Pukul 08.50, dua bug tersisa, dan mobil hitam berhenti di depan warung mie ayam Pak Hardi.
Bagas yang melihat duluan dari jendela. "Datang," desisnya, dan satu kata itu mengubah seisi ruangan. Vina merasakan jantungnya melompat ke tenggorokan. Sari buru-buru mengganti sandal jepitnya dengan sepatu yang ia bawa dalam tas kresek. Pak Damar merapikan kemeja, menyisir rambut dengan jari, lalu memutuskan rambutnya tak bisa diselamatkan.
Pak Sugianto turun lebih dulu—setelan abu-abu, jam tangan yang berkilau bahkan dari lantai dua, wajah datar seseorang yang sudah mengecewakan banyak orang dan menikmatinya. Lalu dari sisi lain mobil, turun seorang perempuan.
Bu Laksmi.
Ia mengenakan blazer gelap, rambut diikat rapi tanpa satu helai pun keluar jalur, dan membawa map serta tablet. Ia berhenti sebentar di depan warung, menatap spanduk merah pudar bertuliskan MIE AYAM PAK HARDI, lalu menatap tangga sempit di sampingnya, lalu—Vina bisa bersumpah—menulis sesuatu di tablet sebelum menaiki tangga. Tangga berderit di bawah sepatu haknya, dan setiap derit terasa seperti vonis.
Mereka muncul di ambang pintu. Pak Sugianto mengeluarkan sapu tangan, mengelap kursi yang Bagas tawarkan, lalu duduk. Bu Laksmi tidak mengelap apa pun. Ia hanya berdiri sebentar, menyapu ruangan dengan pandangan—lima meja, kulkas kecil, AC tua yang menggerung lemah, papan tulis bertuliskan 2 BUG yang Vina lupa hapus—dan duduk dengan punggung tegak.
"Wanginya kaldu," kata Bu Laksmi tiba-tiba, suara pertamanya di ruangan itu. Datar, tanpa nada.
"Warung mie ayam, Bu," kata Pak Damar buru-buru. "Di bawah. Pak Hardi. Kalau Bu Laksmi mau, nanti saya—"
"Bukan keluhan," potong Bu Laksmi. "Catatan." Ia menulis. Krek. Vina tidak tahu apa yang sedang dicatat seseorang tentang bau kaldu, dan justru karena tidak tahu, ia jadi gugup.
"Pagi," kata Pak Damar, suaranya satu oktaf lebih tinggi dari biasa. "Selamat datang di Juara App. Maaf agak... berantakan, kami semalaman—"
"Saya tahu," potong Pak Sugianto. "Saya yang majukan demonya. Saya mau lihat apakah tim ini bisa kerja di bawah tekanan, atau cuma bisa di bawah jadwal yang nyaman." Ia melirik papan tulis. "Dua bug?"
Hening sepersekian detik. Vina memutuskan, seperti yang selalu ia putuskan, untuk jujur.
"Dua bug yang nggak ada di alur demo, Pak," katanya. "Kami sengaja nggak benerin, karena waktunya buat mastiin yang kelihatan Bapak hari ini, jalan sempurna."
Bu Laksmi mendongak dari tabletnya. Itu kali pertama ia menatap langsung ke arah seseorang sejak masuk. Matanya tajam, tapi bukan jahat—lebih seperti pisau yang dipakai untuk membedah, bukan melukai.
"Anda memilih bug mana yang ditampilkan ke investor," kata Bu Laksmi. Bukan pertanyaan. Catatan.
"Saya memilih nggak nyembunyiin bug ke investor, Bu," kata Vina. "Dua bug itu ada di daftar, di papan, di depan mata Bapak. Saya cuma jujur soal mana yang sempat kami benerin dalam empat jam lima belas menit."
Pak Sugianto mengeluarkan suara yang mungkin tawa, mungkin batuk. "Empat jam lima belas menit," ulangnya. "Dia hitung sampai ke menit." Ia menyandarkan punggung. "Bu Laksmi, ini yang saya bilang. Yang lain jual mimpi. Yang ini jual kenyataan."
Bu Laksmi tidak menyahut. Ia menulis sesuatu lagi. Vina mulai membenci suara stylus itu di kaca tablet—krek, krek—seperti seseorang yang terus-menerus mengasah penilaian.
"Mulai," kata Pak Sugianto, mengetuk jam tangannya. "Saya cuma punya satu jam. Setelah itu saya punya rapat dengan orang yang juga mau uang saya. Tunjukkan kenapa harus kalian."
Pak Damar membuka mulut, hendak memulai dengan pidato—Vina mengenali tarikan napas itu, tarikan napas seseorang yang akan menyebut kata "super-app". Reno mendahuluinya, halus.
"Vina yang demo, Pak. Dia yang ngerti pengguna." Ia menggeser laptop ke arah Vina, dan dengan satu gerakan kecil itu, ia menyelamatkan demo dari pidato Pak Damar sebelum demo dimulai. Pak Damar mengatupkan mulut, mengangguk, dan menyandarkan diri dengan disiplin yang menyakitkan.
Reno menarik laptop demo ke tengah meja. Layar menyala. Di pojok bawah, sebuah notifikasi kecil berkedip sekilas—satu dari dua bug yang tersisa, mengintip—lalu hilang. Hanya Reno dan Vina yang melihatnya. Mata mereka bertemu sepersekian detik.
Belum, isyarat mata Reno. Jangan panik.
Vina menelan ludah, menarik laptop mendekat, dan menekan tombol buka aplikasi.