Bug nomor sembilan adalah yang menjebak mereka.
Bug itu licik. Aplikasi crash secara acak, kadang sekali sehari, kadang tidak sama sekali, tanpa pola yang bisa ditebak. Vina menghabiskan dua malam penuh memburunya dan tidak menemukan apa-apa. Frustrasinya menumpuk seperti piring kotor.
Maka ketika Bagas, di sela mengurus dokumen, secara santai berkata, "Eh, kemarin aku lihat Reno ketemu orang di kafe seberang. Cewek. Kayaknya wawancara kerja deh, dia bawa map," Vina merasa sesuatu di dadanya mengencang dengan cara yang tidak ia harapkan.
"Wawancara kerja?" tanya Vina, berusaha terdengar acuh.
"Kayaknya. Mereka serius banget ngomongnya. Si cewek nyatat-nyatat." Bagas mengangkat bahu dan kembali ke dokumennya, tidak sadar telah menanam bom.
Vina kembali ke layarnya. Wawancara kerja. Reno mencari kerja di tempat lain. Lima hari sebelum demo, di tengah semua ini, Reno diam-diam mencari pintu keluar. Pikiran itu menggerogotinya sepanjang sore. Ia tahu seharusnya tidak peduli—Reno bebas melakukan apa pun—tapi ia peduli, dan kenyataan bahwa ia peduli membuatnya semakin kesal.
Malam itu, ketika hanya tinggal mereka berdua, suasana berbeda. Vina mengetik dengan keras, jawabannya pendek-pendek, dan ketika Reno meletakkan kopi di sampingnya, ia hanya bergumam tanpa menoleh.
"Kamu kenapa?" tanya Reno akhirnya.
"Nggak apa-apa."
"Vin, aku ngumpulin data, ingat? Kamu lagi marah. Kopi 'aku capek tapi masih oke' biasanya kamu sentuh dalam dua menit. Ini udah sepuluh menit, kopinya nggak kamu lirik."
"Mungkin aku nggak haus."
"Vina."
Vina memutar kursinya menghadapnya, dan kata-kata keluar sebelum ia sempat menyaringnya. "Kamu mau pindah kerja?"
Reno mengerjap. "Apa?"
"Bagas lihat kamu wawancara di kafe. Sama cewek. Bawa map. Lima hari sebelum demo, Reno. Kamu mau kabur pas semua lagi susah-susahnya?"
Sesuatu melintas di wajah Reno—kaget, lalu sesuatu yang lebih sulit dibaca. Lalu, tak terduga, ia tertawa. Bukan tertawa mengejek. Tertawa yang lebih dekat ke lega, atau geli, atau keduanya.
"Kamu cemburu," katanya.
"Aku NGGAK cemburu. Aku khawatir soal tim."
"Kamu cemburu soal tim."
"Reno—"
"Cewek di kafe itu," kata Reno, masih tersenyum, "namanya Mbak Ratih. Dia bukan tempat aku wawancara. Dia konsultan UX yang aku temuin buat minta saran soal tampilan aplikasi kita. Gratis, karena dia teman lama kakakku. Map yang dia bawa isinya catatan tentang aplikasi kita. Dia nyatat-nyatat karena dia ngasih masukan." Ia menggeleng. "Aku lakuin itu diam-diam karena mau ngasih kejutan. Hasilnya ada di sini—" ia mengangkat laptopnya, "—daftar perbaikan UX yang bisa kita pakai habis demo."
Vina merasa wajahnya memanas, kali ini karena malu. "Oh."
"Iya. 'Oh.'"
"Aku—maaf. Aku langsung berpikir yang—"
"Yang buruk. Iya." Tapi Reno tidak terdengar marah. Ia meletakkan laptopnya dan menatap Vina dengan ekspresi yang membuat napas Vina tersangkut. "Vin, aku nggak akan pergi. Bukan sekarang. Bukan pas semua lagi susah." Ia berhenti. "Dan bukan cuma karena Pak Damar."
Itu lagi. Alasan lainnya. Kalimat tak selesai dari malam hujan.
Kali ini Vina tidak membiarkannya lolos. "Reno. Malam itu, pas mati lampu, kamu mau bilang sesuatu. 'Alasan lainnya.' Apa itu?"
Reno terdiam. Pendingin ruangan mendengung. Di bawah, warung Pak Hardi sudah tutup, dan jalanan sunyi. Hanya ada mereka berdua, dan pertanyaan yang menggantung di udara seperti tetesan air sebelum jatuh.
Reno membuka mulut.
Dan ponsel Vina berdering—keras, mendadak, memecah segalanya. Layar menyala: PAK DAMAR. Jam sebelas malam. Pak Damar tidak pernah menelepon jam segini kecuali ada yang salah.
Vina menatap Reno. Reno menatap Vina. Lalu Vina mengangkat telepon.
"Halo, Pak?"
Suara Pak Damar di seberang terdengar panik, terengah, sama sekali tidak seperti biasanya. "Vina. Vina, kamu di kantor? Sama Reno?"
"Iya, Pak. Ada apa?"
"Servernya," kata Pak Damar, suaranya bergetar. "Server kita. Semua data demo. Hilang."