Kamis pagi, Pak Damar datang dengan kaos bertuliskan "DREAM BIG" dan ekspresi yang membuat seluruh kantor langsung waspada.
"Aku semalam mimpi," katanya, dan Vina merasakan ototnya menegang. "Mimpi yang jelas. Mimpi yang... profetik."
"Pak," kata Sari si desainer, "tolong jangan mimpi sebelum deadline."
"Dengar dulu! Bayangkan: pas user simpan pengeluaran, keluar maskot. Maskot lucu. Namanya... Jago. Ayam jago. Dia muncul, ngomong 'Hemat hari ini, Juara!' terus joget."
Hening total.
"Joget," ulang Reno.
"Joget bahagia. Bikin user senang. Bikin user balik lagi. Retensi naik!"
Vina memijat pelipisnya. "Pak, kita punya empat puluh empat bug—"
"Empat puluh satu sekarang," potong Reno. "Kita kerja semalam."
"—empat puluh satu bug dan dua minggu, eh, sekarang sepuluh hari. Kita nggak punya waktu bikin ayam joget."
"Tapi maskot itu penting buat branding!" Pak Damar berjalan ke papan tulis, menggeser daftar bug ke samping, dan mulai menggambar ayam dengan tingkat kemampuan seni seorang anak TK yang sedang terburu-buru. "Lihat. Imut, kan? Anak-anak suka. Ibu-ibu suka."
"Aplikasi kita buat catat pengeluaran, Pak," kata Vina. "Penggunanya bukan anak-anak."
"Anak-anak juga jajan! Mereka perlu belajar hemat!"
Vina dan Reno bertukar tatapan—tatapan yang sudah punya bahasa sendiri setelah berbulan-bulan. Tatapan yang berarti: kita harus mengalihkannya, atau kita kehilangan satu hari penuh untuk ayam.
Reno mengambil alih. Ia punya cara khusus menangani Pak Damar, sebuah seni yang ia sempurnakan dari waktu ke waktu. "Pak, idenya bagus. Beneran bagus."
Pak Damar berbinar.
"Tapi maskot sebagus Jago butuh eksekusi yang sempurna. Animasi yang halus. Suara yang pas. Kalau kita buru-buru sekarang, di tengah deadline, hasilnya bakal jelek, dan itu malah ngerusak branding. Iya, kan?"
Pak Damar mengerutkan kening, mempertimbangkan.
"Jadi gini," lanjut Reno, "kita simpan Jago buat versi dua. Setelah dana cair. Kita kasih dia animasi mahal, suara profesional, joget yang beneran enak ditonton. Jago layak dapat yang terbaik, Pak. Bukan versi buru-buru."
Vina hampir bertepuk tangan. Reno tidak menolak ide Pak Damar—ia menunda ide itu dengan membuatnya terdengar seperti penghargaan.
Pak Damar mengangguk pelan, lalu makin cepat. "Kamu benar. Jago layak yang terbaik. Versi dua. Jago Premium." Ia mengetuk gambar ayamnya dengan bangga. "Catat itu, ya. Jago Premium. Setelah dana cair."
"Sudah dicatat, Pak," kata Reno, padahal tidak mencatat apa-apa.
Pak Damar pergi dengan riang ke ruangannya yang dipisah lemari arsip, bersenandung tentang ayam jago. Begitu ia menghilang, Vina berbalik ke Reno.
"Tadi itu," kata Vina, "luar biasa."
"Aku ngumpulin data, ingat? Aku tahu cara dia mikir."
"Kamu harusnya jadi diplomat. Atau negosiator sandera."
"Tiap hari di sini kayak negosiasi sandera, Vin. Sanderanya waktu kita."
Vina tertawa, lalu kembali ke kursinya. Tapi sesuatu menggelitik di benaknya, sesuatu yang sudah ia perhatikan beberapa hari ini tapi baru sekarang ia akui. Reno memperhatikan semua orang. Ia tahu cara menenangkan Pak Damar, tahu kapan Sari butuh ditinggal sendiri, tahu kapan Bagas cuma butuh didengar. Dan ia tahu—selalu tahu—kapan Vina butuh kopi.
Reno melihat orang. Benar-benar melihat. Dan Vina mulai bertanya-tanya, sambil pura-pura menatap layar, sejak kapan ia mulai senang dilihat oleh Reno.
Ia menggelengkan kepala. Bug. Fokus pada bug. Sepuluh hari. Tidak ada waktu untuk... apa pun ini.
Tapi ketika Reno meletakkan gelas kopi di sampingnya beberapa menit kemudian—kopi 'aku capek tapi masih oke,' karena memang baru pagi—Vina menyadari ia tersenyum sebelum sempat menghentikannya.