Mereka semua datang dalam empat puluh menit. Pak Damar tiba dengan rambut berantakan dan sandal jepit, jelas langsung lari dari rumah. Sari menyusul, masih memakai daster, dengan laptop di pelukan. Bagas datang terakhir, ngos-ngosan, membawa—entah kenapa—sekantong gorengan, karena menurutnya "orang panik butuh makan."
Kantor di atas warung mie itu menyala terang di tengah malam, lima orang berkerumun di sekitar layar.
"Coba jelasin pelan-pelan, Pak," kata Vina, berusaha menjaga suaranya tenang meski jantungnya berlari. "Apa yang terjadi?"
"Aku mau cek demo dari rumah," kata Pak Damar. "Mau latihan presentasi. Tapi pas aku buka, kosong. Semua data contoh hilang. Database-nya... kayak direset."
Reno sudah duduk di depan komputer server, jari bergerak cepat. Wajahnya yang biasanya datar kini fokus tajam. "Vin, lihat ini."
Vina mengintip layar. Log server. Baris demi baris catatan. Dan di sana, tepat pukul sembilan malam: sebuah perintah penghapusan otomatis.
"Script pembersih," kata Reno pelan. "Ada script yang ngehapus data lama otomatis. Kita pasang berbulan-bulan lalu buat ngebersihin data tes biar server nggak penuh."
"Tapi kenapa dia hapus data demo?"
Reno menelusuri kode, dan wajahnya berubah. "Karena... data demo kita kasih tanggal lama. Biar grafiknya kelihatan ada riwayat panjang. Tanggal-tanggal bulan lalu. Script-nya baca itu sebagai data lama, dan—" ia menelan, "—dia hapus. Persis seperti yang kita suruh."
Hening menyelimuti ruangan. Sari menutup mulut dengan tangan. Bagas berhenti mengunyah gorengan. Pak Damar duduk pelan di kursi terdekat, seperti kakinya tiba-tiba kehilangan tenaga.
"Jadi," kata Pak Damar lirih, "kita yang ngehapus data kita sendiri."
"Secara teknis," kata Reno, "iya."
"Empat hari sebelum demo."
"Iya, Pak."
Pak Damar menutup wajah dengan kedua tangan. Untuk pertama kalinya sejak Vina mengenalnya, lelaki yang selalu punya ide gila itu tampak benar-benar kalah. "Itu data berhari-hari kerja. Tampilan grafik. Contoh yang Pak Sugianto mau lihat. Semua—"
"Bisa dibuat ulang."
Semua mata beralih ke Vina.
Vina sendiri kaget kata-kata itu keluar dari mulutnya, tapi begitu keluar, ia tahu itu benar. Ia berdiri tegak. "Data demo cuma data contoh, Pak. Kita yang bikin. Berarti kita bisa bikin lagi. Iya, butuh waktu. Iya, banyak. Tapi bukan nggak mungkin."
"Vina, itu—"
"Reno," potong Vina, menoleh ke Reno. "Berapa lama kira-kira kalau kita bikin generator? Script yang otomatis bikin data contoh, bukan input manual satu-satu?"
Reno menatapnya. Sesuatu di matanya menyala—bukan keraguan, tapi pengakuan. Senyum kecil itu muncul lagi, senyum yang berbeda. "Kalau kita kerja bareng? Semalaman?" Ia mengangguk pelan. "Bisa. Subuh kelar, mungkin."
"Kalau gitu kita kerja semalaman."
Pak Damar mengangkat wajah dari tangannya. "Kalian... yakin?"
"Pak," kata Vina, "kita udah lembur tiap malam berminggu-minggu buat sampai sejauh ini. Kita nggak akan kalah sama script yang kita pasang sendiri. Itu terlalu memalukan."
Untuk pertama kalinya malam itu, Pak Damar tersenyum—lemah, lelah, tapi tersenyum. "Aku bener-bener milih tim yang tepat."
Sari menawarkan diri membuatkan kopi untuk semua. Bagas membagikan gorengannya, kali ini dengan tujuan. Pak Damar, yang tidak bisa coding, menugaskan dirinya menjadi "manajer semangat" dan mulai memutar musik pelan dari ponselnya.
Dan Vina serta Reno duduk berdampingan di depan dua layar, lebih dekat dari biasanya, membagi tugas dengan ritme yang sudah mereka kuasai dari ratusan malam lembur. Vina menulis logika data, Reno menulis pembuat angka acak, keduanya saling memeriksa, saling menambal, saling melengkapi.
"Hei," kata Reno pelan, di sela ketikan, agar hanya Vina yang dengar. "Tadi, soal alasan lainnya."
Jantung Vina melompat. "Hm?"
"Nanti," kata Reno, dan ada janji di kata itu. "Habis ini kelar. Aku bakal bilang. Beneran. Nggak ada lampu mati, nggak ada telepon, nggak ada server jebol yang bisa motong."
Vina menahan senyum, menatap layarnya. "Janji?"
"Janji."
Dan mereka kembali bekerja, lima orang di kantor sempit di atas warung mie, melawan malam terpanjang mereka, ditemani kopi dan gorengan dan musik pelan dan sesuatu yang lebih besar dari sekadar perusahaan—rasa bahwa mereka, bersama, bisa.