Dua minggu. Vina menulisnya besar-besar di papan tulis, lalu di bawahnya membuat daftar bug. Daftar itu tumbuh. Dan tumbuh. Dan tumbuh, sampai Reno harus mengambil papan tulis kedua—papan tulis kecil yang sebenarnya milik warung Pak Hardi untuk menulis menu, yang mereka pinjam dengan imbalan janji memperbaiki wifi warung.
"Empat puluh tiga bug," kata Vina, menatap papan dengan tatapan kosong seorang prajurit yang melihat medan perang.
"Empat puluh empat," kata Reno, menambahkan satu baris. "Aku baru nemu yang ini. Kalau user ganti tanggal sambil ngetik nominal, aplikasinya nyimpen angka di bulan yang salah."
"Kenapa ada orang ganti tanggal sambil ngetik nominal?"
"Karena user itu makhluk kacau, Vin. Mereka pencet semua tombol dengan urutan yang nggak masuk akal. Tugas kita memastikan aplikasi nggak ikut gila."
Vina menjatuhkan diri ke kursinya. Hari sudah malam—lagi—dan kantor sudah kosong—lagi—kecuali mereka berdua. Sari, Bagas, dan Pak Damar punya rumah, punya keluarga, punya alasan untuk pulang. Vina dan Reno punya bug.
"Kamu pernah mikir," kata Vina sambil menatap langit-langit, "gimana hidup kita kalau kita kerja di kantor normal? Yang ada AC beneran. Yang baunya bukan mie ayam. Yang pulang jam lima."
"Pulang jam lima," ulang Reno, seolah itu konsep asing seperti naga atau cuti tahunan. "Aku nggak inget rasanya."
"Aku terakhir pulang sebelum jam delapan itu... bulan lalu? Pas mati lampu sekantor."
"Itu bukan pulang. Itu evakuasi."
Vina tertawa kecil. Ia menarik laptopnya kembali, membuka bug nomor dua belas. Sunyi turun di antara mereka, sunyi yang nyaman, sunyi yang hanya dipecah oleh suara ketikan dan dengung lemah pendingin ruangan tua.
"Vin," kata Reno setelah beberapa lama.
"Hm."
"Kenapa kamu masih di sini?"
Vina berhenti mengetik. "Maksudnya?"
"Maksudku, kamu pinter. Beneran pinter, di luar typo dan grafik kebalik. Kamu bisa kerja di mana aja. Perusahaan gede, gaji gede, AC beneran. Tapi kamu di sini, di atas warung mie, ngejar bug buat aplikasi yang mungkin gagal." Reno tidak menatapnya saat bicara. Ia menatap layarnya, tapi jarinya berhenti mengetik. "Kenapa?"
Vina memikirkannya. Pertanyaan itu jujur, jadi ia berusaha menjawabnya dengan jujur juga.
"Karena di sini aku penting," katanya pelan. "Di perusahaan gede, aku cuma satu dari ratusan programer. Kode aku tenggelam. Tapi di sini... kalau aku nggak benerin bug ini, nggak ada yang benerin. Kalau aku nggak datang, kantor pincang. Aku suka rasanya jadi penting." Ia berhenti. "Kedengaran egois, ya."
"Enggak," kata Reno. "Kedengaran jujur."
Mereka saling tatap sebentar. Lampu kantor yang temaram membuat segalanya terasa lebih lembut dari seharusnya.
"Kamu sendiri kenapa di sini?" tanya Vina balik.
Reno diam lama. Lalu, dengan nada yang lebih ringan dari isi kalimatnya, "Karena ada orang di sini yang kopinya harus dibikinin. Kalau aku pergi, dia bakal minum kopi susu kaleng tiap malam dan mati muda."
Vina melempar kertas remasan. Reno menangkapnya tanpa menoleh.
"Serius," kata Vina.
Reno menghela napas. "Serius? Karena aku percaya sama Pak Damar. Dia gila, idenya kadang konyol, tapi dia satu-satunya bos yang pernah bilang ke aku, 'Aku percaya kamu bisa.' Sebelum dia, nggak ada yang pernah bilang gitu." Ia mengangkat bahu. "Aku tahu kedengarannya cengeng."
"Enggak," kata Vina, mengulang kata-katanya tadi. "Kedengaran jujur."
Di bawah, pintu warung Pak Hardi berderit ditutup. Lampu jalanan menyala kuning. Dan di lantai dua, dua programer kembali pada bug mereka, terhubung oleh sesuatu yang lebih kuat dari kode—oleh malam-malam panjang, oleh kopi, oleh kenyataan bahwa mereka sama-sama memilih tempat sempit ini dengan alasan yang ternyata tidak terlalu berbeda.
Bug nomor dua belas akhirnya menyerah pukul setengah satu pagi. Mereka pulang bersama, berjalan ke arah halte yang sama, di bawah langit yang sama, dan untuk sekali ini, tidak ada yang mengeluh tentang lemburnya.