"Pak Hardi buka pagi banget," kata Bagas, mengintip dari jendela ke trotoar di bawah.
Memang. Biasanya warung mie ayam itu baru hidup menjelang siang—Pak Hardi orang yang percaya bahwa tidak ada manusia waras memesan mie ayam sebelum matahari tinggi. Tapi pagi ini, pukul setengah tujuh kurang, sudah terdengar bunyi panci diadu, air dituang, dan aroma kaldu ayam yang perlahan naik lewat celah lantai, menyusup ke kantor seperti tamu yang tak diundang tapi disambut.
Pak Damar yang turun pertama. Lima menit kemudian ia naik lagi, membawa nampan, dan di belakangnya—Pak Hardi sendiri, dengan kaus oblong dan celemek, membawa nampan kedua.
"Katanya kalian mau perang pagi ini," kata Pak Hardi, meletakkan mangkuk-mangkuk di meja yang Bagas buru-buru bersihkan. "Perang nggak bisa pakai perut kosong."
"Pak Hardi, kami belum—" Vina mulai, mengkhawatirkan harga.
"Sudah, sudah." Pak Hardi mengibaskan tangan. "Anggap saja bayar utang wifi. Kalian benerin wifi warung saya bulan lalu, sekarang giliran saya. Lagian," ia menyeringai, "kalau kalian dapat duit dari investor itu, warung saya yang di bawah ikut rame. Kalian kerja di atas warung saya, untung saya juga taruhannya."
Ada delapan mangkuk mie ayam di meja, mengepul. Teh manis hangat dalam gelas-gelas belel. Untuk sebuah pagi yang berisi empat bug dan satu investor yang akan datang dalam dua setengah jam, ini adalah hal paling normal yang terjadi—dan justru karena normal, ia terasa berharga.
"Makan dulu," kata Pak Damar, dan untuk sekali ini ia tidak punya ide gila, tidak punya pidato. Ia hanya duduk dan menyuap mie, dan tim mengikutinya.
Vina makan sambil satu tangan tetap di mouse. Reno juga. Mereka makan seperti tentara di parit—cepat, waspada, mata tetap di layar. Tapi di tengah suapan, Vina menyadari sesuatu: tubuhnya yang tadi remuk mulai pulih sedikit. Kaldu hangat itu, gula dalam teh, gorengan Bagas tadi—semua menyatu jadi bahan bakar yang lebih jujur daripada kopi.
"Bug nomor berapa lagi yang nyangkut?" tanya Sari, menyeruput kuahnya.
"Empat," kata Vina. "Tinggal yang grafik di layar kecil—itu kamu yang benerin tadi, makasih—sama tiga di server Reno."
"Dua, sebenarnya," koreksi Reno tanpa mendongak dari layarnya. Ia menyuap mie dengan satu tangan, mengetik dengan tangan lain, keseimbangan yang hanya dimiliki orang yang sudah terlalu sering melewatkan makan demi kerja. "Satu tumbang barusan. Pas nyeruput kuah."
"Kamu benerin bug sambil makan?" Bagas geleng-geleng. "Itu mah bukan programer, itu mesin."
"Mesin nggak doyan mie ayam," sahut Reno, dan menyuap lagi, dan untuk sekejap—di antara empat bug dan satu investor yang akan datang—tim itu tertawa bersama, mulut penuh, di sebuah pagi yang seharusnya menegangkan tapi entah kenapa terasa hampir damai.
"Pak Hardi," kata Reno tiba-tiba, di antara dua suapan, "warung Bapak ada catatan pengeluaran nggak?"
Pak Hardi mengernyit. "Catatan apa?"
"Belanja ayam, mie, sayur, gas. Bapak catat di mana?"
"Di sini." Pak Hardi mengetuk pelipisnya. "Dan di buku tulis anak saya yang udah nggak kepakai."
Reno mengangguk pelan, dan Vina tahu persis apa yang ada di kepala backend itu: bukan sekarang, tapi suatu hari, Pak Hardi adalah pengguna. Bukan investor, bukan target metrik—pengguna sungguhan, pemilik warung yang mencatat belanja di buku tulis anaknya. Untuk apa sebenarnya aplikasi ini dibuat. Reno selalu begitu; ia mengumpulkan data bahkan dari mie ayam.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Vina, menangkap ujung ekspresi Reno.
"Aku ngumpulin data," kata Reno.
Vina memutar bola mata, tapi kali ini ia membiarkan dirinya tersenyum balik. Selama beberapa detik di pagi yang akan menentukan segalanya, mereka cuma dua orang yang makan mie ayam dan saling melempar tatapan, dan untuk sesaat semua deadline di dunia terasa jauh.
Pukul 06.55, mangkuk-mangkuk kosong. Pak Hardi mengumpulkannya, menolak dibantu, dan di pintu ia berhenti sebentar.
"Saya nggak ngerti aplikasi," katanya. "Tapi saya ngerti orang yang kerja keras. Kalian itu kerja keras." Ia mengangguk, seperti menyegel sebuah berkat. "Hajar investor itu."
Pintu menutup. Tangga berderit di bawah langkahnya.
Vina menatap papan. Empat bug. Dua jam lima menit.
"Oke," katanya, menyeret kursi mendekat ke layar. "Hajar."