Dua bug terakhir tumbang dalam sepuluh menit terakhir sebelum mobil datang—Reno membereskan satu saat Bu Laksmi masih menaiki tangga, dan Vina yang lain saat Pak Sugianto mengelap kursi. Tapi yang tak mereka katakan ke siapa pun, yang hanya mereka berdua tahu, adalah ini: memperbaiki dua bug yang terlihat sering membangunkan bug lain yang tertidur.
Tujuh bug baru. Atau lama. Bug yang sebelumnya bersembunyi di balik dua bug tadi, kini terbuka seperti pintu yang tadinya tertutup tumpukan barang.
Vina menyadarinya pukul 08.45, saat ia melakukan uji coba terakhir dan grafik berkedip satu kali sebelum termuat. Berkedip. Itu baru. Itu tidak ada kemarin. Ia tidak punya waktu mengejar akarnya. Yang ia punya hanyalah pengetahuan dingin bahwa di balik layar yang akan ia tunjukkan ke Pak Sugianto dan Bu Laksmi, ada tujuh ranjau, dan ia tidak tahu persis di mana semuanya.
"Reno," bisiknya, saat tamu sedang duduk dan Pak Damar mengoceh pembuka. "Tujuh bug. Aku nemu pas tes terakhir."
Reno tidak mengubah ekspresi. Itu salah satu hal yang Vina diam-diam kagumi dan benci: Reno bisa menerima kabar buruk dengan wajah seseorang yang baru ditawari teh. "Di mana?"
"Grafik berkedip. Tombol edit kadang nggak nyimpen perubahan pertama. Ekspor ke tanggal tertentu bablas. Tiga itu yang aku tahu. Sisanya aku belum ketemu."
"Berarti kita demo alur yang aman."
"Alur yang aman lewatin grafik. Grafiknya yang berkedip."
"Grafik harus ada," bisik Reno, dan ia benar. Grafik enam bulan itu—yang nyaris hilang semalam, yang mereka bangun ulang sampai subuh—adalah jantung demo. Pak Sugianto datang untuk melihat grafik. Tidak ada demo tanpa grafik.
Vina memejamkan mata sebentar. Pikirannya berlari. Grafik berkedip sekali sebelum termuat—artinya bug ada di pemuatan awal, di animasi masuk. Kalau ia memuat grafik lebih dulu di latar belakang, lalu menampilkannya setelah selesai, kedipan itu tak akan terlihat. Bukan memperbaiki bug. Menyembunyikannya di balik tirai—tapi sah, karena pengguna sungguhan pun tak akan melihat kedipan kalau begitu.
"Itu bukan benerin," bisik Reno, seolah membaca pikirannya. "Itu nyembunyiin."
"Aku tahu." Vina menatapnya. "Tapi kita nggak punya waktu benerin. Kita punya waktu nyembunyiin. Habis demo, baru kita benerin beneran. Janji."
Reno menahan tatapannya sedetik—dan Vina tahu apa yang ada di kepala backend itu: bahwa menyembunyikan bug dari investor adalah hal yang membuat startup gagal, hal yang mungkin dilakukan tiga startup gagal Pak Damar. Tapi ada beda antara menjual mimpi bohong dan menunda tirai animasi selama tiga menit demo. Reno mengangguk. "Habis demo, kita benerin. Tujuh-tujuhnya. Sebelum pengguna pertama yang nemu."
"Sebelum pengguna pertama," Vina mengulang, dan entah kenapa janji kecil itu terasa seperti kontrak yang lebih mengikat daripada apa pun yang akan ditandatangani Pak Sugianto.
"Aku pre-load grafiknya," bisiknya. "Tampil pas udah jadi. Tiga menit."
"Kamu punya nggak sampai tiga menit," kata Reno. Di seberang meja, Pak Sugianto sudah mengetuk jam tangannya.
Sari, yang berdiri di belakang Vina pura-pura menata berkas, membungkuk dan berbisik nyaris tanpa suara, "Aku alihin perhatian. Bagas, tawarin teh." Lalu, dengan kelincahan seorang ibu yang terbiasa mengulur waktu anaknya, Sari berjalan ke depan dan mulai menjelaskan—dengan suara terlalu antusias—tentang pilihan warna hijau di aplikasi, kenapa hijau, hijau itu warna tumbuh, warna uang yang dijaga. Bagas, mengerti isyarat, muncul dengan nampan teh.
"Teh, Pak? Bu? Bikinan warung bawah, manisnya pas."
Pak Sugianto melirik teh itu seperti melirik tersangka. Tapi tiga puluh detik berharga itu cukup. Di bawah meja, jari Vina terbang.
"Mulai," kata Pak Sugianto.
Vina menarik napas, dan dengan tangan yang ia paksa berhenti gemetar, ia mengetik enam baris kode—cepat, di bawah meja secara harfiah, laptop dimiringkan agar tamu tak melihat layar penyunting—lalu menyimpan. Di sebelahnya ia mendengar Reno menggeser kursi sedikit, memberi tubuhnya sebagai tameng dari pandangan Bu Laksmi. Gerakan kecil. Tapi Vina merasakannya: mereka berdua, lagi, satu tim, satu napas.
Krek, terdengar stylus Bu Laksmi. Ia mencatat sesuatu. Mungkin keterlambatan ini. Mungkin cara Vina memiringkan laptop. Perempuan itu melihat segalanya.
Tujuh bug, pikir Vina, jarinya melayang di atas tombol buka aplikasi. Aku tahu tempat tiga. Empat sisanya, mari kita berdoa kalian sopan hari ini.
"Oke," katanya, suaranya tenang, profesional, jujur—nada yang sama yang dulu memenangkan Pak Sugianto. "Ini aplikasi catat pengeluaran harian Juara App. Saya akan tunjukkan persis seperti yang akan dipakai pengguna. Tanpa skrip, tanpa trik."
Tanpa trik, kecuali satu yang baru saja ia tanam di balik grafik.
Ia menekan tombol.