangat, berawal dari d**a dan menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh. Hanya dengan gadis itu berada di pelukannya. Terasa sangat pas, ia tak tahu apakah itu karena tubuh gadis itu memang sedikit mungil atau justru karena gadis itu memang diciptakan untuknya.
"Maafkan aku," bisik laki-laki itu pelan sarat bujukan.
"Tidak apa-apa. Suaranya mengalahkan deru hujan di luar sana. Aku jadi ngga perlu mendengar suara hujan yang menyebalkan," gadis itu mulai memberanikan diri untuk meletakkan tangannya di pinggang laki-laki itu ketika rasa pegal di tangannya mulai tak tertahankan lagi.
Gadis itu tak tahu tindakannya itu membuat detak jantung laki-laki itu menjadi semakin kencang berpacu. Laki-laki itu memilih untuk membelai rambut gadis itu untuk menutupi debaran di hatinya.
"Aku ingin hujan terus turun sampai pagi. Dinginnya justru memberiku kehangatan yang belum pernah kudapatkan sebelumnya," bisik laki-laki itu sambil berlama-lama mengecup ubun-ubun istrinya.
Laki-laki itu dapat merasakan tubuh gadis itu menegang dalam pelukannya. Perlahan rasa perih yang sama kembali menyayat hatinya. Sampai kapan ia harus menunggu sampai gadis itu menyerah pada laki-laki b******k itu dan benar-benar hanya akan melihat pada dirinya seorang?
"Kenapa kamu menciumku?" tanya gadis itu sambil merenggangkan pelukan mereka untuk melihat wajah laki-laki itu.
"Kenapa bertanya?" balas laki-laki itu bertanya. Dia dapat melihat samar-samar bibir gadis itu mengerucut sebal.
"Tentu saja aku harus tahu alasannya! Aku tak mau kamu tiba-tiba menciumku seperti kemarin lusa, agar aku bisa berhati-hati untuk selanjutnya. Aku kan harus menjaga diriku tetap bersih sampai kita berpisah nanti, atau aku akan kehilangan kepercayaan dari orang itu.
Kamu pasti akan mengejekku, tapi aku tak peduli karena aku yakin apa pun dapat terjadi di dunia ini. Bahkan kemungkinan yang paling mustahil sekalipun!"
Seperti de ja vu, 'kejadian' kemarin lusa itu terjadi lagi. Bibir laki-laki itu kembali menyinggahi bibir lembut milik gadis itu, mendarat begitu lama. Hanya mendarat, tanpa melumat.
Gadis itu melotot kaget oleh ulah laki-laki itu, jantungnya berdebar kencang saat matanya menangkap bayangan kilat yang jatuh di wajah laki-laki itu.
Bulu mata yang panjang serta kelopak mata yang tertutup. Hatinya berontak ingin lepas, namun tubuhnya justru melemas. Ia hanya bisa menunggu sampai laki-laki itu puas dan melepaskan bibirnya.
Sementara petir menyambar, bayangan pria yang dicintainya melintas di benaknya. Bersama kenyataan bahwa sebuah kenyataan yang hampir pasti. Pria yang dicintainya itu, entah sudah berapa ratus kali mencium bibir milik wanita itu.
Istrinya itu. Ia benci dengan kenyataan itu. Sama bencinya dengan situasi yang tengah dihadapinya saat ini, ketika laki-laki di hadapannya itu begitu lancangnya menciumnya.
"Aku ingin membunuhmu!" bisik gadis itu beberapa saat setelah bibir mereka terlepas. Suaranya keluar dari balik gigi-giginya yang dikatupkan kuat-kuat. Sama kuatnya dengan kelopak matanya yang dipejamkan untuk menahan kemarahannya.
Tak ada sahutan apa pun dari laki-laki itu. Yang terdengar hanyalah embusan napasnya yang teratur dan detak jantungnya yang berdegup pelan. Gadis itu melirik ke atas dan mendapati bahwa laki-laki itu sudah jatuh tertidur.