Daftar bug tinggal tujuh belas. Tujuh belas dari empat puluh empat. Vina menghapus yang sudah selesai satu per satu, dan setiap coretan terasa seperti kemenangan kecil. Tapi tujuh belas yang tersisa adalah yang paling sulit—bug-bug bandel yang bersembunyi di lapisan terdalam kode, muncul hanya dalam kondisi aneh, menghilang saat dicari.
Lima hari tersisa.
Tekanan mengubah suasana kantor. Sari mulai begadang juga, membantu menyiapkan tampilan untuk demo final. Bagas berlari ke sana kemari mengurus dokumen yang diminta Pak Sugianto. Pak Damar, yang anehnya menjadi tenang justru saat tekanan memuncak, berkeliling membawa gorengan dan kata-kata penyemangat.
"Kalian tahu," kata Pak Damar suatu sore, membagikan bakwan, "aku dulu pernah punya tiga startup sebelum ini. Semuanya gagal."
"Itu menyemangati banget, Pak," kata Reno.
"Dengar dulu. Semuanya gagal, tapi tiap gagal aku belajar. Startup pertama gagal karena aku nggak dengerin tim. Kedua gagal karena aku terlalu serakah. Ketiga gagal karena timing-nya salah." Ia menggigit bakwannya. "Yang ini beda. Yang ini punya kalian berdua."
Vina dan Reno berhenti mengunyah.
"Aku lihat kalian," lanjut Pak Damar, lebih lembut dari biasanya. "Tiap malam. Aku tahu kalian lembur. Aku tahu kalian capek. Dan aku tahu aku nggak bisa bayar kalian sesuai yang kalian layak dapat." Ia menelan. "Kalau yang ini berhasil, aku janji. Hal pertama yang aku lakuin, aku perbaiki gaji kalian. Sebelum apa pun. Sebelum Jago Premium."
Hening menggantung, lalu Reno tertawa, dan ketegangan pecah.
"Pak, kalau Bapak sebut Jago Premium sekali lagi—"
"Aku cuma bilang Jago akan nunggu! Sabar, Jago, sabar."
Mereka tertawa bersama, lima orang di kantor sempit, di antara daftar bug dan tumpukan gorengan dan harapan rapuh. Untuk sesaat, semua terasa mungkin.
Malam itu, setelah yang lain pulang, Vina dan Reno kembali pada ritual mereka. Tapi ada yang berbeda sejak malam hujan itu. Sebuah kesadaran. Sebuah ketegangan halus yang menggantung di antara mereka, di setiap gelas kopi yang diletakkan, di setiap kali bahu mereka nyaris bersentuhan saat menatap layar yang sama.
"Bug tiga puluh satu," kata Vina, menatap layar dengan frustrasi. "Aku udah dua jam. Nggak ngerti kenapa aplikasinya nge-freeze pas user buka riwayat bulan lalu."
Reno menggeser kursinya mendekat. "Coba lihat." Ia membaca kode di layar Vina, dahinya berkerut. "Kamu loop semua data tiap kali buka halaman. Kalau datanya banyak—"
"—aplikasinya kewalahan." Vina menutup mata. "Aku harusnya cuma load data yang kelihatan di layar."
"Pagination."
"Aku tahu itu pagination, Reno. Aku cuma lupa."
"Aku nggak ngomong apa-apa."
"Mukamu ngomong."
"Mukaku selalu kayak gini."
Vina menoleh untuk membantah, dan menyadari betapa dekat wajah Reno dengannya. Hanya beberapa sentimeter. Kata-kata membeku di tenggorokannya. Mata Reno juga turun, sekejap, ke arah yang membuat pipi Vina memanas.
Lalu mereka berdua mundur, serentak, terlalu cepat, dan Reno hampir terjengkang dari kursinya.
"Pagination," ulang Reno, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasa. "Kamu kerjain. Aku ke... aku bikin kopi."
"Kamu baru bikin kopi sejam lalu."
"Aku bikin lagi. Banyak banget kopi malam ini. Kantor butuh kopi."
Ia bangkit dan melarikan diri ke sudut dispenser. Vina menatap layarnya tanpa benar-benar melihat, jantungnya berdebar dengan ritme yang tidak ada hubungannya dengan bug nomor tiga puluh satu.
Lima hari, pikirnya. Lima hari untuk menyelamatkan perusahaan. Dan entah bagaimana, di tengah semua itu, ada hal lain yang juga sedang ia coba selamatkan dari pengakuan—perasaan yang tumbuh diam-diam di antara baris-baris kode dan gelas-gelas kopi, di kantor sempit di atas warung mie.