Hujan turun deras Jumat malam, jenis hujan Jakarta yang datang tiba-tiba dan mengubah jalanan jadi sungai dalam hitungan menit. Vina dan Reno, seperti biasa, satu-satunya yang tersisa di kantor.
Lalu atap mulai bocor.
Tetes pertama jatuh ke meja Vina dengan suara "plok" yang sopan. Tetes kedua menyusul. Tetes ketiga jatuh tepat di keyboardnya.
"Reno!" Vina menyambar laptopnya. "Bocor!"
Reno melompat dari kursinya. Dalam semenit mereka berdua sibuk—menggeser meja, menyelamatkan kabel, mencari ember. Satu-satunya ember di kantor adalah ember pel yang sudah retak, jadi mereka memakai panci dari dapur kecil mereka, lalu gelas, lalu—saat tetesan baru muncul di tiga titik lain—toples kopi yang dikosongkan dengan tergesa.
"Atap ini," kata Reno, berdiri di tengah ruangan yang kini penuh wadah penampung air, "harusnya jadi bug nomor empat puluh dua."
"Atap bukan tanggung jawab kita."
"Semua di gedung ini jadi tanggung jawab kita. Wifi warung. Atap. Mungkin sebentar lagi Pak Hardi minta kita benerin kompornya."
Plok. Plok-plok. Air masih jatuh, tapi sudah tertampung. Mereka berdiri menatap hasil kerja darurat mereka—sebuah orkestra wadah air dengan irama tetesan yang acak.
Lalu listrik padam.
Gelap menelan ruangan. Hanya cahaya samar dari jalanan yang menerobos jendela basah, dan kilatan petir sesekali yang menerangi semuanya sekejap lalu hilang.
"Bagus," kata Vina di kegelapan. "Sempurna."
"Laptopmu masih nyala?"
"Lima belas persen."
"Punyaku delapan."
Mereka duduk di lantai—lantai adalah satu-satunya tempat yang tidak kebocoran—bersandar ke dinding yang sama, di antara wadah-wadah penampung air. Cahaya layar laptop yang sekarat memberi mereka sedikit terang. Di luar, hujan terus menderu.
"Kita nggak bisa kerja tanpa listrik," kata Vina.
"Enggak."
"Jadi kita cuma... nunggu?"
"Nunggu."
Hening, kecuali hujan dan tetesan dan deru kota yang basah. Vina memeluk lututnya. Untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, tidak ada bug yang harus dikejar, tidak ada layar yang harus ditatap. Hanya gelap, dan Reno, dan jarak antara mereka yang entah kenapa terasa lebih kecil dari biasanya.
"Vin," kata Reno, suaranya pelan di kegelapan. "Aku mau cerita sesuatu."
"Hm?"
"Waktu aku bilang aku di sini karena Pak Damar percaya sama aku. Itu bener. Tapi itu bukan satu-satunya alasan."
Jantung Vina berdetak sedikit lebih cepat. Ia bersyukur gelap menyembunyikan wajahnya. "Terus apa lagi?"
Petir menyambar. Sekejap, ruangan terang, dan Vina bisa melihat wajah Reno—dekat, lebih dekat dari yang ia kira, menatapnya dengan ekspresi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Lalu gelap kembali.
"Alasan lainnya—" mulai Reno.
Dan listrik menyala.
Lampu menyala terang benderang, pendingin ruangan kembali mendengung, dan kedua laptop yang sekarat berbunyi bahagia karena mengisi daya. Momen itu pecah, terbang, hilang seperti petir tadi.
Reno berkedip, lalu bangkit, lalu berdeham. "Listrik nyala. Bagus. Ayo kerja."
"Reno, tadi kamu mau—"
"Bug nomor tiga puluh delapan masih nunggu." Reno sudah berjalan ke mejanya, punggung membelakangi Vina, telinga—Vina yakin sekarang—benar-benar memerah. "Hujan reda bentar lagi. Ayo manfaatin listrik selagi ada."
Vina tetap di lantai sesaat, di antara wadah-wadah air, menatap punggung Reno. Alasan lainnya. Ia ingin tahu. Ia sangat ingin tahu. Tapi Reno sudah menutup pintu itu, dan Vina tahu cukup tentang Reno untuk tahu bahwa mendorongnya hanya akan membuatnya makin tertutup.
Jadi ia bangkit, membersihkan celananya yang basah, dan kembali ke mejanya. Tapi sepanjang sisa malam itu, di sela-sela bug dan ketikan, pikirannya terus kembali pada satu kalimat yang tak selesai, dan pada wajah Reno yang diterangi petir.