Pak Damar masih berdiri di ambang pintu, ngos-ngosan, seakan kalimat barusan menyedot seluruh napasnya. Di belakangnya, langit timur sudah berani memunculkan jingga.
"Jam sembilan," ulang Vina, pelan, seolah dengan mengucapkannya pelan-pelan angka itu akan berubah jadi lebih masuk akal. "Empat jam lagi."
"Empat jam lima belas menit," kata Reno. Ia sudah duduk kembali di depan laptopnya. Gelas kopi yang tadi ia letakkan di ambang jendela, kalimat yang tadi nyaris selesai—semuanya ia tinggalkan begitu saja, seperti seseorang menutup pintu di tengah angin. "Pak, partnernya berapa orang?"
"Satu. Perempuan. Pak Sugianto bilang namanya Bu Laksmi." Pak Damar menyeret kursi, lalu malah tidak jadi duduk. "Dia bilang Bu Laksmi yang nanti pegang keputusan teknis. Itu... itu bagus apa jelek, ya?"
"Jelek kalau kita masih punya sembilan bug pas dia datang," kata Reno. "Bagus kalau nggak."
Vina menarik napas. Tubuhnya berteriak minta tidur—ia sudah dua puluh empat jam tanpa pejam—tapi ada sesuatu dalam tubuh seorang programer yang menjelang deadline berubah jadi mesin. Adrenalin menggantikan darah. Ia menarik papan tulis pinjaman Pak Hardi mendekat, menghapus coretan lama dengan lengan bajunya, dan menulis besar-besar: 9 BUG. 04.45.
"Oke." Suaranya keluar lebih mantap dari yang ia kira. "Kita nggak akan benerin semua. Kita nggak punya waktu. Kita benerin yang muncul di alur demo."
Reno mendongak. Untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu—dan di mata Reno ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tadi nyaris keluar lewat mulutnya di depan jendela. Tapi Reno menelannya. Vina melihat tenggorokannya bergerak. Ia menelan kalimat itu seperti seseorang menelan obat pahit demi tetap berdiri.
"Alur demo," kata Reno, suaranya kembali datar, profesional. "Buka aplikasi, daftar pengeluaran, simpan, lihat grafik, edit, hapus, ekspor. Tujuh langkah. Bug di luar tujuh langkah itu, kita abaikan."
"Lima dari sembilan bug ada di tujuh langkah itu," kata Vina, mengecek daftar di laptopnya.
"Berarti empat aman." Reno sudah mengetik. "Lima yang sisa, kita bagi. Kamu pegang frontend—tampilan grafik sama tombol simpan yang masih suka ngambek. Aku pegang server sama ekspor. Pak Damar—"
"Aku ngapain?" tanya Pak Damar, antusias seperti anak yang dikasih tugas.
"Pak bangunin Sari sama Bagas. Terus Pak cari kopi. Banyak kopi."
Pak Damar mengangguk khidmat, seolah diberi misi menyelamatkan negara, lalu setengah berlari menuruni tangga yang berderit. Beberapa detik kemudian terdengar suaranya di telepon, panik tapi ceria, membangunkan seisi tim.
Lalu ruangan hening. Hanya ada dentuman keyboard—Vina di mejanya, Reno di mejanya, punggung saling membelakangi karena posisi meja, tapi entah kenapa terasa berdampingan.
"Bug tombol simpan," gumam Vina. "Kenapa kamu ngambek terus, sih."
"Karena dia sensitif," sahut Reno dari belakang, tanpa menoleh. "Kayak orang."
"Aku nggak sensitif."
"Aku nggak ngomongin kamu."
Vina hampir tersenyum. Hampir. Lalu ia ingat jendela, ingat 'alasan lainnya', ingat bagaimana untuk kesekian kalinya kalimat itu menguap. Sesuatu di dadanya mengeras sedikit—bukan marah, lebih seperti lelah dengan pola. Tapi sekarang bukan waktunya. Sekarang waktunya tombol simpan.
Ia menemukan bugnya pukul 05.20: tombol simpan memanggil fungsi validasi dua kali kalau koneksi lambat, dan panggilan kedua menimpa yang pertama, membuat data seakan tak tersimpan padahal tersimpan. Ia memperbaikinya dalam dua belas menit. Satu coret di papan. Delapan bug.
"Satu," teriaknya pelan.
"Aku dapat dua," sahut Reno. "Ekspor PDF-nya tadi nge-crash gara-gara nama file pakai spasi. Sekarang nggak."
Enam bug. Lalu lima, saat Sari datang dengan rambut basah dan masih memakai sandal jepit, langsung menangani satu bug tampilan yang membuat grafik gepeng di layar kecil. Lalu Bagas datang membawa—entah dari mana jam segini—dua bungkus gorengan yang masih hangat, dan menempatkan dirinya sebagai penjaga gerbang: menahan telepon, mengatur urutan, mencatat.
Pukul 06.30, papan tulis menyisakan angka 4.
Vina menatap angka itu. Empat bug, dua jam setengah. Untuk pertama kalinya sejak Pak Damar mengetuk pintu, ia membiarkan dirinya percaya, sedikit saja, bahwa mereka mungkin sungguh bisa.
Di luar jendela, kota sudah terang. Dan dari bawah, dari lantai satu, terdengar suara gerbang besi warung mie ayam Pak Hardi diangkat, berderak naik, lebih pagi dari biasanya.