Pak Sugianto datang pada hari Rabu dengan setelan abu-abu dan jam tangan yang harganya mungkin lebih mahal dari seluruh isi kantor Juara App digabung. Ia menaiki tangga sempit dengan ekspresi orang yang menyesali setiap langkah, dan ketika ia melihat warung mie di bawah, alisnya naik begitu tinggi Vina khawatir alis itu lepas.
"Kantornya," kata Pak Sugianto, "di atas warung mie."
"Strategis, Pak," sahut Pak Damar cepat. "Dekat sumber makanan. Karyawan nggak perlu jauh-jauh."
"Bau kaldunya juga gratis," tambah Reno, yang langsung diinjak kakinya oleh Vina di bawah meja.
Pak Sugianto tidak tertawa. Pak Sugianto tampaknya bukan tipe yang tertawa. Ia menarik kursi, mengelapnya dengan sapu tangan terlebih dahulu—gerakan yang membuat Pak Damar tersenyum kaku—lalu duduk.
"Saya investor terakhir kalian," katanya tanpa basa-basi. "Saya tahu itu, kalian tahu itu, jadi mari kita tidak buang waktu. Tiga investor sebelumnya mundur. Kenapa saya harus berbeda?"
Hening menggantung. Pak Damar membuka mulut, dan Vina tahu, ia tahu dengan kepastian mengerikan, bahwa apa pun yang keluar dari mulut Pak Damar berikutnya bisa jadi kalimat tentang aplikasi pemesan makanan plus ojek plus jodoh.
Vina berdiri lebih cepat dari otaknya sempat memutuskan untuk berdiri.
"Boleh saya tunjukin demonya, Pak?"
Semua mata mengarah padanya. Pak Damar tampak lega. Reno mengangkat alis. Pak Sugianto melirik jam tangan mahalnya.
"Lima menit," kata Pak Sugianto.
Vina mengambil laptop, tangannya sedikit gemetar, dan membuka aplikasi. Ia mulai bicara—bukan tentang mengubah dunia, bukan tentang masa depan, tapi tentang hal kecil yang nyata. Tentang ibu warung yang bisa catat pemasukan harian tanpa pusing. Tentang anak kos yang bisa lihat ke mana uang jajannya menguap. Tentang grafik yang—ia menahan napas, menekan tombol—muncul dengan benar, angka besar tinggi, angka kecil rendah, persis seperti yang ia dan Reno perbaiki dua malam lalu.
Pak Sugianto menatap layar. Lama. Wajahnya tidak berubah.
"Tombol ini," katanya, menunjuk. "Simpan. Kalau saya catat pengeluaran lalu pencet ini, apa yang terjadi?"
Jantung Vina jatuh ke perut. Tombol simpan. Tombol bermood. Bug yang belum sempat mereka perbaiki.
Ia melirik Reno. Sepersekian detik. Reno, dari sudut ruangan, menggeser laptopnya sendiri dengan gerakan halus, jarinya bergerak cepat di keyboard. Vina tidak tahu apa yang ia lakukan, tapi ia mengulur waktu.
"Sebelum saya tunjukin, Pak," kata Vina, "boleh saya jelasin filosofi di balik tombolnya?"
"Filosofi tombol simpan?"
"Iya. Karena menyimpan, Pak, secara konseptual, adalah tentang kepercayaan." Vina sendiri kaget kata-kata itu keluar dari mulutnya. "Pengguna percaya bahwa data mereka aman. Jadi kami desain tombol ini supaya—"
Reno berdeham. Sebuah tanda. Vina menghentikan ocehan filosofisnya, menekan tombol simpan, dan menahan napas.
Data tersimpan. Layar berkedip hijau. "Berhasil disimpan."
Vina hampir pingsan karena lega.
Pak Sugianto bersandar. Untuk pertama kalinya, ekspresinya melunak satu derajat. "Kalian tahu," katanya, "saya datang ke sini berharap kecewa. Saya suka kecewa. Itu menghemat uang saya." Ia bangkit, merapikan setelannya. "Tapi tadi, gadis ini—siapa namamu?"
"Vina, Pak."
"Vina tadi jualan dengan jujur. Bukan jualan mimpi gila." Ia melirik Pak Damar, yang langsung tersenyum tidak bersalah. "Saya kasih kalian dua minggu. Versi penuh, jalan, tanpa bug. Kalau berhasil, dana cair. Kalau tidak—" ia mengangkat bahu, "—saya investor terakhir kalian, dan saya juga akan jadi yang terakhir pergi."
Pintu menutup di belakangnya. Tangga berdecit menandai kepergiannya. Selama beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Lalu Pak Damar berseru, "DUA MINGGU! Dia kasih kita dua minggu!"
"Dia juga bilang tanpa bug," kata Reno datar.
Vina berbalik menatap Reno. "Tadi kamu ngapain di laptopmu?"
Reno menyeruput air mineralnya santai. "Aku push perbaikan tombol simpan yang aku kerjain diam-diam semalam. Belum sempat bilang kamu. Untung kelar tepat waktu."
Vina menatapnya, mulut sedikit terbuka. Reno menyelamatkan demo. Reno, yang sembilan puluh persen menyebalkan, baru saja menyelamatkan masa depan mereka tanpa banyak bicara.
"Kamu—" Vina mencari kata. "Kamu kenapa nggak bilang?"
Reno mengangkat bahu. "Aku mau lihat kamu panik dulu. Lucu."
Vina melempar pulpen. Kali ini kena. Tapi ia tersenyum saat melemparnya.