Pukul empat pagi, generator data selesai.
Vina menekan tombol jalankan, dan layar memuntahkan data—ratusan, ribuan baris contoh, lengkap dengan tanggal yang masuk akal, nominal yang realistis, riwayat panjang yang membuat grafik tampak hidup dan penuh. Mereka menatap layar, kelima orang, lelah dan tegang dan berharap.
"Buka grafiknya," bisik Pak Damar.
Vina membuka. Grafik termuat. Angka besar tinggi, angka kecil rendah, sumbu Y benar—Vina ingat malam itu, malam pertama Reno membawakannya kopi dan menemukan bug terbaliknya. Dan kini grafik itu membentang sempurna, riwayat enam bulan terhampar indah, persis seperti yang Pak Sugianto ingin lihat.
Sari yang pertama bersuara. "Itu... bagus banget."
"Itu lebih bagus dari data yang ilang," kata Bagas, mulut penuh gorengan terakhir.
Pak Damar tidak bicara. Ia menatap layar dengan mata berkaca-kaca, lalu menoleh ke Vina dan Reno, dan menarik keduanya ke dalam pelukan canggung yang membuat Vina hampir kehilangan keseimbangan. "Terima kasih," katanya serak. "Terima kasih. Kalian nggak tahu artinya ini."
Satu per satu mereka pulang saat langit mulai memucat. Sari pertama, lalu Bagas, lalu Pak Damar yang masih bersenandung—kali ini lagu kemenangan, bukan lagu ayam jago. Pintu warung di bawah masih terkunci; Pak Hardi belum datang membuka.
Tinggal Vina dan Reno.
Selalu, pada akhirnya, Vina dan Reno.
Mereka berdiri di jendela kantor, menatap kota yang pelan-pelan terbangun. Langit di timur berubah dari kelabu ke jingga muda, dan udara subuh—untuk sekali ini—terasa bersih, bahkan di atas warung mie. Vina memegang gelas kopi terakhirnya. Kopi 'aku capek tapi masih oke,' meski sebenarnya ia lebih dari capek. Ia lelah sampai ke tulang. Tapi ia juga, anehnya, bahagia.
"Kita berhasil," kata Vina pelan.
"Belum," kata Reno. "Demonya empat hari lagi. Tujuh belas bug—"
"Reno."
"—tinggal sembilan, sebenarnya. Tiap nunggu generator-nya jalan, kita curi-curi waktu benerin bug. Delapan tumbang semalam—"
"Reno." Vina menoleh padanya. "Tadi kamu janji."
Reno terdiam. Cahaya subuh menyinari setengah wajahnya, lembut, jingga. Ia meletakkan gelas kopinya di ambang jendela. Untuk pertama kalinya sejak Vina mengenalnya, ia tampak gugup—Reno yang selalu tenang, Reno yang selalu tahu apa yang harus dikatakan, kini mencari kata.
"Alasan lainnya," kata Reno akhirnya, pelan, "kenapa aku tetap di sini. Kenapa aku lembur tiap malam padahal aku bisa pulang. Kenapa aku hafal tiga tipe kopimu padahal harusnya aku nggak peduli."
Jantung Vina berdebar begitu keras ia yakin Reno bisa mendengarnya.
"Alasannya adalah—"
Tangga di samping warung berderit.
Langkah kaki menaiki tangga, cepat, terburu-buru. Pintu kantor terbuka, dan Pak Damar berdiri di sana, ngos-ngosan, ponsel di tangan, wajah pucat pasi. Ia bahkan belum sempat pulang sampai rumah.
"Vina. Reno." Suaranya tercekat. "Pak Sugianto baru telepon."
Vina dan Reno membeku.
"Demonya," kata Pak Damar. "Dia majuin. Bukan empat hari lagi."
"Kapan, Pak?" tanya Vina, meski sebagian dirinya sudah tahu jawabannya tidak akan menyenangkan.
Pak Damar menelan ludah.
"Hari ini. Jam sembilan pagi. Dia bilang dia bawa partner-nya. Kalau kita nggak siap—" ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Vina menatap jam dinding. Pukul lima kurang seperempat pagi.
Empat jam lima belas menit.
Sembilan bug.
Dan satu kalimat dari Reno yang, sekali lagi, harus menunggu.